Tuesday, 17 February 2015

Menantikan Hujan Kembang Api, Gedong Songo-Bandungan, Semarang!!!

Rintik air pelan tapi pasti mulai menyurutkan semangat gue. Sudah sedari jam 8 gue di sini, menunggu moment yang belum pernah gue saksikan bahkan sepanjang hidup gue yang belum panjang panjang amat ini. Terbilang sudah hampir empat jam gue dan adek gue, Nicken duduk di pelataran candi yang remang remang dengan lampu disko di sebelah kiri atas dan pasangan muda mudi di sebelah kanan, kiri, barat, utara, timur, tenggara, selatan barat daya. Hampir empat jam juga gue harus melipat tangan erat erat di depan dada demi mengusir hawa dingin yang tembus sampai tulang belikat, menjalar ke tulang punggung, mencapai ulu hati dan berakhir di tulang selangka. Dan kini gue dan adek gue bergegas turun ke bawah bukit becandi itu karena langit akan tumpah.

Lima menit lagi pergantian tahun.

“ Ken, kayaknya nggak bakalan ada kembang api. Orang gerimis gini. Kembang apinya pasti mlepek.”

“Tunggu aja dulu mbak...”

“Nggak ah, aku mau pulang aja...aku udah hilang arah.”

“Ih, eman eman mbak Ik.”

“Pokoknya aku...”

PLETOK!! PLETOK PLETOK DUARRRRR!! PYARRR SEEEEEEEEESSSS DOOOOOOOR!!! GEDEBUG GEDEBUG PYAAAAAAARRRR!




Gue segera membalikkan badan. Percikan api warna warni melesat ke udara dan meledak ledak. Mejikuhibiniu. Mereka berkejaran kemudian berpedaran membentuk lingkaran dan hilang. Mereka kembali melesat dengan interval sekian detik dan kembali meledak di awang awang! Kembang api melesat dari segala penjuru sisi candi pertama dan meledak tepat di atas candi, bersamaan!!! Itu khan uindyahhh banget saking indahnya. Bahkan, gue nggak rela berkedip. Cahaya susul menyusul dan kemudian meledak menyisakan lingkaran bertepi percikan api, lalu disusul lagi yang lain sampai langitnya penuuuuh!!

Selama gue memandang percikan api warna warni hinggap di langit candi, banyak pikiran berkelabat di pikiran gue.

Waktu berjalan sangatlah cepat, dan langkah gue berjalan begitu lambat. Apa yang telah gue lakukan selama ini? Dan apa yang seharusnya gue lakukan di tahun ini? Apa rencana gue jangka panjang, menengah dan pendek? Mau dibawa kemana hidup gue? Hidup macam apa yang akan gue jalani?

Dan semua pertanyaan berhamburan, lalu menghilang terbawa pendaran kilatan api yang meledak dan lenyap dimakan langit malam.....

HAPPY NEW YEAR!! *telat keleus...
--


Orang orang normal pada umumnya akan merayakan pergantian tahun di pergelaran musik akbar, atau di mall mall, ato di restoran dan mungkin lapangan lengkap dengan hingar bingar musik khas tahun baru. Lalu mereka akan membawa banyak batang kembang api, topi kerucut dan terompet berbagai model.


Lah gue??


Restu untuk bisa naik ke Gedung Songo bukanlah perkara yang mudah. Ayah gue pun jadi galau karena kedua anak gadisnya akan menuju sebuah bukit dengan 9 candi yang konon katanya candi yang ke-9 diumpetin jin dan hanya tersisa 8 candi saja. Bisa jadi kalau orang lain tahun baruan bawa topi kerucut sama terompet, gue dan adek gue bawa kembang tujuh rupa sama lilin. 

"Ke, kalau tahun baruan itu mbok ya pergi ke alun alun, ke lapangan Salatiga sana..ato ke kampung rawa. La tahun baruan kok malah mau ke candi!! Kamu ini mau tahuan baruan,semedi apa uka uka?? Jalan kesananya itu lho, jurang semua, berliku liku, nanjak mana malam hari lagi" Ibu mengajukan interupsi.


