Tuesday, 10 February 2015

Ini Soal Temen KOST 5 ( Perubahan Dimulai Dari SINI)

Gue rasa teman teman kost gue berbanding dengan teman teman kost orang lain di Jakarta adalah 1 : 1000. Kenapa?? Temen temen kost gue ini tidak hanya menjadi penghuni kamar sebelah atau penghuni rumah seatap. Lebih dari itu, teman kost gue ini adalah teman berbagi suka dan duka, lara dan nestapa. Temen kost gue juga temen beerkumpul bersama dan berbagi cerita tentang banyak hal, seperti keuangan, percintaan dan karier. Temen kost gue ini juga temen bergadang. Maka, tak jarang Rhoma Irama mampir ke kost kita sambil nenteng gitar.

“Bergadang jangan bergada a a aaaang! Kalau tiada artinya...Bergadang boleh saja aa aaaa...kalau ada perlunya..”

“Ini perlu, bang. Ini demi menjaga kestabilan hormon estrogen dan endofrin kita.” Ucap Candra kemudian.

Gue cuman ngangguk ngangguk, tanda setuju. Setiap Kamis atau Jumat malam, gue, Candra dan Mbak Tutik menyempatkan diri duduk dengan begitu harmonis menyaksikan Stand Up Comedy di Kompas TV. Lalu, kita akan tertawa terbahak bahak. Mbak Tutik sampai guling guling, Candra lompat harimau dan gue dumang campur Morena. Bahkan, lelucon yang nggak lucu pun kalau ditonton bareng bareng rasanya jadi lucu bingit.
Gue suka multitasking tiap kali nonton. Tiap iklan gue akan lari ke kamar buat ngelanjutin ngeblog. Lalu, tiap iklannya selese, gue akan lari lagi ke ruang tamu karena TV gue di kamar entah kenapa nggak ada Kompas Tvnya.


“Mik Mik, uwes mulai uwes mulaiiiii...” Candra memberi aba dengan bahasa asal yang artinya sudah mulai.

“Sopo??”

“Mbuh ki ra ruh, tapi bentuk uwonge lucu, reneo...lucu ki lucu...wakakakakakakakaka.” Candra mulai promosi. Walau dia nggak tau sapa yang lagi stand up karena nggak terkenal, tapi bentuk orangnya jenaka dan sepertinya lucu. Ternyata yang ngomong Bakriadi. Lucu abissss!! Lalu, kita ngguling ngguling bersama memecah keheningan malam.
Itu mengapa gue nggak begitu mudah stress dengan tekanan kerja. Karena hobi gue ngakak ngguling ngguling.

---

Poin terpenting dalam faedah mempunyai temen kost seperti mereka adalah GUE BISA MASAK. Jelas ini perubahan yang sangat signifikan dalam hidup gue. Ini jelas jelas hal yang sangat nggak gue duga bisa terjadi sama gue. Ini semacam keajaiban hidup.

Awal gue di sini, gue nggak punya rencana buat belajar masak. Dulu gue suka bilang, gue mau masak setelah gue diharuskan untuk masak setelah gue naik level menjadi istri. Entah kenapa gue ngerasa geli saat menyebut kata istri. Gue nggak bisa bayangin kejadian saat gue baru belajar masak dan sudah jadi istri orang.

“Gimana Mas masakan oseng oseng kangkung jamurnya akuh??”

“Enak kok dek, ya...11 12 sama pentil ban mobil kita.”

“Mas, kamu malam ini bobok luar. Kamu nggak kayak di drama Korea. Kalau di drama Korea khan mau nggak enak juga bilangnya enak banget. Tapi kamu?? Kamu nggak sayang sama aku... ”

“Aku bercanda, sayang....”

“Memangnya, kamu pikir hidup berumah tangga sebercanda itu?? Pokoknya kamu tidur luar!!”

#suamiberbusa

--

“Nih, buat sarapan...”

