Sunday, 22 February 2015

HELLO A NEW HEADER!!!

Akhirnya blog gue mengalami perubahan. Lima tahun sudah gue berkecimpung di dunia perblogan, dimulai dari blogger gembel yang nggak punya apa apa, lalu beralih ke blogger yang gila gadget, dari jam dinding, screen wallpaper sampe kolam ikan yang tiap diklik ikannya mangap mangap semua ada di tampilan blog, dan pelan tapi pasti jadi blogger yang mulai keliatan elegan karena punya rejeki buat ngubah alamat web jadi www.meykkesantoso.com tanpa blogspot sejak November 2013 dengan modal 95k per tahun di Rumahweb.com

Bagi gue, header sebuah blog itu bak sampul ato cover sebuah buku. Penting!! Bahkan, orang bisa baca sifat penulis blog hanya dari headernya. Kalau headernya hanya tulisan judul blognya saja kemungkinan empu blognya adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau headernya berjudul nyeleneh semisal “Remaja Gagal Gaul”,“Pelajar Gagal Belajar” kemungkinan si empunya blog adalah orang yang -kurang beruntung- hidupnya diselimuti dengan nuansa komedi.  Kalau headernya penuh bunga bunga atau headernya bergambar penulis lagi tiduran di antara bunga bunga kemungkinan penulisnya -fans berat Syahrini- mencintai alam Indonesia sepenuhnya. Dan kalau headernya disertai dengan kutipan sajak syahdu serupa “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran) kemungkinan penulisnya adalah -orang yang sering galau-  calon pujangga hebat. Macam macam.

Makanya, bagi gue header adalah unsur yang sangat penting untuk tampilan blog. Andaikata rumah, header itu semacam bentuk pintunya, pagarnya, dan warna catnya dilihat dari luar.

Sepanjang perjalanan blog gue, gue juga udah berkali ganti ganti blog menyesuaikan perilaku sehari hari gue. Coba nih liat!

Header gue jaman baheula saat kemampuan editing gue masih dalam segala keterbatasan.

Sampai di Sini


Aku...
Menapaki tangga dengan lantai yang terus berkicau
Sampai pada kebun dengan gesekan daun ilalang yang mengirim beribu tanya
Dengan angin yang menghembuskan sejuta asa
Lihat, mentari berkilatan karena menginginkan jawab
Bunga menemukan benang sari atas putik yang terus mencari
Aku telah sampai di sini..

Pohon pisang bertunas satu dan lebah tengah mengolah madu
Bunga Desember menjadi banyak dan bahkan seekor ayam beranak pinak
Kacang hijau berkecambah tak peduli ada hati yang tengah bernanah
Aku telah sampai di sini..

Bunga teratai, bunga anggrek dan serumpun bunga lily mengulum senyum
Bertautan tak ingin pisah, memukau terlampau indah
Bunga bangkai goyah
Aku telah sampai di sini...

Terkepung jalinan waktu yang terus berhitung
Tak peduli beku tak kunjung cair
Bara tak kunjung padam
Dan luka tak kunjung hilang

Teronggok di hingar bingar
Dalam semua yang tengah menggelegar
Aku menggaungkan diam
Diamku bukan berarti emas,
Aku hendak berkemas dan malah terhempas
Kandas dan melemas
Dan kini aku telah sampai di sini...

Aku baru melangkah di kebun dengan kicauan burung dan bisikan ilalang
Burung, bisakah kau berkicau tentang langit yang membiru atau awan yang memutih saja?
Seperti saat dulu kita berkalung dasi biru?
Ilalang, bisakah kau berbisik tentang betapa kuatnya kau dihempas angin buritan saja?
Seperti saat dulu kita sering melihat drama Korea bersama?
Mereka menyodorkan jawab dengan nada serupa,
“Kita telah sampai di sini...

Baiklah.
Kita memang telah sampai di sini..
Walau duri menyelimuti tepian hati,
Kita lihat saja apa yang akan terjadi,
NANTI.

