Friday, 2 October 2015

Tahun Yang Baru Untuk Hati Yang Beku


“Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday...Happy birthday to Miss Meila...” Riuh rendah suara teman teman pengajar menyesaki ruang perpustakaan itu. Mereka mengepungku dengan sebuah roti bertabur pijar cahaya dari setiap lilin lilinnya dengan sepasang lilin berlambang angka. Angka dua terlihat begitu anggun berdampingan dengan tiga. Tak lupa pula tulisan di atas coklat pipih bertuliskan,

“Happy Birthday Miss Mei!”

Sekonyong konyongnya mataku berbinar dengan banyak seri melingkupi rona muka. Dalam hitungan ketiga asap mengepul di setiap lilinnya dan aku memanjatkan do’a sejenak. Ahh, banyak sekali do’a yang aku ingin panjatkan di usiaku yang sudah terbilang dewasa ini. Mereka kemudian secara bergiliran menjabat tanganku dengan banyak bingkisan do’a.

Esok hari di hari itu, HP ku terus berdering bahkan sebelum aku mampu sepenuhnya membuka mata. Suara paling familiar di ujung sana menyapa pergantian angka satuan di umurku dengan guyuran do’a yang juga selalu beliau dengungkan di tiap tahunnya. Hanya saja, tahun ini adalah tahun yang begitu berbeda. Bila tahun tahun sebelumnya beliau bisa langsung masuk kamar dan membangunkanku, tahun ini kami dipisahkan jarak sejauh 758 km. Bila tahun tahun sebelumnya Ibuku mengguyurku dengan do’a untuk selalu sehat dan cantik, panjang umur dan meraih segala cita citanya, Mei ini beliau menambahkan satu do’a untukku.

“Semoga segera mendapatkan jodoh yang terbaik, anakku...” Tak ketinggalan Ayah dan kedua adikku ikut menyambung percakapan di ujung sana dengan terus memberikanku selamat dan juga do’a.

Begitu membuka BBM, Whatssapp dan Facebook aku merasa benar benar kebanjiran do’a. Semua teman memberondongku dengan ucapan selamat, doa, dan segala harapan harapan baik untuk hidupku. Aku membacanya sembari mengulum senyum sendirian di ruang mungil yang sudah aku tinggali hampir setahun ini. Segala syukur bertalu talu menepuk nepuk hati. Semua pesan dari teman temanku langsung katam aku baca pagi itu juga.

“Miss, let’s cut the cake...” Bisikan seorang teman pengajar membuyarkan lamunanku. Kami segera memotong kue dan memakannya bersama sama. Mei tahun ini adalah Mei paling berbeda dari sebelumnya. Mei dimana aku berani menjejakkan kakiku lebih jauh demi sebuah mimpi, Mei dimana aku melaluinya dengan orang baru dan segala pengalaman baru di tanah baru, Sumatra.

HPku mengerling sekejab saat aku dapati nomor yang tak asing muncul di layar depan HPku. Nomor tanpa nama.  

“Hallo?”

“Mei?”

Aku terdiam. Lidahku tiba tiba kelu, bahkan tanganku mendadak kaku.

"Selamat Ulang Tahun, Meila." 

"Te..terimakasih." 

"TUT" 

Bila tak kuakhiri sekarang juga, aku takut aku tak bisa menahan diri untuk menanyakan kabarnya, keadaannya, hatinya......terhadapku. 

Suara yang juga begitu familiar terus terdengung bahkan setelah telepon ditutup. Ahh, sebaru apapun Mei tahun ini, apa aku bisa melaluinya dengan hati yang baru?


6 comments:

  1. Aww, endingnya! Happy birthday, ya :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...