Wednesday, 30 March 2016

Tragedi Umbul Ponggok Episode 1 (Awal Dari Segala Malapetaka)



Udah gue bilang kan, kalau piknik ke Umbul Ponggok adalah piknik yang nggak akan pernah gue lupain seumur hidup gue. Ini adalah piknik dengan ujung terpanjang sepanjang sejarah hidup gue. Piknik yang menyisakan jahitan di kaki yang proses penyembuhannya kayak sinetron Tersanjung. Lama, berliku liku, berbelit belit, bersambung.

Kedalaman kolam di Umbul Ponggok itu tak sama gaes, karena memang semuaaa tak samaaa...tak pernah samaaaa. Semakin ke tengah maka kedalamannya akan semakin meningkat. Bersama dengan adek, teman gue beserta pacarnya dan mas fotografer, kita mulai berenang ke tengah. Sebelumnya gue cuman nyewa goggle/kacamata snorkle aja tanpa selang pernapasan yang udah dikecup oleh puluhan bibir lainnya. Emangnya gue cewek apaan? 

"Kita ke tengah ya.." ajak mas fotografer, sebut saja Mas Ari Wibowo. Mereka pun langsung berenang ke tengah, dan kemudian gue menyusul. Lima detik, sepuluh detik gue masih santai santai ngeliat ikan ikan berwarna oranye hilir mudik di bawah gue. Emang bagus banget gaes!! Ikannya beraneka ragam dan beneran jerih bangett. Bebatuan dan pasir di dasarnya bikin gue berasa kayak lagi renang di laut. 

Nah, saat gue mau ambil nafas, gue tiba tiba inget saat gue di Senggigi. Gue tiba tiba inget saat gue tersedak karena selangnya bocor. Lalu, gue inget saat gue bingung mau napas lewat mana, hidung gue ketutup google, sedangkan mulut gue tiap kali gue ambil napas yang ada gue minum air asin gilak. Lalu gue inget pas di Senggigi gue sadar kalau ternyata gue terlalu asyik ngeliat air, gue jadi nggak ngeh kalau gue udah ke tengah dan kaki gue cuman bisa menjejak air. Lalu, gue ingat saat gue panik dan akan melepas snorkle tetapi terlalu kencang di kepala gue. Dan tiba tiba di saat itu gue lupa cara bernafas!!! Gue langsung nyungsep dan kaki gue menapak ke dasar sampai badan gue tenggelam sepenuhnya.

Sunday, 27 March 2016

MERAYAP DI GOA DAN MELESAT CEPAT DI BENDUNGAN RAKSASA, GOA KREO-WADUK JATIBARANG, SEMARANG!!


It's what I called as A heavenly earth!
Orang Semarang pasti tahu dengan destinasi wisata yang satu ini. Kalau nggak tahu jangan ngaku orang Semarang, karena destinasi kali ini kereeeeen abisss!! Di tempat ini gue bisa masuk ke gua, gue bisa meniti jembatan merah yang melintasi bendungan raksasa yang pembangunannya menghabiskan waktu empat tahun, gaes! Tak berhenti sampai di situ,gue juga bisa menjelajahi bendungan dari pucuk ke pucuk dengan naik speedboat!! Nah, gue juga beberapa kali menegur mesra temen temen gue yang ada di sana. Nih!!

Wednesday, 23 March 2016

MEMBACA ANTI-MAINSTREAM DI UMBUL PONGGOK, KLATEN - JAWA TENGAH

 NB : Santay gaes, tuh buku sumpah udah nggak dibaca lagi. Itu buku gue cari tumpukan buku bekas yang akan segera diloakkan yang udah gue baca saat gue masih SMP. Aman ya..
Kalian pasti udah tahu tentang tempat ngehits buat foto underwater dan gue juga pernah baca kalau tempat ini menjadi salah satu destinasi snorkeling air tawar terbaik.

Kalian juga pasti tahu yang bikin unik tempat ini adalah kalian bisa foto naik becak, naik motor, tiduran di tenda,sampai foto gendong gendongan sama pacar.... UNDERWATER!! Di antara ikan ikan air tawar berbagai bentuk dan warna, cantik mempesona. Airnya pun jernih dan segar karena ini bukan air tampungan, gaes. Ini air yang langsung dari mata air yang juga ada di tempat itu. That’s why orang bilang itu UMBUL.

UMBUL PONGGOK, KLATEN!! Umbul berarti mata air dan Ponggok adalah nama desa itu. Jadi Umbul Ponggok adalah Mata Air yang berada di Desa Ponggok. Gitu.







Sunday, 13 March 2016

INI SOAL TEMEN KOST 16 ( Welcome Kasuari Raya Bhineka Tunggal Ika )



Sejak keluar dari Kost Katelia Raya, gue resmi menjadi salah satu bagian dari salah satu kost tak jauh dari kost lama gue. Kalau kost lama gue berada di jalan Katelia Raya As. 5 No. sekian, kost baru gue berada di jalan Kasuari Raya As. 5 no. sekian alias cuman beda gang doang. Perpindahannya pun nggak banyak memakan tenaga karena gue dibantuin karyawan karyawan Om gue. Bahkan, sebelum pindah pun kamar gue dicatin dulu biar lebih kinclong. Gue menobatkan Om dan Tante gue sebagai Om dan Tante paling baik se-Cibubur Cileungsi. Berkat mereka, hidup perkost-an gue jadi lebih mudah.

