Monday, 21 February 2011

cerpen : UTUH UNTUK KAK DYLAN





Seperti biasanya, sepulang sekolah dia menungguku di depan gerbang sekolah. Dia Dylan, pacarku yang juga seorang mahasiswa di kampus yang berada tak jauh dari SMA ku ini. Setahun yang lalu, kami berkenalan di sebuah game center. Tanpa sengaja saat aku dan sahabat sahabat ku bermain sebuah game dance, dan kita bertemu di satu room dance yang sama. Setelah berkenalan lewat game, barulah aku tahu bahwa ternyata dia ada di satu game center yang sama denganku. Unik memang, sebelum kami berkenalan di room dance itu, kami sebenarnya sudah beberapa kali bertatap muka, tetapi tidak pernah betegur sapa karena memang tidak saling kenal. Setelah bermain game bersama cukup lama, dia mengundangku untuk menjadi cuple di game itu. Jelas saja aku menerimanya. Tidak hanya karena dia jago banget bermain game atau charmingnya nggak ketulungan, tetapi juga karena aku merasa nyaman, senang, betah bersamanya. Sebenarnya ada satu alasan lagi tambahan. Karena dia mahasiswa. Dari dulu aku pingin banget punya pacar anak kuliahan, serasa punya kakak dadakan. Kalau dengar temen temenku ngobrol, aku suka iri dari dulu ngejomblo mulu. Apalagi kalau mereka bilang,
“Tau nggak sih cin, kemarin gue abis dibeliin boneka lucu banget sama pacar gue yang anak kuliahan itu lho. .tahu banget gue suka ngoleksi boneka babi.”, dengan gaya ngomong dibuat buat kayak abis menangin undian berhadiah uang tunai jutaan. Girang banget! Atau. . .
“Kemarin gue abis dinner romantis abis gitu sama pacar gue. Tau nggak sih, dia itu bela belain datang jauh jauh dari Jogjakarta cuman buat ngasih surprise gue. . .”, kayak abis dinner sama Shah Rukh Khan terus dinyanyiin Kuch Kuch Hotahai aja. Lebay banget!! Cukup sudah semua itu. Dan sekarang, aku akan punya pacar. Well, mungkin belum. Ini baru undangan buat jadi cuple dia di game dance itu. Yah, tapi setidaknya awal yang bagus! Bukan begitu??
Siang itu, seperti biasa sepulang sekolah aku dan sahabat sahabatku yang mendeklarasikan sebagai Pinqueenz sejak setahun yang lalu, bermain game dance itu di game center langgananku itu. Tiba tiba Kak Dylan datang, dan langsung duduk di belakangku. Bukannya ikut bermain seperti biasa, dia hanya melihatku bermain.
“Kak Dylan, tumben nggak main. . .”, tanyaku sembari konsentrasi memencet tombol panah di keyboardku ini.
“Iya, gue mau liat lue maen aja. Gue lagi males main.”, ucapnya singkat.
“Uhm. . . .”, aku hanya bergumam.
Lama berselang, dia masih duduk di belakangku. Jelas saja aku jadi nervous dan kalah terus sepanjang permainan.
Haduuuuuuuuu, q kalah mulu ni sob. . .
Aku mengetik di game itu.
Lha napa sih Raaaaaaa . . . ., balas Shinta.
Ada gue. Tiba tiba tangan Kak Dylan melingkar di bahuku dan langsung mengetik. Aku terkejut. Sesaat tak sengaja aku mencium aroma parfum Kak Dylan yang khas.
