5 Tipe Driver OJOL (Ojek Online) Menghadapi Penumpang Bumil


Berfaedah!

Itu adalah kata paling tepat yang menggambarkan OJOL (Ojek Online) dalam hidup saya belakangan ini. Begitu buntelan cinta tumbuh dalam rahim saya, suami macam memberikan himbauan cenderung larangan keras untuk mengendarai sepeda motor sendiri. Bahkan, kami sempat terlibat adu pendapat dengan berlandaskan musyawarah untuk mufakat demi kepentingan bersama.

"Selama pace pergi, Mace pake gojek aja ya."

"Aku nggak papa kok Pace, aku bisa pakai motor sendiri."

"Janganlah, bahaya."

"Nanti aku pelan pelan. Jalannya di pinggir aja. Aku udah ahli kok naik motor. Pace nggak liat kalau lagi macet aku bisa naik motor meliuk liuk udah macam ikan besut. Sayang juga kalau motornya nggak dipakai nanti malah dia macet. Dan juga, ngirit biaya.Wow, banyak sekali keuntungan naik motor sendiri!! "

"Owh, ya udah kalau nggak mau dengerin suami."

"Oke siap, mulai besok naik Gojek."


Ya sudah, saya sementara pensiun dan memilih antar jemput memakai salah satu provider ojek online. Bermodalkan 

"Pak, hati hati ya saya lagi hamil nih."

genap hampir lima bulan saya memilih OJOL sebagai alat transportasi karena selain cepat, OJOL juga termasuk irit. Dan ternyata banyak tipe driver Ojek Online dalam menghadapi ibu hamil macam saya ini. Hahaha...


Pernah suatu pagi saya order OJOL seperti biasa. Lah, begitu saya keluar rumah, ternyata driver OJOL nya pakai CBR, saudara saudara. 

"Duh, ini bagaimana naiknya?", pikir saya. Mana drivernya juga masih muda. Yang ada nanti saya diajak syuting Ganteng Ganteng Serigala. Saya udah parno duluan. Saya kemudian bilang,

"Duh Mas, bagaimana ini saya lagi hamil."

"Iya, nggak papa Bu. Miring saja." Coba bayangkan naik CBR tapi miring. Ya sudah, karena sudah terlanjur pesan, saya akhirnya naik dengan mengucap basmalah. Tapi ternyata....

Masnya ini jalan dengan penuh kehatian hatian. Dia jalan teramat sangat pelan lewat pinggir pinggir. Mana di Kranggan banyak polisi tidur. Saking hati hatinya, tiap ada polisi tidur dia berhenti dulu barang sekejab lalu melangkahkan kakinya satu demi satu begitu untuk melewati polisi tidur demi meminimalisir guncangan. Begitu berkali kali sampai polisi tidurnya habis. 

"MasyaAllah..." pikir saya. Nih bisa jadi drivernya salah satu suami idaman orang Jakarta. Jagain istri orang aja bisa, apalagi jagain istri sendiri. Tapi karena driver ber-CBR, saya telat masuk kerja. 

Masih banyak juga driver OJOL yang sangat mengutamakan bumil. Mereka jalan pelan pelan sampai rela disalip berkali kali. 

"Duh Bu, saya suka takut kalau bawa bumil. Apalagi masih hamil muda. Kita pelan pelan aja ya.."

"Iya pak.." Sore hari saat saya bersiap siap menuju salah satu Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris di ruko Citra Gran. Bapaknya teramat pelan dan lihai menghindari tiap tiap lubang dan jalan bergejolak. Tapi hati saya yang mulai bergejolak karena langit udah mendung banget. Bentar lagi pasti bakalan hujan deras dan jalan masih panjang. saya mau negur untuk bisa lebih cepat juga tak enak hati karena bapaknya lebih mengutamakan keselamatan dedek bayi. Alhamdulillah hujan baru deras saat saya turun dari motor. 

"Terimakasih Bapak OJOL!"






