Monday, 30 November 2015

Surat untuk Miss Meykke

Monday, November 30, 2015 7 Comments
"What day is today??" Gue nanya di kelas, tertanggal 25 November. 
Anak anak : "Teacher's daaaaaayyy!!"
Noel : "Wednesdaaaaaaaaaaaaaaaaaayyyyy!"

Dan bagi gue semuanya benar. Hari itu adalah hari Rabu yang bertepatan dengan hari Guru. Oleh karena itu, gue dan guru yang lain sepakat buat gabungin semua kelas yang ada dan bersama sama bikin surat untuk guru masing masing. Secara gue seumur umur belum pernah dikasih surat cinta, gue antusias sekali nungguin murid murid gue yang saat itu berumur sekitar 7-10 tahun. Dan saat semua surat dikumpulin, gue nggak nyangka kalau ternyata ini bisa jadi lebih romantis dari surat cinta. Gue baper.


Letter from Liberta. So sweeeet...Akhirnya gue bisa memerankan peran penting untuk kehidupan orang lain.

Wednesday, 25 November 2015

TRAGEDI SENGGIGI Jilid 2 (LombokBarat, NTB-Tamat)

Wednesday, November 25, 2015 9 Comments
Sampailah gue di Senggigi. Gue melirik jam tangan gue begitu gue dan Uma duduk melepas lelah di tempat duduk depan loket pemberangkatan kapal menuju dan dari Bali. Bule bule dengan ransel menyerupai Rudal Rusia berbondong bondong datang dan pergi.

“Jam 3 Seph...” Perjalanan menghabiskan banyak waktu hari ini. Gue dan Uma hanya bisa puas mengunjungi 2 pantai saja. Dibandingkan pantai lain di Lombok, saat gue masuk ke dalam area pantai, kata pertama yang keluar dari mulut gue adalah,

“Kayak gini aja, Seph?”

Buat gue pribadi, Senggigi ini hampir semacam pantai Parang Tritis di Jogja. Pantai paling terkenal walau tak yang paling indah. Mungkin bisa jadi pantai pertama yang ditemukan dan menjadi booming sampai sekarang. Rencananya gue dan Uma akan menunggu matahari tenggelam alias Sunset di sini. Jelas saja gue bahagia. Hari itu, gue membuka hari dengan jingga merona mentari pagi di Labuhan Haji dan ditutup dengan kilauan emas di Pantai Senggigi. It was just my super duper perfect day ever. Sebelum kejadian itu terjadi.

Ada dua hal yang ingin gue lakukan di pantai itu. Pertama, naik canoe mengitari pinggiran pantai dan yang kedua snorkeling menikmati panorama bawah laut yang jelas spektakuler. Ini akan menjadi snorkeling perdana dalam hidup gue!! Jelas aja gue excited!

1. ROW ROW ROW THE CANOE!

Thursday, 19 November 2015

TRAGEDI SENGGIGI Jilid 1 (LombokBarat, NTB)

Thursday, November 19, 2015 9 Comments
“Ibarat hidup ini adalah sebuah buku, bagi mereka yang tak pernah melakukan perjalanan, sejatinya mereka hanyalah tinggal dalam lembaran buku yang sama, sepanjang masa.” Berawal dari keinginan untuk bisa membaca halaman yang lain, gue melangkahkan kaki ke pulau seberang, Lombok. Berbekal basmallah dan sahabat gue dunia akherat, Uma akhirnya gue bisa menginjakkan kaki di tanah dengan berjuta bibir nan menawan, bibir pantai.

Tapi, dari sekian pengalaman gue tinggal di sana selama 4 hari, ada satu hal yang nggak bakal gue lupain seumur hidup gue. Gue menyebutnya Senggigi berujung Tragedi.

Hari itu adalah hari keempat gue dia sana sekaligus hari terakhir karena esok hari gue harus kembali ke Jakarta dan kembali menjemput rejeki. Dua hari kemarin gue udah puas mengunjungi pantai pantai di Lombok Tengah dan Lombok Timur, seperti pantai Selong Belanak, Tanjung Ann, Kuta, Pantai Pink dan lainnya. Dan hari itu gue mengunjungi tiga pantai!

