Monday, 20 December 2010

extremely luxurious Gedong Songo temple

Sabtu, 18 Desember 2010 adalah an amazing day buat aku. Why?? Karena setelah beberapa bulan rasanya otak mau menggumpal dengan tetek bengen soal kampus dan kehidupan pribadi di masa muda yang cukup pelik masih dengan persoalan lain yang membuat otak rasanya mau meledak atau bahasa gaulnya pecas ndahe, eventually…… aku wisata ALAM…..olalala....

Oke, bagiku wisata alam jauh jauh jauh lebih sangat menyenangkan ketimbang ongklang angklong di mall. Di sana sejauh mata memandang hanya suara alam yang terdengar, semilir angin yang seakan mencium setiap inci wajahku, mendengar desisan gemerisik daun yang menenangkan, benturan benturan nakal partikel partikel air menimbulkan gemericik yang mempesona, membuatku seakan berada di dunia yang berbeda, hijau di mana mana, pesona di mana mana, ketenangan seakan membahana, dan keindahan ALLAh memang benar benar tidak ada duanya, tidak terbeli oleh mal beratus ratus tingkat kalau memang ada sekalipun. Allohu Akbar.

Here we are,a Luxurious historical ancient temple, Gedong Songo!!

Dengan wajah berseri seri aku bangun dari tidurku, mandi, menyiapkan jaket, payung, dan juga minum serta beberapa snack untuk perjalanan sampai ke puncak nantinya. Pukul 06.23 aku dan adikku berangkat, dan Via sudah menungguku di Pauline. Kami naik angkot duduk paling depan samping pak sopir. Sampailah kita di depan plang besar bertuliskan
Candi Gedong Songo, 3 km”. Setelah bernego dengan bapak tukang ojek, yang pertamanya sok sok jual mahal, dan setelah kita mencoba memancingnya dengan jalan beberapa meter, akhirnya si bapak setuju juga. Cring!! 15 ribu ngojek sampai depan loket Candi Gedong Songo.

Karena masih pagi dan agaknya kepagian, kami adalah pengunjung kedua setelah sepasang mbak dan mas yang agaknya sangat bersemangat untuk pacaran di Gedong Songo. Bergandeng tangan, rangkul rangkulan, aku juga ingin dirangkul, semilir angin sehangat hembusan es saat kita membuka kulkas merangkulku erat sekali.

Pelan tapi pasti kami senggang merayap (karena jalanan nggak padat alias masih sepi), berfoto foto sudah pasti. Sebelum sampai di candi pertama pun kita sudah kalap. These they are!














Begitu melihat pepohonan, hijau rindang merekah bukan kepalang, pegunungan begitu vulgar memperlihatkan keperkasaannya, masalah masalah yang sedari tadi serasa bergelayutan di kepala, tangan., pundak, pinggang, kaki, dimana mana kini mulai menciut dan hilang perlahan.

Aku bilang, obatnya kehidupan yang penat adalah keajaiban ALLAH yang satu ini, hamparan maha luas si hijau yang sangat mesra bergandengan dengan si biru, si pewarna lautan langit dengan serabut serabut jingga tanda pagi masih bertahta. So perfect, God is beyond perfect! Bukan si biru dan si hijau yang lagi gelut di iklan TV swasta (baca: iklan kartu perdana berartiskan Baim vs Sule)


Kami menginjak ke candi pertama, candi megah yang menjadi awal perjalanan alam kami. Tak usah berlama lama, aku mengambil sikap siap (siap difoto), aku mbasang ke sana dan kemari, aku mendadak jadi fotomodel muslimah jepretan HP Elisabeth Novia Tayl, teman seperjuangan mendaki Gedong Songo yang usut punya usut ternyata ini kali pertama dia ke sini. Takjub melihat karya nenek moyang berseni tinggi. Aku yakin dan percaya, betapa sangat tinggi peradaban Indonesia jaman dahulu kala. Bagaimana dia mewariskan beribu ribu kemegahan kehidupan mereka, candi, prasasti, dan lain lain yang tersebar di tanah ijo royo royo ini. They were incredible, they were fascinating, they are our ancestors. It must be what we look like right now!