Kost gue yang dulu lebih imut, gaes. Ibarat kate begitu masuk kamar gue bisa tinggal guling dua kali udah sampai kasur, guling satu kali ke kiri udah sampai meja belajar, guling tiga kali ke arah depan udah bisa bikin kopi, dan guling sekali ke kiri cium tembok. Makanya gue tumbuh jadi pribadi yang mager karena buat apa gerak banyak banyak kalau guling aja bisa. Pernah saking magernya gue mau ke dapur aja guling guling.

“Ngapain lo guling guling di lantai?” Barbara keluar dari kamar.

“Mager mbak, mau ke dapur ambil gelas.”

Wednesday, 9 March 2016

Promp #106 : Pilihan Kedua


Memangnya peduliku apa tentang kaki yang berlumur darah? Bebatuan jelas tak menghalangiku. Aku terus menjejakkan kakiku secepat kilat di antara bebatuan, lalu menerobos alang alang dan semak belukar.  Aku tak mendapati apapun kecuali gelap di segala sisi. Yang ku pikirkan hanyalah lari, dan juga Mas Said.
Oh, bukan. Lariku bukan melarikan diri. Walau aku tahu lusinan polisi dan warga desa dengan kentongan menyalak menyalak di kejauhan. Sesekali sorotan cahaya acak bersebaran. Tapi aku, Marini, jelas tak gentar! Seperti sel kanker, nyaliku terus bermutasi dan menjalar ke segala penjuru.
“Mas, tapi kau akan bertanggung jawab kan?” Aku bertanya lirih dengan sedikit tekanan pada kata tanggung jawab. Karena hanya itu yang aku pinta dari seorang laki laki bertubuh tinggi semampai, bermata jelaga. Dan sebenarnya yang sejak kita masih bermain pelepah kelapa untuk menuruni tebing di sisi kanan sungai besar dulu, aku sudah mendapati selusin kupu kupu berterbangan di dalam perut begitu dia mengajakku menuruni tebing bersama.
“Iya, cuma Marini yang Mas Said inginkan...”

Monday, 7 March 2016

Mengagumi Keagungan Mesjid Agung SEMARANG


Saat pulang kampung buat gue adalah saat yang paling dinanti nanti. Kenapa? Karena gue bisa berkumpul dan menguntai rindu yang menggebu dengan keluarga gue, bisa bertemu dan meringkas cerita selama merantau dengan teman teman gue, dan juga gue bisa...............PIKNIK. Itu sebabnya gue jarang kurang piknik, karena begitu pulang ke Ambarawa gue akan segera mencari spot destinasi menarik yang belum pernah gue kunjungi dan segera meluncur bersama adik atau pun teman gue. Bahkan, karena tinggal di Jakarta sudah melampaui hitungan bulan dan cuman bisa liat mall dan jalan aspal doang, pemandangan di desa buat gue menjadi pemandangan yang mewah. Sawah hijau royo royo, gunung kekar bersundulan jauh di belakangnya, pohon pohon berdesir terbelai angin, dan daun daun yang mengembun di batas subuh. Makanya tiap gue pergi ke suatu tempat bersama Nicken, adik gue dan kita nglewatin jalan membelah persawahan, gue takjub..

“Wah Ken....sawaaaaaaah..Liat Ken!! Udah ada bulir padi! Jadilah seperti tanaman padi Ken! Makin berisi, makin merunduk...”

“Wah, kok sekarang gunung Merbabu tambah tinggi ya Ken?? Terakhir liat nggak segitu lho.”

Dan Nicken cuman nyetir motor di depan sambil bergumam,

“Karepmu, Mbak. NDESO!!”

Tapi kali ini yang gue bahas bukan sawah, gunung, atau pun tempat alami lainnya. Toh seumur umur naik gunung cuman Gunung Andong jaman kuliah dulu. Tapi, sekarang gue akan naik Angkot menyelusuri Jalan Bawen, lalu Ungaran dan menembus Semarang!! Gue akan sholat juga di salah satu masjid termegah di Indonesia yang di halamannya terdapat 6 buah payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup dengan sendirinya serupa dengan payung payung raksasa di Masjid Nabawi, Madinah. Hitung hitung sebelum gue bisa ibadah Umroh dan mengunjungi Moslem’s-the-most-wanted place itu, gue bisa latihan melihat kemegahan mesjid yang berada di  jalan Gajah Raya, tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Look at this!!

masjid agung tampak dari tower

MESJID AGUNG SEMARANG!! Sebenarnya udah lamaaaa banget gue pingin ke sini secara mesjid ini sudah ada sejak tahun 2006 yang diresmikan oleh Bapak SBY, presiden RI saat itu. Cuman gue punya alasan klasik saat gue masih sekolah/kuliah dulu.

ALASAN KLASIK PENYEBAB GAGALNYA TRAVELLING : Saat sekolah, punya waktu nggak punya uang. Saat bekerja, punya uang nggak punya waktu. Sungguh terlalu.

Alhamdulillah akhirnya gue bisa menjamah tempat ini. Semua ini berkat dia. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...