Wednesday, 18 November 2015

Kata Berawalan R dengan akhiran U yang mengapit I, N, dan D sedemikian rupa. Padamu.

Meykke Santoso

Aku tercenung. Pandanganku terus memaku ke arahnmu. Sosokmu berdiri begitu gagah dengan menyokongku yang lekat lekat menempel di punggungmu. Kala itu matahari sedang akan menampakkan semburatnya dan kabut pekat mengambang membentuk serupa pulau pulau di atas kepala. Kepala kita saling beradu dengan kupluk favorit menutupi rambutmu, dan angin semribit memainkan rambutku yang terjulur julur sepinggang. Kala itu, di atas gunung Merbabu wajah kita memainkan mimik senada, senyum 3 jari dengan bola mata berseri seri.

Banyak menit selanjutnya, mataku masih terpusat di serpihan masa yang kita telah punya, yang kamu tinggalkan begitu saja di salah satu folder pengumpul masa lalu dalam social media sejuta umat ini. Setiap hari, tak pernah absen aku membuka satu demi satu foto yang tak juga dihapus dari albummu, tapi mungkin saja sudah terhapus dari kalbumu. Foto demi foto selalu berhasil menggulung ingatanku dan mengecap lagi rasa rasa indah bersamamu.


Hari ini aku membuka foto kali pertama kita membungkus masa bersama.Kamu berdiri begitu gagah, seperti biasa, dengan aku tepat di sampingmu. Tanganmu melingkari punggungku, namun ujung jarimu tak menyentuh sesenti pun lenganku. Senyum simpul kami mengumpul di masing masing bibir dan awan melingkar lingkar sejajar badan.

“h+1”, captionmu membuat lesung pipiku terlihat begitu ketara. Ya, itu adalah saat saat pertama kami mengulum senyum bersama dalam jepretan kamera. Hatiku tertambat di teduh matamu saat kita melakukan pendakian kedua di gunung Merbabu. Selama 3 hari kita bahu membahu menaklukkan gunung itu. Tak sadar rasanya aku akan meletakkan bahagiaku di bahumu setelahnya. Kamu menawarkan cinta di puncak gunung Merbabu, di ambang subuh saat badan menggigil menahan dingin. Anehnya, kala itu hatiku suam suam kuku. Rasanya seperti mimpi bisa menjadi bagian dalam bahagiamu. Sejak saat itu kita mendaki bersama sama, lalu menyimpan kenangan yang berceceran di sepanjang jalan dengan kamera berlengan panjang milikmu. Begitu banyak senyum dan tawa berbalut cinta di tiap jengkal langkah kita.

“Hope it will be forever! Let’s climb together!”, pandanganku melayang di caption lainnya. Saat itu kau menjulurkan tanganmu dan membantuku naik di sebuah jalan pendakian ekstrim. Mukamu bercahaya terpantulkan mentari yang baru saja berpecah. Di bawahnya, aku hanya bisa berujar, “Aamiin..” Seketika memoriku berloncatan ke tiga tahun silam, masih di puncak Mahameru. Sesaat setelah kita menggapai puncak, tiba tiba D’Cinammons perlahan mengalunkan “Selamanya Cinta” dari HP nya.

“Wanna dance?” ucapmu walau aku tahu benar nafasmu tinggal separo. Anehnya, dengan nafas yang juga masih memburu, aku menjulurkan tanganku meraih jari jarimu, dan kita berdansa dengan mataku menembus retinamu, dan matamu terus memancarkan teduh di pelupukku.

Begitu banyak pengalaman pengalaman tak terlupakan terjerebab di hatiku. Bahkan terus menggerogoti hatiku walau kau sudah tak lagi menawarkan telapak tanganmu untuk berdansa bersama di pucuk.

“Keyla, akhirnya aku diterima di salah satu Universitas di Jepang. Kamu tau khan, Aku harus fokus, Key...Dan aku harus....kita harus....”