Kebalikan dengan tipe nomor 1, driver tipe 2 ini udah yang paling ngeselin. Kejadian yang paling ngeselin saat saya masih hamil muda sekitar 2 bulanan, saya pesan OJOL dari Citra Gran,rumah tante saya menuju sekolah tempat saya mengajar.

Drivernya masih muda cenderung masih terlihat ngantuk dan acak acakan. Saya rasa dia juga belum mandi. Motornya matic kecil dan nggak ada pegangan di pinggir seatnya begitu. Udah gitu helmnya bukan helm ijo tapi helm yang kalau dipakai udah kayak tempurung kelapa. Oplok oplok oplok.

"Hati hati ya Mas, saya lagi hamil."

Begitu jalan, astaga.... Ada polisi tidur main ditabrak aja nggak pakai direm. Jalannya juga kebut kebutan kayak dikejar setan. Mana ban motornya nggak empuk jadi tiap ada jalan nggak rata itu kerasa banget. Saya yang duduk di belakang cuma bisa istighfar sambil pegangin jok tiap mau ada polisi tidur sembari agak menopang tubuh pake kaki. Saya jadi udah kayak duduk di awang awang biar nggak terlalu tergoncang. Si masnya parah abis emang. Sampai sekolah, langsung deh saya kasih bintang tiga dengan alasan keamanan membawa penumpang kurang. Saya tandai namanya.

"Nggak lagi lagi bonceng Mas. Saya tandai kau! Bye!"

Tapi memang survey yang saya adakan sendiri membuktikan kalau driver yang sudah bapak bapak itu lebih hati hati dan mengerti saat membawa bumil daripada yang masih muda dan lajang.






Nah, saya sudah mendapati lebih dari 10 OJOL yang bertipe macam begini. Maklum, dalam sehari saya selalu naik OJOL sebanyak tiga kali. Kost/rumah bulek - sekolah - tempat les - kost/bulek.

Kebanyakan mereka akan membuka percakapan dengan,

"Sudah hamil berapa bulan bu?"

atau

"Ini anak ke berapa bu?"

Lalu direlasikan dengan istrinya masing masing.

Nah, pengalaman ini baru aja saya alami kemarin di perjalanan dari sekolah menuju tempat les. Si bapak driver memuali percakapan dengan,

"Ngidamnya macem macem nggak bun?"

"Saya nggak ngidam apa apa, pak..."

"Owh, kalau istri saya ini ngidamnya aneh aneh mbak..."

"Kayak apa pak?"

"Dia benci banget sama saya. Saya khan capek ya pulang kerja. Tapi nggak suka liat saya. Saya malah disuruh nggak usah pulang aja mbak.."

"Lah, bisa begitu?"

"Iya, saya juga nggak ngerti. Sampai saya dikasih uang buat liat tontonan di tetangga saya. Katanya, pulangnya pagi aja.."

"Terus gimana pak?"

"Ya saya tidur aja di tetangga saya. Mau gimana lagi. Mau marah juga dia lagi hamil..."

"Iya juga ya pak. Laki laki memang serba salah...."

Pernah suatu malam di sepanjang perjalanan Mas driver yang lain curhat tentang istrinya.

"Sudah menikah berapa tahun Bu?"

"Saya alhamdulillah 7 bulan Pak."

"Wah, dikasihnya cepat ya Bu. Saya sama istri saya belum dikasih, Bu. Kita sudah nikah lama,tapi karena istri saya kegemukan jadi kata dokternya susah hamil."

"Memang istrinya umur berapa pak?"

"36 tahun. Susah istri saya dibilangin jangan makan banyak banyak. Saya juga selalu ngitungin masa subur istri saya."

"Ya yang penting terus berusaha aja, Pak. Bisa juga coba cek kesehatan kandungan di dokter kandungan. Kalau menghitung masa subur itu ada aplikasinya kok pak.Cari aja di Play Store. Ketik aja "Penghitung Masa Subur" pak. Saya lupa namanya apa."

