Wednesday, 30 September 2015

Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.


Ini tentang sebuah ruangan. Namun, ruangan ini bukan sembarang ruangan. Setiap kali aku masuk ke dalamnya, maka sekejab aku akan menjelajahi lorong waktu yang kami ciptakan sendiri. Setiap kali aku memasukinya, saat itu juga aku merasuki kembali potongan potongan masa yang setiap saat kami susun demi mozaik penuh yang akan kami selami lagi selagi masih ada waktu walau mata tak lagi sejeli masa masa lalu.

“Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.”

Masih berdengung dengung setiap patah katanya yang sekonyong konyongnya meletupkan semangatku yang setiap kali berada di dekatnya sudah bergejolak sedemikian rupa. Aku menyungging senyum. Tiga detik berikutnya air mataku meruah dengan bibir bergetar. Aku merangsek ke dalam dadanya dengan lenganku yang saling berkaitan di balik punggungnya. Tiga detik berikutnya dia menyambut tubuhku dan kami larut dalam derai tawa dan isakan penuh bahagia.

---

Sore ini aku kembali mencari kunci ruangan itu. Dengan agak menyeret langkahku yang sudah semakin renta aku memasuki sebuah bilik dengan taburan kenangan manis di seisi dinding, dari pojok satu ke pojok berikutnya. Aku mengulum senyum. Kenanganku bergulung gulung.

“Nurma, hari ini kita belajar berhitung. Bu Tutik akan terus mencubitmu kalau perkalian saja kamu tidak bisa. Kita harus belajar bersama.”  Ucapnya sembari memasukkan buku bukunya ke dalam tas. Aku mengangguk pasrah. Matematika memang pelajaran yang susah sekali. Setiap rumus seolah datang dan pergi, mampir sebentar dan lenyap lagi, terlupakan. Siang itu kami belajar bersama di rumahku.

“Kalian rajin sekali. Nanti nak Budi ikut kita makan malam bersama sekalian pulang kita antar ya...” Ibu tiba tiba datang sembari membawa singkong keju yang masing mengepul. Ah, ini adalah salah satu masakan kesukaan Budi. Begitu Ibu lenyap di balik pintu, Budi yang entak doyan entah lapar langsung mencomot singkong terbesar. Dia akan makan singkong keju itu dengan menggoyang goyangkan kepalanya persis seperti anak kecil yang asyik makan permen. Bahkan aku sudah sangat kenyang hanya dengan memandang Budi asyik mengunyah singkong keju.

“Udah belajar, kita ke warung langganan Ibu yuk...” Diam diam bahagia menyusup ke relung hati tatkala aku bisa duduk tepat di sampingnya saat di mobil juga saat makan. Kami kadang tertawa terbahak bahak, tak jarang aku mendaratkan pukulan ringan ke bahunya karena dia terlampau menjengkelkan.

“Sini kalian berdua Ibu foto dulu. Siapa tahu saat kalian sudah gede nanti kalian bisa lihat wajah masa SMP kalian.” Aku langsung melesatkan senyum termanis sejagad raya. Potret hitam putih segera keluar dari mulut kamera Ibu. Wajah kami tampak nyata begitu Ibu mengibas ibaskan lembaran foto itu beberapa kali. Adalah Budi, sahabat ku sedari SD, tutor pribadiku yang rela mengajariku Matematika, teman sebangku, pelawak tanpa bayaranku, motivatorku setiap Matematika membuat otakku cenat cenut, juga seseorang yang membuatku ingin menjadi anak SMP selamanya.

Kembali aku mengulum senyum yang sama walau dengan banyak kerutan yang mulai menyemburat di sepanjang lekuk wajahku. Kepingan masa berikutnya tergantung rapi dengan frame kayu warna coklat dengan lekukan serupa batik di sekujur badannya. Kini pikiranku melesat jauh, melampaui banyak tahun dan berhenti di sepasang pelajar dengan balutan putih dengan bawahan abu abu. Coretan coretan bolpen tampak tergambar begitu random di sekujur kemejanya. Seorang murid perempuan tampak mengapit lengan murid laki laki dengan manik manik mata yang berbinar. Ah, lihat sang laki laki. Dia berdiri begitu gagah, melampaui si perempuan yang hanya sepundaknya saja. Sepasang lesung pipi menyembul di balik pipinya yang tampak mekar.

