Saturday, 22 August 2015

Apa yang gue dapat dari "Surga Yang Tak Dirindukan"


Siapa yang nggak tau film Indonesia yang pas Lebaran in dan ngehits abis? Yang aktornya idola gue dari jaman Ayat Ayat Cinta yang gue tonton pas SMA dulu di Gedung Serba Guna SMA di acara Noreng bayar goceng?? Yang ceweknya juga lagi hangat hangatnya diperbincangin perihal keputusannya mengenakan jilbab setelah resmi putus sama pacarnya yang punya perbedaan cara memanggil Tuhan?? Dan lagi lagi film ini mengangkat isu yang sama, yaitu poligami dengan alasan berpoligami yang juga dibilang sama.


Akhir Juli kemarin gue nonton film ini di sinema Plasa Cibubur sepulang kerja bersama kedua teman kerja gue, Miss Dian dan Miss Hesty.  Biar kita dapat seat paling strategis yaitu di paling belakang dan sisi tengah, gue dan Miss Hesty beli tiket dan booking tempat siangnya saat jam istirahat. Malamnya, kita tinggal berlenggang menuju Plasa Cibubur tanpa takut kehabisan tiket.

Sebagai anak kekinian, sebelum gue nonton gue update status dulu di BBM yang langsung dichat sama temen kuliah gue, Mela.

“Mey, siap siap tissue..Sedih abis!”

“Ah, masa sih? Aku khan seterong...”

“Pret.”

Begitulah kira kira bunyi percakapan gue dan Mela yang singkat, padat dan tidak jelas sama sekali. Mengapa harus pret?

Setelah beli popcorn dan air mineral, kita bertiga siap banget buat nonton nih film. Maksut gue nonton film religi ini juga biar iman gue yang masih sebatas remah remah roti Mari ini bisa lebih meningkat at least kayak remah remah roti Sari Roti. Gue udah siap banget nontonnya.

Film dimulai, gue konsentrasi. Di awal film diceritakan tentang pertemuan seorang gadis bernama Arini (Claudia Cyntia Bella) dan Pras (Fedi Nuril). Arini ini seorang pendongen untuk anak anak dan Fedi Nuril bekerja di tehnik bangunan yang kerjaannya kayak bikin proyek bangun jembatan dll.
Saat mereka bertemu, tiba tiba Arini nyeletuk,

“Mas, Mas mau jadi imamnya kan?”

“Hah?? Secepat itu?”

“Loh, bukannya sholat memang harus disegerakan Mas?”

“Owh iya..”


Ternyata Pras GR. Dari situ mereka saling bertukar nomor HP dan akhirnya menikah serta dikaruniai seorang anak perempuan. Pernikahan mereka ini adalah pernikahan ideal yang diidamkan oleh semua orang. Arini yang gemar mendongeng pun seolah membangun kerajaan dongeng untuk bangunan cintanya bersama Pras sebelum akhirnya negara api menyerang.

Gue sedang akan BBM Mela lagi.

“Yaelah Mel, kamu begini aja masa nangis Meel...cemen...”

Saat tiba tiba ada adegan setelah Pras nolongin cewek depresi yang mau bunuh diri dengan mencemplungkan diri dan mobilnya ke jurang. Sekarang, di atap rumah sakit dia mau lompat!! Intinya dia bilang,

“I don’t care!! Udah nggak ada lagi yang sayang sama aku! Semua laki laki samaa!! Aku mau bunuh diri aja! Aku nggak sanggup hidup tanpa cinta!”

Nggak sih. Ya nggak gitu juga. Cuman masalahnya sama, yaitu cinta. Dia ditinggalkan oleh laki laki yang menghamilinya di upacara pernikahannya. Kan sakit....

Tapi, Pras mencoba membantu. Tapi, mau Pras bilang apapuuun, Meirose tetap bersikeras untuk lompat dari atap!! Eh, dia lompat beneran! Tapi

HAPP!!

Tangan Pras menyambar tangan Meirose dan sekarang dia gelantungan di bawah. Karena tak ada cara lain untuk mencegah Meirose, Pras terus bilang :

“Saya akan menikahimu sekarang! Demi Alloh, saya akan menikahimu sekarang!!”

“MATIH...” Backsound di sinemanya langsung mellowe mendayu dayu kental dengan nuansa reliji. Hidung gue jadi bumpet. Mata gue jadi panas. Dada gue jadi sesak. Dan bibir gue jadi geter geter. Dari sinilah awal mula gue tahu awal mula kata ‘pret’ di BBM Mela. Mela knows me so well. Padahal ini masih awal film. Tapi, satu pertanyaan berputar di otak gue.

