Friday, 24 April 2015

PENERANG GELAP

Penerbit Pustaka Jingga, April 2014 (Indie) - Cerpen
Juara Ke-3
Genre : Romance
                                                                                                                Meykke Santoso          


                    
“Iya, sekarang laki lakinya sedang menangis di bangku taman dengan daun daun yang berguguran...”

“Emang sekarang ceweknya kemana?” Aku terus menyodorinya pertanyaan bertalu talu. Satu per satu dia menjelaskan secara gamblang hingga aku bisa melihatnya dari mozaik detail yang dia berikan.

“Ceweknya pergi. Dia juga nangis... Lagi musim gugur nih, perasaan dari tadi banyak sekali daun daun menguning yang berjatuhan.” Dengan nada ringan dia menjelaskan semuanya.

Dia mengusap mesra rambutku sembari terus ‘mengudara’. Aku hanya mengulum senyum, sama persis seperti banyak malam sebelumnya.

--

Derap langkahku terdengar begitu ringan menuruni tangga. Bima telah menunggu di muka rumah, membawakan sekuntum bunga mawar berona merah muda, kesukaanku. Empat tahun berlalu dan hati kita masih menyatu, bahkan angan angan untuk bersatu seutuhnya berkali kali menghiasi percakapan kita sambil menyantap makan siang bersama atau menghabiskan malam dengan pijar lilin di tengah meja.

“Happy four anniversary!” Raut wajahnya begitu berseri. Rona hangat menjalari seluruh wajahku, bahkan sekarang pipiku bersemu bak rangkaian mawar itu.

“Heiiii...Aaaak!” Aku sedang akan meraihnya saat tiba tiba aku tersungkur tepat di depannya. Dia yang terlonjak kaget segera bersimpuh untuk menolongku. Akhir akhir ini aku sering sekali tidak cekatan, selalu menabrak barang barang yang ada di depanku. Aku dengan sigap segera berdiri dan merapikan dress floral yang baru aku beli kemarin. Aku melanjutkan rekahan senyumku.

“Kamu nggak papa?”

“Sangat nggak papa... Tau nih barangnya ngalangin jalan.” Aku segera menyambut lengannya dan melangkah keluar. Sesampainya di sebuah restoran, lampu terlihat nyala benderang bukan kepalang, hingga aku menyipitkan mataku yang tak kuasa oleh terangnya.

“Dimana kita?” Ucapku sambil terus menyipitkan kelopak mata saat dia membuka mataku yang semula ditutup secarik kain.

“This is my surprise!!” Lalu dari ruangan super terang itu tiba tiba muncullah Ayah, Ibu, Ayahnya Bima, Ibunya Bima, dan para sahabat. Anehnya, mereka tidak memicingkan mata. Bagiku, terang ini sungguh menyilaukan, hingga mataku berair.

“Sayang, jangan nangis...” Bima mengusap rambutku lembut. Bulir bulir di mataku terus meruah, antara tak kuasa menahan haru dan juga tak kuasa menahan terang yang menyilaukan dari lampu pijar restoran. Hari itu, Bima melamarku. Tepat di tahun keempat kita, dia ingin menautkan hatinya selamanya untukku. Dan tepat di tahun keempat kita, aku juga harus menelan kenyataan yang memekikkan hati, mengiris relung, dan memadamkan anganku.

Aku terpekur di kursi sebuah ruangan berdinding putih pasi, mendengarkan kata per kata dokter yang juga duduk tepat di hadapanku. Bahkan, lama kelamaan kata katanya semakin lamat, tergantikan dengan bayangan bayangan yang akan aku jalani sesudahnya. Terang yang semakin gelap dan gelap yang semakin tak terlihat. Mataku meruah, hatiku memekik tanpa suara. Gigiku gemeretak tak kuasa menahan bayangan masa depan yang akan segera menjadi kenyataan. Di sebelahku, Bima terus memegang lekat lekat sela sela jariku, seakan terus mengalirkan semangat dan harapan.

