Monday, 5 June 2017

CERBUNG EPS. 1 : "AWAL TANPA AKHIR"

Image result for one sided love images for facebook

Setting waktu : Juni 2008-Juli 2009
Mentari sedang akan menukik maksimal saat ku dapati diriku berdiri bersama teman teman seumuran yang belum aku kenal sepenuhnya. Lengkap dengan baju kebesaranku plus topi warna biru yang menancap erat di kepala, aku dengan mahfum mendengarkan penjelasan perdana Bapak Kepala Sekolah. Lapangan super lebar dengan rumput yang tertata apik di sela sela jari kaki tampak tergelar begitu luas, terkepung bangunan berlantai dua. Bangunan itu begitu kompak berbalut warna merah tua bercampur coklat yang semakin menambah efek megah. Pun taman tampak cantik mengitari lapangan, berjajaran di setiap depan kelas. Aku berdiri di antara para anak anak berumur sama yang juga berbalutkan seragam yang masih senada, bawahan biru dengan atasan putih bersih. Hari ini jelas hari yang aku tunggu. Hari ini adalah akhir dari segala usaha dan segenap daya upayaku sekaligus awal dari perjuangan yang baru. Aku tak pernah tahu kala itu kalau ini juga awal dari rasa yang menggaung tanpa henti di penjuru relung.
“Tia Kusuma Putri, 11 B!”
“Melisa Cahyaningtyas, 11 E!”
“Septilia Putri, 11 D!”
Akhirnya, setelah melalui tes masuk yang mendebarkan, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di SMA Bumi Pertiwi dengan status baru. Di hari Senin ini aku resmi berstatus murid SMA. Rasa bangga bisa masuk ke SMA ini tak bisa kututupi, walau kadang rasa sedih berpisah dengan teman-teman SMP masih menyeruak.


Hari-hari putih biru sepertinya telah berakhir, meskipun tubuh ini masih ditutupi seragam putih biru SMP kesayanganku. Tak ada lagi geng rumpi yang selalu ramai bergosip ria di kantin waktu istirahat. Tak ada lagi ocehan riang Mitha, tak ada lagi ceramah dari bunda Derra, tak ada lagi tingkah usil Juni dan Dewi. Tak ada lagi kami, yang selalu membuat ribut kantin waktu jam istirahat.

Hanya aku, ya hanya aku satu-satunya dari kami berlima yang diterima di SMA favorit ini. Bahkan hanya aku lulusan dari SMP Negeri 2 yang bisa sampai ke tahap ini. Seleksi yang sangat ketat tampaknya menggugurkan harapan teman-temanku. Dan hanya aku, yang mungkin sedang dipayungi keberuntungan bisa terus menapakkan kaki di sini.

Kuedarkan pandanganku ke sekitar, mencoba mengamati wajah-wajah baru. Wajah-wajah yang selanjutnya akan mengisi hari-hariku. Wajah-wajah yang tampak ceria dan ramah. Semoga saja aku bisa mendapat teman baru di sini.

Sedetik kemudian pandanganku berhenti. Sosok ini terlalu menarik perhatianku.Tinggi, jangkung dan sedikit hitam, dengan sederetan gigi rata terlihat dari balik bibirnya yang tersungging. Bahkan dari pandangan pertama aku bisa menilai bahwa dia adalah orang yang ramah dan hangat. Sesekali dia tertawa dan lagi-lagi memperlihatkan sepaket lesung pipi dengan deretan giginya yang rapi.
Tak terasa sudah lebih dari 5 menit dan aku masih terus memperhatikan sosok itu. Aku seperti dihipnotis, pandanganku tak mau lepas darinya. Sampai kemudian.

“Elita Sulistyawati, 11 A!”

Hening.

“Elita Sulistyawati, 11 A!”Kembali nama itu dibacakan.