“Apakah ini bisa terjadi di dunia nyata? Apakah Meirose nggak ada kemungkinan nolak?”

Lah iya ini cowok seganteng Fedi Nuril yang bilang mau nikahin sekarang. Kalau cowoknya seganteng Narji kan jadi beda cerita...

“Saya akan menikahimu sekarang! Demi Alloh, saya akan menikahimu sekarang!!”

“APPPAAAA??!! INI TIDAK BOLEH TERJADI!! LEPASKAN AKU SEKARANG!! LEPASKAAAAAANNN!!” Meirose makin depresi karena akan dinikahi Narji. Sungguh keji dunia ini.

Dulu pas gue liat Ayat Ayat Cinta, gue baru nangis saat di akhir film scene Maria minta wudhu sebelum meninggal. Itu sedih abis! Gue nangis sesegukan. Kerah seragam gue sampe kuning kuning.
Dan sejak saat itu masalah datang bertubi tubi. Apalagi pas Pras datang ke Jogja (kalo nggak salah) nyusulin Arini ke rumah orang tuanya karena mereka sedang berlibur, pas sampe kesana malah Papanya Arini meninggal!! Di hari itu juga Arini baru tahu kalo selama ini papanya beristri dua karena saat pemakaman ada dua ibu anak yang juga datang melayat sambil nangis bombay.

“Mas, kamu nggak akan duain aku khan, Mas?? Kamu nggak akan poligami khan??” Nah, ya kan gue nangis lagi... Gue sebenarnya mau bilang sama Arini..

“Arini, Mas Pras abis nikah...lagi. Hiks”

Scene yang bikin gue nangis lagi adalah saat akhirnya Arini tahu sendiri kalo Mas Pras punya istri...lagi!! Kalo mau tahu gimana caranya, kalian liat sendiri yak! Masa gue spoil abis abisan. Pas scene dia liat Pras cium kening anak Meirose di depan rumah Meirose tuh scene yang bener bener bikin nyesek abis!! Menurut gue dari keseluruhan film, adegan ngegepin suami beristri dua itu adalah adegan paling sedih dan nyesek.

Dan cerita pun terus mengalir, scene demi scene. Cara menyajikan scene didukung backsound dengan sentuha religi yang mendayu dayu itu bener bener bikin dada gue nyesek yang kemudian menjalar cepat ke kedua kelenjar penglihatan.

Walau pun ada juga scene scene yang terasa agak janggal menurut gue selain adegan ‘saya nikahi sekarang’, yaitu saat Arini dan teman teman Pras yang menjadi saksi pernikahan Pras dan Meirose bercakap cakap. Teman temannya bilang kalau jika Arini ikhlas, dia akan masuk surga. Lalu, Arini berkata.

“Tapi, maaf. Itu bukan surga yang saya rindukan?”

Nah, pertanyaannya apakah yang dimaksut surga yang tak dirindukan Arini itu adalah surga Alloh yang didalamnya mengalirlah sungai sungai itu? Bukankah setiap manusia seharusnya merindukan surga milik Alloh itu? Gue gagal faham.

Walau pun gue nggak baca novelnya, tetapi gue tahu kalau novel dan filmnya agak jauh berbeda. Bahkan, endingnya pun juga berbeda. Kata temen gue novel gagasan Asma Nadia ini berakhir sendu alias sad ending, sedangkan yang gue liat di film, endingnya tergolong happy ending. Saat gue liat endingnya di sinema, gue jadi inget scene Kuch Kuch Hotahai di stasiun antara Kajol, Shahrukhkhan dan Rani Mukherji. Cuman yang ini nggak pake acara ngelempar ngelempar syal kain sari segala.

Pesan moral yang bisa gue petik dari film ini adalah....uhm....

---45 menit kemudian...---

Uhm....

Tidak semua alasan poligami itu sekedar nafsu belaka. Tapi bukan berarti film ini mengajarkan orang orang untuk berpoligami ya...

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُوا Artinya: Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat—kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja—atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).



Kalau nggak sanggup berlaku adil, maka nikahilah satu saja. Karena manusia bukan nabi. Karena manusia tempatnya salah dan lupa.

Tapi gue juga nggak bisa menerawang apakah Pras akhirnya mencintai Meirose atau nggak. Nggak ada scene juga saat mereka harus memenuhi kewajiban suami istri jadi gue nggak bisa tahu apa yang ada di pikiran Pras andaikata ada scene seperti itu. Atau mungkin gue aja yang terlalu mikirin dan dianggap serius.