“Lah, ini apah kok pentil ban banyak banget ditaruh piring, dek ?”

“Iya, aku abis ngambilin pentil ban mobil kita, buat sarapan kamu, mas..”

#suamimeregangnyawa

Gue merasa ketakutan setiap kali membayangkan bilamana hal ini terjadi. Gue nggak mau jadi istri durhaka yang tiap pagi ngambilin pentil ban mobil suaminya karena terbawa emosi. Jangan sampai...

Itu sebabnya, karena dukungan moril dan dukungan materiil serupa uluran bawang merah, bawang putih atau pun cabe setan sampai cabe cabean setiap kali gue nggak beli karena kelupaan, gue pada akhirnya mulai melemaskan otot otot jari dan melatih indra penciuman dan indra pengecapan. Indra penciuman untuk mengetahui tatkala mana bumbu yang digosreng sudah masak dan mengeluarkan aroma sedap dan indra pengecapan untuk merasakan rasa asin, manis dan pedas.

Bahkan, karena Candra dan Mbak Tutik, sekarang masak sudah mulai menjadi hobby. Ah, gue jadi teringat salah satu pelajaran hidup nomor 48 :


“You are with whom you make friends with!”

Andaikate gue punya temen kos yang saben hari keluyuran ke mal depan gang, entah nonton atau pun shopping mungkin dompet gue ikutan ludes sebelum akhir bulan. Andaikate temen temen gue suka ngaji, sholat rutin, pintar masak dan bersahaja, kemungkinan besar gue juga akan ikut termotivasi untuk melakukan hal serupa. Thanks God, temen kost gue termasuk dalam golongan kedua.

---

Dari sini gue juga belajar tentang arti kebersamaan. Gue dan keempat temen kost lainnya sering ngumpul sehabis kerja di salah satu kamar atau di depan tipi. Kadang kita makan bareng, nonton tipi bareng atau pun membuka sesi curhat dengan satu topik yang dibawakan oleh salah satu pihak. Biasanya topiknya nggak jauh jauh dari masalah hati. Lalu, akan timbul pertanyaan serupa :

“Kalau kamu gimana Mike?”

“Aku? Ada...”

“Waaaaah...sekarang dimana Mike? Siapa?? Kerja apa?? Sejak kapan? LDR dong??? Kapan terakhir ketemu? Gimana pacarannya?? Kira kira putus nggak?”

Gue jadi bingung. Ini pertanyaan apa petasan korek. Memborbardir.

“Ada lagi di jalan...”

“Jam segini belum pulang??? Khan udah jam 10 malam.”

“Ada...aku adaaaa....tuuuuuh..lagi di jalan menuju pertemuan abadi kitaaaaaah...”

“.......................”

Lalu, mereka ngguling ngguling dilanjutkan muntah berjamaah. Kasian sekali mereka.

Tapi, nggak semua sesi curhat sekamfret itu. Ini beneran. Ada temen gue yang abis ambil cuti dari kamis sampai Sabtu. Dan apakah alasannya?? CINTA

Gue rasa cinta itu emang jago bikin orang mabuk kepayang sampai mabuk beneran. Temen gue ini matanya udah kayak diganjel biji salak. Lalu, dia bercerita...

“Aku nggak tau harus gimana lagi...aku nggak yakin tapi semua bukti menuju ke situ...”

Gue serius banget dengerinnya. Ini adalah kali pertama gue mendengarkan kisah semacam ini. Bahkan, gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya.

“Dia khan satu kamar kost sama cowok. Dulu itu foto gue dan dia selalu dipajang di atas lemari. Nah, kemarin kata temen cowok gue yang lagi mampir di kostnya dan buka lemari cowok gue, ternyata foto gue ditaruh di dalam lemari terus ada icon ;(. Gue bilang sama cowok gue, itu maksutnya apa. Gue takut temen kost cowok gue membawa pengaruh buruk...”

