Monday, 15 April 2013

Kenapa harus LARI Episode 4 (TAMAT)


Assalamualaikuuuuuuuum...

Dan Lari saat SD mengajarkan pada gue kalau satu kekurangan itu tidak akan meruntuhkan dunia gue. Lari memang bukan keahlian gue, tetapi gue juga ada keahliannya. Hehehehe...Alhamdulillah

SMP. Karena olahraganya paling paling lari mengelilingi lapangan Jenderal Sudirman atau dikenal dengan nama Pangsar, Ambarawa, jadi nggak berat berat amat. Dan waktu SMP, banyak yang jalan juga jadi gue nggak keliatan belakang sendiri. Pelajaran lainnya itu berenang yang pada akhirnya menuntun gue pada nilai sempurna itu di akhir kelas tiga. Berenang adalah salah satu ujian prakteknya. Lalu kelas satu dan dua itu kebanyakan juga mainan raket mementul mentulkan kok alias bulu tangkis, dan gue juga suka juga jenis olahraga itu.

SMA. Selain lari setiap pagi takut telat, gue juga harus lari di pelajaran Penjaskesnya. Lari mengelilingi Kemiri sebanyak dua kali. Naudzubillah. Cuman karena perkembangan mental gue udah nggak se menye menye waktu SD, jadi proses itu bisa gue jalani dengan hati yang tegar. Ha ha ha
Kuliah. Nah, kuliah udah nggak ada pelajaran Penjaskes. Upacara pun tak ade. Tapi gue harus tetap lari lari mengejar waktu. Semoga di lain hari gue nggak dikejar ‘waktu’

“Ke...lhek segera to..umurmu tu udah berapaaaa... mau kapan, itu lho teman temanmu banyak yang sudah...”
Itu salah satu kejadian dikejar waktu. Naudzubillah. http://www.emocutez.com



Gue harus lari dari rumah ke jalan raya, lari dari terminal bis mini ke tempat bis SARI ngetem, lari dari Kemiri ke gedung F (gedung fakultas gue, red). Lari dan lari. Itu salah siapa? Salah angkot? Salah ilalang yang bergoyang? Atau bahkan salah rumah gue?

NEHI.

80% salah gue, 20% keberuntungan.

Coba kalau gue nggak kebanyakan memulaskan apa yang sebenarnya tidak perlu dipulas? Coba kalau gue bisa lebih pagi menyiapkan diri? Coba kalau gue lebih pagi bangunnya?

Misal gue masuk pukul 7, karena kebanyakan kelas dulu gue masuk pukul 7 dan itu semacam derita tak terperi buat gue. Waktu SMA, gue bangun pukul 5. Cuman, waktu kuliah, gue mengalami degradasi kerajinan. Gue malah semakin nggak rajin. Sampai dari kamar mandi ke kamar aja gue lari saking sudah telatnya. Makan boro boro.

Dan karena gue ditimpa banyak kesialan pada akhirnya, gue nggak mau berkubang pada derita menahun yang sama. Dan pada akhirnya Alloh memberikan pencerahan melalui tangan manusia dan gue akhirnya bisa bangun pagi. Denger Bruno Mars nyanyi “cause you’re amazing,”, gue udah buka mata. Ngulet indah. Bangun. Baca do’a. Buka jendela. Menghirup udara sambil merem melek dan berkata “Selamat pagi Dunia..”. Kayak di pilem pilem begitu. Kenapa lagunya “Just The way you are”, namanya juga usaha. Sapa tahu gue suatu hari amazing beneran. Bahahaha..

Kalau kelas pukul 9, gue mandi pukul 7.30 dan gue bisa siap siap selama 1,5 jam. Bisa berangkat 7.45. Dan gue bisa melangkah dengan ringan dan indah dengan ujung rok berjuntai juntai dan ujung jilbab merebak rebak ke udara.

Lari? NEHI.  http://www.emocutez.com

Dan semester akhir ini gue jarang sekali terlambat. Beda banget sama semester semester sebelumnya. 

Dengan berbekal hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari besok harus lebih baik dari hari kemarin, gue mencoba untuk bisa menjalani hidup dengan tidak grusa grusu. Takutnya, waktu sudah kerja juga masih berkutat dengan masalah yang sama dan tidak bisa move on ke penyelesaian masalah berikutnya.

