Thursday, 27 November 2014

Hello Monas, See You Monas!!

Thursday, November 27, 2014 21 Comments
Tiang putih bersih yang menyundul langit dengan kuncup emas yang berkilatan serupa kobaran api abadi beralaskan cawan raksasa, perlambang semangat perjuangan para pahlawan yang berkobar kobar. Orang orang menyemut demi pemandangan Jakarta sepenuhnya dari puncak tiang. Ahh, lihat!! Pedagang layang layang pun tak ingin ketinggalan. Dia menerbangkan layang layang berlapis lapis di udara, lalu di bawahnya pasangan muda mudi menikmati kibaran kertas berekor itu merajai langit Jakarta sambil minum es potong biar ngirit. Namanya juga usaha. Dengan berbagai modus, orang berbondong bondong melingkupi bangunan dan sekitarnya di Minggu menjelang siang itu. Terbakar terik mentari??? Hahaha. Biarkan saja asal hati senang!!



Terdapatlah tiga wanita yang menjadi salah satu pengunjung bermodus yang ikut menjejali tugu. Mereka adalah Umami, Annisa, dan Meykke alias gue. Yapp, minggu itu adalah minggu cerah yang mengantarkan kita bertiga menikmati udara Jakarta dan melalang buana bersama bis TransJakarta yang cuman bayar 3.500 saja.

Malam sebelumnya.....

Friday, 21 November 2014

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter 3 (Pencil! Book! Lunch Box!!)

Friday, November 21, 2014 13 Comments

Ngajarin anak kecil itu rentan hal hal tak terduga. Gue masih inget saat kali pertama gue ngajar anak kecil. Walau pun skripsi gue juga mengamati kegiatan belajar mengajar anak anak TK di deket kampus sebanyak 20 kali, tapi ternyata ngeliat orang ngajar anak kecil sama ngajar anak kecil itu bedanya luar biasa. Dulu saat skripsi gue cuman duduk di pojokan sambil –makancattembok- megangin si Konhi*. Saat istirahat juga gue cuman ngeliatin mereka main tanpa berani menyentuhnya. Takut nangisin. Anak orang.

Lalu, tiba saatnya gue harus menghadapi kehidupan. Saat itu adalah kali pertama gue ngajar anak kecil. Dan apa yang terjadi?? Anak pertama merem melek sambil tiduran di karpet dan anak kedua berkaca dengan bibir bergetar seakan berkata, “Pulangkan aku pada mamaku.”

Dari situ setiap hari gue terus belajar tentang bagaimana meluluhkan hati anak anak. Sekarang, saat gue sedang labil kayak anak SMP, begitu gue ngajar mereka, gue jadi stabil lagi. Saat gue kangen adik gue di rumah, begitu gue ngajarin mereka lalu joget bareng atau mainan tembak tembakan, kangen gue akan sedikit terobati.

Beberapa bulan yang lalu saat gue belum begitu mahir menangani anak kecil yang suka susah dimengerti kayak hati, ada anak yang entah kenapa tiba tiba dia nglemparin mainan ke tembok. Gue kalang kabut. Gue mengatakan kata kata mujarab serupa “Heyyy, don’t do that. I will not give you stamp yaaaaa....” Jadi, setiap anak akan dikasih stamp setiap habis kelas dan saat stamp sudah mencapai jumlah tertantu, stamp itu bisa ditukar mainan. Lah ini, begitu gue bilang gitu, bukannya mereda, dia malah menggelepar gelepar di karpet sambil ngusap ngusap mata yang mulai ada airnya. Gue makin tidak mengerti akan hidup ini. Gue bingung. Gue kehilangan arah hidup. Rasanya gue juga pingin ikutan gelesot sambil meres mata, tapi gue takut nggak dibayar.

Tapi kemudian gue mengerti kalo ngajar anak itu nggak cuman pake otak, tapi pake hati.

Anak itu bernama Marvel. Sekarang dia kelas 1 SD dan sudah mahir menulis kata kata, tapi dalam bahasa Indonesia.

Miss : “Write down eraser (baca : ireser), please...”