“Cool banget ni mas mas.”, pikirku saat itu. Jelas saja dadaku berdegup kencang tak karuan, bahkan, saking kencang nya seakan aku bisa mendengar beat jantungku sendiri. Setelah mengetik, dia ke posisi semula, masih dengan gaya coolnya, dan aku masih dengan gaya syokku. Beberapa detik aku mematung.
Lo? Kamu ma siapa Ra??, tanya Dwina. Walaupun kami di game center yang sama, tapi sayangnya hari itu kami tidak bisa mendapat komputer satu ruang, alias berbeda ruangan. Jadilah mereka tidak tahu betapa kerasnya degup jantungku.
Ada Kak Dylan.
Cieeee cieeee ternyata Sara sama Kak Dylan. . . . Mereka kompak.
Apaan sih kalian, ngawur!! Aku mencoba menghentikan mereka yang terkadang kayak mercon pas lebaran. Menggelegar, tak karuan, terus terusan.
Cieeee. . .cieeeee . . .udah de Ra. . .kami tahu kok, khan kamu udah pernah cerita ke kita soal. . . .
Tuh khan mereka nerocos mulu seakan ingin membunuhku di depan Kak Dylan.
Kalian apaan sih, nggak lucu!! Kurasakan kuping dan wajahku mulai memanas
Udah Kak Dylan, tembak ajah tuh si Sara. .
“Pasti kak Dylan bakalan illfeel liat kelakuan mereka. Mati akuuuuuuuu. . .”, batinku.
Emang mau gue tembak. Tiba tiba untuk kedua kalinya Kak Dylan yang totally cool melingkarkan tangannya dari belakang dan mengetik untaian kata yang bikin jantungku hampir copot itu.
Coba cubit aku, siapa tahu aku lagi mimpi!
Huaaaaaa. . . .beneran ni Kak?? Tanya Bella kegirangan.
Iya. Sara, gue suka sama lue. Mau nggak lue jadi pacar gue??, ketiknya sambil mengeja seakan menekankan setiap kata yang dia ketik. Dan ingat, masih dalam posisi meluk aku dari belakang. Baiklah, nggak meluk juga sih, orang Cuma ngelingkarin tangan.
Aku terdiam, menyelami pikiranku yang tiba tiba bersetting taman bunga warna warni di musim semi yang kayak di film film India. Aku pakai sarree, terus kejar kejaran di antara bunga bunga kuning. Tumpaseae. . . .
Kak Dylan melihat ke arahku. Pipiku makin merona melebihi pipi cewek cewek di iklan krim wajah yang sering aku lihat di TV TV.
“Loe jawab aja lewat itu. Ketik iya apa nggak. Yang jelas, gue serius bilang itu. Daritadi gue Cuma di belakang loe juga gara gara mau ngomongin perasaan gue itu sama lue.”, ucapnya lugas, tapi mengena. Jelas aku tidak mampu mengarahkan mataku ke mata teduhnya. Bisa bisa aku meleleh.
Beberapa menit berlalu, dan aku masih mencoba “menyadarkan” diriku. Meyakinkan diri bahwa ini bukanlah sebatas mimpi. Seperti dugaanku sebelumnya, ketiga temanku itu mulai gaduh.
“Terima!! Terima!! Terima!!” Mereka sekarang berteriak teriak dari ruang game sebelah dan mengacuhkan orang orang sekitar yang mulai mengerutkan dahi.
Berisik!!
Pelan tapi pasti, jemariku memencet tiga huruf.
I.Y.A
“Horeeeeeeeeeee. . . . .” Mereka gaduh lagi, sepertinya lebih girang mereka daripada aku. Dan pelan tapi pasti juga tangan Kak Dylan mengusap rambutku. Dia tersenyum padaku. Aku klepek klepek.
“Ra, sekarang tanggal berapa??”
“16 September, Kak. . .” ucapku semenit kemudian setelah aku mengecek tanggal di HPku. Mana ingat aku sekarang tanggal berapa. Itu setahun yang lalu. . .