Wednesday, 18 November 2015

Kata Berawalan R dengan akhiran U yang mengapit I, N, dan D sedemikian rupa. Padamu.

Wednesday, November 18, 2015 10 Comments
Meykke Santoso

Aku tercenung. Pandanganku terus memaku ke arahnmu. Sosokmu berdiri begitu gagah dengan menyokongku yang lekat lekat menempel di punggungmu. Kala itu matahari sedang akan menampakkan semburatnya dan kabut pekat mengambang membentuk serupa pulau pulau di atas kepala. Kepala kita saling beradu dengan kupluk favorit menutupi rambutmu, dan angin semribit memainkan rambutku yang terjulur julur sepinggang. Kala itu, di atas gunung Merbabu wajah kita memainkan mimik senada, senyum 3 jari dengan bola mata berseri seri.

Banyak menit selanjutnya, mataku masih terpusat di serpihan masa yang kita telah punya, yang kamu tinggalkan begitu saja di salah satu folder pengumpul masa lalu dalam social media sejuta umat ini. Setiap hari, tak pernah absen aku membuka satu demi satu foto yang tak juga dihapus dari albummu, tapi mungkin saja sudah terhapus dari kalbumu. Foto demi foto selalu berhasil menggulung ingatanku dan mengecap lagi rasa rasa indah bersamamu.

Wednesday, 11 November 2015

PARA SAHABAT BERHATI PERI

Wednesday, November 11, 2015 10 Comments



Ingatkah kalian masa penuh balutan putih biru?

Tak peduli berapa kali berkelahi, tawa kembali tergelak keesokan hari

Ingatkah kalian masa berbalut putih abu abu?

Kenangan manis terus tertoreh bertalu talu

Tawa terdengar merdu dan tangis tak pernah terlalu pilu

Mengingat kalian sungguh menciptakan ceruk lesung yang melekat erat di pipi

Mengingat kalian sungguh menanamkan benih kedamaian yang melesat menembus sanubari

Hati yang redup disulap penuh lilin berjajaran

Hati yang beku disulap menjadi suam suam kuku

Hati yang akan mati disulap diguyur hujan rintik rintik esok hari

Terulur segala doa yang mengalir tak kunjung putus,

Terulur segala harapan yang terus menuai tunas,

Terulur segala kerinduan tentang kebersamaan yang begitu berharga

Tak peduli sejauh apapun jarak melintang di antara kaki kaki kita, hati kita bertautan

Tak peduli lautan membentang di antara raga kita, do’a akan terus bersahutan

Maka gapailah bintang penuh kelipan, jejakkan langkah hingga ujung dunia


Karena bagiku, kalian sahabat sejati yang tak bisa terganti.

Wednesday, 4 November 2015

"Aku juga punya rasa,punya hati"

Wednesday, November 04, 2015 14 Comments

“Dorrr!!!”

“Eh setan setan setan!” Gue terperanjat seketika. Hampir saja gue lompat dari pohon saking kagetnya. Kunti kalau ngagetin emang nggak liat liat keadaan. Dia mah suka gitu orangnya.

“Iye, gue emang setan. Kenapa?” Kunti lalu duduk di sebelah gue sembari menatap ke arah yang sama. Seorang gadis sedang ngobrol mesra dengan seorang cowok yang kalau diliat dari tahi lalatnya, mereka umurnya hampir sama.

“Owh, lo mau beraksi lagi sehabis ini?”

“Hah?? Beraksi apaan?” Perasaan gue nggak pernah atraksi apa apa.

“Lo pikir gue nggak tahu kalau selama ini lo yang suka matahin dahan tiba tiba atau nimpuk cowok cowok yang ke rumah Lintang pake buah durian?” Gue tersedak ludah sendiri saking kagetnya.

“Gimana lo bisa tahu?”

“Hiiiiiiihihihihihi...Hiiiiiiiiihihihihihi” Kunti malah ketawa.

“Ihhh!! Diem ah! Nakutin tauk!!” Makanya orang orang takut sama Kuntilanak. Gue aja yang sama sama setan suka merinding tiap Kunti ketawa. Suaranya kayak tikus kecepit pintu darurat pesawat terbang.

“Malam ini lo mau ngapain lagi?”

“Gue mau pamitan.”