Sunday, 5 February 2017

Titian Sarat Makna Hidup



Seorang teman bertanya padaku,

"Apa kamu nggak takut?"

"Takut." Aku menjawab.

"Tapi, kenapa kamu nekat mencobanya?"

"Bukankah hidup juga menyodorkan sensasi yang serupa? Bukankah segala ketakutan yang menjangkiti hanya akan memaku kita dan tidak membawa kita kemana mana?"


Pertama kali aku menginjakkan kaki dan mencoba menjaga keseimbangan di pangkal tali, aku juga merasa takut. Bagaimana kalau aku jatuh? Bagaimana kalau aku terpeleset? Dan selongsong 'bagaimana kalau' yang lainnya. Tapi, kemudian aku berpikir. Bukannya hidup ini juga menawarkan sensasi yang sama? Menyodorkan pelajaran idup yang tak ada bedanya?

Bismillah. Aku mulai berjalan langkah demi langkah sembari berpegangan kuat pada tali pegangan. 

"Aduh pak, gimana nih pak?" Beberapa kali tubuhku berayun ke kanan dan ke kiri. Tapi tetap, ku mencoba seimbang dan tenang. Tenang dan yakin aku rasa menjadi modal utama mencoba jembatan jenis ini. 

Titian demi titian terlampaui, sambil terus menjaga keseimbangan. Toh aku harus tetap mencobanya. Aku harus mengalahkan rasa takut dan menyaksikan seberapa jauh aku bisa melangkah. Kalau aku hanya terjangkiti rasa takut tanpa nekat mencobanya, apa aku bisa tahu bagaimana rasanya berhasil berjalan di atas tali? Oh, tentu tidak. Kalau aku hanya memilih untuk takut tanpa mau mencoba apa aku bisa tau kalau ternyata aku bisa se-berani itu? Oh, tentu tidak. Kalau aku memenangkan rasa takut dan cukup berdiri saja di emperan teras apa aku hanya mampu menjadi penonton saja sedangkan yang lain mampu mengalahkan rasa takut dan bisa selangkah lebih berani? Oh jelas iya. Dan apakah aku dan kamu memilih menjadi sekedar penonton atau pelaku? 

Jembatan tali ini ibarat hidup yang kita jalani. Di awal perjalanan, kadang kita merasa takut. Kadang kita khawatir kalau kalau hal yang buruk telah mengintai di depan mata. Tapi, bukankah ketakutan yang menjangkiti tidak akan menggiring kita kemana mana?

"Kalau aku nggak berani mencobanya, aku nggak bakal tahu rasanya berdiri di atas dua tali setinggi 3 lantai."

Dalam hidup,

"Kalau aku nggak berani mencobanya, aku hanya akan diam di tempat, tak berjalan apalagi berkembang. Aku tak akan mampu bertahan di kota orang, bekerja di tempat yang baru dan mendorong diri dari zona aman."

Dan saat aku mau mencoba, meredam rasa takut dan membumbungkan keyakinan. Akhirnya aku bisa menjalar di antara dua tali itu. Jembatan itu juga yang mengajarkan aku tentang keyakinan, kawan. Keyakinan bahwa aku pasti bisa dan keyakinan bahwa tali yang menerat dua sisi tubuhku itu akan menopang dan memastikan aku baik baik saja.

Saat aku mencoba menjalani hidup ini sesuai niatan hatiku, aku percaya dua hal. Pertama, aku yakin aku pasti bisa. Kedua, aku percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatNya. Dan aku mempercayakan hidupku pada Qada dan QadarNya.

"Lalu, apa yang sesungguhnya harus kita takutkan?" itu yang aku pikirkan begitu aku melompat turun dari jembatan bersamaan dengan salah satu guru yang menahan tali penobang tubuhku.

Selagi aku yakin aku pasti bisa dan yakin bahwa Alloh akan menolong hamba-Nya yang mau berusaha, apa yang harus aku takutkan di hidup ini?

Aku akan terus melangkah dan mencoba hal baru. Aku akan menginjakkan kaki di tempat tempat baru, menyatukan langkah bersama sosok yang bisa diajak berpetualang bersama lalu membina cerita kita sendiri. Aku akan bertemu begitu banyak orang, mengambil pelajaran dari tiap tiap pengalaman dan menjadi kaya. Kaya akan pengalaman dan pelajaran. Kekayaan yang nantinya bisa diwariskan untuk anak kecil bermata besar atau pun sipit, untuk anak kecil bertubuh ramping atau pun gembul, anak anak kecil berhati besar dan berotak cerdas. Anak anak yang kepadanya akan aku ceritakan apa apa yang telah dilalui oleh Ibu dan Bapaknya. 

Dari meniti jembatan tali, aku bisa mengambil pelajaran begitu banyak, kawan. Seseorang berkata padaku,
"Jadilah orang yang pandai bersyukur."

