Thursday, 26 January 2017

Ini Soal NAMA episode 3

ni adalah karya gue 2 tahun yang lalu. Saat itu, gue lagi ngumpulin materi buat bikin buku solo bergenre Komedi. Dua tahun berselang, dan si buku tak terlahirkan. Now, daripada mengendap di folder, I'll share all the stories I've made for you!! Happy reading!!


Baca juga Ini Soal Nama Episode 1
Baca juga Ini Soal Nama Episode 2

Tapi ini gue serius banget. Gue nggak pernah bercanda. Nama gue memberikan kesulitan tersendiri. Pernah waktu itu gue magang jadi guru SD selama dua bulan di SD dekat rumah. Saat gue perkenalan, gue memasang muka unyu biar mereka ngira gue seumuran sama mereka. Nanti kita bisa main petak umpet bareng. Gue kebetulan ngajar anak SD kelas satu dan dua. 

“Halloooo selamat pagiii semuanyaaaaaaaa....nama Ibu adalah Ibu Me-ik-ke...Mulai hari ini Ibu Me-ik-ke akan mengajar bahasa Inggris di kelas kalian yaaa...”

Nah, sejak saat itu gue mulai mengajari kalau buku adalah book dan pensil tidak lain tidak bukan adalah pencil kepada anak anak unyu itu. Namun, ada satu hal yang bikin gue geli cenderung nyeri setiap kali mereka manggil gue.

“Bu Mekel, ini huruf apa??” Ucap salah satu murid bernama Ardan sambil menjinjit dan mencoba menyentuh huruf j yang setelah gue liat tampak kayak bentuk cacing kepanasan.


Friday, 20 January 2017

Menyibak Keindahan Hutan Mangrove, PIK-Jakarta Utara!



Gue berada di pucuk perahu, mengamati jejalan pohon Mangrove yang ada di sisi kanan kiri, dan tengah. Mereka mengumpul sedemikian diri sampai membentuk batas di tiap tiap sisi mata angin. Gue seakan ingin merasakan angin yang cenderung sepoi sedikit sambil menahan serbuan panas matahari. Tapi, terik matahari apalah artinya dibandingkan dengan pengalaman yang gue tunggu tunggu ini. Gue pingin membuka lengan lebar lebar dan menghirup nafas dalam dalam; menangkap para angin yang melewati celah celah dahan Mangrove, yang menjalar di akar akarnya dan membelai belai pucuknya. Gue berasa kayak lagi syuting videoklip. Di sekitar gue adalah jajaran Mangrove yang lebat nan rimbun dengan hamparan air kecoklatan bak kolam susu. Ini adalah Jakarta anti-mainstream, gaes!

Image result for hutan mangrove
source

"Udah miss berkhayalnya, gantian dayung nih."

"Baik pak." Gue bubarkan imajinasi lalu segera bergeser dan menyambut gayung dari temen gue. 

Pelan tapi nggak pasti karena kita juga bingung mau sampai mana, perahu mengambang dan berjalan.

"Kanan kanan kanan, awas nabrak pohon..."

"Sekarang kiri tapi mendayung ke depan."

"Awas awas ada perahu. Mundur mundur dayung ke depan sebelah kanan!"

"Direm direm, awas direm!" Dikira kita lagi naik bajaj pakai direm segala. Karena kita semua terlampau awam dalam hal mendayung, baik mendayung perahu maupu mendayung biduk rumah tangga, kita mengalami kesulitan. Tapi, dengan kekuatan bulan persatuan kita bisa mulai menemukan arah tujuan dan cara menghadapinya. Indahnya kebersamaan.

Monday, 9 January 2017

Tulisan Perdana, Setumpuk Asa

Assalamualaikum wr wb, gaes...

Fiuh!! Finally gue nulis juga di tahun 2017 ini, gaes. Gue udah berencana nulis perdana ini dari beberapa hari yang lalu tapi selalu gue urungkan dengan berbagai alasan. Kali ini gue nggak akan nulis cerita tentang travelling gue, atau tentang pandangan gue akan hidup, atau pun cerpen syahdu cenderung kelabu. Kali ini gue akan nulis tentang gue sendiri.

Kali ini gue nulis di lab Bahasa, tempat gue kerja setiap harinya. Hari ini gue udah kelar ngajar 4 kelas dan tinggal menunggu jam pulang. Oh ya, hari ini adalah hari pertama gue kerja di tahun 2017. Dan gue kerja dengan penuh semangat. Semangat yang gue punya ini bukannya tanpa sebab, gaes. Semangat ini di antaranya berasal dari seseorang yang sekarang ada di seberang pulau. Semangat ini tumbuh dari dukungan dari seseorang yang akan menulis cerita cerita berikutnya bareng gue, seseorang yang akan melebur sedemikian rupa dan membentuk masa depan bersama bernama kita. Bahasa gue berat banget ya. Tapi, ini nyata.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...