Thursday, 11 April 2013

Kenapa Harus Lari Episode 3


Assalamualaikuuum...



Tuh kan, entah mengapa Lari itu sensitip banget sama gue. Dia nggak pernah ngertiin apa mau gue. Gue susah sejak pertama kenal sama dia. It drove me crazy to the death!! *abaikanpembukaannya

Dari SD sampai Kuliah gue sudah berkubang dengan ‘penderitaan’ seputar lari.

Apakah itu bisa disebut penderitaan?? Apa iya? Masa??

Bila kembali mengedarkan ingatan menuju ke 14 tahun yang lalu, waktu gue masih kelas 3 SD. 

Sejak itu, dari hati gue yang paling dalam, setiap pelajaran penjaskes yang isinya kalau nggak lari mengelilingi desa dua kali, lari melewati jalan alternative Brongkol sampai SD tetangga yang ada di sana, main kasti, bikin paving, ya jaring jaringan. Dan jaring jaringan adalah permainan paling memuakkan.  Kalau lari dan kasti itu burdennya itu nggak besar besar amat. Tapi kalau jaring jaringan, subhanalloh gue depresi berat.

Akan dipilih satu orang yang terpilih untuk menjadi pemula. Semua anak akan menyebar di segala penjuru di suatu lapangan rumput yang sekarang udah jadi ruko ruko Ambarawa rest area. Satu orang itu akan memilih satu target dan menangkapnya. Bila sudah tertangkap, mereka akan berkongsi untuk menjadi 2. Mereka bergandengan mesra sekali mendiskusikan seorang target dan menangkapnya. Tertangkap sudah, jaring menjadi 3 orang. Begitu seterusnya. Semakin beranak pinak.

Bedanya, bila Kasti gue dipilih paling akhir sendiri, ini gue jadi ‘dipilih’ paling awal. Karena apa??? 

Yak, karena gue larinya ithik ithik ithik, dia Cuma lari setengah interval aja juga sudah mampu nangkep gue. Dan akhirnya gue harus berkolaborasi dengannya, menangkap yang lain. Pasangan gue ini bukannya memperlakukan gue dengan mesra, tetapi kekerasan dalam jaring jaringanlah yang terjadi.

“Ke, cepet ke sebelah kono!! Sebelah kono!!” dengan bergandengan tangan gue mencoba lari sebisa mungkin.


“Aduoooooooooooh, kono lho kono!! Cepet cepet cepet!!!”

“Balik lho balik cepet to Ke ah!!”

Sumpah gue merasa orang paling bodoh sedunia di lapangan itu. Gue lari, gue balik, gue ke sana, mojok ke sana, gue nggledak!!  http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com

Pernah gue seperti biasa tertangkap di awal, dan dari mulai itu berarti gue harus lari non stop sampai semuanya bergabung membentuk jaring. Gue udah capek rasanya mau pingsan. Udah panas, gue haus, badan gue macam korek api, nih nggak selesai selesai.. karena gue kekurangan 1 ion tubuh, gue nggak konsentrasi. Jaring jaring tu udah panjang gitu ya, gue di tengah karena dianggap kurang kompeten menjaring mangsa. Yang di tepi itu yang larinya cepat jadi bisa mengarahkan ‘kail’ dengan agresif aktif.

Jaring jaring itu menghadap ke barat, lalu tiba tiba mangsanya berputar hingga semuanya ada di sebelah timur.

“Woy mbalik woy mbaliiiik..”

Jadi, kita semua lepas gandengan, balik badan, dan kembali bergandengan. Karena gue udah capek, gue nggak konsen.

Tiba tiba semuanya berubah formasi balik badan, dan dengan cekatan tangan seribu menggandeng lagi lalu lari sekencang kencangnya. Gue yang masih posisi menghadap ke barat langsung ditarik mundur. Gue nggledak!! Gue nggak bisa menangkap badan gue dengan tangan karena tangan gue dengan erat dua duanya dipegang kanan dan kiri. Gue nggledak se nggledak nggledaknya! http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com


Gue masih inget banget yang di sebelah gue adalah Sigit. Sekarang dia udah nikah punya anak satu, laki laki dan tinggal bersama istrinya di Kalimantan.