“Semuanya akan baik baik saja, sayang...” Dia terus mengulangi kata kata itu seakan aku akan terus melupakannya. Kenyataannya, aku bahkan tidak pernah mengingatnya.

Siang itu aku menatap lekat lekat wajah Bima, seolah lusa wajahnya hanya ada di angan semata. Mataku sembab oleh butiran yang terus mengalir keluar, menyisakan rongga hitam kelam tepat di bawah pelupuk mata.

“Apa kamu yakin?” Aku bahkan tidak mengucap kata barang sepatah. Tapi, seakan tahu segala suara yang terus bergelayut di hatiku, dengan menatap bola mataku menembus hingga ke relungku, dia berbisik.

“Apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu, Elita...” Setiap kata katanya membawa ruh. Dia melesatkan harapan penuh di rongga dadaku yang telah kosong, sejak malam kita menuntaskan tahun keempat itu. Dia meraih tubuhku, dan aku terbenam di dadanya yang bidang. Saat itu, dia memberiku penuh pengharapan. Sebulan kemudian, dia benar benar mengikrarkan janji sucinya. Aku masih berdesir haru setiap kali mengingat moment mengharu biru itu.

“Semuanya akan baik baik saja, Elita...Aku akan terus ada bersamamu...” Dengan segenap jiwa dia penuhi semua kata menjadi nyata.

---
“Yang, sekarang episode 18 dong...” Aku sudah siap sedia dengan semangkuk besar pop corn yang masih lengket dan hangat. Dia serta merta memasukkan DVD dan ikut mencomot pop corn keju kesukaan kita berdua.

“Wah, kan kemarin begitu ditinggal Park Shin Hye, Lee Min Ho jadi brutal banget dan nggak niat hidup banget khan. Sekarang, dia mencari park Shin Hye dan ketemu nih...” Gue terus ‘melihat’nya dengan penasaran yang memuncah muncah. Bima terus ‘mengudara’.

“Ah, akhirnya...papa Lee Min Ho setuju juga. Sekarang mereka berpelukan, Yang...” Gue mengulum senyum. Tangan Bima menari nari di rambutku, mengelus halus sambil terus berkelakar. Sama seperti 5 tahun yang lalu, saat kita memutuskan untuk menautkan hati di perjanjian yang suci.

“Anda menderita Glaukoma Kongenital yang memang bisa menyerang dewasa. Glaukoma adalah sekelompok penyakit mata yang merusak saraf optik. Saraf optik yang terletak di belakang bola mata, berfungsi membawa informasi dari mata ke otak. Ketika saraf optik rusak, maka penglihatan Anda bisa terganggu. Untuk jenis ini, mata Anda akan berangsur angsur kehilangan penglihatannya.” Lima tahun yang lalu, dunia ku runtuh di detik detik aku akan membangun kebahagiaan raksasa bersama Bima. Namun,“ Semuanya akan baik baik saja. Aku akan selalu bersamamu, menjadi matamu...” milik Bima membangun lagi puing puing harapanku, dan kini, rumah kita terbangun sempurna. Glaukoma memang memudarkan cahaya di mataku, dan walau aku bisa menahannya dari kegelapan abadi, pelan tapi pasti gelap akan mendatangiku juga. Namun, seberapa pudar bayangan objek di retina mataku, aku yakin satu hal. Hati Bima untukku, takkan pudar. Setiap malam dia masih setia menceritakanku drama drama Korea sembari melibas habis pop corn keju yang masih lengket dan hangat. Setiap itu pula Bima akan menjadi mataku. Glaukoma memang musibah terbesar dalam hidupku. Tapi, Tuhan benar benar Maha Adil. Saat dia menghadirkan penyakit, di saat itu pula dia menghadirkan penawarnya. Maka, tak lain tak bukan penawar dari segala sakit yang mendera adalah Bima.

1 comment:

  1. Sweet story.
    Seperti dongeng yang ada dalam drama Korea.
    Febriyanlukito.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...