Marvel : “Tulisannya gimana?”

Miss : “e-ra-ser.”

Lalu, dia akan menulis eraser dengan benar. Dia juga bisa menulis book, pen dan pencil. Hobi Marvel itu mainan lego. Pilihannya adalah tiga, kalau nggak bikin senjata/pistol, rumah atau pesawat tempur. Saat membuat pistol, dia pasti akan membuat gun dua.

“This is for Miss Meykke.”

Lalu, kita akan main tembak tembakan. Tebak gue jadi apa?? Monster!! Tiap kali Marvel dan teman temannya selesai bikin gun, gue juga akan diberi gun satu dan serta merta gue akan berdiri sok gagah, lalu jalan kayak monster yang setelah gue pikir pikir gue lebih mirip Genderuwo nggak makan 5 hari.



Marvel dkk : “Shoooot Miss Meykkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!”

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter 2 (ABC!)

Friday, November 21, 2014 15 Comments
Selain anak anak SD kayak part. 1 kemarin yang udah mampu presentasi sederhana, gue juga ngajar anak TK!! Iya, lu nggak salah baca. Gue juga ngajarin anak TK. Ngajarin apa?? Selain gue ngajarin betapa indahnya hidup ini, gue ngajarin anak TK bahasa Inggris. Gue mulai memperkenalkan mereka tentang kursi yang bernama bule chair, lalu table adalah meja, dan red tidak lain tidak bukan adalah merah.

Saat gue masih anak guru baru dulu, dahi gue mengernyit tiada tara saat gue ditugaskan untuk ngajarin anak umur 2 tahun bahasa Inggris. OMG! Mereka jalan aja belum katam, mereka juga cuman bisa bilang sebatas mama sama mamam tiap kali lafer. Ini gue harus ngajarin mereka bersilat lidah pake bahasa bule. Gue kalang kabut, hati gue malang melintang. Gue galau setengah mati. Apa yang harus gue lakukan?? Gue nggak bisa tidur. Tiap kali tidur gue mimpi ngajarin “This is a car. This is a dog. This is life.” Bukannya ngikutin apa kata gue, gue malah dikasih pipis. Ternyata mimpi buruk. Tapi, saat itu kepalang tanda tangan kontrak basah, mau nggak mau gue harus lalui. Dan gue mulai ngajarin anak anak bilang ‘dog!’, ‘cat!’. Tiap kali mereka mau minta tolong bukain botol susu, gue ngajakin mereka bilang, “open please, Miss...”. Karena beberapa dari mereka masih celat atau nggak bisa ngomong dengan jelas, yang ada mereka bilang ‘pepis miss...pepiss miss...’. Kalau sudah dibukain mereka juga harus bilang ‘thankyou...’. Tak jarang dari mereka yang bilang, ‘sengku..’. Tapi tak apa karena gue yakin benar pepatah asal Jawa. “Alon alon asal kelakon!”. Pelan pelan nggak papa, yang penting berusaha dan pada akhirnya terlaksana. Dari situ, gue mulai mencintai anak anak balita.

Karena mereka juga walaupun gue jauh dari rumah, tapi gue nggak pernah kekurangan pelukan. Tiap hari abis joget joget, gue dipeluk sama mereka. Nanti kita main peluk pelukan. Gue akan bersimpuh sambil melebarkan dada dan menghitung satu dua tiga. Di hitungan ketiga mereka akan berlari ke arah gue. Tinggal dikasih bunga warna kuning sama pohon satu biji gue udah kayak film India.

“Hug meeeeeeeeeeeeeh!” Dan mereka akan berhambur di pelukan gue. Asiiiiiiik!!! Gue juga belajar banyak dari mereka. Belajar untuk sabar –menghadapihidupfana-.

Dan mereka adalaaaaaaaaaaaah......


Wednesday, 19 November 2014

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter. 1 (Ini Poster!)