Ingatanku buyar seketika saat Kak Dylan masih dengan senyum khasnya melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya. Seperti biasanya kami makan siang di café dekat game center langganan kami.
Seperti biasa juga dia memakai celana belel plus kaos putih polos. Putih adalah warna kesukaannya. Tak lupa juga sendal jepit hadiah ultahku tahun lalu yang terlihat semakin akrab dengan kakinya yang jenjang. Setelah aku ingat ingat, di tidak pernah memakai sendal lain selain sendal bergambar tengkorak hadiah ulang tahun dariku itu. Betapa cintanya dia sama sendal dariku itu, sepertinya.
Kalau cinta sama aku, tunggu dulu. Seingatku dia tidak pernah mengucapkan suka lagi setelah tanggal 16 September tahun lalu.. Saat hari anniversary pun dia tidak ingat. Dia hanya mengajakku makan seperti biasa. Setelah aku mengingatkannya, barulah dia ingat dan hanya sekedar minta maaf. Moodku keburu terjun bebas. Aku makan kelewat lahap dan langsung mengajaknya pulang. Sehari setelah tanggal 16 September, yaitu hari ini, dia mengajakku ke café itu lagi, seperti tidak terjadi apa apa hari kemarin.

Tak bisa dipungkiri sebulan ini aku sedang gundah gulana. Bagaimana tidak? Anak pindahan dari Jakarta itu charming, ganteng, mempesona dan hebatnya lagi sudah sebulan ini aku duduk sebangku dengannya.
Hatiku mulai goyah tampaknya.
Tora, itu namanya, sangat perhatian padaku sejak kita berkenalan dan duduk sebangku. Belum apa apa dia sudah sering mengirim SMS kepadaku sekedar tanya aku sedang apa, udah makan belum, sapaan romantis lainnya. Kalau Kak Dylan, jangan ditanya. Kita jarang, bahkan hampir nggak pernah SMS an. Paling pol ditelpon dia pagi pagi buta pas aku masih mimpi.
Kalau aku baca di majalah, Kak Dylan itu tipe pacar cuek, tepatnya cuek bebek . Cuma seminggu sekali dia nunggu di depan gerbang sekolah dan mengajakku makan. Kemarin dua kali berturut turut karena tampaknya dia sedikit merasa bersalah gara gara lupa hari anniversary kami.
Kini datanglah Tora di hatiku.

“Tanda alam banget khan, Sob. . . namaku Sara Pratiwi. Dan dia, Tora Pratama. Cocok banget khan kita. . . .” celotehku di kantin siang itu. Mereka hanya menatapku sambil geleng geleng.
“Jangan gitu Sara. . .inget, kamu punya Kak Dylan, ntar nyesel lho. . .”, timpal Dwina.
“Ah, Kak Dylan. . .beda banget sama Tora. . .Kayak bumi dan langit. Tora langitnya, Kak Dylan buminya. . .” jawabku sembari membayangkan sosok mereka berdua.
“Tapi udah setahun juga kamu sama Kak Dylan, Ra. Apa nggak sayang kalau akhirnya kalian break up Cuma gara gara Tora yang baru kamu kenal sebulan ini??”
“Sebulan itu udah cukup buat aku tau kalau Tora itu lebih romantis, lebih baik, lebih perhatian, dan lebih nyenengin daripada Kak Dylan” Aku nggak mau kalah untuk mempertahankan seorang Tora di depan mereka.
“Aku sih Cuma mau bilang sama kamu, jangan sampai nyesel ntarnya, Ra.”, tambah Shinta dengan muka setingkat lebih serius.
Aku hanya mengangkat pundakku.
“Kita lihat aja nanti. Kalian semua khan tahu, dari dulu aku ngidam ngidamin pacar yang serius. Dan Toralah orangnya.”

Benar saja, makin lama aku dan Tora makin dekat. Bisa dikatakan kami TTM-an. Aku jelas lebih senang menghabiskan waktu dengan Tora yang super romantis. Seminggu sekali bertemu dengan Kak Dylan, masih dengan agenda yang sama. Makan siang di café dekat game center langganan. Sekarang pun aku dan PinQueenz sudah tidak lagi menyambangi game center, terbentur dengan jadwal sekolah dan les yang semakin padat.

Hari ini tampaknya cuaca sedang tidak bersahabat.
Sepulang kerja kelompok bersama teman sekelasku, hujan turun dengan derasnya. Karena aku lupa bawa payung, terpaksa aku harus menunggu hujan reda. Tetapi bukannya reda, hujan justru semakin deras, dan sekarang disertai angin kencang. Terbersit di pikiranku untuk menelepon Tora.
“Wah, makin romantis aja aku ma dia ni pasti, ujan ujanan bareng kayak film India.” Khayalku kegirangan. Aku tekan nomor Tora. Sesaat kemudian, terdengar suara Tora dari kejauhan.
“Napa sih Ra??”, ucapnya ogah ogahan.
“Nggak Tora, Cuma mau minta tolong aja. Ini khan ujan deras banget. Aku abis kerja kelompok bikin Fisika bareng Tina sama Rini. Mereka udah pada pulang, tapi aku nggak bisa pulang soalnya aku juga nggak bawa payung. Kamu khan punya mobil, bisa nggak kalau. . . . .” Belum juga aku meneruskan kata kataku, Tora sudah memotongnya.
“Sory banget ya Ra, nggak bisa. Perutku gi sakit, mules kemarin makan bakso kepedesan. Udah dulu ya, Ra. . .” Dia menutup telepon begitu saja.
“Sejak kapan Tora doyan pedes? Perasaan dia paling anti sama cabe. Mengada ada. Manisnya Cuma di bibir saja!.”, gerutuku.
Hari semakin sore, dan sialnya hujan semakin deras.

Kak Dylan, bisa nggak jemput aku di sekolah?
Aku terjebak ujan.

