Friday, 24 April 2015

XII IPA 3, JEJAK AKHIR YANG TAK BERAKHIR

Penerbit Aksara Media, April 2014 (Indie) - Cerpen
Genre : Comedy

                                                                  
                                                                       Meykke Santoso


Dengan baju bernada serupa walau bermodel rupa rupa kita sudah berada dalam dua barisan. XII IPA 3 adalah kelas yang sudah dua tahun ini kita tempati. Tapi nih kelas bukan sebatas kelas biasa, karena yang terjadi begitu luar biasa. Tapi nanti dulu.

Hari ini kita ada di dalam sebuah gedung, di detik detik pamungkas kita sebagai anak SMA yang segera mencapai kata katam. Dimulai dari menyingsingnya mentari pagi kita sudah sampai di pelataran gedung megah ini. Beberapa kali kita mengabadikan momen terakhir ini dalam bidikan lensa kamera. Semuanya tampak cantik dan ganteng dengan balutan dress code warna hitam dan merah dengan model rupa rupa. Bahkan, dibutuhkan diskusi super panjang demi menentukan dress code yang anti-mainstream ini. Jelas ini bukan moment main main. Esok hari kita sudah tak lagi mengerjakan tugas Fisika berjamaah, upacara bersama sembari sedikit menggeliat kepanasan atau pun jajan cimol dan biting pedes bareng sampai keringat bercucuran.

“Maka hari ini saya umumkan tentang kelulusan anak anak SMA Negeri 1 Salatiga...”
Semuanya duduk diam, mematung. Bahkan aku yang mengalami tragedi pertumpahan air mata saat UAN sampai menahan nafas. Dua hari aku nggak bisa tidur demi pengumuman ini. Makan pun aku susah. Kalau kata lagu, mau makan teringat padamu, mau tidur teringat padamu mau apapun teringat padamu, hasil UANku. Ini bahkan sensasi merajamnya lebih dari sekedar saat kangen sama pacar.

Seantero gedung mendadak senyi senyap. Hanya nafas yang menderu cenderung memburu yang terdengar lamat lamat. Bapak Kepala Sekolah pun seolah serupa presenter AFI di tipi tipi. Bapak Kepala Sekolah memberi jeda yang panjangnya nggak ketulungan dengan nada yang dibuat begitu serius. Matanya menatap bergantian dari pojok kanan ke pojok kiri seakan memastikan bahwa semua yang hadir mukanya nggak santai banget.

“Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar..” Aku meminta penguatan dari Tuhan. Bagaimana tidak? Ini adalah penentuan 3 tahun aku menggali ilmu dari Senin sampai Sabtu dari pagi sampai sore di bangku. Dan semua itu ditentukan oleh jelmaan soal soal itu.

“Tahun ini tingkat kelulusan SMA Negeri 1 Salatiga mencapai........”

Kembali Bapak Kepala Sekolah berhenti sejenak. Semua yang ada di dalam gedung semakin tercekat, sesak. Aku semakin komat kamit tak karuan dengan kedua belah telapak tangan berjalinan erat erat di depan dada. Tiba tiba ada musik masuk,

“deng deng deeeenggg!!!! Deng deng deeeengggg!!!”

“100 persen!! Selamat anak anakku!”

Ruangan gedung yang sedetik yang lalu sunyi senyap seketika bergemuruh tak karuan. Semuanya melompat penuh dengan kegirangan. Aku pun rasa rasanya ingin lompat harimau sambil handstand saking bahagianya. Puji syukur menggema dari segala penjuru. Kita saling berpelukan dan melompat lompat. Semuanya memasang wajah yang berseri seri dengan mata yang berbinar binar. Bahkan, saking terharu bercampur sedih karena pintu ‘selamat jalan’ berdiri megah di pelupuk mata, dari berpelukan dan berlompatan, mata kita mulai memerah dan basah. Lalu kita akan mengusapnya dengan senyum yang masih mengembang begitu lebar.

Sudah habis waktuku bersama para sahabat yang luar biasa baiknya, yang tak bisa aku temui di mana pun selain di kelas ini.

Perjumpaan kita berawal dari nasib yang mengantarkan kita ke kelas yang sama, XI IPA 3. Dari yang semula tidak begitu akrab satu sama lain, seiring waktu berjalan kita mulai saling mengakrabkan diri dan menjalin persahabatan. Bahkan kenyataan bahwa kita menghabiskan waktu paling banyak di sekolah, kita semakin akrab dan solid.

Menginjak kelas 3, kita semakin akrab. Syukurnya, saat kelas 3 kita tidak lagi dipisah alias kita satu kelas dengan teman yang sama saat kita di kelas 2 SMA. Persahabatan semakin erat terjalin di antara kita. Bahkan, setiap kali ada yang ulang tahun, seluruh kelas akan iuran untuk membeli kue dan nantinya akan dimakan berjamaah setelah upacara menyanyi bersama dan meniup lilin ulang tahun! Beberapa di antaranya juga sempat dikerjain terlebih dahulu, entah dimusuhin seantero kelas atau pun dicuekin sampai matanya meradang. Akhirnya, dia akan menangis sebelum tiup lilin. Lebay memang, tapi ini adalah kebahagiaan khas anak SMA yang hanya bisa aku dapatkan di kelas ini.