"Lah, nggak papa Ibu, nggak jauh beda sama jalan hidup aku." gue mulai mengajukan rebuttal.


"Iya bener...mbok nggak usah aneh aneh...kamu ini ke Salatiga aja sana..liat kembang api di Lapangan Pancasila. Di gedong songo bukannya liat kembang api yang ada kamu liat jin!" Ayah gue bawa jin segala.


"Ibu, ayah....anakmu ini sudah dewasa. Bahkan, tau sendiri yang lain sudah menikah. Kalau tahun baruan ke Gedong Songo aja nggak boleh, gimana aku mau nikah??" 


"Buset....mbak, emang apa hubungannya ke gedong songo sama nikah?" Adek gue berbisik.


"Udah diem aja, ini tuh cara diplomasi abad ini."


Lalu gue pasang muka  menderita dan merana sampai bibir gue ngelipet jadi empat.


................





Lalu, apakah sebenarnya candi gedung songo itu???

Kata Wikipedia, Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi.

Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C)

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Selain itu, obyek wisata ini juga dilengkapi dengan pemandian air panas dari mata air yang mengandung belerang, area perkemahan, dan wisata berkuda.

--

Nyatanya, di malam hari suhu udara di candi Gedong Songo nggak cuman cukup dingin, tapi dingin bingiiiiiit!!

Akhirnya setelah berhasil meyakinkan hati Ayah kalau kedua anak gadisnya akan aman terkendali naik ke bukit itu malam malam, remang remang sampai dini hari, gue dan Nicken segera bergegas pergi pukul 7.30. Gue dan Nicken lalu membeli makanan ringan di Indomaret dan siap menuju puncak!

Jalan menuju ke Gedong Songo serupa dengan jalan menuju Goa Rong tempo hari. Jalannya menanjak, berliku liku dan tak jarang bersisian dengan tebing curam. Emang benar, jalan menuju Gedong Songo dan jalan menuju kesuksesan sama sama tidak mudah. Dalam hal ini gue percayakan Nicken untuk duduk di depan dan gue berdoa di belakang.

Jam 8.00, gue dan Nicken sampai di Gedong Songo. Karena kita datang terlalu awal, kita masih bisa parkir di pelataran area candi dan nggak perlu jalan terlalu jauh. Beuuuuh, jalan ke candi candinya aja udah sangat jauuuuuuh!!

Hawa dingin langsung menyergap gue dan adek gue. Apa yang gue bayangkan juga nyatanya tak sama seperti kenyatannya. Bayangan gue, gue bisa naik ke pucuk  bukitnya lalu gue bisa liat pijaran kembang api di penjuru Ambarawa dari atas. Syahdu abisss!! Tapi....ternyata...gelap bingit!! Mulai dari gerbang masuk, lampu lampu cuman ada di warung warung penjual jagung bakar, sate kelinci dan kopi panas di jalan menanjak sebelum candi pertama. Setelahnya, penerangan cuman berasal dari lampu sorot di sisi candi saja. Selebihnya nggak ada lampu taman di jalan atau pun dimana mana. Soal dingin jangan ditanya. Dingin bingiiittt, bahkan walau pun gue udah pake jaket pun rasanya dinginnya sampai ke tulang. Pipi pun ikutan dingin sampai gue pake masker. Jari jari kaki gue pun beku walau pun gue udah pake sepatu. Brrrrr!!!



jarak pandang gue di candi 1. Selebihnya gelap gulita.


sumber penerangan cuman lampu sorot ini doang...Gue motoin orang yang muncul orps semua!!

Kebanyakan pengunjung hanya mentok sampai di candi pertama karena jalan untuk menuju ke candi kedua gelap gulita dan berkelok kelok. Gue pingin bingit bisa at least sampai ke candi ketiga, tapi gue takut. Salah salah nanti sampai di candi tiga kagak, sampai di dunia lain iya. 