Sampai sekarang gue inget banget bagaimana gue bisa nggledak. Sigit adalah salah satu tersangkanya.

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuk......huaaa...Ebooooook..” http://www.emocutez.com gue nangis di pinggir lapangan sambil megangin punggung dan kepala gue. Yang lain masih sibuk njaring njaring, raut muka mereka bahagia sekali ala anak SD, gue nelangsa setengah mati.

Setiap penjaskes kalau bau baunya udah main jaringan, atau lari, gue dan Lia sepakat untuk sakit saja. Kita berdua dilanda ketakutan akan nasib kita di lapangan. Sakitnya tidak hanya di badan, tetapi membekas di hati, dalaaaaaaaaam sekali.

--------------------------------------------------

Lari itu pernah jadi traumatic untuk hidup gue. DULU. *inilebay

Karena lari gue pikir dulu gue adalah orang paling naas sedunia, merasa diremehkan, merasa diperdaya, merasa dilecehkan. *seriusmode

Dulu gue belum tahu soal mental dan batin segala macam karena dulu gue belum baca buku buku motivasi. Gue bacanya masih selevel ‘Cara Budidaya Lele Jumbo’ atau ‘Nyi Roro Jonggrang’, atau cerita cerita lainnya. Gue sudah suka baca sih. Dan karena yang ada di perpus Cuma itu ya yang penting ada bacaan.

Cuman dulu gue pikir,

“Oke, gue emang nggak bisa lari. Tapi pasti gue bisa olahraga lainnya. Pasti” http://www.emocutez.com

Kelas empat, salah satu guru gue buka les berenang. Dan tenyata, gue suka berenang. Tiap berenang gue bayangin gue bisa berenang di laut yang di bawahnya banyak ikan ikan kecil, karang karang, kalau gue bisa mengapung ngapung sambil menikmati keindahan alam sambil make bikini wana biru polkadot . Jadilah gue bisa renang gaya meluncur. Lalu, gaya yang buka ketek, tutup ketek, buka satunya, mencakar udara, melipat di bawah air, kepala dimunculkan di arah berlawanan, bernafas...lalu seperti itu berulang ulang.

Sejak itu gue cinta berenang karena pingin bisa berenang di laut. Lalu, beranjak SMP gue diajari salah satu temen gue bernama Azis caranya renang back roll (bener nggak tulisannya?). renang gaya menatap langit. Badan nggak tengkurap tetapi menengadah, buka ketek, buang jauh ke atas kepala, lipat bawah air, begitu seterusnya..

Ujian SMP, olahraga ada ujian renang. 

Dari banyak siswa, gue mendapat nilai sempurna. Dari pojok sana sampai pojok satunya gue berhasil berenang gaya tengkurap buka tutup ketek walau waktu itu gue belum bisa teknik bernafas jadi gue nggak bernafas sepanjang perjalanan. Hal yang sama terjadi juga di gaya backroll. Gue bisa nggak tenggelem dari ujung satu sampai ujung lainnya. Gue masih bisa mengvisualisasikan saat saat bahagia itu. Gue akhirnya bisa olahraga ,pikir gue. Apalagi waktu itu gue naksir sama teman sekelas gue namanya Puji. Gue makin semangat karena dia ngeliatin gue di tepi kolam renang. Bahahahaha... Uma juga udah sekelas sama gue waktu itu. Uma juga tahu Puji. Gue manggilnya, “Puji Syukur kita panjatkan kepada Alloh SWT karena atas kuasanya kita bisa berkumpul di tempat ini”.

Dan, gue nggak jadi merasa orang paling naas sedunia.

Dan lagi, walaupun gue lemah dalam berlari, alhamdulillahnya proses ‘lari’ otak gue nggak selemah kaki gue. Dia bisa lari lumayan cepat sehingga dari kelas 1 sampai dua, gue bisa jadi juara kelas, dan gue pindah sekolah di sekolah dengan guru Penjaskes bernama Pak Pardi itu, dan gue bersaing sampai kelas 6 bersama Zaenal, Sherly, dan Ardiyanto. Zaenal tak tertandingkan menguasai juara kelas, dan aku bersama Sherly dan Ardiyanto memperebutkan kursi kedua dan ketiga.