Wednesday, November 19, 2014 15 Comments
Genap 1 tahun dua bulan gue bergelar guru Bahasa Inggris di salah satu English Course di Jalan Alternative Cibubur, Bekasi Kota ini. Setiap hari gue bertemu dengan murid beraneka macam kayak anggrek. Di sana, kisaran umur anak yang gue ajar mulai dari balita sekitar 2 tahun sampai SMP. Jelas dong, cara mengajar anak balita sangat berbeda dengan cara mengajar anak yang akan beranjak ababil remaja.

Semuanya memberikan warna tersendiri bagi gue. Hanya saja, kalau boleh memilih, mengajar anak yang akan beranjak ababil remaja terasa jauh lebih mudah. Gue nggak lagi menganggap mereka sebagai murid, tetapi sebagai teman.

Gue punya empat kelas yang bermuatan kelompok anak anak ini, yaitu setiap hari Senin dan Rabu sore, Selasa dan Kamis sore, Jumat sore, dan Sabtu sore. Murid paling senior adalah Zahara. Bahkan, dia udah ada di sana saat gue masuk menjadi guru. Bahkan, dulu Zahara sendirian. Zahara adalah type gadis yang berani, selalu aktif, cepat bertindak, dan tanggap. Ini Zahara apa penanganan gawat darurat?? Zahara juga gemar menggambar dan membuat komik. Bahkan, dia pernah menggambar untuk teman temannya sekelas plus gue sebagai Miss Meykke serupa ini!



Ini khan so sweet abis!

Thursday, 13 November 2014

Gagal Ala Rumput Liar

Thursday, November 13, 2014 71 Comments

Gagal. Satu kata yang ditakuti para penduduk bumi. Gagal biasanya dikonotasikan sebagai hal yang berujung nestapa, durjana, nelangsa, butiran debu. Gue yakin semua orang yang hidup di dunia ini pernah mengalami kegagalan.

“Duh, gue gagal. Berat badan gue naik ½ kg abis makan nasi padang. Padahal gue udah janji buat punya badan kayak  barbie.”

Atau

“Matamu kenapa gede sebelah? Abis nangis?”

“Aku.....aku....gagal.”

“Gagal kenapa?”

“Gagal.....gagal...move on. Kemarin aku liat dia makan mie ayam sama pacar barunya. Sakitnya tuh di siniiihhhh”

Sampai...

“Duh, daritadi gue mules, tapi tiap kali gue siap ngeden, gue gagal.”

“Kayaknya lu harus banyak makan pepaya deh.”

Gue adalah termasuk orang yang juga banyak mengalami kegagalan dalam hidup gue. Gue pernah gagal jadi juara kelas, gagal kejaring di buku BE yang pertama, gagal menang lomba nulis, gagal keterima jadi guru di sekolah, dan juga kegagalan lainnya. Namun, gagal yang satu ini adalah gagal yang paling berkah walau gagal yang satu ini hampir bikin gue gagal napas.

Sama seperti kebanyakan anak SMA yang mengadopsi filosofi bang Rhoma Irama, gue jatuh cinta. Kata Bang Rhoma Irama, masa muda adalah masa yang berapi api. Gue berkobar kobar. Hanya saja saat itu gue nggak tau tentang filosofi lain yang menentang bang Rhoma Irama, jangan bermain api nanti membakar diri.

Setelah sekolah, gue dan pacar gue akan makan siang bersama. Lalu, kita bermain bersama. Intinya, gue dan dia bahagia tiada tara. Bahkan, setiap hari gue dan dia selalu mengumbar kasih sayang seperti yang tergambar di bawah ini.

“Lagi apa sayang??”

“Hihi, kenapa yang? Kangen ya?”

“Hihi, tau banget. Lagi apa ciiiiiih...”

“Lagi mikirin kamu sayaaaang....kamu lagi mikirin aku nggak??”

“Iya sayaaaaang, I love youu...”

5 menit kemudian....

“Masih mikirin aku nggaaaaaak yaaaaaang??”

“Cieeeee...yang pingin dipikirin...aku tuh udah nggak perlu mikirin kamu..*emotmelet ”

“Ih, kamu jahat, yang. Kok gitu sih *emotsedih”

“Soalnya kamu kayak Pancasila...”

“Hah?? Kamu lagi belajar PPKN?”