Di pelataran kelas kita biasanya duduk berjejeran sembari melempar begitu banyak obrolan dari kisi kisi ulangan Matematika, rasa gorengan di kantin sampai harga bando yang ada di toko aksesoris depan sekolah. Saat tugas merajalela, kita bahu membahu untuk mengerjakan bersama dengan metode bagi hasil. Si peringkat 1 mengerjakan nomor awal, si peringkat kedua bagian tengah, si peringkat ketiga soal akhir dan sisanya memimpin doa dengan menyiapkan secarik kertas dan sebilah bolpen. Bila sudah, kita akan berkumpul demi tugas dengan nilai cemerlang bak ‘shine bright like a diamond’.

Eits, tapi kita juga nggak hanya berkutat pada tugas semata. Dari kelas inilah aku mengenal Sholat Dhuha. Di kelas ini kita juga memilih satu imam sholat. Dia akan memimpin sholat wajib. Bila waktu Dhuha berkumandang dan pelajaran kosong, maka berjibunlah mesjid sekolah. Banyak di antara kita akan segera menuju mesjid untuk sholat Dhuha.

Hari berlari, bulan berjalan, dan tahun akan segera merangkak untuk berganti ekor. Bulan bulan terakhir kita mulai disibukkan dengan UAN yang saat itu terlihat cukup menakutkan. Kita masih terus bahu membahu untuk datang ke fotocopi dan menyalin berjibun catatan. Kita juga akan saling berbagi soal soal dan kisi kisi demi ujian yang akan menjelang.

Ada satu moment yang paling mengharukan. Selang dua atau tiga hari kita memulai perang itu, seluruh anak kelas 3 dikumpulkan di aula besar. Bapak Agama sudah duduk dengan takzim di depan aula. Beliau lalu menyampaikan pesan pesan untuk kita yang akan berlaga di medan perang.

“Tunjukkan pada Bapak dan Ibu di rumah yang telah membesarkan kalian kalau seluruh jerih payah kalian semasa di SMA ini tidaklah sia sia...Bayarlah seluruh keringat yang mereka peras setiap hari demi nikmat sekolah yang kalian dapatkan...belajar yang sungguh, berdoa yang sungguh...Buatlah orang tua kalian di rumah dan orang tua kalian di sini bangga...Bapak dan Ibu Guru akan terus mendukung dan mendoakan kalian semua...”
Dari sini saja sudah banyak teman yang pilek mendadak. Pelan tapi pasti pipi mereka sudah lembab. Pertemuan itu diakhiri dengan do’a.

Baru dua kalimat doa dikumandangkan, mata kita sudah meruah tak tertahan. Isakan menyeruak di penjuru gedung, dan bahkan Bapak dan Ibu Guru pun ikut bersimbah air mata. Itu adalah hari paling mengharukan di akhir kebersamaan kita.

Pertemuan usai dan kita kembali ke kelas masing masing. Tak jauh beda dari saat di aula, kelas dipenuhi dengan kesenyapan yang seakan meresap di celah dada masing masing. Lalu kesunyian itu pecah oleh seorang teman, cowok yang badannya paling macho satu kelas. Saat aku menengok ke belakang, dengan wajah menunduk dalam dalam dia mengeluarkan suara serupa desisan dengan sesekali mengelap ingusnya. Baru sekali ini selama dua tahun aku dan teman teman melihatnya menangis.

Dua detik, tiga detik, satu persatu mengambil posisi yang sama dan kita menangis berjamaah. Rasa takut akan UAN dan rasa sedih akan segera berpisah dengan teman teman terus mengaduk aduk hatiku dan juga teman teman. Banyak rasa yang telah kita kecap bersama, banyak kenangan yang telah kita abadikan, banyak persahabatan yang telah kita jalin rekat rekat. Kini, gerbang perpisahan terbuka maha lebar dan segera harus dilalui.

Dibandingkan kelas lainnya, kita memang terkenal paling solid. Pun kita punya jaket kebesaran dengan simbol yang dirancang bersama bertaburkan IPA 3 di segala bidangnya. Kita begitu bangga memakainya. Prosesi pengambilan gambar demi buku Kenangan yang akan dibagikan saat Perpisahan dan Pengumuman Kelulusan pun kita garap dengan super serius. Kita bahkan dengan naik motor berjamaah mengambil gambar di dekat rumah wali kelas kita yang juga begitu baik. Kita berpose begitu takzim di tengah sungai, di atas tong, bahkan di atas serupa bangunan untuk menampung air. Seharian kita berpose dimana mana. Karena hasilnya kurang maksimal, kita pun lagi lagi foto bersama di lokasi yang berbeda dengan dress code atasan putih. Lagi lagi sepulang sekolah kita langsung menuju TKP dan kini kita mengundang tim photography demi hasil yang super memuaskan.