“Bi, kita telah tumbuh besar bersama....” Seolah olah Budi berdiri di sampingku serupa foto itu, aku mulai bercakap cakap dengannya. Mataku yang sudah mulai rabun mulai makin berbayang tertutup buliran air yang pelan tapi pasti mulai mengumpul di sudut mata. Tetapi bibirku mengapit sebuah senyum. 

Bagiku, Budi adalah laki laki pertama, terakhir dan satu satunya yang terus ada di sisiku dan mengisi penuh hari hariku bahkan sejak aku mulai mengerti kalau tujuh dikalikan tujuh akan berakhir pada angka empat puluh sembilan. Mataku kembali beralih ke sisi tembok berikutnya. Banyak sekali foto foto kecil yang menggelayut mesra di sebuah kepangan kayu dengan jepit berwarna senada.

“Lihat Nurma, aku punya kamera baru. Nanti, begitu gulungan foto negatif ini dicetak, maka apapun yang kita lakukan bersama akan terabadikan!” Aku benar benar tidak mengerti jalan pikirannya. Tidak seperti laki laki lainnya, dia gemar sekali difoto. Bahkan, dia selalu mengajak kamera barunya itu kemana pun kami pergi. Begitu ada kesempatan, dia akan merajuk untuk berfoto bersama. Anehnya, dia tak pernah mau foto sendiri.

“Apa serunya Nurma kalau Cuma foto sendiri saja? Aku ingin suatu saat nanti kita bisa bikin album foto raksasa. Ibu kamu masih menyimpan foto foto kita sejak SMP khan?”
“Memangnya untuk apa album foto raksasa?” Aku memborbardirnya dengan pertanyaan.
“Nanti kamu juga akan tahu, Nurma.”

Aku tak bisa membendung mataku yang semakin meruah begitu melihat bidikan masa selanjutnya.
“Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.”
Sebulan setelah dia mengutarakan mimpinya, kami berdiri berdua di panggung kecil dengan banyak sunduk mentul yang bersarang di rambutku yang aku gelung sedemikian rupa dengan lukisan lengkungan hitam yang mengitari sepanjang dahiku. Melati panjang menjuntai sampai sebatas pinggang dengan balutan kebaya berwarna hitam. Esok hari sebelum itu dia dengan mantap menyambut jabat tangan penghulu.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Nurma Rosalinda binti Sucipto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Sekejab saja sah berkumandang seantero ruangan dengan linangan air mata penuh haru berkubang di pelupuk mata. Kami membangun rumah tangga tanpa banyak drama. Semua mengalir sempurna. Pun dia tak pernah berseloroh cinta. Aku bisa melihat betapa cintanya nyata dari semua tindakan dan perilakunya. Tiga tahun berselang dan mimpi kami di awal pernikahan terbayar tunai.

“Nurma, ini akan menjadi album raksasa kita.” Dengan penuh semangat dia mengecat sebuah ruangan dengan nuansa warna biru langit. Alasannya simpel, karena dia begitu menyukai warna biru. Hari bagai berlari dan tahun menjelang dengan sekejab mata. Di batas senja ini hanya dengan satu kayuhan saja aku bisa mencicipi kembali masa masa indah yang telah lalu. Aku mendesah pelan. Rasanya seperti ada bongkahan besar yang menjangkiti dada. Bongkahan besar yang melesat naik dan ingin menyembul dari balik mata. Namun, seketika bongkahan itu melebur di udara. Aku mengulum senyum seperti saat aku tertidur di lengannya yang panjang, atau saat aku mengaitkan lengan lenganku di dadanya yang bidang, atau saat aku menggenggam tangannya, melalui bersama masa demi masa.

“Aku mencintaimu, Nurma...” Dia menatap lurus ke arah mataku, menelusup ke dalam relung hati dan setelah itu aku yakin penuh tentang satu hal. Kita tak terpisahkan walau setelah itu dia tertidur nyenyak sekali.

--

“Umi??? Umiiiii...”

“Iya, sebentar....”

“Umi lagi apa...Ayo kita berangkat...”

“Iya, sebentar lagi...”

Ah, itu Mela. Anak kelimaku dan juga anak terakhir. Keempat kakak kakaknya sudah melalang buana dengan keluarga masing masing. Beberapa hari lagi Lebaran datang, dan rumah ini akan segera diserbu oleh anak dan cucu cucuku, generasi penerusku bersama laki laki luar biasa bernama Budi yang berubah menjadi Abi begitu anak pertama kami terlahir. Mela duduk di belakang dengan wajah berbinar, persis seperti wajahku empat puluh lima tahun lampau. Duduk di kursi kemudi seorang laki laki gagah yang telah menambatkan hatinya pada anakku.

