Saturday, 30 May 2015

CERITA PARA ABDI BERKUDA BAMBU


Meykke Santoso
Tabuhan bertalu talu tanpa kendali
Lari mobat mabit, lalu menjatuhkan diri
Menggelinjang di tanah dengan sorot mata liar
Berlari lagi, menyeruduk bak kerbau gila
Serupa penyakit menular, sekejab bertabrakan badan
Lihat! Mereka kembali menggelinjang dengan rona merah penuh amarah
Gendang kembali memekik memecah belah
Banyak pasang mata menjadi saksi
Banyak pasang jiwa berbagi posisi
Kata orang, mereka sedang mengidap setan!

Friday, 22 May 2015

Ini Soal Temen KOST 12 ( Boreng dan Danreng di Garut!!)


Hidup selama hampir seperempat abad, sedikit banyak gue semakin mengerti. Hidup ini berkutat pada perjuangan. Mau sukses, harus berjuang.Mau lulus cepat, harus berjuang. Mau dapat nilai bagus di sekolah atau kuliah, harus berjuang. Bahkan, tiap kali gue mau makan juga harus berjuang ; meracik bahan, menuang minyak, menyalakan kompor dan memasak bahan bahan mentah menjadi sesuatu yang layak dimakan. Begitu pula dengan perjalanan kali ini, penuh perjuangan!

Nggak pernah terpikirkan di benak gue kalau gue akan duduk di bis ekonomi selama 8 jam, menghadang kemacetan, cuaca yang membakar dan amang amang mezon dan asinan kedondong yang datang dan pergi silih berganti. Namun, akhirnya gue beserta Marimar, Barbara dan Casandra sampai di Cipanas yang sesungguhnya, Garut. 

Ini adalah kali pertama gue menginjakkan kaki di Garut. Berbeda dengan Jakarta yang penuh dengan balok bertumpukan menyundul langit, pergi ke Garut seperti kembali ke Ambarawa. Udaranya tak begitu panas dan masih dekat dengan alam. Begitu turun dari bis, kita segera naik angkot lagi menuju puncak, penginapan! Cipanas Garut ini hampir sama dengan Bandungan di Ambarawa. Jalan menanjak dengan berbagai villa, dari villa 35ribu semalam berisikan kamar sepetak sampai villa ratusan bahkan jutaan per malam dengan berbagai fasilitas yang memanjakan ada di tiap tiap sisinya. Ah, rindu akan kampung halaman mulai menyelinap masuk. Udara yang membelai sejuk, bau tanah saat basah, pegunungan di batas pandang yang menyundul nyundul dan aroma kedamaian serta ketenangan yang melingkupi kota. Ah...andai....

Sebelum gue galau lebih jauh, gue dan ketiga teman gue akhirnya sampai di penginapan Tirta Alam 1 sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Esmeralda. Kita kemudian check in dan berhamburan masuk. Ada satu ruangan besar dengan dua bed besar beserta satu set sofa yang berbatas dinding dengan jalinan kayu setinggi gue. Begitu gue membuka kamar mandi, satu bak besar berukuran dua sampai tiga kali bathup biasa  menyambut gue. Kita bisa berendam air panas!!

Seusai makan sore yang dirapel dengan makan pagi dan siang karena hari itu gue belum makan, akhirnya gue bisa sedikit merilekskan tubuh gue dengan berendam air panas dengan air yang terus mengalir. Segarrrr!!


Yeayyy!! Boreng!! Bobo bareng!!

Thursday, 14 May 2015

Ini Soal Temen KOST 11 (Esmeralda Sudah Dewasa, Dia Menikah - Salah Jalan)



“Cipanas Cipanas Cipanas....” Suara kondektur menggaung di sepanjang koridor bis. Gue yang duduk di samping Casandra menoleh ke kursi belakang dimana Barbara dan Marimar duduk berdampingan.

“Bar, ini kali Bar?”

“Iya kali ya, khan Esmeralda bilang kita turun di Cipanas, Garut?”

“Iyah...” Jawab gue sambil menyeka keringat gue yang netes netes sebiji jagung. Ini bis Ekonomi. Dan ini wilayah Jakarta. Gue sedang sauna lanjut luluran debu. Dan butiran butiran debu ini sudah bertahan duduk selama 4 jam!! Sekarang jam sudah menunjukkan 10.30. Gue pingin buru buru turun dan makan. Perut gue dari tadi udah ikut dangdutan bareng TV 21 inchi yang tergantung di kotakan besi di atas kepala pak sopir. Ada Goyang Dumang, Bang Jono sampai Janda Bodong yang pantatnya kemana mana.

“Tetehnya turun mana emang?” Seorang wanita Sunda nan cantik mempesona angkat bicara.

“Cipanas, Garut. Ini bukan ya?? Pasti ini khan??”

“Owh, bukaaaan...Ini Cipanas Puncak...Kalau Garut masih lama banget...Masih nglewatin Cianjur, Bandung, baru Garut.” Gue mulai mencium gelagat kurang beres.