Gue juga terpilih menjadi dokter kecil yang tugasnya membagikan susu sekolah dua rasa, rasa coklat dan strawberry setiap hari Rabu. Boleh nambah kalau ada yang nggak doyan. Juga, lomba dokter kecil di Ungaran bersama Zaenal dan Sherly. Setiap hari kita berlatih di salah satu rumah bidan di Jambu.

Pernah waktu puasa, gue lomba baca Alqur’an yang pakai lagu gitu di Jambu, Tartil?. Juga, lomba baca puisi dalam bahasa Jawa, Geguritan. yang gue inget linenya itu,

“Gegodongan pating rembuyuung...”

Itu ceritanya pokoknya puisi tentang pohon yang rindang. Walau pun satu pun nggak ada yang menang, gue bersyukur luar biasa karena akhirnya gue ‘berguna’. Gue nggak bisa lari dan digledakkan oleh Sigit, tetapi gue bisa ikut lomba otak gue alhamdulillah lumayan encer.

Saat perpisahan SD, gue berpidato mewakili teman sekelas berpamitan dengan sekolah.

Nobody is good at everything

Tidak ada orang yang bisa menguasai segala keterampilan dan kepandaian. Yang juara boxing belum tentu bisa juara lari cepat. Yang pintar berhitung, belum tentu pintar berbahasa. Atlet renang belum tentu bisa jadi atlet berkuda. Alloh memberikan masing masing umatnya dengan keterampilan dalam keterbatasan. Tidak ada yang sempurna kecuali Alloh SWT.

Gue baca di buku, itu mengapa manusia diberikan amanah untuk bisa mencari ‘ladang’nya dan ‘mencakul, membudidayakannya’ dengan sungguh sungguh agar bisa ‘panen’.

Jadi ingat apa yang Bapak Bambang Handoyo bilang, yang termasuk dalam seven foundations to build your life, point pertama subtema pertama. Dalam prepare yourself, hal pertama adalah Sharpen your competency, alias pertajam kemampuanmu. Untuk bisa mempertajam, harus tahu dulu bakatnya apah. Begindang.

Gue curhat sama Ibuk,

“Buuuuk, piye Buk aku tiap olahraga menderita Buk...kalo lari ketinggalan, kalau Kasti nggak ada yang mau sama aku, kalau jaring jaringan aku dijaring duluan. Aku kemarin nggledak buk..Aku syedih..” http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com

“Ike anakku sing ayu dewe, nggak bisa lari tapi khan ntar bisa pidato, bisa baca Alqur’an, bisa jadi dokter kecil, bisa juara 2, bisa lomba lomba...bisa bikin cerpen..”

Nyesssssss......Manusia cenderung karena nila setitik rusak susu sebelanga dengan arti yang gue modifikasi, menghilangkan segala kelebihan yang dipunya. Karena kekurangan satu hal, tertutupilah sebelanga kelebihan lainnya, seakan akan karena kekurangan itu dunia runtuh, hidup tak bergairah walau sudah minum Extra Joss rasa Anggur yang Mbah Marijan bilang, “Roso!! Roso!!”.

Itu amanah number 1. Memang, gue nggak bisa berlari secepat Fitri dan Nur, tetapi Fitri dan Nur tidak lebih cepat dalam berpikir dibandingkan dengan gue. Hehehe... Alloh itu Maha Adil, Maha Memberi, Maha Mendesign, Maha Segalanya. Alloh itu baik sekali. http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com http://www.emocutez.com

Waktu SMA dan Kuliah, terus pie?

Kenapa harus LARI Episode 4, besok. Hehehehehe

Wassalam
-to be continued-
11.04.2013
7:48 

31 comments:

  1. memorynya bisa se detil itu ya apalagi mau nambah sampe episode 4, gue mah agak2 gak inget waktu SD, satu-satunya yg masih gue inget cuma gue cowo dan itu masih saat ini juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih aku pikir ini episode terakhir ternyata masih ada episode tambahan, jangan bosen lho ya. hahaha....
      iya, soalnya itu sangat memorable buat aku, jadi ingat sampai nanti tuaaa..hahaha

      Delete
  2. Wah.. otaknya pkek hardisk apa tu..
    kog masih inget waktu eSDenya..