                                                                                                                Transyogi-Cibubur , 22.2.2015
                                                                                                                22:06
                                                                                                               




Tuesday, 17 February 2015

Menantikan Hujan Kembang Api, Gedong Songo-Bandungan, Semarang!!!

Rintik air pelan tapi pasti mulai menyurutkan semangat gue. Sudah sedari jam 8 gue di sini, menunggu moment yang belum pernah gue saksikan bahkan sepanjang hidup gue yang belum panjang panjang amat ini. Terbilang sudah hampir empat jam gue dan adek gue, Nicken duduk di pelataran candi yang remang remang dengan lampu disko di sebelah kiri atas dan pasangan muda mudi di sebelah kanan, kiri, barat, utara, timur, tenggara, selatan barat daya. Hampir empat jam juga gue harus melipat tangan erat erat di depan dada demi mengusir hawa dingin yang tembus sampai tulang belikat, menjalar ke tulang punggung, mencapai ulu hati dan berakhir di tulang selangka. Dan kini gue dan adek gue bergegas turun ke bawah bukit becandi itu karena langit akan tumpah.

Lima menit lagi pergantian tahun.

“ Ken, kayaknya nggak bakalan ada kembang api. Orang gerimis gini. Kembang apinya pasti mlepek.”

“Tunggu aja dulu mbak...”

“Nggak ah, aku mau pulang aja...aku udah hilang arah.”

“Ih, eman eman mbak Ik.”

“Pokoknya aku...”

PLETOK!! PLETOK PLETOK DUARRRRR!! PYARRR SEEEEEEEEESSSS DOOOOOOOR!!! GEDEBUG GEDEBUG PYAAAAAAARRRR!




Gue segera membalikkan badan. Percikan api warna warni melesat ke udara dan meledak ledak. Mejikuhibiniu. Mereka berkejaran kemudian berpedaran membentuk lingkaran dan hilang. Mereka kembali melesat dengan interval sekian detik dan kembali meledak di awang awang! Kembang api melesat dari segala penjuru sisi candi pertama dan meledak tepat di atas candi, bersamaan!!! Itu khan uindyahhh banget saking indahnya. Bahkan, gue nggak rela berkedip. Cahaya susul menyusul dan kemudian meledak menyisakan lingkaran bertepi percikan api, lalu disusul lagi yang lain sampai langitnya penuuuuh!!

Selama gue memandang percikan api warna warni hinggap di langit candi, banyak pikiran berkelabat di pikiran gue.

Waktu berjalan sangatlah cepat, dan langkah gue berjalan begitu lambat. Apa yang telah gue lakukan selama ini? Dan apa yang seharusnya gue lakukan di tahun ini? Apa rencana gue jangka panjang, menengah dan pendek? Mau dibawa kemana hidup gue? Hidup macam apa yang akan gue jalani?

Dan semua pertanyaan berhamburan, lalu menghilang terbawa pendaran kilatan api yang meledak dan lenyap dimakan langit malam.....

HAPPY NEW YEAR!! *telat keleus...
--

Friday, 13 February 2015

Meniti Jembatan Pembelah Rawa, Jembatan Biru - Tuntang!!



Menatap genangan air tenang bernama rawa dari pucuk bukit bergoa, Goa Rong, telah katam gue dan teman teman lakukan. Rintik hujan jelas nggak menghalangi kita untuk menuju ke spot kedua hari ini. Kita akan ke RAWANYA!!

Dan kini gue berdiri di sisi kanan jembatan, memandang takjub pada deretan pegunungan yang seolah memagari kota kecil gue, lengkap dengan air tak beriak tanda tak dalam yang diselingi dengan enceng gondok dan tanaman padi. Perahu yang hilir mudik di rerimbunan enceng gondok menambah keeksotisan rawa. Di sepanjang mata berkeliaran, hijau dan biru berkolaborasi maha sempurna, diciptakan oleh Maha Segalanya. Gue melongok ke kaki jembatan, para lelaki penyabar berbaris rapi, mengulurkan umpan demi suplai protein gratis untuk keluarga di rumah atau hanya untuk lari sejenak dari rutinitas. Gue naik selangkah di batas jembatan, merentangkan tangan lebar lebar demi belaian angin sepoi sepoi dan sedang akan menutup mata untuk sensasi sejuk sepenuhnya ketika tiba tiba,