Gue yang notabenenya dari Ambarawa dengan kehidupan yang sejahtera, ijo royo royo dan gemah ripah loh jinawi belum punya ide apa apa tentang ini.

“Pengaruh kenapa?” Gue tanya. Gue melihat ekpresi temen temen gue juga masih penuh tanda tanya.

“Dan, yang lebih bikin gue curiga lagi adalah pas gue jalan bareng sama cowok gue dan temen kamar kostnya. Sepanjang perjalanan, yang biasanya cowok gue ini selalu gandeng gue, nih dia dipegang tangannya aja nggak mau. Cowok gue pun jalan sama gue nggak mau. Kenapa coba??”

“Emang kenapa??” Gue emang culun.

“Dan, gue nemuin satu pack kondom di tasnya. Beberapa udah dipake!”

“Hwaduuuh!!!”

“Gue minta temen gue buat ngehack twitternya. Dan yang bikin hati gue sakit banget.”
--

Noel (cowok antah berantah)   :  “Ah, aku capek. Nggak ada yang sayang sama aku.”

Cowok temen gue : “Ada kok.”

Noel : “Siapa?”

Cowok temen gue : “Aku.”

Noel : “Masa?”

Cowok temen gue : “Iya.”

Noel : “Coba sekali lagi, aku nggak denger..”

Gue : “Wooooyyyy, gimana lo bisa denger..ini chatting woyyy..yang ada lo baca bukan dengerrrr...”

Cowok temen gue : “Iya Noel, aku sayang kamu.”

GLEKKKK!!! Gue mulai nyampe. Gue merinding. Gue belum pernah punya temen serupa itu dan gue bahkan belum pernah menyaksikan langsung. Gue rasa memang hidup di kota kecil dengan budaya yang melekat kuat beserta segala tabu itu lebih aman. Hidup di kota besar dengan banyak budaya sampai tak berbudaya jelas lebih membahayakan. But, life is a choice. And I choose to live here without forgetting where I am from.

Dan ternyata gue bisa menangkap bahwa pacar temen gue ini kemungkinan adalah sebangsa ehm....jeruk minum jeruk. Gue jadi nggak suka jeruk. Gue lebih suka duren.

Temen gue yang matanya sebesar biji salak itu kemudian memutuskan untuk menyudahi kebersamaan selama 3 tahun. I know how it feels, but life must go on. Gue cuman bisa puk pukin dia sambil ngepuk pukin diri sendiri.

---
Seklumit cerita dari rumah mungil milik Bu Emil dengan 5 gadis yang berteduh di bawahnya. Gue nyaman di sini. Walau pun kecil, tapi gue nggak pernah males pulang ke kost karena begitu gue buka pintu kost, Mbak Tutik lagi jahit di kamar. Lalu, saat gue lupa bilang salam, dia akan jawab :

“Waalaikumsalaaaaaam...”

Dan dari biasanya gue pulang cuman bilang,

“Hualooooooo!!!”

Gue jadi bilang,

“Assalamualaikum..warrahmatullahi...wabarakatuh...”

Bahkan, gue dibuatin Mbak Tutik rok unyu bingit!! Cuma Cuma alias gratis.


Lalu, bagian hidup mana lagi yang tak bisa disyukuri??

14 comments:

  1. Ceritanya bikin inget temen gue yang di godaiin om-om saat di Gramed,,
    dan di ajakin jalan-jalan
    hehehe....
    Dunia ini makin kacau ada sebangsa Jeruk makan Jeruk

    ReplyDelete
  2. Kayaknya seru ya punya temen kost bareng. Tapi sayang, saya belum nge-kost
    Suatu saaat nanti mungkin :D

    ReplyDelete
  3. Asiknya. Akrab sama tetangga.
    Di sini kayaknya dah makin individual deh. Bahkan sm tetangga aja gak kenal. Hehee. Gimana mo kenal. Brgkt kerja pagi. Plg malam2.

