Penyesalan Karena Ketidaksabaran



Berbicara tentang penyesalan, banyak sekali scene kehidupan yang bersliweran di benak saya. Macam hidup saya ini penuh dengan penyesalan. Ada banyak kejadian di masa lampau yang seharusnya tidak terjadi, yang pastinya saya sesali hingga kini.

“Ah,coba saat itu saya tidak bereaksi seperti itu, pasti hal itu nggak terjadi...”
“Ah, andai aku mampu menahan diri dan nggak terlalu meledak ledak, pasti aku tidak akan punya memori begitu.”
“Ah, andai saja aku mampu bersabar, andai...”


Semuanya menjadi berawalan andai yang semua orang tahu, I could’t turn back the hands of time. But I really regret it. Semua kejadian yang saya sesali itu mempunyai sebab yang sama; karena ketidak sabaran saya.

Saya, walau terlihat imut dan lembut (halah), tapi saya ibarat barang adalah bubuk mesiu, mudah terbakar, meledak ledak. Saya sering memenangkan ego dan bereaksi tanpa pikir panjang; yang ternyata membuat orang lain terluka. Saya, dengan kepala sekeras batu dan hati sekeras karang, kadang tak sengaja melukai seseorang. Saya bereaksi sedemikian rupa dan di ambang malam, sesal menyergap.  

Kalau saya boleh mengulangi kejadian masa lampau, saya akan kembali di masa setelah menikah, saat saya dan suami masih berdua sebelum dia pergi ke Aussie untuk menuntut ilmu. Saya ingin kembali ke masa itu dan lebih sabar menghadapi adaptasi kami sebagai suami istri. Saya akan berpikir tidak hanya dari sisi saya pribadi; tapi juga mencoba ada di posisinya. Saya akan lebih berusaha untuk mengerti suami, melayaninya segenap hati, membuatnya bahagia di kota yang asing itu. Mengerti bahwa dia, demi saya, harus meninggalkan Merauke dan tinggal di Jakarta; kota asing tanpa teman tanpa sanak famili, hanya saya, istrinya.

Kalau waktu boleh berputar ke belakang, saya akan menikmati masa masa indah berdua, pergi ke lebih banyak tempat, lebih bisa mengerti sebagai seorang istri, lebih menekan ego diri, lebih bisa mencintai. Saya banyak kali mengungkapkan ini dan suami tetap sabar menghadapi.
Afterall, the ship has sailed. What I can do is being a better person; being a better wife. Dan PR terbesar dari seorang saya adalah bersabar. Bahwa rumah tangga ini adalah ibadah terlama dengan pahala terbanyak. Hopefully, we will have a bright future for both of us. We will be the best version of us. We will be the best parents. We will be the best partner until Jannah. Aamiin Ya Robbal Alamiin.


2 comments

  1. Aminnn mbak..semua kesalahan di masa lampau itu akan membawa hikmah dan menjadi pelajaran untuk di masa depan ya..ditengok sekali2 untuk menjadi bahan introspeksi tapi tetap harus direlakan apa yg sudah terjadi

    ReplyDelete
  2. Amin YRA, jadi baper gitu saya mbak... Insyaallah mbak keterima di Aussie, semua yang dirasa adalah sesuatu yang disesalkan bisa dinetralisir ke arah the better and the best till Jannah

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)