Tapi overall, film ini sangat tearjacker alias bikin nangis. Pas gue keluar sinema aja beuhh....tuh kelopak mata mbak mbak kenapa jadi segede biji pete semua...Apalagi pas gue ke toliet dan ngelirik ke cermin di depan gue.

“Laaaah, kenapa noh mata kelopaknya jadi segede jengkol rebus?”

Seinget gue, film yang bikin gue nangis itu adalah Ayat Ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Habibi Ainun, dan Fast Furious 7. Tapi,  film inilah yang bikin gue nangis dari awal sampe akhir. Mungkin karena umur gue juga umur umur dimana sudah sangat dekat dengan dunia pernikahan. Jadi lebih bisa ngerasain gimana jadi seorang tokoh di dalam suatu cerita yang latar belakangnya familiar.

Overall film ini bagus dari segi penjiwaan dan backsound yang menyayat nyayat hati. Penasaran kan??

Tinggal cari tau di sinema mana yang masih muterin film ini ya guys! Yang cengeng jangan lupa bawa tissue yaaa...

13 comments:

  1. padahal gue pengen nonton ini sama cewek gue mey tapi dia nggak mau soalnya ada poligaminya takut gue ikutan katanya hahaha.. padaahal nikah ajah eblum lagian kayaknya poligami asoy yah hahaha..

    gue kira lo tanhan sama film yg cengeng2 ternyata ngalir juga.. gue saranin sih liat juga persuit of happynes mey sedih banget

    ReplyDelete
  2. umur yg siap dinikahin. ah gue kok fokusnya di situ yak :v

    ReplyDelete
  3. Reviewnya gaul lah... walopun udah hampir spoiler banget haha
    btw, gue penasaran sama film ini jadinya... sayangnya di Pemalang filmnya belum tayang di bioskop.. lah jangankan tayang, bioskop aja kagak ada :(

    Gue ngakak banget yang bagian Narji..

    “Saya akan menikahimu sekarang! Demi Alloh, saya akan menikahimu sekarang!!”

    “APPPAAAA??!! INI TIDAK BOLEH TERJADI!! LEPASKAN AKU SEKARANG!! LEPASKAAAAAANNN!!” Meirose makin depresi karena akan dinikahi Narji. Sungguh keji dunia ini.

    HAHAHAHA...Iya ya, kalo yang nikahin Narji mah mending lanjutin bunuh diri :D

    Masalah percakapakan surga yang tak dirindukan mungkin gara-gara cara meraih surganya mesti menerima suaminya poligami kali ya... tapi ya entahlah, gue aja belom nonton filmnya...

    ReplyDelete
  4. hahaha sumpeh gue benerin bayangin kalo si pemeran cowok tiba2 ganti narji trus meirose mendingan bunuh diri, bakal gue tonton hari pertama pemutaran, jam paling pertama pokoknya!!
    tapi gue ga gitu suka film2 poligami, gue pengennya nonton yg poliandri aja #eaaa

    ReplyDelete
  5. si meirose pemerannya raline bukan ya?
    jadi kisahnya gitu ....ttg poligami, dari ceritanya si menarik...

    eniwei, kocak dah yang bagian pengen lompat mau dinikahi narji :v

    ReplyDelete
  6. hmm.. apakah menolong seseorang harus dengan menikahi??
    mungkin maksud Bella, eh, Arini dengan surga yang tak dirindukan adalah cara dia mendapat surga dengan bersedia dipoligami. Arini ingin dia mendapat surga dengan cara lain

    ReplyDelete
  7. belum nonton, gk ada yang bisa diajakin nonton
    kalau dulu sih mungkin ada tapi sekarang gk

    saya kok malah ketawa ya pas si cowoknya GR
    ckckck
    dasar cowok, gitu aja kok gr..

    coba aja ada cewek yang mau bilang gitu ke gue... pasti gr juga
    ckck

    ReplyDelete
  8. Kak Mey kocak ih bikin reviewnya.
    Ngakak di bagian yg Pras GR dan yang pas scene Meirose mau bunuh diri di atap tapi yang nolongin bukan Pras (a.k.a Fedi Nuril) tapi Narji. Asli itu bikin ngakak bayanginnya.. :v

    Aku juga udah nonton nih film, tapi sepertinya aku lebih setrong deh karena gak dari awal sampe akhir aku nangis liat scene2nya. Aku cuma nangis di scene pas Nadia (anaknya Arini sama Pras) selesai ngedongeng di sekolahnya sama yang pas Pras meluk Nadia pas Nadia pulang sekolah..
    hehee...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...