Wednesday, 12 October 2011

Kudya Lumpying

What’s coming up in your mind when you hear a word called ‘kuda lumping'?

- Norak,

- Mistis,

- Ketinggalan jaman

- Jaman batu

- Kuda kepang

- Dandan menor

- Ndeso

- Tidak sesuai, selaras dan sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini,

What’s else?? Ya mungkin nggak semua beranggapan seperti yang aku tulis di atas sih ya, mungkin ada juga yang gemar melihat atau bahkan ikut berpartisipasi di dalamnya.

“Weleeeeeh, hare gene???Pleeesss deeeh…

aku suka hal hal yang berbau mistis. Waktu dulu aku suka cari video video penampakan di Youtube. Ada yang Cuma hoax, dan ada yang nyata bener bener. Salah satu yang menjadi favoritku itu 2 orang yang ngomongnya ngapak khas Banyumas pergi ke kuburan, dan menemukan sesosok pocong, terus menghilang, ada lagi, dan pocong yang kata Raditya Dika kayak permen cupacups itu apiiiik. Okeh, nggak apik sih, cuman kliatan pocong asli berkain putih dan matanya putih semua gitu. Ada lagi yang juga pernah masuk di Insert soal penampakan tuyul di salah satu rumah warga gitu, ada juga Kuntilanak yang nembus dinding sebuah rumah sakit dan terekam CCTV di salah satu sudut rumah sakit itu. Film film mulai dari Vampire jaman dulu yang sekilas gerakannya mirim pocong, menurut dugaanku sih mereka dulu bertemu dan saling kenal saat berdagang rempah rempah antar benua, jadi saling bertukar pandangan tentang cara berjalan. Bedanya kalau pocong tangannya sedakep, kalau vampire yang takut sama kertas itu tangannya menghadap ke depan dengan tangan lurus rata rata air. Pocong bajunya putih polos, vampire bajunya hitam berpayet merah kalau nggak salah, trus pake topi yang belakangnya ada kepangnya (sampai berkepang coba, pasti terpengaruh budaya pocong asli Indonesia tenan ni.). Waktu kecil itu film favoritku, di TPI kalau nggak salah. Lalu ada Van Helsing, dan film film mengangkat tema horror lainnya kecuali film horror Indonesia. Nggak tau kalau itu film horror apa film mesum. Kayak kata Raditya Dika, waktu di film antahapajudulnya, Dewi Perssik liat setan, teriak, lari, dan yang disyuting apanya??? Dadanya.

Cukup soal makluk dunia lain. Kembali ke reog. Aku tidak membahas soal ini boleh atau tidak gitu ya, aku tidak tau apa apa soal itu, yang membiarkan setan merasuki tubuh manusa atau gimana. Namun, reog itu salah satu budaya Indonesia yang pantas dipelihara. Nanti tahu tahu diklaim Negara lain baru kalang kabut kebakaran jenggot…

Dan kemarin di tempat aku tinggal, ada reog yang aku bilang reog generasi muda. Soalnya yang main dari anak anak, remaja, sampai dewasa. Bahkan, ada ceweknya juga, let me tell you yah ni…

Pertama khan yang cewek cewek remaja tu, nari nari berirama gitu deh ya, terus naik kuda kepang khas reog gitu, lengkap dengan dandanan sedemikian rupa dengan make up yang full color.

Nah, disusul reog cowok yang sekitar kelas 6 SD sampai SMP gitu deh ya, mereka semangat 45 dan bisa aku bilang, mereka lebih cenderung terlihat seperti lagi disco ketimbang ngreog. Setelah disco sana sini, mainin kuda kepangnya, mundur maju tak karuan, saat music sudah semakin cepat beatnya, tiba tiba bapak dalangnya serta merta mengibaskan pecutnya ke tanah.

“cethar!!!” begitu bunyinya.

Seketika itu juga si cowok cowok ngreog ala disco itu menggelepar gelepar, ndlosor ndlosor, pura pura mati, lalu mendelik mendelik, liat langit, dan joget joget sambil ngunyah kembang mawar segar di pojok lapangan.