Tapi, soal musik jangan ditanya. Di keremangan malam di puncak bukit bercandi ini ada salah satu kelompok yang cuman pake semacam tenda terpal seadanya, lalu pake lampu disco yang ditancapkan di depan tenda, mereka memainkan musik disko sangat kencang dan joged disko di depan tenda, SAMPAI DINI HARI!!! Aha, walau pun bermalam dalam keremangan, candi Gedong Songo ini sangat padat pengunjung. Banyak di antara mereka yang memasang tenda dan nginep di atas bukit!! Waktu gue ke sana, tenda ada di mana mana. Gue pingin banget bisa ikutan nginep. Pasti asik bisa malam tahun baruan bareng temen, bobok bareng di tenda sambil makan jagung bakar. Sayang, gue cuman bisa duduk di undakan candi sambil minum ini.



kopi jangan lupa.
Dan, apalagi yang lagi lagi bisa gue temukan di keremangan malam kalau bukan ini???

Adek gue terkepung! Tenang, kakak akan menyelamatkanmu!!!
Saat adek gue harus kehilangan momen indah bersama pacarnya karena harus pergi sama kakaknya, disitu kadang gue suka sedih. Liat aja adek gue terkepung kayak gitu. Pasti hatinya menjerit pilu. Mungkin hatinya sedang mengutuk keadaan, atau mungkin dia baru sadar kalau kita datang di tempat yang salah. 

Dan akhirnya gue dan adek gue harus menunggu di undakan itu selama kira kira tiga jam. Di sebelah kiri adek gue itu adalah pasutri baru yang sedang menanti buah hati yang pertama. Itu bisa diliat dari hoby suami yang suka foto selfie sambil megang perut istrinya. Di sisi kanan adek gue adalah pasangan kekasih yang gue rasa baru jadian. Mereka dulunya teman kampus yang dari temen jadi demen. Itu bisa dilihat dari percakapan mereka yang flashback ke masa kuliah, masa pertama mereka kenalan. Mereka kemudian selfie dengan mendekatkan masing masing wajah. Lalu, si cewek dengan malu tapi mau mulai menempelkan kepalanya ke pundak si cowok. Begitu pula dengan pasangan di sebelah bawah kanan, bawah kiri dan di sekujur undakan candi. Nah, kalau yang bertanda tanda tanya itu gue sedikit bingung. Tapi memang hidup menyimpan sejuta misteri.

Melihat keadaan sedemikian rupa, gue dan adek gue tak tingga diam. Gue dan adek gue juga kemudian selfie dengan berbagai posisi.














Selama hampir empat jam gue dan adek gue cuman bisa ngeliat keadaan sekitar. Tepat di depan kita duduk, kita bisa ngeliat lautan kerlip lampu sepenjuru Ambarawa. Lalu, lamat lamat kabut tebal mulai menyabotase pemandangan. Lalu, di sisi kiri kita, kita bisa ngeliat mas mas joged bareng diiringi musik disco yang bertalu talu. Gue juga mengamati tingkah polah para pasangan yang ada di segala sisi. 

Candi Gedong Songo ini bukan tempat wisata yang asing bagi gue. Bahkan gue sudah banyak kali mengunjung tempat ini dengan orang yang berbeda. Gue pernah ke sini bareng keluarga besar gue, lalu sahabat gue, temen kuliah gue 5 tahun yang lalu di SINI bahkan bareng pacar gue saat SMA dulu.

Gue : "Eh, tau nggak yank..."

Pacar : "Nggak tau..."

Gue : "Iiiih, kamuuuuu...khan aku belum ngasih tauuuu.."

Pacar : "Iyaaaah...apaaaa??"

Gue : "Katanya konon, barangsiapa yang pacaran di Gedong Songo bakalan putus lho..."

Pacar  : "Ihh, masa sih?? Ya udah kita buktiin kalau itu cuman mitos..."

Gue : "Iiiih, jadi kamu nggak bakalan putus sama aku? Kamu so sweeeeeeeeeet deeeeeeeehhh...Kalau Wangsa Syailendra itu nyusun candi ini, aku mau deh nyusun masa depan bareng kamu."

Pacar : "Uhuk!!"

