Friday, 1 January 2016

TERIMAKASIH MASA LALUKU, DARIMU KU BELAJAR MENAHAN PIL


Menjalin hubungan dan berusaha untuk bersama dalam ikatan bernama ‘kita’ bagiku adalah sebuah investasi waktu. Dan  investasi sejauh yang aku tahu hanya akan berakhir pada dua kemungkinan pasti, meraup untung atau terlilit rugi.  Investasi waktu yang ditanam dari sebuah hubungan pun hanya akan bermuara pada dua kemungkinan pasti, berakhir dengan pekikan SAH disertai alunan doa tiada henti atau berakhir SUDAH disertai deraian luka yang bila kurang beruntung akan terus mencabik cabik hati.

Kita pernah berusaha untuk merakit masa depan bersama dalam balutan rasa yang senada.


Kita pernah berusaha untuk merajut masa selama 1740 hari terhitung sejak kau memamerkan SIMmu padaku dan aku dengan begitu riang menimang KTP baruku. Dulu, apapun itu kau selalu ada untukku. Saat kemarahanku meledak begitu impulsif bak remaja yang sedang akan menginjak dewasa atau saat hatiku dijejali bunga sejuta warna dengan riang yang mengudara di segala penjuru arah mata angin, kau tetap ada di situ. Semata mata untukku.


Apakah kau ingat awal perjumpaan kita? Duduk berjam jam di game center demi menari bersama di dunia maya masih dalam balutan seragam putih abu abu. Kita berlomba memencet panah atas bawah kanan kiri dengan spasi sebagai ketukannya. Aku akan begitu senang bila mampu menang darimu. Apakah kau tahu betapa senangnya aku memenangkan hatimu?

Kita pernah merajut kenangan bersama walau lewat cara yang begitu sederhana. Denganmu, hal sederhana terasa begitu istimewa.


Apa kamu masih ingat ketika kita mengarungi jarak 25 kilometer bersama demi mengantarkanku pulang. Dengan berselimutkan mantel yang sama, aku meringkuk tepat di balik punggungmu, mendekapmu erat dan meletakkan kepalaku di samping nadi lehermu. Di jarak 0 cm, aku berharap perjalanan ini tak mencapai akhir. Tak peduli bajuku kuyup dan ujung jemariku kisut, hatiku mengembang hangat suam suam kuku. Kita akan mengarungi semua perjalanan di depan bersama, sejauh apapun itu, selama apapun itu, sekeras apapun itu. Ku mendekap hatimu lekat lekat. Kini, kerongkonganku terasa tercekat dan hatiku memucat.

Masih bisa kukecap jelas jelas saat kau tiba tiba muncul di depan rumah di banyak kali kita bertengkar. Sepasang manik matamu sekejab meluluhkan hatiku. Lalu, kita akan mengakhiri perjumpaan malam dengan ulasan senyum di bibir dan rangkaian kalimat terakhir sebelum terpisah jarak.

“Kalau udah sampai rumah, SMS ya?” Aku pikir siklus ‘kita’ akan terus berulang hingga kau tak harus pulang karena pulangmu ada padaku, karena aku adalah rumahmu.

Sempat ku menerbangkan angan, tak hanya tumbuh bersama, kita juga mampu menua dalam balutan cinta dan derap langkah seirama.


Kau tahu khan, kita tumbuh bersama. Kita melewati masa putih abu abu dengan hati penuh gejolak. Tak jarang kita bertengkar. Tak jarang pula kita saling melemparkan diam. Kala itu aku berharap kau akan mengajukan perdamaian duluan. Padahal kau juga berharap aku akan mengajukan perdamaian duluan. Lalu kita melewati masa kuliah bersama. Kita semakin dewasa dan rasaku padamu semakin mengangkasa. Aku selalu menerbangkan doa untuk matematika ajaib dimana aku ditambah kamu akan menghasilkan satu.

"Hope we are not only growing up together, but also growing old as one heart, together." 

Aku selalu mengumpulkan serpihan momen kita yang terbidik kamera. Saat kita masih lugu dengan rasa yang menggebu di bangku SMA, lalu saat kita mencoba menjalani hidup  lebih berarti di bangku kuliah denganmu di sisiku dan aku di sisimu. Segera akan kutimang bekuan momen kita saat kamu tampil begitu elegan dengan atasan kemeja panjang garis garis dan dasi bertaut indah di lehermu denganku yang anggun menyanding rok berumbai dengan penutup kepala yang terurai. Sekarang, aku menimang khayalan.

Menjalin hubungan denganmu tak ubahnya berinvestasi waktu.


Tak semua masalah yang kita lewati berbuah ulasan senyuman dan kalimat kalau-sudah-sampai-rumah-SMS-ya sama saat kita masih SMA dulu. Keegoisanku dan keegoisanmu mengubah hubungan kita menjadi sehambar sup minggu lalu. Di batas senja terakhir, aku duduk mematung di belakangmu tanpa dekapan. Tak bisa lagi aku merasakan denyut nadi lehermu atau senyummu yang mengembang terpantul di kaca spion. Sorot matamu tak terbaca, menatap lurus ke depan seolah berkata,

“Aku akan maju tanpamu.”

Sejak saat itu kata 'kita' menjelang sirna. Sejak saat itu parut membaluri sekujur hatiku.  Jutaan kenangan terukir di benakku, menyebar ke segala penjuru. Terlalu banyak kenangan manis yang sayang bila tak dikenang. Namun,  mengenangmu sama saja menikam ulu hatiku dengan sembilu, bertalu talu.

Ada saatnya aku benar benar ingin menghapusmu dari kotakku.