Sesaat gamang, kucerna lagi nama yang barusan dipanggil. Ya itu namaku! Lalu dengan langkah penuh energi kuayuhkan kaki menuju ke sisi lain lapangan, bergabung dengan calon teman-teman sekelas yang lain. Nama-nama selanjutnya pun mulai dibacakan kembali.
Tapi mataku, mataku ini masih menatap sosok yang sedari tadi menarik perhatianku itu. Bahkan sadar atau tidak, hatiku mulai berdo’a, agar kami ditakdirkan dikumpulkan di satu kelas nantinya.

Cahyo Satriaputra, 11 A

Sosok itu memalingkan wajah ke arah suara, kemudian melangkah menghampiri barisan dimana aku menjadi salah satu pengisinya. Jelas saja hatiku bersorak sorai tak karuan disusul kupu-kupu yang berjejalan memenuhi hatiku. Do’aku terkabul.

Dia pun berdiri persis di sampingku, bahkan satu gerakan saja sepatuku bisa menggapai sepatunya. Tubuhnya yang jangkung langsung memberikan bayangan teduh. Dia melindungiku dari paparan sinar matahari yang panasnya sampai ke ulu hati. Tapi, aku tak berani menengok sedetik pun. Yang ada aku hanya menunduk sedalam mungkin sambil sesekali melirik ke arah sepatunya. Ya, nyaliku hanya sampai pada lirikan ke arah sepatunya. Paling maksimal aku mencuri lirik ke bahunya yang segaris dengan mataku. Mana bisa aku melirik ke lesung pipinya, memandang wajahnya pun aku tak mampu mendongak. Kepalaku terasa begitu berat. Bila di sinetron yang sering aku lihat di malam hari, adegan selanjutnya adalah.........

“Hai, namaku Satria, kamu siapa?” Dia dengan begitu macho mengulurkan tangannya ke arahku.
Pelan tapi pasti aku menjawab kayuhan jarinya dan berkata “Hai, aku Elita...” Senyuman paling manis se alam semesta aku sunggingkan sambil menatap malu dua bola matanya.

Kembali dia menapakkan kedua belah lesung rupawan. Dari berjabat tangan, kita lalu berjabat hati. Indahnya hidup ini.
Sedetik, dua detik, tiga detik... Aku terus menunggu untuk bisa berperan menjadi serupa sinetron anak remaja di malam hari.

“Baiklah anak anak, sekarang kalian bisa menuju ke ruang kelas masing masing...Barisan dibubarkan...”

Seiring bubarnya barisan, bubar pula segala angan yang bermain riang di otakku. Nyatanya ini adalah kehidupan yang sangat beda dengan sekedar sinetron. Tak ada hai-namaku-Satria dan tak ada pula hai-aku-Elita. Tapi tak apa. Ini barulah permulaan. Kupu-kupu masih terus berterbangan menyesaki hatiku. Toh kita akan bertemu setiap hari selama setahun ke depan.

Saat pembagian tempat duduk, entah bagaimana ceritanya atau bagaimana aku bisa mengelabui keadaan, aku duduk di sisi paling kanan kelas, persis di bawah jendela yang langsung menghadap ke lapangan upacara. Tapi bukan bagian ini yang penting.Aku duduk persis di depannya, di depan Satria. Yang berjarak bahkan kurang dari 1 meter saja. Iya, demi apa aku bisa duduk tepat di depannya!! Mulai sekarang, dia akan memandangi punggungku seharian. Semenjak itu pun aku berusaha untuk duduk indah dengan punggung tegak mendongak. Setiap kali aku mengendur, aku ingat satu hal.

“Kei, Satria di belakangmu. Kei, Satria sedang memandang punggungmu!”

Di hari Senin, di satu hari bersejarah bagiku, di hari dimana nasib membawa kita ke jarak satu meter saja, setiap hari, dari pukul 7 pagi, sampai pukul 2 siang, selama setahun kedepan! Dan aku menyadari satu hal. Sesuatu telah datang, dari mata turun ke hati. Iya, dari mata turun ke hati, di kerlingan pandang kali pertama. Bisakah aku mengatakan serupa ini? Aku terjatuh di pandangan kali pertama dan kupu kupu berterbangan memenuhi rongga perut, masuk ke rongga dada. Semenjak itu, entah kegilaan apa yang membuat dia begitu merasuki rongga dada dan menjejali rongga hati.

