Sunday, 17 April 2016

Hujan

Hari ini hari Minggu. Aku duduk di sofa dengan meja melingkar di depannya, di sebuah ruangan di lantai atas kostku yang menghadap langsung ke balkon. Sekumpulan bak remah remah kertas datang dari langit, membasahi pucuk pucuk daun dari jajaran pohon mangga, alpukat dan pohon lainnya yang tingginya mampu menyundul atap. Ah, bahkan beberapa dari mereka berdiri tegak melampauinya. 

Aku kini duduk di lantai beralaskan yoga mat yang aku beli di salah satu toko online."Produk ini dikirim dari luar negeri", tulisnya. Tapi, saat membeli barang dari dunia maya, harapan dan kenyataan bisa jadi dua hal yang bertolak belakang. Tapi sudahlah, lupakan tentang yoga mat biruku ini. Meneguk sedikit demi sedikit teh tarik sambil mendengarkan lagu sendu dari uraian kabel yang berpangkal di telepon genggamku. 

Ahh, kini remah remah kertas bertumbuh menjadi buliran sebesar mutiara yang terus merangsek turun melewati sela sela dedaunan. 

"Ini adalah salah satu minggu favoritku," ketikku 



Menikmati hujan untukku sendiri sembari mendengarkan lagu lagu dari OST drama drama Korea yang satu pun aku tak mengerti artinya. Kadang, lagu tak harus selalu dimengerti, hanya perlu dinikmati.

Aku di sini, bermil mil jauhnya dari kota kelahiranku, di sebuah tempat sarat kenangan akan masa kecil, masa remaja dan masa lainnya. Kelak, masa tua.....mungkin. Tahun 2016 pelan tapi pasti merangkak dan terus bergerak. 

"Apa lagi?"

"Selanjutnya apa?"

"Seharusnya di masa lalu, aku begitu. Bukan begini."

"Seharusnya aku melakukan itu. Bukan melakukan ini."

"Apa bisa?"

Serupa serbuan hujan kepada celah celah dedaunan, pertanyaan itu menghujaniku setiap kali ku akan mengakhiri peraduan atau melewati malam dengan hamburan mimpi. Ah, mimpi... Aku sering mengakhiri mimpi dengan deru nafas berat dan hati yang masih saja terasa getir. Menceritakannya kepada sahabatku di pulau seberang. Karena hanya dengannya, aku bisa memperlihatkan hatiku yang telanjang. 

"Akhirnya aku bisa di sini!!"

"Kind of life I'm running today is my dream I was wishing years ago."

"Finally, I am here."

Aku telah melewati masa itu. Aku telah melewati masa dimana aku girang bukan kepayang karena telah menikmati hidup yang aku impikan beberapa tahun dulu. Dulu, aku menulisnya lekat lekat, lalu mengutarakannya pada Tuhanku, dan mulai menyusun langkah setapak demi setapak. 

Dulu aku mengirimkan gelembung gelembung harapan itu dan kini aku mendapati diriku di dalamnya. Aku melambung dan sekarang aku mulai linglung.

Banyak keresahan dan kekhawatiran yang melambungkanku. Menjadikanku terkadang susah tidur. Aku seakan dikejar waktu dan langkahku tak secepat dulu. Masa lalu semakin menjadi hantu yang menempel di kepala, tangan, kaki, hatiku. Keresahan demi keresahan menyesakkan rongga dadaku.

"Bagaimana kalau nanti tak seperti yang aku harapkan?"

"Apa mungkin bisa seperti itu?'

"Jalan mana yang harus aku tempuh untuk bisa menemuinya?"

Dulu, saat aku masih kecil, teman temanku menamaiku 'kodok brontok' karena kulitku yang penuh dengan luka gatal. Dan sekarang, aku sendiri yang memberikan judul 'katak' untukku. Aku bagai hidup di dua dunia yang berbeda. Air yang menyejukkan tetapi sulit untuk diselami dan udara yang hanya perlu dihirup tanpa tahu.........penuh racunkah ini? memabukkan tidak?

Tuhan dan teman teman perenang handalku yang wajahnya berseri seri menyuruhkan untuk mencoba berenang.

"Jadilah perenang kehidupan. Ini tidaklah mudah, tetapi kau akan mendapatkan Ridhonya. Semua sudah diatur olehnya. Jalani saja seperti apa yang diperintahkan."

Tetapi orang orang terdekat dan kebanyakan orang lainnya menyuruhku untuk hidup bergantung pada udara saja.

"Sudah, lakukan seperti apa orang lain kebanyakan lakukan. Tak perlu kau harus berenang untuk menemui tujuan hidupmu itu. Kau bukan mermaid."

"Keluarga kita ini bukan keturunan Mermaid. Kita tak bisa mengantarkanmu menemuinya di dalam air. Hidup di air bukan perkara mudah."

Dan saat aku melihat diriku di air kolam, aku sendirian yang berkaki selaput walau keriput. Dan aku hanya menemukan segelintir teman berselaput dari ratusan teman lainnya. Mereka, yang selaputnya menjaga mereka dari zina, dari ganasnya dunia dan panasnya api neraka. 

Lalu, dengan cara apa aku harus menemuimu?

Masa kecil hingga dewasa aku habiskan dengan bergumul di kubangan. Kubangan yang menjeratku tiap hari hingga aku harus tertidur dengan suara radio yang berisik, daripada mendengar suara luar yang gaduh dan memekakkan telinga, membengkakkan hati. Kubangan yang menjerat hatiku menjadi batuan kali;keras dan dingin. 

Sekali aku menghiasi potret diriku dengan warna pastel dan merah muda. Aku fikir ini akan berlaku selamanya. Aku akan bangun dari kubangan dan membangun istana pasir bersamanya. Aku akan duduk berjam jam di tepi pantai, menggenggam tangannya dan mendengarkan alunan desir pasir bersama dengan ombak berlarian menemui karang. Mendengarkan lagu cinta di senja temaram sambil menghirup aromakopi yang mengebul.

Namun, di satu pagi aku menggigil dan istana pasir tergerus ombak, nihil di garis pandang.Tersapu waktu dan menyeretku ke kubangan lebih dalam.

Lalu, jalan mana yang harus aku tempuh untuk menemuimu bila yang aku punya hanya pekatnya malam tanpa bintang? Dengan apa aku harus menemuimu bila aku hanya bisa menawarkan sup minggu lalu yang terus aku nikmati perlahan? Apa yang bisa aku berikan kepadamu bila aku hanya berbekal celotehan masa lalu yang penuh dengan tambal?

Waktu berputar dan aku enggan melempar jangkar. Lautan ini sangat luas. Langit tak berdinding dan lautan seakan tak bertepi. Di daratan mana aku harus berlabuh?

Katakan padaku,

Kemana

Dengan cara apa

Bagaimana

Aku bisa menemukan dirimu di langit biru berhias arak kapas dengan air bening terbentang?

Ahh, bahkan sekarang langit sudah menampakkan ratunya dan pohon pohon mulai mengibaskan dahannya. Hujan telah selesai, tetapi pertanyaan itu masih menghujaniku. 

Katakan padaku,

Aku harus bagaimana?

2 comments:

  1. Hujan selalu menyuburkan rasa rinduku pada masa remaja
    Saat itu, saat hujan, langsung berlarian ke tanah lapang untuk bermain bola
    Juga rindu pada kekasih, yang semakin saja membesarkan rasa cinta :)

    ReplyDelete
  2. artikelnya mengalir lembut,

    ReplyDelete