    ReplyDelete
  4. Lho!, aslinya kak mey gak bisa masak, ya. Pantesan dari kemaren beli makan di luar terus. :D

    Tapi keren juga, kak. Selain nambah menjadi orang baik karena hidup dilingkungan baik, kak mey juga menjadi lebih gimana... gitu.. "Iya, giman?" :D

    Selamat berjuang di rumah itu bersama 5 wanita yang ramah tamah itu. Hingga waktu akan menjawab, kapan bisa kangen orang tua setelah lama ngekost.

    Jangan lupa pulang, juga kak. :)

    ReplyDelete
  5. Heihiehie Jadi ingat saat saya masih ngekos saat masih kuliah dan kerja dulu heiheheie. Suka duka pastinya lah ya

    ReplyDelete
  6. bener tuh, perilaku kita itu tergantung pergaulan. Kalau ngumpul ama orang-orang cakep, kita juga berasa ketularan cakep, padahal mah nggak hha

    gue kalau ngekost nyari yang penghuninya dewasa-dewasa, biar bisa nebeng barang-barangnya. Apa lagi kan cewek suka tuh masak-masakin buat cowok muda lugu kaya gue yang biasa di anggep dedeknya hihihi
    jeruk makan jeruk, kan lagi ngetrend itu hahaha

    ReplyDelete
  7. Temen kosan memang udah kayak keluarga kedua ya, Kak. Bersyukur bisa dapet temen-temen kos yang membawa pengaruh baik.. :D
    Aku juga semenjak ngekos jadi bisa MASAK. M-A-S-A-K!! Huahahaa. Suatu prestasi. :))
    Waaah mau juga dong dibikinin rok yang cuma-cuma, alias gratis. :3

    ReplyDelete
  8. Emang bener banget... Hidup bareng temen itu kadang yang bikin kita semangat saat jauh dari keluarga.. Dan golongan temen juga pengaruh membentuk gaya hidup kita.. Temen2 lo kayaknya asik2 dan syariah juga.. Lo beruntung.. Suatu saat palingan bakalan stres, kalo akhirnya harus pisah, kangen sih.

    Dan gue gak nyangka, itu pacaran sama homo HAHAHA
    Anjrit. Gue ngeri ngebayanginnya -___-"
    Homo aja dapet pacar cewek, yang ngarep dapet pacar cewek malah terus2an jomblo.

    Hidup kadang penuh misteri.

    ReplyDelete
  9. Emang bener banget... Hidup bareng temen itu kadang yang bikin kita semangat saat jauh dari keluarga.. Dan golongan temen juga pengaruh membentuk gaya hidup kita.. Temen2 lo kayaknya asik2 dan syariah juga.. Lo beruntung.. Suatu saat palingan bakalan stres, kalo akhirnya harus pisah, kangen sih.

    Dan gue gak nyangka, itu pacaran sama homo HAHAHA
    Anjrit. Gue ngeri ngebayanginnya -___-"
    Homo aja dapet pacar cewek, yang ngarep dapet pacar cewek malah terus2an jomblo.

    Hidup kadang penuh misteri.

    ReplyDelete
  10. Wah, iya banget. Kalo nemu temen satu kost yang klop banget emang nyenengin ya jadi kaya punya keluarga baru gitu, jadi sedikit menghilangkan homesick. Anyway, Mbak Mey sepertinya aku salah fokus deh. Kenapa sih jeruk sama jeruk segala pake kondom. Mereka mana punya rahim jadi ngga bakalan hamil juga kalo begituan.

    ReplyDelete
  11. iih ternyata homo pacarnya tmanmu kak. ngeri juga. Emang gt sih klo tinggal di kota besar. Hal yg kita anggap tabu jd g tbu lagi.

    enak y kak dapt tman kos yg kg gt. seru pastiny. selamat jg skrang kak mey udh lmayan bsa masak, jd g perlu nyediain pentil mobil untuk suaminy kelak. wkwk

    ReplyDelete