Dan dari jembatan tali, aku mengucap syukur karena pada akhirnya aku mampu mengalahkan rasa takutku sendiri, karena pada akhirnya aku bisa melakukan hal yang aku takuti dan merasakan sensasinya.

Semoga dalam titian jembatan kehidupan ini masing masing dari kita juga bisa menjadi pemenang dari segala pertarungan hati, pemenang dari penyakit takut dan ragu ragu, dan bisa melakukan apapun yang hati kita ingin lakukan.

Lalu, hal apa lagi yang ingin kalian coba tapi masih kalian takutkan? Mendaftar di universitas ternama, menjajal dunia theatre, mencoba mengungkapkan perasaan dengan sosok yang memenuhi pikiran, mencoba merantau dan hidup sendiri, menikah, atau memutuskan untuk tidak lagi menunda mempunyai anak?


5 Februari 2017, Ibis Hotel - Bandung

18 comments:

  1. Bngung mau komen apa, tp aku mrasa trmotivasi dg tulisan ini. Memng rasa takut itu hrus bs d.hadapi..
    Setuju kita hrus pndai bersyukur.. Dalam kondisi apapun itu :)

    Salam kenal..

    ReplyDelete
  2. Jadi intinya jika ingin mencoba sesuatu, jgn takut untuk mencoba, karena klo gk dicoba kita nggk akan pernah tau berhasil atau tidak. Berani mencoba akan menumbuhkan rasa tegas didalam karakter, klo kata guru aku yg terpenting itu proses, karena kita bisa belajar dari proses.

    Terimakasih kak atas motivasinya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar sekali..kalo nggak nyoba kita juga nggak tau bisa lari sejauh apa. :D

      Delete
  3. Motivasinya bener-bener bagus. Memang bener kalo gak berani mencoba apa-apa kita cuma diam ditempat. Kayaknya saya bakal memulai melakukan hal-hal yang mau saya lakukan tapi sempat takut karena banyak hal.

    ReplyDelete
  4. Keren mbak, uji nyalinya . Kalau aku, belum tentu berani buat naik itu hehehe . tapi benar juga apa yang mbak katakan, kalau takut terus kapan majunya. Terkadang kita harus melangkah besar, walau resiko selalu menyertai ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, benar. Kita tiap percobaan selalu ada kemungkinan, berhasil atau gagal. kalau takut gagal mulu kapan kita tau kita akan berhasil? :D

      Delete
  5. Mengalahkan rasa takut adalah perang yang terberat setelah melawan hawa nafsu yang tidak akan pernah habis. Salah satu bentuk ujian bagiku adalah mengalahkan rasa takut, ketika kita takut akan sesuatu, itu adalah ujian bagi kita. Apakah kita tetap akan ada di level takut akan hal itu, atau naik level dan menjadi berani menghadapinya untuk menantang ketakutan yang baru.

    Tidak akan ada orang yang tidak takut apapun, tapi tidak mungkin ada orang yang tidak bisa mengalahkan rasa takutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia. Semua orang pasti pernah takut, tapi nggak semua orang bisa mengalahkan rasa takut. :D

      Delete
  6. Berani itu bukan berarti tidak merasa takut, tapi berani bertindak meskipun merasa takut. Kita gak akan dapet apa-apa kalo cuma diem di tempat. In life, the only direction that matters is forward.

    ReplyDelete
  7. Uji yang kakak lakukan ini salah satu eskperimen yang membuktikan rasa takut itu ternyata tidak memiliki kekuatan. Rasa takut itu jika diibaratkan sebagai manusia, dia adalah manusia paling lemah. Hanya saja dia menjadi kuat, karena kita sendiri yang memberinya kekuatan untuk memberi sugesti pada diri kita.

    Kalau kita takut, dia akan menang, dan selamanya tak akan pernah berhasil meraih apa yang kita inginkan. Semoga ujian mengatasi rasa takutnya bisa lebih ekstrim lagi ya kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tantangan selanjutnya gue pingin banget bisa bungee jumping!!!

      yes, so trueee

      Delete
  8. Setuju dengan ceritanya. Ketika ingin keluar dari zona nyaman, terkadang manusia emang suka khawatir menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Akan tetapi, itu yang membuat kita seharusnya bisa berani dan mengalahkan segala kekhawatiran yang datang jika hal yang ingin diperbuat adalah hal bermanfaat.

    ReplyDelete
  9. Tentang mengalahkan rasa takut. Hem... Hal ekstream apa ya, yang pernah aku taklukkan? Mungkin banyak. Termasuk dalam mengambil keputusan.

    Benar atau tidak, mengalahkan rasa takut itu tentang keputusan. Orang-orang yang berani biasanya selalu kuat akan keputusannya. Jadi, tidak heran kak Mey mampu melalui 2 tali itu. Karena keputusan kak mey sudah bulat dengan optimisme.

    Motivasi yang bagus kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Her, so trueeee!! Semangat yak!

      Delete