*****
 “El, bolpen...” Ucapnya sembari mengantukkan ujung sepatunya ke kaki kursi kananku. Tuk tuk tuk...

 “Nih...” Aku sodorkan satu bolpoin hitam ke arahnya, sambil melirik ke arahnya untuk sekedar mengobati rasa ingin melihatnya. Apa apaan ini, bahkan hitungan menit pun bisa membuatku begitu ingin memusatkan mataku padanya walau hanya sesaat.

“Makasih...” Dia lalu menggenggam sebilah bolpoin pemberianku dan melanjutkan menulis sesuatu di bukunya. Bagiku Satria adalah orang yang susah ditebak. Dia terkadang begitu serius mengerjakan tugas sampai seorang pun tak bisa mengganggunya. Namun, di lain hari dia bisa saja kocak luar biasa dan terus menjahiliku tanpa henti.

“Tuk tuk tuk!” Aku pura pura sibuk menyalin catatan satu papan tulis ke buku yang penuh dengan rumus kimia.

“Tuk tuk tuk!!” Kini energi yang dia keluarkan lebih besar.

“Apa sih Sat!” Aku pura-pura marah. Seketika aku menoleh ke arahnya dengan campuran ekspresi antara pura-pura marah dan kegirangan. Aku menelan senyum mati-matian. Aku terus menampakkan ekspresi serupa “please, jangan ganggu!”

“Serius amaaat El!” Dia mengulum senyum.

“Iya, emang kamu, bisanya ganggu muluuu...” Aku memaju-majukan bibir serupa manyun. Lalu kita bercanda di sisa pelajaran. Dia melemparkan cerita lucu lalu kita tertawa tergelak-gelak. Tawanya menarikku lebih dalam dan dalam. Sedari awal dia duduk di belakangku, aku selalu berangkat lebih awal. Aku akan tersenyum di sepanjang jalan dengan wajah Satria yang bertengger di angan-angan. Aku akan melangkahkan kaki dengan riang tak peduli berapa banyak PR yang harus ku emban.
Satria serupa meringankan beban menjadi kesenangan. Dengan langkah riangku itu, aku menunggu satu moment tertentu. Pada pukul 06.45 Satria akan melangkah melewati pintu dengan tas punggungnya berwarna serba hitam lalu senyum simpul ke arahku yang sudah duduk manis di bangku, tepat di depan bangkunya. Dia lalu akan duduk dan meletakkan tasnya di laci.

“Ada PR apa?”

“Kimia, Fisika, Matematika, Seni Rupa.”

“Owh...beres.” Di tampangnya yang terkadang terlihat malas-malasan, Satria sebenarnya anak yang rajin. Dia selalu mengerjakan PR dan bisa mencapai urutan 3 besar di kelas. Perilakunya yang santai tapi pintar semakin menarikku untuk mengitari porosnya.

Di tahun pertama, kebersamaan begitu memukau hati. Setiap hari dia selalu datang pagi pagi, lalu melemparkan senyum khasnya, senyum berlesung pipi dengan sepaket gigi ratanya dan sekonyong konyongnya melemparkan pantatnya di bangku tepat di belakangku. Di sela sela pelajaran, dia tak henti hentinya membuatku selalu memutar kepala ke belakang, meladeni setiap tingkah konyol khas anak SMA. Hal yang paling aku suka adalah mengerjakan tugas kelompok. Guru akan menyuruh kami untuk mengerjakan tugas secara berkelompok dengan jumlah anggota empat murid. Semesta seperti mendukung penuh gejolak hatiku. Kini, dia tepat di pelupuk mata dalam arti harafiah. Kini, pantulannya menjalar dari retina lalu sekejab menginvasi seluruh hati. Dua jam masa pengerjaan tugas itu adalah masa masa paling menyenangkan sepanjang kelas berlangsung. Kami tak hanya mengerjakan tugas tetapi kami berkelakar dan berbagi gelak tawa tanpa henti.