Gue : "Kamu kenapah??"

Pacar : "Owh, nggak papa..aku cuman keselek candi."

Dan mungkin karena trauma keselek candi, beberapa tahun kemudian kita putus. Dan sampai sekarang putus atau tidaknya pasangan setelah ke Candi Gedong Songo masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. 

--

Saat gue tengah asyik melihat ribuan lampu dari penjuru Ambarawa sambil meneropong masa lalu, tiba tiba gerimis mengundang. Bahkan, gue belum sempet nyanyi : Kusangkakaaaaan...panas...berpanjangaaaan...rupanya gerimis...rupanya gerimis...mengundang...ang..ang..anggg....

Seketika proses pacaran terhentikan dan semua berbondong bondong turun dari areal candi karena di di areal candi sama sekali tak ada tempat berteduh kecuali kita nekat kenalan sama mas mas pendaki yang mendirikan tenda di sekitar tenda. 

Gue dan Nicken kemudian berteduh di sebuah gazebo besar. Jangan ditanya soal isinya. Mereka menggelar tikar panjang dan sekonyong konyongnya tidur berjamaah di lantai gazebo. Gue yang nggak dapat jatah tempat duduk hanya bisa duduk di tangganya saja sambil menunggu keajaiban.

Gue mulai kehilangan arah. Gue pingin pulang. Dan kita nggak bawa jas hujan atau pun payung. Masih sekitar 15 menit lagi dan hujan mulai tumpah. Gue galau banget karena ini adalah kali pertama gue liat kembang api LIVE saat pergantian tahun. Gue biasanya cuman liat film di RCTI doang sambil ngemil bantal. Sekali lagi kegagalan muncul di ambang mata. Ketika gue pingin banget liat kembang api tapi hujan, di situ kadang gue suka sedih.

Namun, saat gue akan berbalik badan dan pulang, tiba tiba satu kembang api melesat dan meledak di udara, menyisakan pedaran cahaya yang melingkar lalu lenyap digulung langit malam. Selang beberapa detik dari arah berlawanan datang kilatan cahay lalu meledak di atas candi pertama. Lalu, kembang api melesat naik susul menyusul. Kini, langit Gedong Songo sontak terang benderang dihujani kembang api berwarna warni. Gue langsung membuka lensa kamera dan tak ketinggalan untuk membawa pulang kilatan kembang api yang gegap gempita buat Ayah, Ibu dan adek di rumah.



Dan pada akhirnya keinginan gue untuk bisa menyaksikan kembang api saat pergantian tahun katam sudah!! Yeaaaayyyy!! 



Pada akhirnya gue bisa mengamalkanpelajaran hidup nomor 87:
"Go where you wanna go, do what you wanna do, try something new and LIVE your life!!"

Begitu kembang api selesai, gue dan Nicken bergegas pulang biar nggak kehujanan di jalan. Dan saat gue akan turun, beuuuhhh....parkiran udah jadi lautan motor dan mobil!! Bahkan, saking banyaknya motor parkir di tiap tiap rumah warga sampai beberapa meter dari areal parkir candi. Gue rasa jumlahnya mencapai ratusan lebih!! Benar benar luar biasaaaaaaaa!! Gue dan Nicken juga sempat terjebak kemacetan saking banyaknya motor yang tumpah ruah di jalanan menuju jantung kota Ambarawa. Kali ini gue yang di depan dan adek gue hanya memberi komando dari belakang. Dan akhirnya, berkat adek gue, Nicken, gue bisa mengabulkan keinginan gue untuk bisa keluar dan bersama banyak orang menyaksikan kembang api. 


Banyak harapan gue kumandangkan untuk tahun 2015 ini. Banyak target gue tulis dan rencana rencana yang harus gue lakukan. Semoga tahun ini adalah tahun penuh keberkahan buat kita semua dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih lebih lebih baik. Malam itu, rasa bahagia membumbung memenuhi dada. Gue siap menjalani tahun 2015 yang lebih menantang. In Sya Allah...

Pergantian tahun baru 2015 kemana yaaaaaa????


