Saturday, 30 April 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 4 ( Sobek Again!)


Sepulang kerja gue buka di antara dua jari gue buat ngasih salep lagi. Tetapi gue bingung. Saat gue buka, di sela sela putih salep, gue bisa melihat lubang menganga. 

Gue masih nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Berkat yoga, gue bisa duduk sedemikian rupa hingga mata gue bisa dengan lebih dekat mengamati di antara dua jari kaki gue. Benar. Sebagian salep bahkan keliatan masuk ke dalam lubangnya setelah tadi gue olesin lagi.  Lihat!! Bahkan sekarang salep gue sedikit mengalami perubahan warna menjadi pink. 

"Mungkin ini cuman halusinasi. Iya, ini hanya halusinasi semata." Gue mencoba untuk menenangkan diri. Mungkin akhir akhir ini gue stress. Gue kembali menatap di antara dua jari kaki gue lagi, berharap kedua sisinya telah mengatup. Gue lihat lebih teliti dengan berbagai posisi. Gue mengerjapkan kedua mata gue. Tapi tak ada yang berubah. 

"Barbaraaaaaaaaaaaa, JAHITAN GUE SOBEK LAGI! TIDAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK!!"

Friday, 22 April 2016

Undangan Mantan


"Ningrum habis liat undangan pernikahan mantannya di facebook." Aku tertegun. Aku tahu kalau Ningrum akan lebih daripada hanya sekedar tertegun. 

Aku segera melongok ke depan. Mata Ningrum tiba tiba penuh semburat merah dengan banyak kaca; berkaca kaca. Bibirnya bergetar getar dan hidungnya memuai menjadi sebesar jambu air. Wajahnya memerah. Melirik sedikit ke bawah, jari jarinya yang menggenggam HPnya mendadak menggigil. Hatinya, kawan....seakan dikenai bom seeksplosif bom Hiroshima dan Nagasaki yang diledakkan secara bersamaan, bertubi tubi.

"Samsul dan Melinda" Tertulis meliuk liuk di layar HP Ningrum, terus meliuk dan menancap ke jantung hati Ningrum.

"Udah...khan namanya juga emang kalian udah pisah..." Aku mencoba membuka percakapan yang justru meruntuhkan pertahanan Ningrum. Dia tiba tiba menunduk, memangkukan kepalanya di tangannya sedemikian rupa. Dia terisak. Siapapun yang membaca ini juga akan tahu apa yang terjadi.

Sunday, 17 April 2016

Hujan

Hari ini hari Minggu. Aku duduk di sofa dengan meja melingkar di depannya, di sebuah ruangan di lantai atas kostku yang menghadap langsung ke balkon. Sekumpulan bak remah remah kertas datang dari langit, membasahi pucuk pucuk daun dari jajaran pohon mangga, alpukat dan pohon lainnya yang tingginya mampu menyundul atap. Ah, bahkan beberapa dari mereka berdiri tegak melampauinya. 

Aku kini duduk di lantai beralaskan yoga mat yang aku beli di salah satu toko online."Produk ini dikirim dari luar negeri", tulisnya. Tapi, saat membeli barang dari dunia maya, harapan dan kenyataan bisa jadi dua hal yang bertolak belakang. Tapi sudahlah, lupakan tentang yoga mat biruku ini. Meneguk sedikit demi sedikit teh tarik sambil mendengarkan lagu sendu dari uraian kabel yang berpangkal di telepon genggamku. 

Ahh, kini remah remah kertas bertumbuh menjadi buliran sebesar mutiara yang terus merangsek turun melewati sela sela dedaunan. 

"Ini adalah salah satu minggu favoritku," ketikku 

Sunday, 10 April 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 3 ( Malapetaka baru )



Idealnya hari pertama kerja di tahun yang baru adalah kerja dengan suka cita dan penuh semangat. Ini tahun baru lho, gaes! Banyak mimpi baru yang diterbangkan dan banyak angan yang digantungkan.