Udara pagi terasa sangat menyejukkan sampai ke ulung hati, semilir welcoming wind membuat pori pori otak melar dan elastic lagi(siap menyerap pelajaran semester berikutnya.amien!), pemandangan maha indah membuat mata bening kembali, sungguh bentangan permadani hijau yag elok rupawan, ganteng sekali, Irfan Bachdim sih lewaaaat,apalagi Irfan Hakim, jauuuuh sampai ke Pluto.



Candi demi candi kami lewati, masih dengan semangat 45 karena entah kenapa langit pun begitu rupawan, ganteng sekali. Tanpa kabut, tanpa mendung, cerah benderang, se cerah hati PSSI sekarang ini.





Selamat ya berlaga ke final, sampai kapan pun kami mendukung PSSI, mendukung Indonesia tercinta. Indonesia tanah air kita….pusaka abadi nan jaya, Indonesia sejak dulu kalau…slalu di puja puja bangsa….



Karena kami datang pagi sekali, Gedong Songo masih agak lengang, gaya apa pun kami luncurkan, aku sebut ini adalah masterpiece ku. Gaya dari hati terdalam, seakan mengatakan,
Hey world, look at me jumping so high, I can fly without wings, and express whatever I feel, tanpa mimic sok manis atau kemungkinan memang manis seperti biasanya, bermimik wajah bebas, terbang bebas, and as I jumped, as I felt, Gedong Songo, I’m in love!


Setiap candi yang kami singgahi menyimpan cerita tersendiri, candi yang beratus ratus tahun berdiri kuat melawan alam dan waktu yang semakin hari semakin liar karena pemanasan global. Walau pun sudah ada beberapa yang roboh, namun, candi candi kokoh perkasa yang tegak berdiri lainnya mampu membuat kami berdecak kagum. Soooooo handsome!!


Candi yang seakan menantang petir, menantang apa saja yang datang, dan kami merasa tertantang untuk terus berpose di depannya, mengabadikan masa muda yang sedang berapi api, mengabadikan jejak langkah kami di tempat luar biasa ini. 1….2….jeperet!!







Sebelum sampai ke puncak, kami melewati seperti sebuah lembah kecil memisahkan candi ketiga dengan candi setelahnya, di sana mengempul asap dari celah celah tebing berpahat indah karya alam selama beratus ratus lamanya, indah, mengesankan, dan baunya itu lho… bikin kepala nggliyeng. Seperti orang satu bus SARI yang lagi beroperasi pagi alias ngangkut anak anak sekolah sesak sekali ngentut semua. Terrible, but astonished!


Karena lembah kecil itulah dari sisi sebelum menyebrang kita bisa melihat candi candi seakan berukuran mini di sela sela pepohonan hijau, greenful tak terelakkan. Paduan yang dramatis dan indah luar biasa. Karya manusia bersanding dengan karya Tuhan Pencipta Semesta. Perfect! Hal indah apalagi yang lebih indah dari itu.

It is time to go down…..
Setelah agak kepayahan alias kecapekan karena berjalan sangat jauh, sekarang saatnya menuruni bukit kecil nan eksotis dengan beraneka ragam kecantikannya ini, berharap menemukan sesuatu baru di jalan turun, jalan naik dan jalan turun adalah jalan yang berbeda, di jalan menurun yang bikin kompas rem kita hampir habis ini, tersaji di depan mata berdiri tak kalah megahnya beratus ratus pohon karet yang umurnya puluhan atau bahkan ratusan tahun berjajar teratur seperti petugas upacara dulu saat SMA. Seragam, berjajar, rapi sekali, dan….. hijau menantang. Sekali lagi, perfect! Racikan Tuhan yang Maha Sempurna. Tak terbendung bagaimana syahdunya suasana hatiku yang setiap harinya menyandang buku, memecahkan soal grammar yang selevel dengan soal soal aljabar, merangkai kata kata sesuai patokan tata tertib membuat writing agar terlihat mempesona, dengan begitu mempesona pula hasilnya, berbicara dengan bahasa asing selama bermenit menit di depan kelas yang membuat lidah terkadang kaku, apalagi otakku, tak jarang menghadapi berbagai sifat manusia yang menungso (menus menus kakean doso), bervariasi, beraneka raagam, sama seaneka ragamnya dengan jenis tumbuh tumbuhan di Gedong Songo ini, menguras tenaga dan pikiran, And now….dihadapkan dengan nikmat alam yang membelai belai mata. Grammar, writing, reading, apa pun itu, hilang untuk sementara. Bukan hilang ingatan tentang bagaimana indahnya mereka, hilang semua persoalan yang berkaitan dengan mereka. Allah mengeklik tombok refresh di layar otakku, semuanya kembali jernih.
Here we are…. Gedong Songo!