Bilahan kata katamu seakan berdesing desing di hatiku, merajam rajam tanpa ampun, menusuk nusuk membabi buta. Gigiku gemeretak, dan mataku terasa begitu panas seketika. Pipiku merona tiada tara, dan jari jariku lekat lekat menggenggam leher payung hingga ujung kukuku memutih. Seperti ada bongkahan semangka yang merangsek keluar dari relung dada. Kepergianmu ke Jepang adalah awal dari kepergianmu dalam hidupku. Aku mencoba mengerti, banyak mimpi kau gantungkan 5cm di depan dahimu, dan banyak jalan yang harus kau terjang, walau salah satunya adalah memupus harapan tertinggi kita berdua.

60 dalam hitungan menit, dan aku masih duduk terpaku di depan sisa sisa perjalanan kita, album foto kita yang masih tersimpan rapi di facebookmu. Melirik ke kanan bawah, namamu bertengger di jajaran paling atas dengan bulatan berwarna hijau di pojok kanan, sejajar dengan namamu, Bagus Aditya. Lalu tiba tiba satu box chatting muncul di layar, dengan namamu sebagai pengirim.

“Key, apa kabar?”
Rinduku semakin berletupan.

“Tidak baik...” ucapku dalam ketikan. Sejurus kemudian, aku sudah menghapusnya. Rasanya aku ingin menghambur di pelukanmu malam ini, memuntahkan rindu yang mengendap, getaran rasa yang masih sepenuhnya sama, tak peduli samudera luas pun membentang di antara kakiku dan kakimu. TAPI HATIKU TIDAK!

“Baik”, jawabku kemudian, dalam isakan.

“Aku rindu...” Lirih aku berucap di depan box berbintik hijau itu, denganmu di ujung box yang sama bermil mil jauhnya.

“Aku rindu...” Seolah tak ada habisnya aku berucap lewat bibirku. Dan kau tak menjawabku. Karena toh sekeras apapun aku berteriak atau sekencang apapun aku menjerit, kamu tak pernah tahu. Yang ada mataku semakin meruah dengan bulir yang melaju lancar menuruni pipi. Aku masih bergeming saat tiba tiba kau mengetikkan sesuatu dan mataku terpaku oleh dua kata yang kau kirimkan dari antah berantah daerah bagian Jepang sana.


“Key, aku rindu...”

10 comments:

  1. woow..
    rangkaian kata-katanya bagus.

    ReplyDelete
  2. Aku tertipu, kukira kisahnya mba Meykke ternyata Keyla. Selalu suka sama tulisan-tulisan Meykke Santoso :) LDR ya, lama disiksa rindu hehehe

    ReplyDelete
  3. Mba meykke selalu membuat saya menjadi iri dengan tulisan2 yang di rangkai begitu bagusnya,
    mungkin dengan banyak membaca tulisan ini bisa membuat tulisan saya menjadi bagus juga ya :D

    ReplyDelete
  4. Kurang ajarnya sebuah rindu adalah hanya kita yang merasakannya, sedangkan yang kita rindukan belum tentu merasakan hal yang sama. Kadangs rindu harus dianggap sebuah penghibur dikala hujan, dan berharap dengan berhentinya hujan, rindu pun hilang, beriringan dengan munculnya matahari.

    ReplyDelete
  5. Nyesek banget tuh kalo tiba-tiba kita harus kepisah jarak sama orang yang kita cintai. Aku juga gitu dulu, harus pisah sama pacar karena kuliah. Kita kuliah ditempat yang berbeda. Hehe (malah curcol).
    Tapi kata-kata kangen bisa sedikit mengobati, namun juga menjengkelkan karena nggak bisa menumpahkan rasa kangen itu dengan ketemu.

    ReplyDelete
  6. Kak meykke..... Aku awalnya berniat banget buat kuliah ke Jepang. Tapi entah kenapa, setelah baca cerita singkat ini, aku jadi enggan. Jepang-Indonesia berjarak jauuuuhhh banget. Dan itu pasti membuat kata rindu semakin menyesakkan ruang hampa di sekitar. Huf...

    Sejauh ini aku selalu menikmati cerpen Kak Meykke, termasuk yang ini. Tapi, sorry to say that. Entah kenapa cerpen yang ini jiwanya kurang nyampe. Sedihnya kurang berasa dan sakitnya kurang kena. Padahal kalo dari segi bahasa dan diksi, aku udah sangat yakin banyak variasi. Bikinnya tenang aja Kak Mey, gak usah buru-buru. Yang penting feelnya nyampe ke pembaca :))

    ReplyDelete