Monday, 27 February 2017

"Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya" - Parenting Seminar by Bu Ida S dan Ustadz Agus Sudjatmiko

Setelah gue menghadiri seminar Pra-Nikah di Masjid UI Salemba oleh Kang Abay; seorang motivator pernikahan sekaligus singer lagu lagu Rohani dan Oki Setiana Dewi, kali ini gue menghadiri sebuah seminar yang tak kalah mencengangkan, gaes.

Baca juga Segenggam Pencerahan dari Kang Abay dan Oki Setiana Dewi tentang "Menikah Penuh Berkah"

Gue ikut seminar ini!

Smart Islamic Parenting oleh Bu Ida, S ; seorang penulis tentang parenting

Ustadz Agus Sudjatmiko, bapak dari 8 anak yang 6 di antaranya Hafiz Al-Qur'an


Kali ini gue nggak harus bayar, justru gue dapat undangan dari sekolah tempat gue ngajar. Dan sama seperti kemarin, banyaaaaak sekali hal yang bisa gue pelajari dari sini.

PARENTING! NGURUS ANAK. Apa yang ada di benak kalian tentang ngurus anak?

"Ya elah Mey, ngurus idup gue aja belum bener mau ngurus anak segala."

"Ya udah, urus diri dulu lo deh." Ternyata yang baca ini masih anak kuliah. Ok, fine.

Tapi buat orang yang menginjak 25 taun ke atas dan siap berumah tangga serta meneruskan generasi masing masing, ilmu mendidik anak itu sangat penting.





Masalah ngurus anak itu emang bukan perkara yang simple dan gampang. Cara kita mendidik, kata kata yang keluar dari mulut kita, perilaku kita sehari hari akan terekam di memori anak dan akan terus tertancap sampai mereka besar. Dan bahkan, bisa jadi pola pengasuhan kita ini mempengaruhi perilaku dan watak anak kita. Dan parahnya lagi kalau pola pengasuhan kita salah, suka berbicara kotor dan memukul misalnya, maka bisa jadi itu juga yang akan menjadi dasar pola pengasuhan anak anak kita saat mereka sudah menjadi orang tua. Lalu, kalau tidak dihentikan, itu akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Dan kita adalah BIANGNYA! Kita ikut andil dalam kesalahan yang menular itu. Betapa ironis, gaes!

Bahkan, Bu Ida S, salah satu pembicara di seminar itu bercerita tentang seorang ibu yang pintar sekali, lulusan dari sebuah universitas ternama. Saat dia kecil, dia dididik oleh orang tua yang suka bertindak kasar dan otoriter. Semua memori masa kecilnya dia bawa sampai dewasa. Sampai akhirnya dia tumbuh pintar tetapi dengan tabiat mudah marah dan kasar. Lalu, dia berkeluarga dan memiliki 3 buah hati. Mungkin untuk orang lain, ini terdengar tidak waras. Karena memori dan pengaruh masa kecilnya terlalu kuat menancap di hatinya, dia nggak bisa mengontrol emosinya sekuat apapun dia mencoba. Akhirnya apa yang terjadi? Suatu sore, dia memanggil anak anaknya. Mereka disuapin, dimandikan, dipakaikan baju yang bagus, lalu diceritakan di kamar. Begitu mereka akan terlelap, si Ibu membungkam anaknya dengan bantal sampai tewas. Dan dia juga melakukan hal yang sama dengan dua orang anaknya. Tujuannya apa? Karena dia ingin menyelamatkan anak anaknya dari dirinya. Dia ingin menghentikan penderitaan anaknya yang akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti saat mereka masih kecil!!

Gue yang sensitip, liat iklan Thailand aja nangis, apalagi denger cerita sedih begini. Nyesek banget!! Air mata bercucuran. Sedih sumpah.

See? Betapa pola pengasuhan orang tua, cara mendidik mereka itu teramat sangat berpengaruh untuk anak cucunya. Tidak perlu jauh jauh, gaes.

Gue juga mengalami hal yang sama. Sejak balita, gue kadang dipukul sama bapak gue. Seingat gue, hobi bapak gue adalah mukul pantat gue pake tangannya sampai pantat gue ngecap tangan bapak gue sejari jarinya. Merah dan bergerigi begitu. Gue juga pernah diseret sampai ngompol di celana karena bertengkar dengan adik gue. Bapak gue sering sekali melempar barang barang di rumah dan memecahkan kaca meja. Apa yang terjadi? Gue juga melakukan hal yang sama ke adek gue. Beranjak dewasa gue sering mukulin adek gue yang pertama. Cuman karena rebutan remote TV, gue sering nendang dia. Gue sering jambak dia dengan brutal. Kalau gue lagi marah, gue sering sekali ngacak ngacak kamar gue. Buku buku sampai bertebaran. Gue teriak teriak kayak orang kesurupan. Untung gue nggak dipanggilin dukun.

Sekarang, setelah gue pikir pikir, itu karena apa? Karena gue sebagai anak kecil saat itu, belajar dari apa yang gue liat dan rasakan. Gue dipukul, gue cenderung untuk memukul. Gue liat pemandangan sehari hari orang berteriak dan membanting, gue cenderung melakukan hal yang sama.