Thank you my sister :*

10 comments:


  1. liat fotonya yang banyak orbs bikin merinding,
    serasa liat foto hasil jelajah dunia lain, hahaha
    gue ngebayangin kalau tuh orbs jadi mahluk,,
    beuuuh pasti kamu lagi berdempetan sama mahluk serem-serem, hihihi

    fotonya pas siang cantik juga ya pemandangannya,
    gue baru tau loh ada candi gedong


    anyway selamat tahun baru juga *meski telat
    semoga semua rencana baik kita tercapai. aamiin.

    ReplyDelete
  2. Ayayyyy, selamat tahun baru kak mey. Cerita yang panjang, ya. "Fiuhh."

    Tapi kek Mey kok pacarnya bisa romantis gitu. Sampe keselek candi. Eih, cowoknya kuat, ya. Nyampe nelen candi. :D

    Jujur, gue tahun baru yang lalu gak sebahagia kak Mey. Jadi, aku gak bisa berkata2 banyak, gak bisa mengatakan kecuali.

    Malam tahun baru kak mey itu keren. Udah liatin kembang api. Pokoknya gue cuma bisa meler sambil ngelap ingus.

    ReplyDelete
  3. baru tau ada nama candi kaya gtu
    apa saya yang norak ya hehe,,,

    Tahun baru saya ga pernah kayak gini jadi iri
    :(

    ReplyDelete
  4. itu tempat di fotonya kok agak serem-serem ya kak? :)

    ReplyDelete
  5. Kalo pengalaman pribadi, yang bikin aku susah pergi tahun baruan ke suatu tempat adalah ijin orang tua. Bener2 susah, dan yah.. pasrah aja cuma menikmati malam pergantian tahun dirumah. Pengen juga nih bisa menikmati malam pergantian tahun kayak gini, jarang2 ada orang yang pengen taun baruan ke Candi juga. Bisa jadi momen yang bener2 memorable :)

    Kali aja pergantian tahun 2015 naik gunung kak.. siapa tauu :D

    ReplyDelete
  6. Waaah Meykke gaul... ngerayain malam tahun baru nyampe gedong songo.... gue gak kebayang gimana dinginnya di sana :D
    mungkin gue udah pake jaket lapis baja kalo disana, gue pernah sekali kesana, waktu ada acara kampus, dan dinginnya kebangetan :D

    Tapi ngelewatin momen tahun baru di tempat semacam itu pasti syahdu banget.. walopun ramenya bikin putus asa, jadi kebayar lunas sama kembang apinya~

    ReplyDelete
  7. Behhhh nie postingab telat kali meyk.. Tp gpp daripda ga sama sekalu.
    Btw km ma adekmu bagai pinang dibelah 2, miriiiiip!!!!
    Aku sih sbnre setuju sama ayah dan ibu km, ngapain jg tahun baru ke candi hahaha
    Akh sudahlah
    Selamat tahun baru Meykke

    ReplyDelete
  8. Asik. Entah kenapa, meskipun sebagai cowok alumnus stm yang notabene mendapat restu orang tua tidaklah terlalu sulit sepanjang trek record sebelum-sebelumnya adalah baik, aku tidak termasuk golongan yang pengen banget keluar saat tahun baru (mungkin gara-gara sudah pernah kalik)

    Tahun kemarin aja, aku udah pengen banget tidur dan bangun-bangun kalender di hp udah ganti tahun, tapi apa daya, dua adik sepupuku memaksa untuk keluar dan lihat kembang api di stadion. Akhirnya aku harus rela mengurangi jatah jam tidur. huft

    Btw, aku jadi penasaran. Candinya gede-gede nggak? GAmbarnya enggak keload nih, kak. Kalo gelap-gelap gitu aku jadi serem sendiri bayanginnya, apalagi jalanannya. Ekstrim. Udah gitu hujan yak pulangnya, lebih licin lagi. Untung ga ada apa-apa. Wkwk. Awal yang cukup baik untuk memulai kehidupan di tahun ini. Keep fighting! Miss meukeu.

    ReplyDelete