Dengan ragu ragu aku mengirim SMS itu. Perasaan bersalah seakan menyelimutiku. Sejurus kemudian, HPku berdering. Kak Dylan calling.
“Loe dimana, Ra?”
“Sekolah, Kak. Daritadi aku mau pulang nggak bisa. Ujannya kelewat deres.”
“Kenapa nggak SMS daritadi. Gue bentar lagi ke sana. Tungguin.”
Sepuluh menit kemudian, seorang cowok jangkung bersandal gambar tengkorak menghampiriku dengan motor Tiger nya. Tak pernah habis ke-cool an Kak Dylan, pikirku.
“Udah lama loe nunggunya??”, ucapnya sembari menyikap kaca helmnya. Aku lihat dari mukanya, dia sedikit pucat.
‘Udah, Kak. Pucat gitu kamu sakit??”, tanyaku cemas. Aku tak ingat lagi kapan terakhir aku cemas padanya. Akhir akhir ini aku sebal padanya, dan hampir menyesal mau jadi pacarnya.
“Napa loe nggak bilang dari tadi? Gue nggak apa apa. Cepet naik. Ni pakai helm sama mantelnya.”, aku menuruti kata katanya. Segera aku pakai helm, dan mantel yang dia berikan padaku. Tapi tumben banget, aku nggak bisa memasang tali pengait helmku. Segera dia menarik tanganku perlahan dan membetulkan tali pengaman helmku. Aku dengar lagi degup jantungku, persis saat dia melingkarkan lengannya di bahuku, setahun yang lalu. Sepanjang perjalanan aku dengar sesekali dia batuk batuk. Ah, bahkan aku tak tahu kalau kak Dylan sedang sakit. Pacar macam apa aku???
Tiba tiba terlintas di ingatanku saat Kak Dylan menjemputku di rumah dan mengantarku ke pesta ulang tahun temanku. Pulangnya, dia balik lagi ke rumah temanku dan menjemputku lagi.
Teringat saat Kak Dylan repot repot ke rumahku pagi pagi buat jemput aku dan mengantarku sampai sekolah untuk pergi berkemah.
Pelan pelan aku kaitkan jariku di depan perut Kak Dylan. Bodohnya aku yang dibutakan oleh definisi romantis. Rasa bersalah menjalariku, baru aku sadar aku juga bukanlah pacar yang baik untuknya. Aku hanya ingin kesempurnaan dari dirinya, tanpa memikirkan tentang apa yang sudah ku lakukan untuknya. Tak ada. Aku hanya menuntutnya, dan saat dia tidak bisa memberikan apa yang aku harapkan, aku mencari di tempat lain, tanpa memikirkan perasaannya. Bodohnya aku.
Bagai tersadar kalau memang Kak Dylan dan Tora sungguh sosok yang berbeda.
Kak Dylan memang masih bilang ‘loe gue’ walau kita udah pacaran, tak pernah ada SMS SMS romantis atau pun kata kata romantis yang meluncur dari bibirnya, apalagi puisi romantis yang diselipkan di buku Kimiaku. Seperti apa yang dilakukan Tora kepadaku.
Tapi, Kak Dylan rela hujan hujan untukku, sudah di depan rumahku pagi pagi buta, telpon pagi pagi untuk memastikan aku bangun pagi. Ada di saat aku butuh. Jelas mereka berbeda. Seperti langit dan bumi. Tapi kini, Kak Dylan langitnya, Tora buminya. Aku tempelkan kepalaku di punggungnya yang bidang. Benar semua yang Bella, Shinta, dan Dwina katakan. Jangan sampai aku menyesal. Tangan Kak Dylan menggenggam tanganku yang melekat erat di perutnya, dan airmata sudah mengumpul di pelupuk mata.
“Ini adalah hal paling romantis yang pernah aku rasakan. SMS romantis, puisi cinta, lewaaaaaaat. . .”
aku pererat dekapanku, dan aku kumpulkan lagi cintaku. Untuh untuk Kak Dylan.

2 comments:




  1. As you move sector to get pretty rolex replica gows best all over united states now, usually there are some folks that continue to have a preference for replica rolex this don't require your power to function. Different watches that need winding so that they can deliver the results currently have continually become a huge hit to several people today, and the other these derivation of your apparatus is a replica roelx. A computerized look at is definitely only replica rolex it doesn't want winding by individual who wear them. A apparatus in just is very easy, as well as winder rotates itself should the using the shoe steps and also rotates her left arm. fake tag heuer is actually a revealing incontrovertible fact that a lot of technical different watches that happen to be available for sale now will be auto different watches.

    ReplyDelete