“Bi, apa kabarmu di sana? Kamu benar tentang album raksasa kita. Setiap hari aku seakan meniti kembali kisah kita. Ingat khan saat kita naik motor hujan hujan begitu selesai bekerja? Sebelum kita pulang, kameramu sempat mengabadikan wajah lusuh kita berdua. Ah, waktu begitu cepat berlalu, Bi..rasanya baru kemarin rokku melambai lambai saat kita pergi bersama ke pantai, kini keriputku sudah merata di sekujur wajah. Kamu pasti akan terkejut begitu melihatnya. Bi, aku punya kabar gembira untukmu. Setelah Lebaran, anak bungsu kita akan segera membangun album raksasa milik mereka berdua. Katanya, mereka juga ingin mengikuti jejak kita, membangun sebuah ruangan dengan banyak jejak berceceran. Rasanya sudah tuntas tugasku, kapan kita bisa bertemu?”

Aku membuka mata dan melihat Abi berdiri di depanku, hanya berjarak tiga puluh centimeter terpisahkan oleh tanah menggunung dengan sepasang nisan berukiran ayat Al-Qur’an.

“Nurma, aku segera menjemputmu...”

Aku mengulum senyum, sama seperti Nurma berpuluh tahun yang lalu saat seorang Budi berujar,


“Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.”

Hanya saja kini aku sebatas memeluknya dalam damai hatiku, indah cintaku, dan mimpi malamku. 

17 comments:

  1. Aduuuhh... ini teh romantis pisan... gaya bahasanya juga saya suka. Jadi pengen suatu saat bikin juga ruangan album raksasa, tinggal nunggu orang yang mau buatin aja...
    tapi kisah ini sad ending :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini teh erni bava beginian jadi baper kan hahahaha

      Gue suka sama alurnya yang bikin gie menebak-nebak gimana selanjutnya ini cerita. Bakal kemana alurnya..

      Mey maaf ya headernya blm jadi hehehe

      Delete
  2. Romantis banget. Bahasanya jadi buat gue mudah untuk mengerti dan memahami makna yang ada dalam cerpen ini.

    ReplyDelete
  3. romantis banget nih, saya rasanya gk bisa buat cerita yang seperti ini.
    pemilihan kata sama alur ceritanya juga mengalir, gk bikin bingung dan pas banget. ah ya, mungkin hanya di awal saja saya yg bingung ini sudut pandang siapa tapi keseluruhannya bagus.

    judulnya aja terasa panjang

    ReplyDelete
  4. Anjayyyy...sempet mikir bentar baca cerpen ini, ternyata endingnya keren.. romantissss abis

    ReplyDelete
  5. Romantis nya kerasa ampe di hati,
    Udah lagi asiknya menikmati keromantisan di ceritanya, eh ending nya bikin speechless :')

    Baca cerita ini sekilas jadi inget ama nobita dan sizuka. Berteman dari SD dan kemudian menikah :)

    ReplyDelete
  6. Ah, ini cerita menginspirasi banget pengen bikin album raksasa sama si doi. Tapi ntar dikira nyontek lagi. Gak ah. Gak nolak... 😃

    ReplyDelete
  7. Ah, ini cerita menginspirasi banget pengen bikin album raksasa sama si doi. Tapi ntar dikira nyontek lagi. Gak ah. Gak nolak... 😃

    ReplyDelete
  8. ceritanya keren dan sedih. Jadi ceritanya si Budi dan Nurma ini sepasang kekasih, dan diakhirnya si Nurma udah meninggal ya? Soalnya si Budi bilang akan menyusulnya. Berarti..

    ReplyDelete
  9. Keren cerpennya, bikin baper wkwk.

    ReplyDelete
  10. Tidak banyak kata cinta yang mereka ucapkan, tapi sudah tergambar jelas kalau mereka saling mencintai dari hal-hal yang dilakukan si Budi. Cerita yang bagus banget. Endingnya seperti yang aku harapkan. Di tengah baca tadi sempet mikir kalau ntar ada salah satu yang ninggalin, ternyata enggak. Ini happy ending yang sedih menurutku. Bagian terakhir bikin sedih sekaligus bahagia. Keren lah pokoknya.

    ReplyDelete