Thursday, 10 February 2011

get married?




Menikah??
Kata yang barangkali akhir akhir ini semakin akrab denganku. Obrolan bersama teman teman pun juga terkadang berujung pada satu kata itu. Umur 19 tahun, pikiranku semakin ruwet, terkontaminasi oleh hal hal yang berbau dewasa, dan lagi lagi berujung pada 1 kata ajaib itu. Lihat sekelilingku, banyak sekali teman SDku yang sudah menikah. Kira kira lebih dari separonya, bahkan sudah banyak yang menjadi ibu atau sedang menunggu proses kelahiran. Kok agak mengejutkan bagiku.

Sabtu yang lalu, 5 februari 2011, bersama teman teman SMA mengunjungi salah seorang teman yang sudah menikah, baru saja menikah bisa dibilang. Karena kita ingin tahu dan juga ingin bersilaturahmi, datanglah kita ke sana.
Dari situ aku mulai berfikir sedikit banyak soal menikah. Hussh!! Jangan berfikir yang tidak tidak, baca dulu lanjutannya!!
Si narasumber sangatlah dewasa, ibarat kata aku masih di kilometer 10, dia sudah berada tepat di kilometer 100. 10 kali lebih dewasa daripadaku, kesimpulanku begitu. Jawaban jawaban yang dikemukakan juga bikin aku manggut manggut.

Kok bisa yakin kalau si pria tersebut adalah jodohmu??”
karena Cuma dia yang berani ‘nembung’ ke bapak, buat ngelamar aku, aku juga pingin Cuma punya pacar sekali trus nikah.” “Kok berani?” “ya berani, sholat istikharoh.biar pas kuliah, udah nggak mikir yang macem macem, focus kuliah karena uda dapet jodoh.”

Suaminya selisih banyak tahun di atas dia, sabar katanya, dan pastinya gentleman. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya. Sebagian orang mengatakan kuliah dulu, kerja dulu, baru nikah. Sebagian lagi percaya, dengan menikah, kita bisa mendapat support plus plus dari si suami atau istri dan akhirnya melejit pesat.

Kebanyakan orang menikah di usia belia, apalagi pada usia belasan dikarenakan MBA. Ya, walau pun banyak juga yang nggak. Temen temenku SD juga setau aku nggak ada yang MBA, Cuma karena setelah tamat SMP atau SMA mereka memutuskan untuk kerja, ternyata juga dapet jodoh ya tunggu apa lagi??

Tapi yang ini beda. Dia masih meneruskan kuliah dan juga bersedia nikah muda. Bukan MBA. Kesadaran penuh untuk membina rumah tangga di usia yang relative sangat muda. Aku salut.
Kalau di kasih skala 1-10, dimana pada skala 10 aku sudah ngebet banget pingin nikah, dan harus nikah tahun depan, aku masih berada pada skala 1. Belum siap luar biasa.
Walau pun menikah itu yang aku dan teman teman bayangkan adalah

Saat kita menutup mata dan membuka mata, dia adalah orang terakhir dan orang pertama yang kita lihat,

Buat cowok, tiap pagi dibangunin dan dibuatin kopi, sukur sukur sarapan (kalau istrinya bisa masak, kalau nggak ya roti aja udah cukup to ya,)

Buat cowok, pulang kerja dibuatin kopi lagi sama dipijit,
Buat cewek bisa dianterin kemana mana, bisa minta pijit juga,
Nggak perlu smsan ataupun telponan karena udah seatap, malah juga seranjang,
Apa yang tadinya haram juga halal halal aja,
Makan bersama, foto foto berdua sampai bosen juga bisa,
Kalau kangen tinggal nengok udah di sebelah,
Cerita dari pagi sampai pagi lagi juga nggak ada yang ngelarang
,
Berprinsip, punyaku punyamu, punyamu pun punyaku.
Serasa dia milik kita seutuhnya, mutlak hukumnya.

Indah, bukan??