Sampailah kami ke start point, kembali ke awal, di belakang terlihat candi candi bertengger megah sekali, sudah kami taklukkan, well done!!. Dan giliran kami mengisi perut yang mulai berdehem dehem. Tak lengkap rasanya kalau Anda berkunjung ke tempat ini tanpa mencicipi sate kelinci enak sekali dengan segelas teh anget. Maka makanlah kami di sebuah kedai sate, tak jauh dari candi pertama,

Kemarin selasa itu ada angin gede banget di sini, sampai semua kedai (rata rata bermodalkan beberapa bilah bamboo dan lembaran terpal yang hampir semuanya berwarna biru) itu ambruk, ini aja habis berbenah, kemarin ambruk mbak, dari sini sampai sana ambruk semua, susah mbak, yang itu (nunjuk kedai samping persis, lanjutan dari kedai yang aku singgahi dan masih ambruk) belum dibelike lagi, medeni mbak…”




Oke buk…oke…yang tabah. Memang makin lama alam makin tak bersahabat, manusia terkadang sama setan sama saja, tabiat merusaknya nggak beda jauh, kalau setan ngerusak akal dan pikiran manusia, manusia ngerusak “tempat tinggal” mereka sendiri, ironis!
Kelinci, semoga kekal di surga,dagingnya mari dimakan rame rame. Cring!! Sate kelinci plus lontong 12ribu rupiah, perut kenyang, hati senang riang gembira.

Tidak berhenti sampai di situ, passion kami untuk terus mengabadikan masih menggebu gebu, jadilah foto foto jumping so high ini sebagai hasilnya. Foto di dekat pintu keluar di samping taman yang masih terus dilakukan perbaikan sehingga akan semakin cantik. Akhir yang mengesankan dari sebuah perjalanan menelusuri alam dan budaya yang membuat otakku sumringah. Senyum tiga jari.



EXIT!
Turunnya tidak tanggung tanggung, kami jalan sejauh 3 km itu, J.A.L.A.N
Mengingatkan aku pada kira kira tiga tahun yang lalu. Kami berjalan pulang pergi ke gedong Songo yang sejauh 3 km itu, masih SMA. Aku, Mashlahatul Umami, dan Winda Kusuma Ningrum, tiga serangkai kompak sekali. Tanpa ampun pegel pegel menjalar di seluruh tubuh saat itu, aku pernah bilang waktu itu,
“jongasi mlaku meneh!!” (nggak bakal aku jalan lagi!)
Now… I am going to do it!!






Di tengah jalan, Via yang sedang mengkoleksi bunga bungaan dan pasti sekarang sedang berbunga bunga melihat bunga terhampar di mana mana, akhirnya membeli dua bunga. Sepanjang perjalanan kami memang disuguhi pemandangan yang tak kalah apiknya, dan tentu saja. Bunga bunga tumbuh subur di kanan dan kiri.

Cring!! Dompet Via berbunyi. Cukup dengan 3ribu dia bisa membawa pulang 2 pot bunga cantik.



Kami jalan…jalan…jalan. Capek, kesel, pingin bonek takut ngomong, lagi berharap si bapak sopir udah bilang,
“Sory ya nggak tak ajak, aku mau pulang.”
Nasib.
Tiba tiba ada mas bersyal coklat dengan kemeja coklat muda dan memang masnya masih muda, berbaik hati memberi kami tumpangan. Dugaanku, dia kasian ngeliat kami hampir kawur kawur tertiup angin. Tanpa tenaga.
Makasih mas bersyal coklat, semoga diupah di surga kelak. Amien…..
Kami pulang naik angkot agak sesak, suk suk an.
Tapi, hati kami jangan ditanya….senang bukan kepalang. 

No comments:

Post a Comment