Bener bener kompakan mendemnya. Lalu, tak lama berselang, ada barongan dan penthul seperti tampak pada gambar. Yang ini cowok cowok usia baligh ke atas, Cuma waktu aku foto waktu mereka nggak pake baju khas reog. Lalu, masuk, sekonyong konyongnya buka tutup tu kepala barongan sambil meliuk liuk ala barongsai. Bedanya, kalau aku liat Barongsai tu khan cantik gitu ya, liat aja bulu matanya aja sama aku yang udah aku lentikin segala masih lentikan dia. Kalau ni barongannya kayak begini. Tapi tetep eksotis kok:D

Lalu ada beberapa cowok usia dewasa memakai penthul atau topeng seperti tampak pada gambar. Mereka joget joget disco sesuai irama gendang dan teman temannya. Beat pelan mereka meliuk liuk, beat cepat, mereka berhentak hentak, lari mobat mabit, menggelepar lagi, ngulet ngulet di tanah, nanti makan kembang mawar dan minum airnya, nanti tiba tiba njawil atau nguleng nguleng penonton begitu terus penontonya ketularan. Ketularan apa?? Ketularan kerasukan dan langsung melet melet sambil tiduran dan tak lupa ngulet ngulet. Kadang, si dalang saat di irama tertentu yang seperti irama klimaks begitu, dia memercikkan air, dan entah apa yang trjadi di dunia sana saat itu. Menurut penerawanganku sih, detik dimana air terkena salah satu orang, maka bersamaan dengan itu pula pintu ke alam gaib terbuka. Setan yang antri segera keluar dan masuk melalui jari jari atau telapak tangan penonton. Dan seketika dia kerasukan. Lalu, saat disebul oleh si dalang, aku liat ekspresi mereka selalu meringis ringis dan tangannya mengepal, gemetar dan kaku begitu. Menurut penerawanganku lagi, saat itu ada pergulatan antara makhluk gaib dan roh orang tersebut.

“Dal, tolong jangan keluarkan aku!! Aku masih ingin berdisco dan makan kembang!!”

“Tak bisa!! Kalau kamu terus berada di tubuh ini, maka kamu akan sedikit demi sedikit menyerap energy manusia orang ini!! Keluar!!”

“Dal, aku belum mau keluar!! Aku tidak akan menyerap energy manusia orang ini!! Aku hanya ingin memperlihatkan kebolehanku berdisco, dal!! “

“Dal, lepaskan dia, Dal!! Aku ingin kembali ke jalan yang benar!!Lepaskan aku, Tan!! Aku hanya ingin terbebas darimu, aku sudah capek sama kamu!!” kata roh

“shvchdgjbhdjbfhgfjdbjkdhfifhg, Bueh!!!” Setan kembali ke habitatnya. Si penonton terselamatkan.

Yang bikin aku kaget waktu kemarin, waktu dalang mencetarkan pecutnya, tiba tiba tak diduga tak dinanya, cowok pake jumper, baju bagus, tiba tiba nyungsep di tempat berbatu, dengan posisi tengkurap dan tidak bergerak, seperti pura pura mati. Si teman yang tak tau apa apa, menyeret kakinya, si korban terantuk batu khan, dan benar benar membuatku emosi.

Dia kerasukan, dodoooool. Kalau kamu tarik yang ada wajahnya nanti luka luka kena batu. Ckckckckc, teman durhaka.

Namun, ada satu yang aku bingungkan. Ada seorang anak yang kalau joget sebelum kerasukan benar benar kayak ikut senam SKJ, kaku dan nggak luwes babar blas. Lah, setelah kerasukan cara jogetnya itu benar benar advanced, expert, jago!! Ada juga yang begitu kerasukan bisa langsung guling guling cepet gitu hampir mengitari seluruh lapangan tempat ngreog. Dan, apa yang mereka mau ketika kerasukan atau bahasa gaulnya mendem itu macem macem. Ada yang minta susur, minta telur, minta salaman sama salah satu ustad tersohor di tempatku gitu, dan masih banyak lagi hal tak normal lainnya.

Sebenarnya masih banyak yang bisa difoto waktu itu, yang ini khan nggak pake seragam dan pernak pernik gitu, berhubung aku juga nggak liat full, jadi fotonya juga nggak ada. :(

Nggak papah yaaaah, lain waktu lagi yaaah...:D

Intinya, menonton reog bisa menemukan sisi lain dari kehidupan ini. Terlepas dari mereka pura pura atau benaran kemasukan setan, aku yakin selain ada dunia nyata, dunia maya, juga ada dunia gaib. Dunia yang tidak bisa dilihat, diraba, didegar, tapi bisa dirasakan. Wuisss, kayak cinta dong??@@

Cinta tidak bisa didengar, diraba, dilihat, tapi hanya bisa dirasakan dengan hati. :D

Dan inti yang kedua setelah berbaik baiklah hidup berdampingan dengan sesama makhluk Tuhan beda asal dan type ini dengan rukun dan damai, juga lestarikan budaya nenek moyang. Mereka (para pemain reog) kenal internet, mereka punya facebook, mereka sekolah, tapi mereka tak malu ikut menjaga warisan leluhur. Mereka itu seperti batik tenunan di tengah tengah kain sutra dengan potongan stylish masa kini full color dan bercorak ramai. Mereka itu anak bangsa kebanggaan kakek dan nenek Indonesia. :D

10.10.2011 14:35

No comments:

Post a Comment