"Oh, ada ya aplikasi kayak gitu. Saya pikir cuma Mobile Legend yang ada aplikasinya."

"Iya pak. Jaman sekarang mah "Pencari Jodoh"juga ada aplikasinya kok pak.."

Lalu percakapan malam itu ditutup dengan saling mendoakan,

"Makasih ya Bu, semoga sehat sehat sampai lahir."

"Sama sama pak, semoga cepat berhasil. Semangat!!"

Ada juga yang curhat kalau istrinya pernah keguguran dua kali karena saat itu istrinya bekerja. Hamil yang ketiga kalinya akhirnya istrinya resign dan alhamdulillah anaknya sekarang sudah berumur satu tahun 7 bulan. Ada lagi yang malah curhat kalau teman temannya juga udah hamil tapi dianya belum menikah.

"Iya mbak, teman teman saya ini juga sudah pada hamil.Tapi saya malah belum nikah.."

"Kenapa Mas?"

"Belum nemu aja jodohnya."

"Yah, jodoh mah jangan nunggu nemu, tapi dicari."

"Gitu ya mbak.."

"Kayaknya sih gitu Mas."

Aya aya wae...

Macam macam cerita para OJOL yang kadang lucu, kadang bikin sedih dan prihatin dan tak jarang menyimpan pelajaran hidup.






Nah, biasanya driver jenis ini adalah driver yang sudah bapak bapak dan sudah malang melintang di dunia kehamilan. Maksutnya, sudah pernah punya pengalaman istrinya hamil. Tidak hanya satu, tapi beberapa. Mereka akan dengan senang hati berbagi info kehamilan tanpa diminta.

"Jangan lupa makan buah buahan dan sayuran bu, sama minum air putih yang banyak. Dulu istri saya juga saya suruh makan kayak gitu tiap hari. Alhamdulillah anak saya sekarang suka sayuran."

"Besok lagi kalau bonceng motor bawa bantal kecil buat pantat bu, biar nggak terlalu terguncang. Dulu istri saya tiap hari selalu bawa bantal itu jadi tiap kali naik motor bisa buat tatakan."

"Oh, gitu ya pak..."

Ada juga yang nyaranin jangan sering sering naik motor,

"Bu, nanti kalau udah gede gitu jangan naik Gojek lagi, kasihan dedeknya."

"Terus saya naik apa dong pak?"

"Iya juga ya.."

"Tapi nanti saya umur kandungan 7 bulan sudah di kampung kok, Pak. Udah nggak kerja."

"Wah, alhamdulillah kalau gitu."

Banyak sekali saran dan masukan yang sudah diberikan oleh para bapak bapak driver OJOL selama saya hilir mudik kemari tiap hari. Ada juga yang tahu kalau saya mengajar di dua tempat dalam sehari karena saat itu dia nganterin saya dari sekolah ke tempat les.

"Wah, Ibunya kuat juga ya. Tapi tetap jangan capek capek ya, Bu. Soalnya ibu hamil itu istirahatnya harus banyak. Tapi, Ibunya kuat lho. Nggak semua ibu hamil bisa kuat kerja begini."

Lalu saya bersyukur karena selama ini memang adek bayi nggak ngrepotin Ibunya. Saya mual sewajarnya saja, saya capek sewajarnya dan masih kuat bekerja dari jam 7 sampai jam 6 malam. Ah, dari driver OJOL saya belajar banyak hal!


Nah, saya pernah dapat driver tipe ini walau pun cuma satu atau dua driver saja. Beliau sudah bapak bapak dan baik sekali. Di perjalanan pulang dari tempat les ke kost, si bapak driver memberikan wejangan wejangan.

"Sudah tahu neng, anaknya laki laki atau perempuan?"

"Sudah, pak. Alhamdulillah."

"Iya, alhamdulillah. Biar anaknya nggak stress, jangan dengerin musik yang kedomprangan, jedag jedug,. Kasih aja lagu sholawatan, biar anaknya tenang..."

"Owh, iya pak..."