Ah, hal lain yang aku suka dari seorang Satria adalah tulisan tangannya. Bahkan, dibandingkan dengan tulisan tanganku sendiri, tulisannya jauh lebih rapi dan meliuk liuk indah. Dia adalah sosok sederhana dengan suara berat yang terdengar berwibawa. Dia begitu gemar menebar senyum dan sekali lagi memperlihatkan jajaran giginya yang tertata rapi dengan sepasang lesung pipi yang tercetak jelas di pipinya. Matanya sipit hingga selalu terkatub tiap kali dia tertawa. Bahkan, aku sering mengulum senyum seorang diri setiap kali aku mengingat tingkahnya, setiap kali aku mengingat percakapan konyol di antara kami.

Tahun pertama di bangku berbalut seragam putih abu abu adalah tahun paling berbalut bahagia bagiku. Kini, kita tak hanya bercakap bertatap muka, tetapi juga bercakap lewat untaian kata di pesan singkat. Tak jarang aku mengirim SMS singkat kepadanya sekedar untuk bertanya tentang PR atau ulangan yang akan datang walau nyatanya sudah jelas jelas semua PR dan ulangan katam aku catat. Dari SMS tentang PR, percakapan kami akan berlanjut kemana mana. Tak jarang pula aku curhat tentang banyak hal dan membangun percakapan dengannya serupa membangun percakapan dengan seorang kakak, hal yang sedari kecil ingin sekali aku miliki.

Entah kegilaan nomor berapa lagi, tapi bagiku Satria bak bunglon yang setiap saat bisa menjadi apa yang aku butuhkan. Dia kadang bisa menjadi teman kelas, pelawak, pemberi semangat, penasehat ulung, dan juga seorang kakak. Bunga bunga berbiji harapan bulir demi bulir tumbuh subur menyeruak ke seluruh penjuru kalbu. Tahun pertama, serasa ku ingin mengecapnya selamanya.
Namun, seperti halnya Selasa menjemput Senin, serupa itu pula waktu terus bergulir....

*****
Menginjak tahun kedua....
Aku duduk di posisi bangku yang sama, tepat di pojok paling kanan di bawah jendela. Bedanya, setiap kali aku menoleh ke belakang, tak ada lagi sosok berlesung pipi berbadan jangkung.Tak ada lagi bunyi tuk tuk di salah satu kaki kursiku.Tak ada lagi tawa gelak yang berderai-derai di sepanjang pelajaran. Tak ada lagi Satria yang hanya berjarak kurang dari satu meter saja dariku. Di tahun kedua kami harus berpisah karena memang tidak lagi satu kelas.

Scene scene penuh gelak tawa selalu berputar putar di otakku setiap kali kesepian melandaku di dalam kelas. Aku mulai rajin menoleh ke luar, berharap barang sekejab Satria mungkin sedang melintas di depan kelas. Saat istirahat, aku mulai rajin pergi ke kantin dengan berputar arah demi melewati depan kelasnya, berharap barang sekejab aku bisa melihatnya keluar dari dalam kelas. Saat pulang pun  aku mulai rajin duduk dulu di depan kelas, berharap barangkali dia akan pulang melintasi depan kelasku.

Aku masih membangun harapan. Aku masih menanti sosok Satria untuk bisa memancarkan radar yang sama dengan dentuman hati yang senada. Aku masih menanti Satria mengungkapkan segala hal yang ingin sekali aku dengar. Satu tahun kebersamaan bisa jadi melahirkan banyak rasa.
*****
“Suka aku nggak?” Aku mengusap pipinya lembut dengan ujung jariku sebelum tidur.
“Suka aku nggaaaaak??” Aku mengulangi pertanyaanku dengan nada yang setingkat lebih tinggi. Dia masih tersenyum simpul dengan begitu rupawan. Rupa yang menawan itu masih saja tersenyum mematung di selembar bidang datar.