Sorak sorai masih terus membahani di menit menit berikutnya. Lautan kebahagiaan jelas terlihat di gedung ini. Air mata haru beruraian di mana mana. Bagiku, ini pun moment paling dahsyat selama aku menginjak bangku SMA dengan balutan seragam putih abu abu. Aku dan temanku terus bergiliran menyodorkan lengan dan berpelukan erat erat.

Banyak hamparan memori indah yang bergulungan hilir mudik datang. Di bulan bulan terakhir kita sudah mulai rajin berfoto bersama guru satu per satu sembari melebarkan spanduk bertuliskan XII IPA 3. Sehabis pelajaran Fisika, kita berfoto bersama guru Fisika. Katam mempelajari pelajaran Biologi, kita pun berpose bersama dengan guru Biologi berdiri begitu menawan di tengah tengah kami. Selesai lompat harimau pun kita juga mengambil pose di tangga sekolah bersama guru Olahraga. Semua moment telah kita bungkus rapi untuk bekal kita. Banyak event yang sudah terangkum apik di penangkap momen bernama foto. Bahkan, jumlahnya mencapai ratusan.

Pelukan hari itu pun sebagai muara terakhir kita sebagai seorang anak SMA yang baru saja katam. Saat itu banyak sekali mimpi yang mulai kita rajut masing masing. Pun kita mengarahkan tujuan yang berbeda beda. Tapi, ada satu rencana dan janji kami yang kami bungkus bersama. Walau bangku SMA telah usai dan kita tak lagi bertatap muka setiap hari seperti biasanya, persahabatan kami akan terus terbina. Sampai dewasa kami akan terus mengulurkan tali silaturahmi yang tak akan pernah putus.

Foto foto dengan dress code hitam dan merah yang menempel lekat di mading kamar memunculkan kembali kenangan kenangan 4 tahun silam. Iya, kini aku dan teman teman sudah beranjak dewasa. Bangku kuliah pun sudah terkatamkan dan mimpi mimpi yang dulu mulai dipeluk kini telah teretas satu per satu.

Tapi ada satu yang tetap sama. Persahabatan kami. Setiap akan menjelang lebaran, saat semuanya pulang kampung, kami akan buka puasa berjamaah. Lalu kami akan mengobrol kembali seperti saat kami masih memakai seragam putih abu abu. Bedanya, bila dulu kami mengobrol tentang rasa gorengan, harga bando, dan juga kisi kisi ulangan, kini bahan kami berputar pada mimpi mimpi kami, rencana rencana kami, tempat tempat yang telah dan akan kami kunjungi, juga tentang sosok masa depan. Dan lagi lagi mereka adalah serumpun bola bola motivasi yang mematik semangatku untuk bisa terus maju, sama seperti mereka yang terus mengayuhkan kaki bersama.

Sama seperti saat SMA, kita akan saling menginspirasi, saling mendukung dan saling mendoakan keberhasilan masing masing. Bahkan, demi terjaganya kekompakan kami, kami membuat piala bergilir yang bertuliskan 39 nama nama kita. Piala itu diberikan kepada siapapun yang melepas masa lajangnya, yaitu menikah. Ya, kita akan datang ramai ramai dan memberikan piala itu di hari resepsinya. Lalu, kita akan mengubah warnanya sesuai dengan urutan kapan satu di antara kami menikah. Sudah tiga nama berubah warna. Ide brilian, bukan?

Sejak piala bergilir itu tercipta, aku jadi mulai bertanya tanya, kapan piala itu akan jatuh di tanganku?

Sekelumit kisah akhir sekolah yang mengharu biru dengan awalan yang indah dan terus bersambung. Episode kita tidak tamat begitu masa putih abu abu terkatamkan. Mereka adalah sahabat sahabat yang tidak bisa ditemui di belahan bumi manapun.

Terimakasih sahabat sahabatku, dan semoga cerita kita bisa menginspirasi.

 



2 comments:

  1. Reggae gemstone products for example bands, breitling replica sale, necklaces, diamond earrings and many essentially necklaces are regarding creating a declaration, which as well, very graciously. The brand new period associated with Reggae hublot replica uk had been were only available in 1970s. Through the years, this particular jewellery may be revolutionary as well as fascinating. Designer watches tend to be the most crucial area of the selection. Reggae Gemstone cartier replica uk or even bands permit the sparkle to become more powerful as well as give a powerful feeling associated with energy. Every single wrist watches were created in a different way as well as individually in order to charm one's heart associated with women and men. Nevertheless, you will find several products obtainable in each and every class, therefore there isn't any possiblity to lose out on any kind of design. Reggae wrist watches, in no way walk out style plus they not just simply display period, but additionally deliver since the the majority of rolex replica jewellery item. The majority of the styles tend to be studded along with synthetic expensive diamonds, which makes it appear glitz as well as interesting. Their particular mixture of flower precious metal using the synthetic expensive diamonds impact everybody. Their own need happens to be amazing. Because these types of wrist watches can be found in types of styles and designs however selecting these types of chanel replica sale depends upon the person flavor from the users.

    ReplyDelete