Tapi bagi gue, hari pertama kerja di tahun baru itu sebangsa nighmare ever, musibah, bencana, hal yang nggak gue harapkan kehadirannya. Dan ini semua karena lubang di jari gue selebar 4 cm ditambah tas punggung gue yang masih dalam proses pencarian. Untung sebelum gue berangkat, gue ditelpon sopir bis gue.

"Mbak, ini nanti saya kasih nomor telpon orang yang ambil tas Mbak ya..."

"Beneran Pak? Sudah ketemu Pak? Tapi tas saya nggak kenapa kenapa khan Pak?"

"Iya, tas mbak aman."

Buru buru gue telpon penukar tas gue. Ngantuk sih ngantuk ya, tapi masa iya nggak bisa bedain mana tas dia, mana tas orang lain. Bentuk tasnya itu jauuuuh berbeda, gaes. Tas dia lebih kecil, serupa tas punggung biasa. Sedangkan, tas gue gede menyundul langit sampai kalau gue pake, dia lebih gede daripada gue. Gue kadang bingung.

"Ini tas punggung apa beban hidup?"

---
"Halo, Assalamualaikum.."

"Halo Mbak, waalaikumsalam. Mbak, saya yang kehilangan tas punggung di bis tadi. Dibawa mbak ya? Kok bisa ketuker Mbak? Kan beda banget tasnya... Mbak nggak pernah minum AQUA?"

"Iya, maaf Mbak. Tadi yang bawa Bapak saya. Dia nggak sengaja bawa punya Mbak." Gue jadi merasa bersalah. Padahal biasanya wanita selalu benar.

"Owh, ya udah Mbak. Tolong anterin tas saya ya Mbak karena isinya penting mbak. Mbak sekarang dimana?"

"Di Jonggol."

Gue rasa sebentar lagi mbak mbak di ujung telpon akan bilang,

"WAKWAAAAWWWWW!!"

Monday, 4 April 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 2( Drama Keberangkatan)



Saat melangkah masuk ruang dokter, gue panik banget. Gue masih seperempat abad dan masih banyak mimpi yang belum gue kejar, masalah dapet apa nggak sih urusan belakangan. Mana temen gue satu demi satu menikah. Tapi gue masih sibuk ngurusin jari. 

Ditemani dengan nenek dan Ibu gue mempersiapkan hati menerima kenyataan terburuk yang bisa saja terjadi.

Gue disuruh tiduran, mulut gue dioborin, tensi gue diukur, lalu bu dokter mengangguk angguk menandakan dia sudah menemukan pencerahan atas apa yang terjadi sama gue.

"Ini alergi. Amoxilin. Dua atau tiga hari lagi bercaknya akan hilang..."

Gue sujud syukur alhamdulillah. Setelah dokter melihat semua obat gue kemarin, dia berketetapan hati. Gue cuman alergi.

"Bukan akibat cacing yang masuk ke dalam tubuh saya khan dok? Ikan? Ubur ubur?"

Nenek gue cuman geleng geleng. Renang di Umbul Ponggok bikin gue depresi. Akhirnya gue dikasih antibiotik baru dan gue pulang ke rumah.

Tapi, jalan yang harus gue tempuh untuk gelar sembuh ternyata masih sangat berliku, gaes. Sehari sebelum gue berangkat ke Jakarta, gue kembali ke salah satu dokter. Kalau kemarin gue berobat karena bercak bercak merah, hari ini tujuan gue berobat untuk ngecek jahitan sekaligus ganti perban sebelum ke Jakarta.

Lo tau nggak jahitannya kayak apa? Sebenernya gue nyimpen fotonya, tetapi demi kebaikan bersama, nggak akan gue sebarluaskan. Benang jahitannya berwarna hitam, persis banget kayak benang buat jahit baju. Seratnya gede, diakhiri dengan ikatan mati sedemikian rupa. Andaikate kemarin gue bisa request,

"Ini mau diikat model apa mbak?"

"Ditali pita aja ujungnya dok, biar kayak kado."
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...