Foto dirinya yang aku simpan kupandangi tiap tidur, berharap suatu saat nanti selembar foto bisa menjadi sosok Satria yang nyata.

Tiap malam aku tidur dengan mendekap serpihan masa yang terabadikan. Setelahnya aku terus hidup dengan mendekap satu harapan yang terus membara.
*****

Tapi semuanya seakan semakin bertolak belakang. Hati ini makin mengagumi Satria, sementara sosoknya seakan semakin jauh.

Satria menjadi salah satu murid paling populer di sekolah. Satria terpilih sebagai ketua Paskibra di sekolah, satu jabatan yang tak mudah dicapai dan banyak menjadi incaran banyak cowok di sekolah. Otomatis dengan embel-embel ketua Paskibra, sosok Satria menjadi dikagumi banyak cewek di sekolah.

Dan aku, aku juga mengaguminya, bahkan sebelum Satria menjadi seorang ketua Paskibra. Namun apalah aku ini, sekarang aku hanya mampu melihat sosoknya dari balik jendela kelas setiap kali dia berlatih di lapangan upacara. Semakin kukagumi, sosok itu seakan makin jauh.

Satria seakan menghilang dari kehidupanku. Dia ada, tapi tak sepeti dulu. Bahkan ketika kami bertemu, dia hanya tersenyum sesaat. Senyum yang selalu kurindukan, tapi tanpa memanggil namaku.

Aku berharap, waktu dapat terulang kembali. Waktu dimana aku dan Satria bisa tertawa bersama, waktu aku dan Satria begitu dekat, bukan tentang jarak tapi juga tentang hati.
*****
Menginjak tahun ketiga, Satria benar benar hilang dari pandangan. Bukan, dia bukan berpindah sekolah. Hanya saja, banyak jarak terbentang di antara kita. Bahkan, kini tak pernah lagi aku memberanikan diri untuk menyapanya lewat untaian kata kata. Dia semakin populer, dan aku semakin terbenam seorang diri. Aku terbenam di rasa yang aku ciptakan sendiri sejak kali pertama menangkap sosoknya di lapangan sekolah hingga kini akan segera beranjak mengatamkan balutan putih abu abu. Satria tak pernah tahu.

Ingin sekali rasa ini kupendam, dan biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Tapi apalah daya, semakin kupendam semakin kukagumi sosok Satria. Hingga akhirnya aku memutuskan, akan kuungkapkan rasa ini. Aku sudah siap jiwa dan raga. Aku tidak bisa terus menunggu dengan jawaban yang kian lama tampak memudar. Aku bahkan sudah melangkah ke umur 17 dan aku siap untuk ini. Hatiku berdegup sangat kencang dengan arus keringat yang mengalir deras. Sekali dalam hidupku ini kali pertama aku melakukan hal senekat ini.

Semalam aku tak tidur. Mungkin karena begitu banyak rasa yang meluap dan memuncah meruah-ruah, ada 3 lembar surat terlipat rapi di dalam amplop berwarna biru muda, warna favoritnya. Entah apa yang aku pikirkan. Sejak setahun yang lalu bahkan dia tak hanya hadir menemani hariku, dia juga begitu rutin mengunjungi lelapku di malam hari. Bak remaja beranjak dewasa, aku terkena konspirasi hati di level dewa.

Kuberikan surat yang kutulis untuknya di lorong sekolah. Lirih mulut ini berucap “Aku suka kamu.... Sat, sejak pertama kita bertemu...

Sejenak kami terdiam, sedetik kemudian aku berlalu begitu saja. Dia pun berdiri termangu tak bisa berkata kata.Lalu, apakah masa lalu hanyalah kenangan nan lalu yang telah katam dilalui tanpa berbekas apa apa?

Langkah berlalu ku terasa begitu lamban. Aku berharap di sela langkah laluku dia memanggil namaku. Memanggil nama yang sering dia panggil setahun yang lalu. Maka aku akan menoleh dengan mata yang menembus retinanya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah...
Aku masih terus melangkah...









Beku.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...