Namun kamu terus menari tiada henti, datang di ujung malam dan pergi di batas fajar. Ada saatnya aku menghapus kontakmu dari HPku sebelum aku sadar sesuatu. Aku sudah hafal nomormu. Ada saatnya aku sesak dengan semua jejakmu yang berceceran di sembarang sudut. Ada saatnya aku menggigil di pojokan dengan bayangmu yang meracau tanpa henti. Ada kalanya aku bangun di pagi hari dengan detak jantung berderap kencang, perih menjalar sampai sum sum tulang belakang dan merambat cepat menuju kelenjar penglihatan. Tiap kali terbangun, tanpa sadar aku langsung menyambar HPku seperti hampir 58 bulan terakhir sebelum tiba tiba tertampar kenyataan bahwa kamu tak akan menyapaku seperti dulu. Kita berujung sudah. Ada saatnya aku menyibukkan diriku dengan membabi buta demi menenggelamkan ketiadaanmu di hari hariku.

Ini bukan salah siapa siapa karena bila kita memang ditakdirkan untuk bersama, tak akan di antara kita yang terjatuh dan terbelit di hati yang kedua.

Tidak. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Cinta tak pernah salah. Mencintainya sama sekali bukan salahmu, juga bukan salahku. Karena bila kita memang ditakdirkan bersama, tak akan ada di antara kita yang terjatuh dan terbelit di hati yang kedua.  Justru aku iri padamu. Kau bisa dengan cepat mengubah haluan dan menetapkan tujuan. Aku pernah sangat mengerti dirimu. Kamu adalah orang yang bisa begitu fokus dan melakukan apa saja untuk bisa meraih yang kamu mau.

Kini, hanya satu yang ingin ku katakan padamu. Terimakasih. Karenamu, aku sanggup berdiri lebih tinggi.


Terimakasih karena bak crayon, kamu sempat menyemarakkan hatiku dengan pulasan warna pink, violet, magenta hingga hitam pucat. Terimakasih karena kamu pernah mencintaiku dan menerima segala yang melekat padaku. Aku pun tak pernah begitu dalam mencintai seseorang seperti aku mencintaimu dulu. Aku sangat mencintaimu. Dan sama sepertimu, aku mulai menciptakan tujuan hidupku. Terimakasih aku gulirkan untukmu yang telah mengungkit kokang semangatku dan meledakkan bongkahan ketakutan di relungku. Aku mampu menggerakkan kakiku sejauh 500 km dan melompat keluar dari zona amanku dan meninggalkan sosok 'kita'  yang berbayang di sepanjang selasar SMA, di sepanjang koridor fakultas, sepanjang jalan dengan sawah di tiap tiap sisinya, sepanjang teras rumah atau pun ruang tamu, di tiap sudut kota itu. Terimakasih kamu telah mengajarkanku bagaimana cara mencintai. Dan darimu, aku belajar bagaimana cara mengakhiri.


Terimakasih. Walau di hari ulangtahunmu kini aku tak bisa lagi menyisipkan ucapan dan panggilan sayang, aku masih tetap bisa menerbangkan bait bait do'a diakhiri dengan nama terang. Terimakasih, kini ku bisa bangun di pagi hari dengan ukiran senyum dan dada lega luar biasa. Setidaknya, aku berusaha. Tak perlu lagi aku  melupakan serpihan indah yang berbiku biku karena ku telah berdamai dengan apapun tentang 'kita' yang sudah sirna sejak tiga kali ulang tahun kita yang lalu. Tak perlu lagi aku mencoba mengubur dalam dalam apapun tentang kita karena semua kenangan yang tersisa sudah tak meninggalkan luka. Setidaknya, aku mencoba sangat keras. Kamu yang paling tahu aku, bukan?


Aku tak akan memintamu untuk menungguku di teras rumah saat aku marah, menjemputku dan mengarungi jarak 25 kilometer di deraian hujan, menyambutku dengan senyum simpul yang membuat matamu menyipit, memelukku saat aku rindu padamu, atau menggenggam tanganku melewati gelap terang dunia bersama. Karena ku tahu, menunggu dan mengharapkanmu sama mustahilnya dengan berharap bunga bermekaran di musim gugur atau semustahil menemukan air terjun di padang gurun. Mengenal sosokmu di hampir seperlima hidupku membuatku sadar. Ada dua jenis cinta di dunia ini, cinta yang bertemu dan menetap atau cinta yang hanya bertamu lalu pergi.  Cinta menyimpan dua sisi mata yang bertolak belakang; motivate-demotivate, turn you on-turn you off, go alive-go dead, fly-being buried, happy-sad,laughter-tears. Falling in love dan falling out of love bak dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan dari kata bernama ‘cinta’. Aku banyak belajar darimu, bukan?


Terimakasih untuk semua cerita yang pernah terurai dan kini saatnya aku akan mengulurkan kaki begitu panjang dan mengepakkan sayap begitu lebar


Aku akan membuka lenganku lebar lebar dan menarik nafas dalam dalam. Aku akan mengisi rongga dadaku dengan nafas yang baru. Aku akan menatap masa depan dengan mata penuh binar dan hati penuh debar. Aku akan menjulurkan radar neptunusku dan menjemput cerita baru yang akan menetap seutuhnya dengan jangka waktu selamanya. Aku dan kamu memang tidak akan menghasilkan satu. Namun satu hal yang ku selipkan dalam do’aku. Semoga bahagia menyertaimu, selalu.

Artikel ini juga pernah dipublish di Hipwee.com dan BloggerEnergy Website


No comments:

Post a Comment