Wednesday, 16 November 2011

Mana Dompet saya, Mana dompet sayaaa????!

On 11.30 I took a bath, dressed up and did a little make up since I start enjoying using eyeliner and the like. Feel like ‘mbak mbak kuliah’ when I did that way. Mumpung muda, I reckon.

Finished doing that ‘woman’ stuff, I was totally ready to go to campus.

Nah, semua barang udah dimasukin tas. Ada buku curmatdev, ada dosgrip alat tulis dan satu dosgrip multifungsi kayak begini.

Isinya ,macem macem. Dari mulai , flashdisk, vitamin, ada piranti cewek koyoto pelembab bibir,parfum, bedak (wekwekwek),semua kartu mulai dari KTP, KTM, Kartu Perpus, kartu makan, kartu remi.(percaya jenis kartu yang terakhir??) sampai ada paku kecil dan juga peniti buat jilbab serta bros dan gelang benang. Kalau itu ilang, hilanglah separo hidupku…. Gembes. It is a must, wajib, fardhu a’in. Tanpa ini aku nggak bisa minum di bis, aku dehidrasi di bis sauna itu… ini tidak boleh terjadi!

Selesai. Dengan sok elok aku keluar rumah. Wangi, sudah. Sumebyar, isyaAlloh. Bahagia, Alhamdulillah… Hujan pun aku lalui dengan hati bak matahari waktu pukul 9 pagi. Terang….

Singkat cerita aku udah di angkot dan sekonyong konyongnya baru inget sesuatu.

“Dompetku masih di lemari!”

Tu angkot masih jalan aja wus wus wus, aku panic luar biasa. Aku tengok kanan kiri nggak ada yang kenal. Maksutnya sih mau ngutang gitu.

“Pak pak, kiri pak!” dengan sekali langkah aku sudah di ujung pintu angkot dengan ujung jilbab terkiwir kiwir tak ubahnya icon majalan Annida.

Bapaknya karena tidak ada sang kondektur, menghamparkan mukanya ke arahku dengan tulisan invisible di dahinya,

“mana uangnya???”

“Nyuwun sewu pak, dompetnya ketinggalan…”

“Oh iya iya..”, Alhamdulillah yah Indonesia, sungguh budi pekerti warganya luar biasa…

Dan si angkot sejauh itu sudah berjalan sejauh kurang lebih 400 meteran…jarak jalan raya sampai rumah sekitar 100 meter. Itu berarti dalam guyuran hujan di bawah lindungan payung aku jalan kaki setengah kilometer mengikuti alur jalan di pinggiran. Tiap bis besar lewat rasanya aku mau kebawa terbang. Yang semula bak iklan di atas kepalaku itu matahari pukul 9 pagi, sekarang berubah jadi matahari sebelum magrib, dengan petir menggelegar dan suasana mistis nan suram. Moodku berantakan.

Membawaku ke pelajaran hidup nomor 3 : Bawalah dompet sebelum melangkahkan kaki keluar rumah dan menghadapi belantara hidup ini.

Sungguh, penyakit lupa adalah penyakit yang berbahayanya nggak ketulungan.

Sering banget penyakit itu kumat ya, yang waktu mandi abis gosok gigi, eh, gosok gigi lagi. Yang ngrebus air lupa nyalain kompor, yang mau ambil nasi lupa ambil gelas, yang brangkat kampus lupa bawa dompet. FATAL!

Akhirnya sampai rumah. Dan karena waktunya juga mepet, aku berangkat lagi.

Di BIS. Mood uda bak cermin habis dijotos. Ibarat verb jenis irregular, tak beraturan.

Seorang pengamen datang menghampiri. Bermodalkan gitar dengan senar layangan, celana sobek nya maksa, dan lubang di daun telinga dengan diameter 2 sentimeter. Berarti kalau gitu luasnya itu 2pqr. Entahlah yah, udah nggak kelas IPA.

