Hari H



Bandara Soekarno Hatta, 8 Januari 2018

Akhirnya, hari yang tidak ditunggu tunggu datang juga. Setelah sholat Dhuhur -dan nangis- berjamaah, dengan diantar oleh karyawan Om kami berdua melaju menuju ke Bandara.

"The happy face, set...ready!" Saya lalu memasang wajah bahagia karena saya paling anti nangis di bandara atau tempat umum udah macam sinetron SCT*. Ini bukan sinetron yang disutradarai oleh manusia. Ini adalah kenyataan yang disutradarai oleh Sang Maha Pengatur Skenario Hidup Terbaik Sepanjang Masa, Allah SWT. 


Sesampainya di Bandara, saya meminta karyawan Om untuk menunggu sejenak di basement. Kami segera masuk ke Bandara dan mencari teman Pace yang juga akan berangkat ke Australia bersama sama.

"Nanti Mace daftar juga ya." 
"Siap Pace. Pokoknya nanti Mace harus dapat juga beasiswa ke Aussie."
"Iya, Mace. Semangat pokoknya ya."
"Siap!"

Semangat untuk terus belajar sekonyong konyongnya membumbung tinggi. Saya yakin sekali manusia bisa menjadi apaaa saja selama mereka mau berjuang diiringi dengan doa bertautan sepanjang malam. Ditambah guyuran dukungan dari orang terkasih. 

Sejam kemudian, saya harus balik karena karyawan Om sudah lama menunggu dan Pace akan segera check in. Ini adalah momen paling dramatis kalau di-film film ya, kawan. Sekaligus masa masa kritis.

Pace mengantar saya menuju ke lobby depan Bandara Soekarno Hatta, tempat mobil Om akan menjemput dari basement. Kami menunggu sambil berpegangan tangan. Begitu mobil sudah di depan mata, itu artinya saatnya berpisah. Pace akan segera terbang berjam jam melintasi Samudera Hindia, menuju benua lain : Australia. 

Bagai film yang dikenai tombol fast forward dan rewind secara acak, momen momen kebersamaan kami berdua sekonyong konyongnya terlintas di benak saya. Kami telah menikah selama delapan bulan, dan tiga bulan di antaranya kami harus LDM karena Pace harus menuntaskan program pra-pendidikan di Surabaya. Walau hanya lima bulan hidup bersama, tapi jelas banyak hal yang kami lalui berdua; suka dan duka, manis dan getir, perdamaian dan peperangan sampai drama drama kehidupan rumah tangga.

"Mace hati hati ya..." 

"Jangan nangis jangan nangis jangan nangis.." Mantra ajaib terus berdengung. Udah macam film romantis sedih, Pace lalu mengaitkan lengannya erat erat, dan mendaratkan beberapa kecupan bertandakan 

"Istri, aku bekali kau kecupan untuk beberapa bulan ke depan. Sisanya nanti dirapel saat bertemu."

Selesai acara berpeluk pelukan macam Teletubbies, saya pun pamit. Karyawan Om juga udah nungguin di mobil sambil melihat pemandangan penuh getir di depannya.

"Daaaaah...pace.. Assalamualaikum. Hati hati ya..."

Saya naik mobil, lalu tutup pintu tapi masih dadah dadah lewat jendela udah macam drama Korea. Pace juga dadah dadah sampai saya berbelok dan Pace tak nampak. HP langsung berbunyi.

"Hati hati ya, istriku. See you soon. Sehat selalu bersama dedek. Tunggu Pace pulang"

Padahal butuh waktu berbulan bulan untuk Pace bisa pulang.

"Jangan nangis jangan nangis jangan nangis..." Mantra segera dirapal karena karyawan Om ada di depan. 

Aduh, sedih banget, kawan. Dulu saya terlalu men-underestimate pasangan yang update status 

"Suami, kangen :("

"Hubby, I wish you were here" dilanjutkan dengan curhatan betapa dia merindukan suaminya yang jauh. Saya pikir mereka hanya mendramatisir keadaan. Apa sih bedanya berpisah tempat dari pacar/suami?? Sama aja perasaan.

Alamak, ternyata jauh berbeda. Dan sekarang saya merasakannya. Bisa bisa netizen berkelakar,

"Kapokmu kapan?"