Terkadang apa yang kita expect itu belum tentu menjadi benar.
Selain membayangkan yang indah indah, sepertinya wajar kalau diimbangi dengan membayangkan yang jelek jelek, seperti
Emosi masih labil, gampang bertengkar. (kecuali kalau pihak laki laki luar biasa sabarnya seperti suami si narasumber, bisa mendinginkan saat panas, dan menghangatkan saat kedinginan.)

Rawan selingkuh. Wah, gawat iniiiii. Oke, hal yang sebenarnya ada di urutan nomor 1 saat aku membayangkan kejelekan menikah. Hare gene, mameeeet….. nyari laki laki baek dan setia luar biasa kayak nyari lodok cacing di tanah liat. Berharap lusa I get him. Amien ya robbal alamien…

Belum ada karier. Entah sifatku itu bagaimana, disorganized atau pun kebalikannya, tapi aku senang merencanakan kegiatan kegiatan ku pada hari hari berikutnya. Aku tulis satu persatu dari urusan mengerjakan PR sampai giliran ngganti sprei dan menyetrika baju. Begitu pula dengan urusan super besar dalam hidup ini. Aku pingin sebelum menikah dengan siapa pun itu, harus direncanakan matang matang soal hidup setelah menikah, bukan hanya masalah resepsi saja. Mau tinggal dimana, komitmen untuk tetap boleh bekerja (pasti tau batas batas bekerja, nggak mungkin bekerja 24 jam full atau 12 full), tahun nikah keberapa saat sudah siap punya anak, pendidikan anak, masih juga perjanjian untuk saling setia, dipikir bener bener dulu kalau dial ah orang yang akan aku lihat saban harinya. Jangan sampai salah dan malah berubah menjadi orang yang menyakiti kita saban harinya.

Masih dalam sudut pandangku, menikah itu bukan berarti menyerahkan sepenuhnya nasib kita pada sang suami. Aku ingin terus menjadi wanita mandiri, menggapai semua impianku, yang ini, itu, bikin ini dan itu. Namun juga tidak melupakan kewajiban baru sebagai seorang istri. Tiap wanita khan juga bercita cita jadi wanita sholehah, selebihnya tergantung si pria dalam memperlakukan istrinya. Kalau Anda mau semena semena ya saya doakan istri Anda juga semena mena. Laki laki itu entah berapa perbandingannya, lebih banyak yang amburadul. Namun aku berpegang teguh pada sabda Allah,

Orang yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula, begitu pula sebaliknya.
Subhanallah, Allah saja menjamin begitu, aku jadi termotivasi untuk semakin menjadi wanita baik baik.

Menikah, setiap orang tentunya ingin menikah. Selain untuk melestarikan jenisnya seperti yang tertera di buku Biologi bab Berkembang Biak, menikah juga untuk menyempurnakan agama seperti yang tertera pada pedoman hidup kiriman dari ALLAH SWT.

Hanya saja, ada yang ingin menikah muda dulu baru mengejar ilmu dan berkarier, ada yang ngebet ingin menyabet segala pencapaian dulu sebelum mencapai pelaminan. Hak setiap orang untuk berusaha menjadi bahagia dengan cara mereka sendiri sendiri. Mereka merencanakan dan ALLAH SWT yang menentukan. Aku merencanakan nikah umur 27 tahun, siapa tahu ALLAH SWT menghendakiku menikah umur 25 tahun. Allohu alam. Yang penting berusaha untuk mewarnai hidup yang sekali ini dengan hal hal yang halal, yang tidak melenceng, yang masih dalam track, dan semoga kita semua mendapatkan jodoh dengan cara yang indah, dan meninggal dengan masih memakai cincin kawin yang pertama dan terakhir.(kok merinding ya nulis ini?)

Thx for reading, maaf temanya agak berat. Hanya berbagi pandangan, setuju atau pun tidak, silahkan berbagi komentar.
6.2.2011 2:57 PM Lovely bedroom.

No comments:

Post a Comment