Monday, 25 September 2017

Menjadi Guru, Menjadi Pendengar yang Baik



Menjadi guru, buat saya adalah ajang untuk mengajar dan juga mendapatkan pelajaran, menyebar ilmu dan mendapatkan ilmu (kehidupan). Sejak lulus kuliah tahun 2013 silam, lalu mengambil keputusan untuk melalang buana ke Jakarta dan menenggelamkan diri sebagai seorang pendidik, banyak sekali pelajaran hidup yang mentransformasi saya menjadi saya sekarang ini.

 Salah satu yang saya pelajari jadi profesi ini adalah belajar untuk bisa menjadi pendengar yang baik.

"Miss, kemarin papaku habis pulang dari Thailand, Miss... Dia bawa oleh oleh banyak...Ada gantungan kunci, ada tas, ada blablablabala..."

"Miss, aku sudah bisa berhitung dari 1 sampai 100. Aku sebutin sekarang ya Miss....satu, dua, tiga, empat...blablablaba....seratus"

"Miss, aku kalau giginya udah numbuh juga mau pake behel kayak miss soalnya cantik blablablabla.."

"Miss, blablablala..."

Setiap kali selalu saja ada yang curhat di tengah tengah pelajaran.

Tapi, kali ini adalah curhat paling serius yang pernah saya dengarkan dari seorang murid. Dia sudah SMA, Teman. Dia datang ke kelas dengan muka muram durjana, lalu tidak semangat macam awan pekat petir menyambar nyambar di atas kepalanya begitu. Dan setelah kelas selesai dan semua anak bubar, dia baru membuka suara.


"Miss, Maaf ya Miss hari ini saya kurang semangat. Saya lagi down." Lalu saya duduk di sampingnya.

"Down kenapa Ayu?"  (Well, sebut saja namanya Ayu.)

"Soalnya  besok saya test Matematika dan saya belum belajar, Miss.. Saya minta buku sama Mama di Gramedia juga belum dibeliin. Mama nggak sempet, Miss.. Kemarin saya khan harus opname di rumah sakit jadi nggak berangkat pas diterangin yang buat test. Saya tanya teman teman di sekolah juga nggak ada yang bantu, Miss. Mama sibuk ngurusin adek yang ini yang itu...saya down Miss...papa saya juga, Miss. Saya minta buku SBK di Gramedia juga dia minta cari di Google saja. Besok lusa harus dikumpulin dan teman teman saya sudah bagus bagus lukisannya, Miss karena keluarga mereka support, Miss. Tapi saya? Saya belum bikin sketsanya sama sekali. Saya down banget, Miss. Saya...."

Ayu lalu menangis. Dia kemudian bercerita tanpa jeda tentang beban hidupnya sebagai anak SMA yang bergelimang PR, tugas dan test plus terbebani oleh anggapan dia tentang keluarganya yang tidak memberi dukungan lalu dibandingkan dengan temannya yang berbekal dukungan penuh dari masing masing keluarganya. Dia terus bercerita tentang bagaimana dia dikucilkan oleh teman teman di sekolah karena dia anak pindahan.

Emosinya seketika meledak ledak dan menangis sejadi jadinya. Baru kali ini saya dicurhatin murid sambil nangis nangis. 

"Banyak yang bilang kalau aku badannya itu sakit sakitan Miss, mana bisa aku bekerja di (menyebutkan nama perusahaan). Mereka bilang SMA saja sudah sakit sakitan, gimana mau kerja sibuk begitu?" Ucapnya sambil sesenggukan.

Lama saya mendengarkan curahan dia sampai pada akhirnya dia bertanya,

"Terus aku harus gimana, Miss?"

"Matih" Saya nge-blank.

Ayu adalah murid yang pintar, Teman. Dia juga selalu berusaha untuk belajar sebaik yang dia bisa dan ingin segala sesuatu sesuai dengan ekspektasinya. Sebagai akibatnya, dia terlalu jauh berpikir dan panik sendiri tentang banyak hal dalam hidupnya. Dia berpikir terlalu keras sampai melahirkan beban beban baru untuk dirinya sendiri. Dia orang yang grusa grusu, terlalu pemikir, cenderung ambisius dan perfeksionis. Segala beban seakan dia tanggung sendiri.

Eh, sebentar. Ayu seperti orang yang saya kenal. Orang yang benar benar saya kenal. Jangan jangan dia golongan darah A?