Saat SD gue gemar berantem mukulin temen gue. Gue masih ingat saat itu gue pernah punya temen namanya Gendro. Kita masih duduk di kelas 6 SD.  Dulu jaman SD lagi marak maraknya film India, Kuch Kuch Hotahai dan gue ngefans berat sama Shah Rukh Khan. Si Gendro ini dengan sok gagah bilang di depan gue pake Bahasa Jawa.

"Opoooo, kui!! Shah Rukh Khan! Sing bener ki SELOKAAAAAN!!" Lalu, karena gue murka, gue ambil LKS dia, gue gulung sedemikian rupa dan gue pukulin dia sampai sampul LKSnya lepas. Eh, dia nangis. Pernah juga beberapa kali gue berantem sama temen temen cewek gue. Kita cakar cakaran di depan kelas, sampai jambak jambakan udah macam Dewi Perssik vs Julia Perez. Dan semua yang berantem sama gue pasti nangis. Gue tumbuh menjadi orang yang keras hatinya, gaes.

Saat SMP, gue tumbuh menjadi anak yang pemurung dan kasar. Nama nama binatang sering keluar dari mulut gue karena itu juga yang keluar dari Bapak gue. Gue nggak mau sholat karena gue pikir,

"Ngapain sholat, Bu. Nggak ada gunanya!"

Stress nih orang. 

Gue kasar, tapi gue nggak punya kepercayaan diri. Tapi, gue pintar. Alhamdulillah masih ada yang tersisa. Kalau gue menerbangkan angan ke masa lalu, kayaknya parah banget masa puber gue, gaes. 

Memasuki SMA, gue mula dewasa dan tahu mana yang baik dan buruk. Gue juga dipertemukan teman teman yang baik. Kelas 3 SMA, gue mulai membaca banyak buku motivasi seperti La Tahzan, Hukum Ketertarikan Alam/Semesta begitu, Chicken Soup dengan banyak edisi, dan lain lain. Pinjem di Perpus daerah.

Tapi, gue nggak serta merta menyalahkan bapak gue. Selain itu, bapak gue adalah seorang bapak yang mengirimkan gue sampai sekolah setinggi tingginya, seorang bapak yang rela berkorban dan seorang bapak yang jelas sayang sama anaknya.  Dan jelas bapak gue jugalah yang bekerja sama dengan Ibu gue sedemikian rupa sehilangga gue bisa lahir di dunia ini dan menjadi seperti sekarang ini. Lalu, kenapa bapak gue melakukan hal serupa itu? Kenapa???  Karena bapak gue  juga korban. Dia juga mengalami hal yang sama saat dia kecil dulu. Dia sering dipukul pakai rotan sama kakek gue, dia sering ditonjok, ditendang dan dibanting. Macam sumo aja. See? Bukan hanya bakat dan penyakit saja yang bisa diturunkan, gaes. Tapi, pola pengasuhan juga ternyata bisa diwariskan. Dan kalau itu terjadi kepada anak perempuan yang nantinya akan menjadi Ibu, hasilnya akan lebih fatal. 

Mengapa?

Seperti kata pembicara kedua kita, Ustad Agus Sudjatmiko :

"Ayah menentukan keberhasilan rumah tangga, dan Ibulah yang menentukan keberhasilan anak anaknya."

Apa jadinya anak gue nantinya kalau Ibunya masih pemarah dan pemukul? Naudzubillah.....

Berangkat dari masa lalu gue yang nggak boleh dirasakan oleh anak anak gue yang unyu dan pinter pinter kelak, gue jelas harus berilmu dan memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Bukan karena gue merasaka seperti itu, lalu gue berpikir

"Ah, gue aja dulu ditertibkan aja pake dipukul dan diseret udah macam pedagang kaki lima kena ciduk satpol PP, anak gue juga harus gue didik dengan cara yang sama."

Tapi,

"Dulu gue tahu sakitnya dipukul, diseret sampai terkencing kencing. Gue tahu betapa apa yang gue alami akan berdampak begitu besar dalam perkembangan mental gue, maka anak gue nggak boleh mengalami hal yang sama. Akan gue sayangi sepenuh hati dan segenap jiwa."

Tapi, ngomong mah mudah. Tapi prakteknya susah, gaes. Itu mengapa gue sangat semangat saat ada undangan seminar parenting ini.

Seminar ini mengajarkan pada gue bahwa mendidik anak itu tidak hanya agar mereka   berprestasi, tapi juga agar mereka tumbuh menjadi anak dan sosok      yang berkarakter dan berakhlah kul karimah.

Lalu, mendidik yang bagaimana yang bisa melahirkan anak yang unyu, pintar, serta soleh solehah??

Calon ibu dan satu udah jadi ibu menimba ilmu, gaes.


-bersambung-

2 comments:

  1. Ya ampun ngeri ibunya membunuh anaknya dengan membungkam sampai tewas hiks hiksssss
    Aku juga sedih
    Jujur aku yang ibu newbie ini harus banyak belajar karena apapun semua butuh proses dan aku mesti memahami peran ibu satu2
    Kamu Meykke mumpung masih muda (halah) cari ilmu parenting sebnayak2nya tapi jgn over load juga , karena teori sama praktek beda jauuh

    ReplyDelete
  2. Ya Allah, sedih baca cerita ibu yg bunuh anaknya sendiri. Aku pun sampai sekarang masih merasa belum bisa mendidik anak dengan baik, masih sering marah marah dan nggak sabar sama anak. Tapi bagaimanapun, belajar itu nggak akan ada batasannya...

    ReplyDelete