“Masih berapa lama lagi kalau begitu?” Gue tak sabar.

“Ya, mungkin sampai sana jam jam 3 sore.”

“APPPAAAAAA??????????????!!!!!!!!!!!!!!!!” Gue gumooooh!!! Gue kehilangan arah. Gue BBM Esmeralda yang pasti lagi sibuk ngurusin pesta pernikahannya. Gue bilang kalau gue sampai Puncak. Dan Esmeralda tak kalah terkejutnya.

“APPPAAAAAAAAAAA????!!!!! Kalian kok malah lewat Puncak, Cianjur segala?? Kalian nggak lewat Tol Cipularang?”

Jadi, ibarat segitiga sama sisi dengan ujung A, B, dan C. Berangkat dari titik A menuju titik C, kita pake acara muter muter nglewatin ttik B dulu. Singkat cerita, kita naik bis yang salah.

Gue lemas, Casandra lemas, amang penjual asinan kedondong juga lemas.

“Casandra, kalau gini caranya kita nangis aja yuk?” Gue menatap jalanan dengan tatapan nanar. Pilih bis aja salah, apalagi nanti pilih...... Masa depan gue terlihat abu abu pucat.

---

Wednesday, 6 May 2015

Ini Soal Temen KOST 10 (Esmeralda Sudah Dewasa, Dia Menikah - Kita Pakai Baju Apa Nih?)

Esmeralda sudah dewasa. Esmeralda akan menikah. Barbara, Marimar, Casandra dan gue sebagai Mercedes sudah tahu hal itu sejak akhir tahun lalu. Malam itu, kita berempat berkumpul di ruang tamu berdiskusi tentang seluk beluk kehidupan dan percintaan. Semua dari kita tengah menghadapi situasi dimana dalam sebulan kita bisa mendapatkan undangan pernikahan lebih dari satu, atau setidaknya tahu kalau si A akhirnya menikah dengan si B, si C sudah dilamar si F, si H makin banyak upload foto di fb gandengan tangan sama si K, sedangkan si M sibuk ngapusin fotonya bareng si A karena cinta mereka lekang digerus jaman. Hidup terasa semakin rumit melebihi soal Aljabar atau pecahan desimal. Karena hidup di fase ini adalah soal penjabaran rasa yang mustahil dihitung oleh akal sehat manusia dengan pecahan hati yang impulsif di titik koordinat hati tertentu.
----
“Gaes, nih gue kasih kain buat seragaman di resepsi gue. Datang yaaaa....” Beberapa minggu kemudian gue dapat sehelai kain berwarna gold dari Esmeralda.
“Waaahhh...akhirnya dalam hidup gue, gue dapat dress code juga, Casandra!!” Gue berlompatan girang. Lah, Casandra malah buru buru milin karet gelang.  
“Ngapain lo malah bikin jalinan karet gelang macam itu?” Barbara nanya.
“Buat Mike mainan lompat tali. Kasihan..” Dia menjawab santai.
“Jaman sekarang mah bukan jamannya bikin jalinan karet gelang, tapi bikin jalinan cinta dan kasih sayang yang suci nan abadi! Mana pake mainan lompat tali. Kite harusnya mulai pikir gimana melompat ke tahap selanjutnya sebagai seorang wanita!” Barbara terlihat agat sewot melihat Casandra malah bikin tali dari karet di saat saat pembagian kain seperti ini. Gue cuman senyum senyum simpul. Mungkin Casandra masih terlalu dini untuk mengerti ini semua. Dia adalah perempuan yang masih demen ngejar ngejar kecoak pake gagang sapu sambil teriak teriak.
“Mikeee!!! Kecoak Mikeeee!!! Aaaaaakkkkkk!!!”
BRUK BRUK BRUKKK!!!! Dia memukul mukul secara membabi buta pojok kamarnya dengan ujung sapu.
“Waaaaakk, mana mana?? Waduh!! Itu sapu gueeee Casandraaa, sapu gueeeee!!! SAPU GUE TERNODAAAAAAA!!! Huaaaaaaakkk!!”
Lalu si kecoak bisa meloloskan diri dan menyelusuri pinggiran tembok. DIA MASUK KE KAMAR GUE!!!
“Casandra, mana sapunyaaaa!! Aaaaaaakkkk!! Kecoaknya bisa TERBAAAAANGGGG!!!! INI KECOAK TERBAAAAAANG!!! Kenapa kecoak bisa terbaaaaang?????!!!! AAAAAAAAAKKKK! ”
Ternyata dia ngejar ngejar kecoak terbang bareng gue. Mukul kagak, teriak iya. Saat temen temen gue udah mulai ngejar jodoh dunia akherat, gue dan Casandra masih sibuk ngejar ngejar kecoak terbang. Sungguh terlalu.
Tapi, gue jelas senang dapet kain samaan buat dress code pernikahan Esmeralda. Gue sudah membayangkan kita pake baju kembaran lalu datang beriringan ke pernikahan Esmeralda. Gue paling suka pake baju kembara sama orang lain, apalagi sama Casandra dan yang lainnya. Lalu, kita akan mengambil foto dan gue akan segera upload foto kita di Instagram. Pasti kekinian banget!! Ini adalah kali pertama gue dapat kain untuk dress code. Tiap kali saudara gue menikah, cuman Ibu gue yang dapat kain batik buat dress code. Gue mah kagak. Mungkin karena saat itu gue dinilai belum cukup matang dan belum potential untuk mengenakannya. 
“Makasih ya Esmeralda. Nikahannya dimana?” Marimar nanya.
“Garut.” Gue menelan ludah.
“Jauh juga ya Bar...” Sebenarnya gue nggak tahu Garut itu mananya Jakarta. Cuman kayaknya sih jauh.
“Udah itu dipikir nanti. Yang penting kita bikin dulu dressnya.” Marimar mengajukan pendapat.
--
Nah, itu dia masalahnya.