"Jangan lupa juga tiap hari dibacain Al-Qur'an. Sebaik baiknya kalam adalah Al-Qur'an neng...InshaAllah nanti anaknya soleh.."

"Iya pak...Aamiin..."

"Nah, dan jangan lupa tiap hari berdoa bareng sama suami. Setelah berdoa, tiupkan ke pusar si Ibu. Dulu dua duanya anak saya juga saya gitukan setiap kali selesai sholat berjamaah."

Lalu saya membayangkan betapa bahagianya rumah tangga bapak Gojek ini. Beliau memberikan petuah petuah dengan suara yang halus, bapak bapak banget pokoknya. Udah macam bapak ngasih wejangan ke anak perempuanya. Tapi sayang,

Bapaknya jauh. Hehehe

Pelajaran hidup itu ternyata bisa kita dapatkan darimana saja ya, bu ibu. Tidak melulu terbatas di majelis taklim, di seminar pencarian jatidiri, di buku motivasi, tapi bisa diiiiimana aja. Tak terkecuali di atas sepeda motor para driver OJOL. 

Bahkan, ada kalanya saya merasa capai jiwa dan raga, udah macam orang paling menderita di permukaan bumi ini. Lalu, datanglah bapak driver yang kemudian bercerita dan membuka mata saya. Macam ditampar lunas, kalau semestinya saya ini bersyukur luar biasa karena diberi begitu banyak karunia, keberkahan dan kesempatan yang belum tentu orang lain bisa rasakan.

Saat saya merasa capek luar biasa dan pingin nangis saja, tiba tiba datang driver OJOL yang berkomentar,

"Wah, Ibu kuat ya kehamilannya masih bisa beraktivitas bahkan mengajar di dua tempat begini."

Seolah oleh Allah langsung memberikan jawaban bahwa sesungguhnya,

Image result for maka nikmat tuhan


Alhamdulillah ya bu ibu,

Semoga ke depannya kita bisa selalu mengambil pelajaran di tiap tiap kejadian :)




4 comments

  1. Haha, emang macem-macem sih driver ojol itu. Alhamdulillah kalo dapet yang enak ya mbak, kalo yg ngebut itu loh kan was was juga apalagi lagi hamil haha

    Aku di Jakarta juga udah ngadepin berbagai macam sifat ojol, kadang ada yg gak sabaran males buka maps, huuf sebel akuu

    ReplyDelete
  2. Hahah macam-macam juga ya reaksi drivernya. Itu yang driver masa bodo ngeselin banget yak, bukan aku yang hamil tapi aku ikutan jengkel bacanya -___-

    Aku jadi inget dulu ya, pernah ada temenku lagi hamil minta diboncengin tapi aku tolak karena takut :(

    Terima kasih atas saran dan nasihatnya, pak dari bapak saya jadi tahu kalau ada ibu hamil doyan makan sayur akan menurun sama anaknya hahaha.

    By the way, selamat atas kehamilannya, Meyke! Semoga persalinannya lancar dan sehat buat ibu dan dedek bayinya.

    ReplyDelete
  3. Baru 1 kali naik ojol kak. Hehe.. lebih banyak naik motor sendiri.

    Klo untuk driver sih emang beda2 karakter kak. Tapi yg memberikan kenyamanan penumpang lah yg di cari. Hehe

    ReplyDelete
  4. macem-macemnya mbak. tapi kok dari naik ojek, jadi banyak pengalaman-pengalaman dan pengetahuan baru mbak. sampek diajak ojek segala. ini kayaknya yang ambil manfaat bukan samopean deh mbak. tapi tukang ojeknya. saling menguntugkan gitu.

    syukur dapat yang religius. jadi pelajaran penting dari yang pengalaman berumah tangga

    ReplyDelete

Assalamualaikum wr wb,

Terimakasih sudah mampir ke sini ya... Yuk kita jalin silaturahmi dengan saling meninggalkan jejak di kolom komentar.

Terimakasih .... :)