Jangan. Stuck itu nggak bagus. Move forward!!! http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com

Dan juga, di usia gue ini, kalau gue juga masih lari lari menyelusuri tepian jalan depan pasar Projo, lari lari sepanjang pertokoan Jalan Diponegoro, gue malu. Malu sama umur.

Gue dulu ngerasa apes banget. Rumah jauh, harus naik bis pun dua kali, uang saku kemakan banyak di transportasi bahkan uang buat angkot lebih banyak daripada buat makan. Semacam perih.

Yang lain masuk jam 9, jam 8.45 baru keluar dari rumah, memasang helm dan meluncur sesuka kehendak hati. Guenya sudah berangkat dari sejam yang lalu.

DULU. Setiap hari gue melakukan perbincangan yang kadang berujung pada perdebatan.



“Duh, aku capek. Pulang magrib, sampai rumah isya. Masih ngerjain tugas, drama korea belum ketonton, besoknya pagi pagi udah berangkat lagi. Sorenya masih ngelesin.”

“Lha meh pie?”

“Masih ditambah masalah lainnya, masalah yang konkret, masalah abstrak. Test, final project, hati tercacah, what the heaven!!”

“Alah, nggak usah kayak orang susah gitu to Mek. Udah alhamdulillah bisa sibuk begitu. Dari 28 temenmu SD yang bisa menjalani hidup serupa kamu berapa orang?”

“Tiga.”

“Sisanya?”

“Membina biduk rumah tangga.”

“Kenapa kok sudah membina kayak begituan?”

“Mereka bilang, sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mencari pendamping hidup dan memenuhi kebutuhan sehari hari.”

“kenapa demikian Mek?”

“Karena nggak bisa meneruskan pendidikan yang lebih tinggi terbentur keadaan ekonomi.”

“Jadi???”

“harus bersyukur Ke..”

“Pinter...”

Lalu gue tidur. http://www.emocutez.com

Di lain hari percakapan serupa juga terjadi.

“Kata temen temen gue, gue makin kurus, Ke. Ya iyalah kurus, mau sebanyak apa yang gue makan, menguap semua di jalan.”

“Sekarang apa lagi?”

“Gue stress Ke. Kadang gue udah berangkat pagi pun, angkotnya selevel sama budak bercula satu. Di ambang kepunahan. Kenapa gue nggak kayak si A, si B, si C???itu baru soal berangkatnya Ke. Ini ada lagi masalah. Bertubi tubi, menggema gema.”

“Kumat.... harusnya tu bersyukur, semakin berliku liku tu kalau udah sampai destination spotnya, feelnya tuh semakin dapet!! Kalau Cuma kuliah, pulang, tidur, makan roti, nonton tipi, buat tugas, dandan, mandi. Nggak seru Mek..itu NGGAK SERU.”

“Iya juga sih, gue jadi banyak pengalaman mengarungi sedemikian rupa dan hingga perjalanan itu. Gue jadi pemberani.”

“Meykke pasti bisa...”

“Iyo ya Ke. Alhamdulillah Alloh Maha Baik telah memberiku kesempatan sampai sejauh ini, di level ini, dan terus merayap ke atas. Mau 25 km, mau hujan berderai derai , mau jatuh tengkurap dengkul hati lecet semua, mau subuh atau pun kelewat isya, gue terjang. Terjang semuaaaaaaaaa....pecahkan saja kacanya biar ramaiiiii!!”

“Jadi?”

“Ini itu semacam asik, Ke. Aku yakin Alloh mendesign sedemikian hidupku dan Alloh akan terus mendesign hingga bermuara pada titik yang aku impikan.”

“Aamiin..”

http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com

Wassalam
12.04.2013
6:58 AM

4 comments:

  1. owalah itu drimu curhat karo dirimu sendiri to di percakapan akhir2 itu?? wkwkwkw
    ke ke .. refleksi emang perlu haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Seph, tiap hari kita berdebat Seph...hahahahaha

      Delete
  2. ngomong dewek ning kamer depan cermin ya kui ke. ciyan yah *pukpuk* :|

    ReplyDelete