14 HAL YANG BISA DILAKUKAN SAAT JATUH SAKIT DI TANAH RANTAU



Hal yang paling gue takuti saat sebatang kara di tanah rantau selain kehabisan uang adalah jatuh sakit. Gimana nggak takut? Gue sakit tapi sendirian. Gue laper tapi nggak ada yang nyediain makan. Gue mau ngeluh juga mau ngeluh sama siapa, maksimal cuman sama kipas angin Miyako atau antena Sankyiota. 

Dua hari ini pun gue nggak masuk kerja. Dini hari tiba tiba gue kebangun karena tiap kali gue bergerak, lutut sebelah kiri gue sakit banget. Bahkan, makin lama walau pun nggak gue gerakin juga makin sakit. Gue balurin lutut gue pake Salonpas cair. Gue mencoba tidur lagi tapi gue nggak bisa karena sakit masih terus merongrong lutut gue. Dalam keremangan malam gue elus elus lutut gue. Kok lutut kiri gue lebih gede dari lutut kanan gue. Gue liat jam. Ah, baru jam dua alias pagi masih lama. Gue balurin lagi pake Salonpas biar panasnya dahsyat dan rasa sakit tersamarkan. Yang ada lutut gue rasanya panas terbakar campur sakit di bagian dalam. Gue rapuh. Gue mencoba cari tahu apa yang terjadi.

“Kame, kamu kenapa? Perasaan tadi baik baik aja...”

Dia diem, nyut nyutan.

“Kamu lelah ya? Coba kamu diem dulu nanti kalau udah jam 6an kamu sakit lagi.”

Dia tetep diem, nyut nyutan makin kenceng. Kame* ngambek. Gue nggak bisa tidur. Setelah gue inget inget baru dua hari gue pulang dari Garut, mengarungi jalan super jauh karena salah bis dan kalau gue pikir pikir Kame lah yang jadi korban. Nanti abis ini gue ceritain.

Nah, tadi malem gue baru inget kalau gue abis senam cardio yang menitik beratkan pada paha dan kaki. Maksut gue adalah biar tubuh gue sehat bugar dan stamina gue bagus karena gue harus bekerja dari pagi menjelang siang sampai magrib kadang dilanjutkan dengan memberi les tambahan di beberapa tempat. Gue memang suka senam cardio atau kalau nggak salah semacam aerobik dan yoga. Sepulang kerja dan bersih bersih kamar, gue senam. Tapi, gue nggak mikirin gimana perasaan Kame. Gue telah memfrosir Kame. Mana gue senamnya pake loncat loncat kayak orang kesurupan. Nih coba liat videonya...


Sehabis senam gue merasa sangat sehat. Lalu, jam 11 malam gue tidur dan jam 2 pagi lutut gue sakit banget. Gue tahu bingung nggak menyelesaikan masalah. Gue cuman bisa rebahan dalam kegelapan. Gue nggak bisa minta bantuan Barbara, Marimar atau Casandra yang pasti sudah tenggelam dalam mimpi indah mereka. Gue akhirnya baca Ayat Kursi berkali kali siapa tahu lutut gue ketempelan.  Tapi kayaknya otak gue yang ketempelan. Lama lama panas Salonpas melelapkan gue. Pagi harinya gue bangun dan lutut gue masih sakit. Gue liat lutut gue, Ebuseeeeett...lutut gue jadi dua, mengembang kayak Zuppa Soup. Tiap kali gue gerakin sakitnya bukan main. Akhirnya, gue minta tolong Barbara buat nganterin gue ke dokter. Untung ada dokter dekat kos. Tapi, gue harus jalan kaki. Gue rapuh. Bahkan, untuk bangun dari kasur gue aja gue harus cari posisi gimana caranya biar kaki sebelah kiri gue tetap lurus. Gue miring ke kanan, miring ke kiri, lalu sedikit telungkup. Seraya melakukan pose akan push up dengan menitikberatkan berat di kedua tangan akhirnya gue bisa berdiri. Tapi, kaki gue benar benar nggak bisa buat napak. Sakit! Tapi, gue nggak punya pilihan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...