“Dek, istighfar!! Astaghfirullahaladziiiiiiiim....!!” Mbak Ega tiba tiba mengajukan interupsi. Gue bingung. Kenapa gue tiba tiba disuruh berdzikir. Dikira gue akan mengakhiri segala keringat tumpah darah kerja keras gue selama ini di Rawa Pening ini?? Sepening peningnya hidup gue, gue nggak akan menyerah karena gue fans beratnya D'Massive. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah....tetap jalani hidup ini...melakukan yang terbaik...

“Ya kali mbak..aku mau terjun. Tenggelam kagak, dipancing mas mas iya...”

“Terus mau ngapain?”

“Menikmati hidup, mumpung di Jembatan Biru, Sumurup, TUNTAAAAAANG !!!”

Tuesday, 10 February 2015

Ini Soal Temen KOST 5 ( Perubahan Dimulai Dari SINI)

Gue rasa teman teman kost gue berbanding dengan teman teman kost orang lain di Jakarta adalah 1 : 1000. Kenapa?? Temen temen kost gue ini tidak hanya menjadi penghuni kamar sebelah atau penghuni rumah seatap. Lebih dari itu, teman kost gue ini adalah teman berbagi suka dan duka, lara dan nestapa. Temen kost gue juga temen beerkumpul bersama dan berbagi cerita tentang banyak hal, seperti keuangan, percintaan dan karier. Temen kost gue ini juga temen bergadang. Maka, tak jarang Rhoma Irama mampir ke kost kita sambil nenteng gitar.

“Bergadang jangan bergada a a aaaang! Kalau tiada artinya...Bergadang boleh saja aa aaaa...kalau ada perlunya..”

“Ini perlu, bang. Ini demi menjaga kestabilan hormon estrogen dan endofrin kita.” Ucap Candra kemudian.

Gue cuman ngangguk ngangguk, tanda setuju. Setiap Kamis atau Jumat malam, gue, Candra dan Mbak Tutik menyempatkan diri duduk dengan begitu harmonis menyaksikan Stand Up Comedy di Kompas TV. Lalu, kita akan tertawa terbahak bahak. Mbak Tutik sampai guling guling, Candra lompat harimau dan gue dumang campur Morena. Bahkan, lelucon yang nggak lucu pun kalau ditonton bareng bareng rasanya jadi lucu bingit.
Gue suka multitasking tiap kali nonton. Tiap iklan gue akan lari ke kamar buat ngelanjutin ngeblog. Lalu, tiap iklannya selese, gue akan lari lagi ke ruang tamu karena TV gue di kamar entah kenapa nggak ada Kompas Tvnya.

Wednesday, 4 February 2015

Mengintip Kilahan Rawa Pening dari atas Bukit Rong, Tuntang - Semarang!!

Bertumpu pada jalinan kayu bertali di bibir tebing, gue menelan ludah. Ini indah!! Jauh di depan mata, genangan air raksasa menyembul di antara hehijauan, dilanjutkan gerombolan pohon karet dan rumah penduduk yang memencar secara acak. Gue berasa kayak ngeliat miniatur kota Ambarawa. Semuanya terlihat kerdil namun hidup. Pegunungan yang bersusun tegak bersambung menambah cantik keindahan alam Indonesia yang tak bosan bosannya gue nikmati. Udara dingin merasuk masuk menguliti kulit dan tetesan air mulai berguguran. Namun, tak apa. Sedingin apapun hatigue tubuh gue, pemandangan ini sudah lebih dari sekedar menghangatkan.

Kabar gembira untuk kita semua, pemandangan ini nggak jauh jauh dari Ambarawa!!

Well yeah, here I am!! Goa Rong, Tuntang!!!


----

28 Desember 2015
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...