    kkakaka
    mampir ke blog Ku ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, inget soalnya memorable gitu...:D

      oke sip:D

      Delete
  3. ithik ithik ithik (bebek?) wkwkwkwkkwk

    walah cabal eaahhhhh .. hohohoho at least gueh dlu kagak pake nggledak segalak!

    puji apa kabar puji???? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha, yah nggak seru seph kalo nggak nggeledak tu kurang seru, kurang dapet feelnya seph!!

      hahaha,ya nggak tau lah, udah berapa tahun tu nggak ketemu...sekarang paling dia sudah lebih tinggi dariku..alah SMP seph...hahaha

      Delete
  4. Ya ampuuunnn kamu kenapa nggeledak melulu sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, aku nggeledak baru sekali ini cc Erny -_________-

      Delete
  5. Kya.... yang gue nggak paham. apa itu Jaring jaringan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah Ben nggak baca every single word nih, khan udah aku terangin di atassss...huhu

      Delete
  6. gue juga gitu. kalo pas sd larinya paling lelet. ketinggalan terus #inicurcol

    gue setuju sama kalimat 'Nobody is good at everything'
    Allah maha adil, ada kekurangan dan ada kelebihan. di dunia ini nggak ada orang yang sempurna...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama, mungkin ini emang udah umum di kalangan cewek kalau lari nggak bisa cepet kali ya..hehe

      iya, indeed.:)

      Delete
  7. kalo saya pasti udah lupa tuh masa SD. padahal masih SMU lho...

    ReplyDelete
  8. sama kaya gue mey..gue selalu menderita tiap pelajaran penjas..
    Main voli ga bz...lari ga kuat..kasti jg ga kuat deh... Tp ngomong2...mbah marijan bukannya kuku bima energy ya mey?? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tos dulu kita Rit...
      aduuuuh, bener banget Rita...tapi itu aku buat ngetes coba siapa yang notice postinganku itu..dan ternyata kamu Ritaaaaaa..selamat, kamu cerdik sekali dan teliti luarrr biasaaa..selamaaaaaaaaaat!!! *ngeles -__________-

      Delete
  9. setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan.
    tetap semangat deh, kali aja suatu saat kamu bkal jadi atlit lari *eh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. poin pertama benar, poin kedua, NEHI!!!-______-

      Delete
  10. kasian banget ya, yg terlihat kekurangan karena tidak bisa larinya;;; padahal kan bisa jadi dokter (gadungan) kecil, bisa ikutan tartil Qur'an .. tapi ya itulah dia..

    emmm,,, pesan fb

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia siapaaaaah???hehehehehe
      pesan fb apa???

      Delete
  11. Menantikan eposode 4 nya :)
    Keren ya mbak ^^, nggak bisa berkomentar lagi ah. Tuh di atas udah banyak. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Mbak Sri..hehehehe...sudah ada loh lanjutannya:3

      Delete
  12. hahaha, Tuhan emang adil, dua temenmu itu pasti terseok-seok dalam hal berpikir. Keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. akusuka bahasamu, terseok seok..hehehehehe

      Delete
  13. Sabar ya, Meike. Bener tuh. Setiap orang punya potensi masing masing. Satu potensimu juga nih, tajam memorinya. Bisa detail cerita dari SD. Saya aja nggak sedetail itu ingetnya.:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhe, makasih Lina :)
      wah, itu karena cerita cerita jaman SD dulu sangat memorable banget sih Lin, jadi inget banget gitu. Waktu SMP aku jga banyak yang lupa karena nggak se-memorable SD. :D hehehe tapi aamiin semoga memoriku tajaam ...hehe

      Delete
  14. Jiaahh kasti! Pas SD memang olah raganya itu ya (hmmmm, jadi ingat2 jaman dulu). Ngenes banget baca ceritanya... sampai nggeledak gitu, kalau saya udah mewek kali #jaman dulu yang cengeng :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya emang kayaknya itu olahraga sejuta umat SD emang...wahahaha...emang aku juga mewek -_____-

      Delete
  15. *mentengin, nunggu episode 4*

    ReplyDelete
  16. Ingatannya kuat banget tuk ingat masa-masa SD--masa2 kecil, kalo aku mah udah lupa...

    ReplyDelete