Wednesday, 30 September 2015

Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.

Wednesday, September 30, 2015 17 Comments

Ini tentang sebuah ruangan. Namun, ruangan ini bukan sembarang ruangan. Setiap kali aku masuk ke dalamnya, maka sekejab aku akan menjelajahi lorong waktu yang kami ciptakan sendiri. Setiap kali aku memasukinya, saat itu juga aku merasuki kembali potongan potongan masa yang setiap saat kami susun demi mozaik penuh yang akan kami selami lagi selagi masih ada waktu walau mata tak lagi sejeli masa masa lalu.

“Nurma, tiga tahun lagi kita akan bangun rumah ini dengan satu ruangan album raksasa.”

Masih berdengung dengung setiap patah katanya yang sekonyong konyongnya meletupkan semangatku yang setiap kali berada di dekatnya sudah bergejolak sedemikian rupa. Aku menyungging senyum. Tiga detik berikutnya air mataku meruah dengan bibir bergetar. Aku merangsek ke dalam dadanya dengan lenganku yang saling berkaitan di balik punggungnya. Tiga detik berikutnya dia menyambut tubuhku dan kami larut dalam derai tawa dan isakan penuh bahagia.

Wednesday, 16 September 2015

Dua Tahun Menjadi Guru

Wednesday, September 16, 2015 15 Comments

2 September 2013 itu hari Senin. Kenapa gue bisa tau? Karena di hari itu gue masuk kerja pertama kalinya sebagai seorang guru. Di masa itu juga gue lagi galau galaunya karena gue harus hidup sejauh 500 km dari rumah Ayah Ibu gue. Di bukan itu gue resmi menjadi anak rantau level remah remah roti mari.

Gue harus mengalami 2 adaptasi. Adaptasi di tempat tinggal yang jelas jelas baru dan asing dan adaptasi di tempat kerja dengan waktu kerja yang bagi gue masih asing juga plus teman teman yang juga asing. Semuanya asing!! Ditambah kepiawaian gue dalam tinggal sendiri yang masih seujung kuku kucing. Selama 22 tahun gue hidup, nggak pernah gue meninggalkan rumah lebih dari seminggu. Dan kala itu gue harus dihadapkan pada kenyataan : GUE AKAN HIDUP SENDIRIAN. Nggak ada Ibu yang udah siap sedia nyediain makanan, adek adek gue yang ngajak mainan pasar pasaran atopun Ayah gue yang ngajakin debat tentang kehidupan. Temen gue cuman kipas angin, antena tipi sama teko listrik. Sampe sampe gue kasih nama mereka semua jadi Mibi, Anna dan Kolis. Tiap kali gue sakit kayak gondongan, demam atau belekan gue cuman bisa tidur sama nangis. Toh gue sendirian ini. Gue benar benar butiran debu nan rapuh kala itu. Gue remah remah roti mari mlempem.

Masih ditambah beban pekerjaan gue. Karena gue masih baru, gue belum terbiasa dengan jam kerja selama 8 jam yang cuman stuck di satu gedung. Belum lagi karena gue fresh graduate, pengalaman gue ngajar juga masih belum begitu memadai walo dulu gue juga udah sempat ngajarin anak kuliah dan anak SD buat sambilan saat masih kuliah. Dan yang paling mencengangkan, menakutkan dan mengagetkan saat itu adalah : GUE HARUS NGAJAR ANAK KECIL!!

Thursday, 10 September 2015

Menikah

Thursday, September 10, 2015 22 Comments
 

“Aku sudah mencoba ikhlas...Aku ikhlas...Tapi kalau kayak gini...” Terpotong. Dia menarik paksa nafasnya yang nyangkut di kerongkongan. Matanya berkubang. Sedetik kemudian wajahnya berlinang. Andaikan dia adalah awan sudah pastilah sekarang angin topan bertiup dan petir menyambar nyambar.

Sore itu salah satu teman gue curhat. Kita hanya terpaut setahun. Beberapa tahun yang lalu dia telah menikah. Pernikahannya semula berjalan tanpa aral hingga akhirnya suaminya mulai bertingkah kasar. Dia memukul! Dia menendang! Bahkan, dia melempar tubuh teman gue.

“Iya, suamiku kasar. Pernah saat kita berantem, aku diangkat dan dilempar. Dia juga melempar barang barang di rumah.” Bulu kuduk gue meremang walau pemandangan serupa itu sebenarnya tak asing lagi.