5 Caraku Terhindar dari Baby Blues



Dulu saat masih single dan nonton berita tentang kasus Ibu yang tega membunuh anaknya sendiri, komentar pertama yang ada di benakku adalah,

"Jahat!"

"Ibu kok tega banget!"

"Ih kok kurang bersyukur sih punya anak malah dibunuh."

Tapi begitu pnya suami dan hamil. Lalu lebih banyak baca artikel tentang parenting, baru tahu deh yang namanya baby blues dan postpartum depression.



Jadi, dikutip dari friso.co.id, Sekitar 70-80% ibu baru secara mengejutkan memiliki perubahan mood dan perasaan yang negatif terhadap bayi mereka setelah melakukan proses persalinan. Perubahan mood inilah yang disebut sebagai baby blues. Gejala baby blues sering kali terjadi secara mendadak di empat atau lima hari setelah kelahiran bayi. Seberapa cepat kemunculan gejala baby blues sering kali dipengaruhi bagaimana bayi dilahirkan.

Gejala baby blues bisa bermacam-macam, antara lain rasa bersedih dan ingin menangis tanpa alasan, ketidaksabaran diri, perasaan kurang nyaman, cemas, sulit tidur, hingga perubahan mood secara tiba-tiba. Sering juga baby blues ditandai dengan rasa takut untuk menjadi ibu yang baik. Gejala-gejala ini bisa berlangsung paling lama 1-2 minggu setelah kelahiran bayi. 

Nah, baby blues yang berkepanjangan ternyata bisa memicu postpartum depression, yaitu gejala gejala yang sama dengan baby blues tetapi dalam janhka waktu yang lebih lama, lebih intens dan bisa mengganggu Ibu dalam merawat bayi dan melakukan kegiatan sehari hari. 

Duh serem banget ya. Nah, begitu aku melahirkan dan merawat bayiku, akhirnya aku bisa merasakan menjadi Ibu memang sangat tidak mudah. 

Apalagi suamiku sedang tinggal di Australia untuk menyelesaikan gelar masternya. Untungnya aku tinggal bersama keluargaku di Semarang. Itu pun aku Juga harus adaptasi menjadi Ibu yang hanya tinggal di rumah karena biasanya aku mengajar dari pagi sampai malam di Jakarta. 

Makanya, dari informasi yang aku dapat, aku pingin banget deh terbebas dari baby blues atau postpartum depression. Dan ini adalah pengalamanku untuk menghalaunya. 

1. Tinggal bersama keluarga

Ketakutanku akan baby blues jelas di depan mata karena saat aku melahirkan dan beberapa bulan berikutnya, suami nggak bisa ada dan siaga. 

Menurutku, pilihan untuk tinggal bersama keluarga terutama Ibu atau jika memungkinkan minta Ibu untuk menemani di rumah teman teman untuk sementara adalah pilihan terbaik. 

Karena saya tinggal bersama keluarga, banyak sekali tangan yang membantu merawat Julio. Ada Ibu, Ayah, adek sampai nenek. Dengan begitu, aku merasa selalu nyaman dan merasa banyak teman. Aku nggak pernah merasa terlampau capek karena Ibu selalu ada untuk membantu. 

2. Membangun Komunikasi yang baik dengan suami

Bagiku, ini adalah koentji! Koentji dari segala koentji. Hehehe. 

Komunikasi yang baik dengan suami walaupun kita sedang berjauhan sangat bisa memperngaruhi moodku sepanjang waktu. Saat kita mesra, suasana hati pun ikutan riang gembira. Beda cerita kalau kita lagi berantem, mau ngapain aja bawaannya sebel. 

3. Berolahraga dan merawat diri

Bersyukurnya karena tinggal bersama keluarga, aku jadi punya waktu untuk Berolahraga. Aku biasanya zumba dua kali seminggu dan itu sudah sangat membantu menyegarkan pikiran dan badanku plus mengembalikan badan menjadi seperti semula. 

Nah, merawat diri juga perlu karena kadang aku merasa nggak cantik, nggak pernah dandan dan nggak bisa bersosialisasi. Jadilah aku membeli skincare yang benar benar perlu dan mencoba merawat diri lagi. Bisa pakai hand body dan parfum habis mandi pun bisa bikin bahagia dan mood bagus. 

1 hal yang aku ingat banget, “Selfcare isn’t selfish”


4. Punya waktu me-time

Me-time ala Ibu ibu bagiku itu nggak perlu keluar rumah. Tinggal atur waktu setelah Julio tidur dan mulai blogging, baca buku atau sekedar liat film via HP pun udah bahagia banget ya, teman teman. 
Tapi, sesekali juga me-time di salon sekedar untuk creambath dan facial. Intinya, me time adalah kegiatan yang memanjatkan diri sebagai rewards karena kita sudah bekerja keras sebagai Ibu. 


5. Tetap upgrade diri

Bagi saya, ini juga penting banget. Walau pun kita sudah menjadi Ibu, tetapi belajar harus jalan terus. 

Aku banyak sekali ikut kulwap tentang cara menjadi istri dan Ibu yang baik. Banyak kok online class/kulwap yang bisa kita coba, seperti : Sekolah Rumah Tangga, bengkel diri, Ibu Profesional dan segambreng kulwap lainnya baik gratis maupun berbayar. 
Dengan ikut kulwap semacam itu, banyak sekali insight yang aku dapatkan untuk bisa menjadi pribadi, istri dan Ibu yang lebih baik lagi. 

Aku Juga join Mother Hope Indonesia di Facebook; sebuah wadah para Ibu berbagi cerita tentang baby blues, postpartum depression dan lainnya. Di sana kita juga bisa menemukan banyak ilmu dan cerita cerita menginspirasi para Ibu yang bangkit dari baby blues dan postpartum depression sekaligus saling mendukung para Ibu yang sedang berjuang melawannya. 

Para Ibu pasti sudah tahu bagaimana susahnya menjadi Ibu. Tapi ada 3 koentji yang suami selalu ingatkan ; sabar, bersyukur dan semangat. 

Bu ibu, semoga apapun keadaan kita, kita masih selalu bisa mengucap syukur dan berbahagia dengan cara kita sendiri. Semangat menjadi Ibu yang bahagia! 

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Challenge Indiscript Writing "Perempuan Menulis Bahagia"


No comments

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)