 Berpisah dengan suami jelas berbeda karena kita sudah hidup bersamanya dalam kurun waktu 24 jam per 7 hari alias hidup bersama sama dalam satu tempat. Tidur bersamanya, makan sepiring berdua, ngelawak bersama, nonton tipi di channel yang sama, dan masih banyak momen momen yang memproduksi hormon oksitosin, endorfin, serotonin, progesteron apalah itu yang bisa membuat hidup makin bahagia dan lengkap. Lalu suatu pagi saat kamu bangun, di sampingmu hanya guling saja. Sepi. Sunyi. Nyesek.

Itu adalah pikiran yang terus berkecamuk di perjalanan pulang dari Bandara. Tak mau bersedih terlalu awal, saya tidak langsung pulang, tetapi ke Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris tempat saya mengajar padahal hari itu saya sudah ijin untuk tidak masuk. 

Akhirnya saya mengajar dan main ke mall. Malamnya, mau tak mau harus pulang ke kost juga. Buat saya, waktu tersedih dari sebuah perpisahan bukan momen berpisah itu sendiri. Di bandara, setelah merapal mantra ajaib di atas, saya nggak nangis. Waktu tersedih dari sebuah perpisahan adalah saat kita berada di tempat yang sama, tanpa kehadirannya lagi. Itu sedih maksimal.

Begitu saya masuk ke kamar, saya duduk di kasur. Saya lihat ke arah meja belajar,

"Ah, Pace sering belajar di situ."

Saya melihat ke sisi kiri kasur, 

"Pace sering bobok di situ. Nggak perlu guling, pace sudah empuk."

Saya lalu nonton Net TV.

"Ah, biasanya nonton Sule bareng Pace."

Aroma pace pun juga masih tercium. Rasanya tadi pagi masih bersama, sekarang harus sendiri tanpanya.

Tau sendiri apa yang terjadi setelahnya.

------

Kalau membaca cerita di atas kayaknya sedih banget ya. Saya juga nulis sambil meringis. Genap empat bulan saya tidak bertatapan langsung meluapkan kerinduan yang kalau ibarat air di bak, sudah meluber luber. Sudah hampir enam bulan juga buntelan cinta kami tumbuh sehat di kandungan. Dia sudah bisa menendang, mengelus dari dalam dan bergerak aktif. 

Masa getir episode pertama sudah lulus saya jalani. Tiap tiap hari yang terlewati membuat saya berpikir kalau hidup itu mudah, tetapi memaknai kehidupan itu susah. Membuat hidup bermakna dengan berbagai rintangan itu tidak mudah. 

"Duh, kalau aku jadi kamu pasti nangis setiap hari. Ditinggal suami sebulan aja rasanya udah mau mati." ucap seorang teman.

"Sama. Di bulan bulan pertama pun rasanya kayak mau mati."

Tapi, follow up questionnya apakah harus

"Tapi, apa saya harus mati beneran gitu? Nanti suami saya gimana?"

Karena nyatanya hidup yang lebih bermakna menunggu di depan mata. Membayangkan saya akhirnya bisa melahirkan seorang manusia, hasil kreasi saya dan pace yang dianugerahkan oleh Allah begitu rasanya perjuangan yang saya dan pace lalui saat ini InshaAllah akan terbayarkan. 

"What doesn't kill you makes you stronger."
Dan Allah pasti menguatkan.

Perpisahan ini juga membawa banyak berkah untuk kami berdua. Kami bisa jadi lebih memaknai arti memiliki. Kami belajar untuk saling mengerti dan tidak menang sendiri. 

Kesimpulannya adalah : Cinta saya makin meletup letup untuk Pace.

Pace, aku mencintaimu!





3 comments

  1. Hm... jadi inget film-film cinta yang ada LDM LDMnya. Sedih pasti ya ditinggal yang terkasih. Walaupun aku belum pernah merasakan, tapi sebagai anak rantau yang juga harus tinggal jauh dari adik-adik tercinta rasanya ya... begitulah. Tiap pulang kampung lalu mesti balik lagi ke rantau itu rasanya.... ah :')

    ReplyDelete
  2. Ya ampun aku sedih, belom pernah LDRan sama pacar huhu

    Semoga proses persalinannya lancar ya kak, sehat-sehat dedeknya dan dilancarkan semua urusannya yg lain :')
    Emang semakin jauh sama orang semakin berasa banget rasa rindu dan cintanya :')

    ReplyDelete
  3. LDM? sering saya Mbak..
    antar benua juga.,,Semoga dimampukan menjalaninya ya..Aamiin:)

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)