Thursday, 11 August 2016

Berniat


Aku menabung keresahan demi keresahan. Aku mengumpulkan kegelisahan demi kegelisahan dan menempatkannya di sebuah cawan. Aku mulai berpikir untuk tidak menggantungkan hidupku pada tali yang ku ikat seorang diri. Potret potret diri kawan yang berbahagia menggelitik hatiku untuk berbahagia dan menari atas musik yang senada.

Tak mudah, aku tahu. Hidup memang tak pernah mudah. Saat ku menoleh pun jalan setapak itu dilumuri lumpur, penuh pohon berduri dengan awan hitam menggantung abadi. Tapi, ku bisa apa? Aku tak bisa berjalan mundur atau memutar arah dan mengusir awan, atau mengguyur lumpur atau sekedar mencabut ilalang liar. Bukankah kita tidak bisa memanjat kembali masa yang telah lalu. Bukankah karena itu dia disebut masa lalu?

Aku hanya bisa terus merangkak pergi lalu berdiri dan berjalan walau tertatih. Tubuhku penuh goresan. Hatiku penuh guratan dan jantungku memar. Tapi aku tahu, waktu ibarat obat tradisional mujarab dengan doa sebagai penawar segala luka. Aku tahu awan tak akan berjalan mengikutiku dan mendapati tubuhku basah kuyup. Perih tak akan terus menjalar. Walau terkadang ku tak bisa menggunakan nalar.

Terkadang semua yang ku perlukan hanyalah berdiri sejenak, atau duduk di bawah pepohonan. Lalu, memikirkan jalan mana yang harus ditapaki, gunung mana yang harus didaki, dan sungai mana yang harus diikuti. Ah, terkadang yang harus aku lakukan hanyalah istirahat sejenak, menghela nafas dan menghembuskannya keras keras. Berusaha menguapkan keresahan yang melumuri tubuh dan hati. Lalu, memanjatkan sebuah bisikan yang masih tak terdengar. 

"Aku harus melontarkannya keras keras." Lalu angin akan membawanya ke atas, mengirimkan pesan untuk ku yang berjalan menyelusuri jalan setapak di sebuah hutan penuh dengan jajaran orang orang, penuh dengan tipuan nikmat dan definisi definisi akan hidup yang mereka ciptakan sendiri.

"Aku harus melontarkannya keras keras. Menembuskannya di pekatnya malam dan dinginnya hati. Melesatkan di antara bintang bintang yang berpedar, lalu merasuk bersatu di do'a malamnya."


7 comments:

  1. Apalah arti masa lalu, seribu tahun pun kita mengenang, tidak ada yang berubah. Masa depan, ah, siapa yang tau dengannya, seribu tahun kita menghayalkan, tidak mungkin kita keluar dari tempat tidur dengan semua khayalan tercipta kalau kerjaan kita hanya tidur saja. Yang ada hanya masa sekarang, lakukan apa yang kita bisa, apapun itu, jadikan masa lalu sebagai perisai, impian masa depan sebagai target, dan waktu yang ada di masa sekarang sebagai senjata dan tenaga.

    ReplyDelete
  2. Keren ih. Aku sampai gak bisa berkata-kata. Cuma ini yang bisa aku tuliskan. ;)

    ReplyDelete
  3. Hm... lama gak baca kalimat mendayu-dayu, sempet susah ngartiin hahaha.. tapi trus paham :D
    Sudahlah... cari jalan setapak yg lain..

    ReplyDelete
  4. Insyaallah km akan bisa mencapai hal2 yg km inginkan meyk
    Sebenarnya tak semua yg kamu liat pada orang lain itu benar2 kebahagiaan.
    Ayo semangat meykke. Smg kita jadi orang yg sukses amin

    ReplyDelete
  5. Terkadang, mengenang masa lalu adalah cara paling sederhana untuk memperbaiki diri sendiri.

    Tapi, ya begitulah masa lalu. Tak akan bisa diubah dan diperbiaki menjadi lebih baik. Hanya bisa jadi pelajaran dalam hidup.

    Masa lalu juga salah satu jam waktu yang gak bisa dilupakan siapapun. Iya, siapapun. karena, berjuta kenangan sudah tersimpan di sana.

    ReplyDelete
  6. semoga niatmu itu bisa terwujudkan ya :)

    ReplyDelete
  7. Bahasanya berat banget mey? Lagi galau ya? Mencerminkan isi hatimu sekali

    ReplyDelete