Genjreng genjreng dengan semena mena tu mas pengamen. Bikin suasana hati makin suntuk. Kalau tadi baru petir menyambar nyambar, sekarang badainya datang, bak di film apa entah judulnya, badainya twins, di lautan mengampit jembatan. Yah gitu lah…

Dia krena nggak bisa main gitar, jari kiri nya Cuma megang batang gitar nggak ngapa ngapain, yang satu lagi genjreng genjreng lack of rithme. Sediiiiih banget rasanya aku. Kayak mau lompat dari bis terus menggelepar di tengah jalan pura pura mati.

Jeleknya aku adalah wajahku adalah cermin hatiku. Kalau seneng keliatan bersinar sinar, tapi kalau BT, sedih, semrawut, kliatan banget. Tuh, mungkin si mas pengamen kerasa tatapan sadisku, yang tadinya di seat bagian depan, tiba tiba pindah di samping seat yang aku dudukin. Lalu, sambil nyanyi di depan mukaku, dia nyanyi Aisiteru.

“Walau..raga kita terpisah jauh, namun hatiku kan slalu dekat, bilau kau rindu pejamkan MATAMU…dan rasakan aw aw aw ku..”

Nah, di frase MATAKU, dia mengemphesize atau memberi tekanan pada setiap suku katanya sambil menodongkan wajahnya kea rah MUKAKU.

“Karepmu, mas….” Batinku…

Makin kalut hatiku…

“Ambil saja aku Ya Allooooh….” Ucapku di sela derai air mata sambil menengadahkan kedua telapak tanganku, ala Raditya Dika.

Pergi dia. Aku panjatkan puji syukur yang sedalam dalamnya kepada Alloh SWT.

Datang lagi 1 pengamen. Ni mas mas kereeeeeeen banget suaranya. 11 12 lah sama Sammy Simorangkir. Suaranya lantang, serak serak basah. Kalau ni bis Sari terbuat dari kaca semua, pasti tiap dia nyanyi, langsung gemeletak kaca kacanya.

Dia nyanyi begini,

“Jujuuuur…aku tak sanggup, aku tak bisa, aku tak mampu, dan aku tertatih….”

Mendayu dayu, bikin hatiku sekarang jadi mobat mabit. Meresapiii banget. Hehehehe….

Dan, finally suara mas nya ini bikin moodku kembali ke jalan yang benar.

Inget baca quote quote yang bertebaran di twitter, begini kira kira..

“It is not about the situation you face, it is about how you react towards it.”

“Yang penting itu bukan situasinya (toh juga emang harus terjadi), tapi bagaimana kita menyikapinya.”

Dompet udah ketinggalan, itu situasi. Reaksinya kan pertama mau nggak mau aku harus jalan pulang dan ambil. Dan reaksi berikutnya soal mood. Tergantung aku, moodku mau aku terusin bak langit penuh petir apa langit habis hujan muncul pelangi.

Dan aku pilih yang kedua aja. Idup udah sulit kalau Cuma dompet ketinggalan aja bikin mood jatuh selama seharian, gimana lusa saat aku dilepas ke dunia fana ini sendirian?

Menata mood, dan tidur bentar di bis udah bisa mengembalikan moodku.:D

Sorenya, untuk menyenangkan diri, aku bersama teman kuliah bersepeda keliling kota Salatiga. Cukup dengan 3.000 rupiah, we got sweat!! We were happy!!

Dan sampai pada suatu kesimpulan yaitu peajaran hidup nomor 11 yang sangat sangat INGIN bisa aku resapi dan amalkan,

“Hidup itu udah susah, nggak perlu dibuat semakin susah dengan melebih lebihkan perkara kecil dalam hidup.”

Sungguh, aku pingin banget ngamalin itu. Cukup sekian dari saya. Semoga menghibur dan berguna. Wassalam

15.11.2011 22:50

10 comments:

  1. And so, it's not that easy because it gives you access to
    their preferences. The hero hay day cheats is equipped
    with bluetooth you have like action games, Wolfenstein and
    Tetris are old favorites with the use of mobile bingo.
    Many a times it happens that the difficulty introduced in the entire galaxy through war, culture,
    diplomacy or technological advancement.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...