Melihat Ayu sekarang, saya seperti berkaca. Ayu mirip saya. Lalu, saya ingat apa kata penasehat saya.

"Kuncinya satu. Jadilah orang yang bersyukur.." Saya pikir, saya harus menularkan Ayu ilmu itu.

"Ayu, ada satu yang bisa kamu lakukan."

"Apa Miss?"

"Jadilah orang yang bersyukur."

Banyak orang yang saat didera oleh banyak persoalan (menurut dia, karena bisa jadi menurut dia itu adalah persoalan menurut yang lainnya itu hanyalah sandungan ringan), mereka seketika lupa dengan segala macam kenikmatan yang telah mereka dapatkan selama ini. Macam setitik nila rusak susu sebelanga, setitik cobaan rusak kesyukuran yang telah diberikan tak terhingga.

"Ayu, Miss Meykke ngajar anak jalanan di Rawamangun. Mereka boro boro buku dari Gramedia, boro boro les, mereka sekolah saja susahnya setengah mati. Boro boro mereka didukung oleh keluarganya, mereka malah mau tak mau harus disuruh kerja demi butiran nasi yang untuk kamu itu mudahnya seujung kuku."

"Ada beberapa anak yang akhirnya mendapatkan bantuan untuk sekolah gratis, mereka saking bersyukurnya sampai nangis nangis. Betapa sekolah saja, untuk mereka, adalah barang yang teramat mewah."

"Kadang, kita jangan melulu lihat ke atas, lihatlah ke bawah. Masih banyak jutaan anak yang seumuran dengamu yang jauh lebih kurang beruntung."

Ayu terdiam, manggut manggut.

"Wah, semoga mujarab." Ucap saya dalam hati.

"Dengan bersyukur, kita akan menjadi orang yang ikhlas. Dan kamu tahu, Tuhan akan melipatgandakan nikmat orang yang bersyukur."

"Iya ya, Miss...dan saya ini khan sakit sakitan Miss. Sebenarnya saya nggak kuat les setiap hari begini Miss..tapi saya nggak mau ngecewain mama papa. Saya kasihan ngeliat mereka bekerja keras tiap hari tapi saya nggak bisa ngasih yang terbaik, Miss..Saya tuh sedih kalau kayak beegini, Miss..."

Yah, nangis lagi.

"Miss itu yakin sekali kalau kesehatan kita itu tergantung dari pikiran dan makanan kita. Ayu coba berpikir positif, berpikir kalau kamu bisa jadi anak yang membahagiakan dan membanggakan, coba berpikir kalau kamu sehat setiap hari. Pasti kamu sehat, Ayu. Miss Meykke yakin sekali. Tapi, kalau kamu setiap hari panik, mengeluh ini dan itu, merasa tertekan, kamu akan mudah sakit. Apalagi kalau merasa tertekan jadi nggak doyan makan, khan?"

"Jadi gitu ya, Miss.."

"Iya, Yu. Yang penting jadilah orang yang pandai bersyukur, kamu rajin berdoa, berpikiran positif. InshaAllah kamu pasti sehat dan semangat terus, Yu. Dulu Miss Meykke juga kurus kering dan penyakitan, jelek lagi. Tapi alhamdulillah sekarang Miss jadi agak berisi, sehat, agak semok dan aktif. Coba karena apa Yu?"

"Karena bersyukur miss?"

"Iya, karena bersyukur telah diberikan rejeki setiap hari, bersyukur karena miss masih diberi otak yang lumayan pintar kayak kamu, bersyukur atas segala yang Miss punya sekarang. Dan dengan bersyukur itu, Miss Meykke jadi terpacu untuk terus memperbaiki diri. Kamu mau nggak seperti itu?'

"Iya, Miss..saya nggak punya siapa siapa untuk diajak curhat. Kalau curhat ke keluarga, keluarga bilang saya ini cengeng.."

"Kamu bisa curhat sama Miss. Kita sama sama belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik ya Yul.."

"Iya Miss, makasih ya Miss..."


Kini, saya sadar betul menjadi guru bukan melulu soal berbicara dan mengajar saja,tetapi juga harus menjadi pendengar yang baik tanpa mempunyai kecenderungan untuk menghakimi atau menyalahkan. Cukup didengarkan, mencoba memposisikan diri kita sepertinya, lalu berbagi pengalaman yang nantinya bisa membuat guru dan muridnya sama sama belajar. 

Melihat sosok Ayu itu mengingatkan saya dengan sosok Meykke. Untungnya di balik sosok Meykke itu ada satu sosok yang tak henti hentinya menanamkan untuk terus bersyukur setiap hari, yang tak pernah capek memberi pencerahan, dan selalu dengan tulus mendukung tiap tiap kegiatan positif yang dilakukannya. Dia disebut dengan suami Meykke; penasehatnya yang siraman rohaninya baru saja dia tularkan untuk Ayu.

Baca juga :  Tiga Kuliah Dasar Dari Suami












16 comments:

  1. Waahhh... aku baca curhatannya semuaaa..
    .
    jadi kayak nonton ftv2 gitu...
    ortunya sibuk.. anaknya ga gitu di urusin.
    .
    ini terjadi jg sama murid2 aq d SD.
    bayangin. Mrk anak SD tp udh ditinggal ortunya, di paksa mandiri krn pekerjaan ortu ga bisa ditinggal.
    .
    anak SD mah bisa apa. Paling nangis. Bad mood. Jd pendiam.
    .
    klo muridnya udh SMA gini enak. Udh bisa d ajak curhat. Dikasih nasehat ya..
    good job miss meyke! Teruslah menginspirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Risah..memang anak jaman sekarang pada datang dari orang tua yang super sibuk jadi agak kurang kasih sayang dan perhatian kali ya

      Delete
  2. Bener banget Meyk, intinya bersyukur. Apapun alasannya masih banyak orang yg lebih susah daripada kita ya.

    Btw aku goldar nya B sih, jadi sifatnya beda.

    Mudah2an Ayu jadi anak yg kuat dan pandai bersyukur ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, jadilah orang yang pandai bersyukur

      Delete
  3. Sebagai anak guru, aku sedikit tau tentang karakter seorang guru. Di mataku, ayah adalah guru yang benar-benar seorang guru. Bukan hanya mengajar, beliau juga mendidik. Tidak hanya ingin membuat anak-anak pintar dalam pelajaran, beliau juga menjadikan para siswanya menjadi manusia, memanusiakan dan manusia. Dan aku berharap, semua guru seperti ayahku dan Miss Meyke :)

    ReplyDelete
  4. Sebagai murid, saya adalah murid yg jarang curhat kepada guru. Mentok2 curhat ke blog. Tapi, dilingkungan saya ada banyak yg seperti ini. Karena udah ngga punya tempat curhat, jadinya ke guru~

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi curhat di guru juga bagus lho. Siapa tau bisa dikasih solusi atau at least wejangan hahahaha

      Delete
  5. Setuju banget. Sebagai guru, ngajar di kelas tuh bukan hal yg melelahkan. Yang menguras tenaga itu persiapan di luar kelasnya, termasuk ketika murid-murid pengen curhat di luar jam pelajaran. Wechat aku tiap hari selalu tang ting tung tang ting tung, penuh message yang masuk dari murid aku yang jumlahnya ratusan dan sedang berada di usia galau itu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya benar Koh. Jadi kita harus sabar sabar dan rajin rajin baca buku motivasi yak :D

      Delete
  6. Ya sebagai guru harus bisa memberi solusi (jalan keluar) ya mbk, ketika menghadapi masalah seperti yang Ayu alami, Miss ini sudah bisa memberikan titik terang dan menyemangati murid yang dalam keadaan down, apalagi murid yang belum dewasa seperti ayu, masih butuh bimbingan dari seorang guru yang bener-bener ikhlas.

    ReplyDelete
  7. menginspirasi sekali kak. terimakasih sudah berbagi melalui tulisan yang bagus.

    ReplyDelete
  8. Jadi inget masa SMP, ada guru yang jadi tempat curhat. justru pada waktu itu keadaan hidupku yang melow. tapi guru-guru ku membuatku merasa istimewa. akhirnya waktu SMA ku jalani dengan super..

    ReplyDelete
  9. Perasaan aku udah komen deh hahaha
    Tapi gak apa, yg jelas i feel u Meyk
    Jadi guru emang kadang jadi temen curhat. Ya masalah keluargalah, pertemananlah, mesti bisa jadi teman juga

    Semoga muridmu cepet nyadar dan selalu bersyukur ya Meyk

    ReplyDelete