“Nggak, sayang...soalnya kamu kayak Pancasila, udah hafal di luar kepala. Nggak usah dipikirin pasti udah kepikiran.”

“Ih, kamu...Jadi makin sayang sama kamu. I love you..”

“I love you more, yang...”

“I love you much much more, yank...”

“I love you much much much more, yank...”

“I love you much much much much more, yank...”

“I love you much much much much much more, dinda...”

45 SMS berikutnya,

“ I love you much 46x more...”

“ I love you until I die..”

“I love you until I live again after I die...”

“I love you until I go to Yaumul Mahsyar...”

“ I love you until I go to Yaumul Ba’ats..”

“I love youuuuu.....muach!! :*”

Gue dan dia mengunjungi banyak tempat, melakukan banyak hal seperti belajar kelompok dan bikin PR tapi boong, dan meninggalkan jejak dimana mana. Gue dan dia tumbuh bersama dengan harapan bisa tumbuh dewasa dan menua dalam jalinan hati dengan degup yang selalu seirama bersama kayak kata pak Mario Teguh. Dari putih abu abu, hari berganti dan tahun merangkak. Kita kayak laut, pasang dan surut. 

----

5 tahun kemudian....

Tuesday, 11 November 2014

INI SOAL TEMEN KOST 4 ( KELABANG!!! )

Tuesday, November 11, 2014 10 Comments
Setelah setahun lebih merantau, gue tahu satu hal. Ada tiga jenis tempat tinggal sementara berbayar untuk para perantau seperti gue. Yang pertama adalah kontrakan. Kontrakan berbentuk satu petak rumah yang berisi kamar mandi, ruang tamu dan kamar yang disusun berjajaran. Ibarat kate, satu rumah dihuni sendiri, hanya saja banyak temennya di sebelah kanan dan kiri. Yang kedua adalah kost satu paket, jadi kita bakalan dapet satu kamar dengan satu kamar mandi dalam. Biasanya satu rumah akan berisi banyak kamar dengan dua sampai tiga lantai dan penghuninya tidak akan kenal satu sama lain, bisa jadi ini adalah semi apartment, tapi kamar sama kamar mandi doang. Nah, yang ketiga adalah satu rumah yang banyak kamarnya dengan kamar mandi, dapur, ruang tamu berbagi atau di luar. Biasanya kost jenis ini lebih bersifat kekeluargaan karena begitu kita mau nyuci atau mandi, kita pasti keluar kamar dan peluang untuk bertemu dengan penghuni kost lainnya akan terbuka lebar. Dari percakapan sepintas serupa :

“Baru pulang, mbak...”

“Iyaaa...”

“Bajunya seksi, punggungnya bolong dua...”

“Makasiiiih..”

Sampai pada akhirnya,

“Eh , tadi lagunya yang kamu play pas kamu mandi itu bagus, bikin aku kangen mantan. Mau dooong..”

“Ya udah sini mbak ke kamar, aku blututin..Ngomong ngomong emang belum move on?”

“Belum, baru putus tiga hari yang lalu...”

Tik bersambung Tok

Tuesday, November 11, 2014 12 Comments
sumber

Tik bersambung tok, tok menuju tik
Berputar pada detik yang sama, terus melangkahi masa
Senin berangsur Selasa, Sabtu berujung Minggu
Bergerak dari hulu ke hilir, kembali hulu lalu mencapai hilir
Sampai terkilir

Menatap atap yang sama, menginjak tanah yang serupa
Memutari poros yang sama, menjaring asa yang senada
Ku terjebak masa

Ku ingin menyeberang samudera,
Mencari ikan cupang di pulang seberang
Berlari bersama anak pesisir di bibir lautan
Menjaring udara beralaskan pasir beratapkan awan berarakan

Ku ingin berlari lebih jauh
Mengayuh seribu langkah, menukik dan bergulung
Ku ingin menyelami dasar lautan
Menari bersama ombak beralaskan karang 
Timbul tenggelam

Menyeruput pagi bersama udara pekat,
Ku mulai jengah
Di sini, air mulai surut
Bara mulai padam
Di sini ku kehilangan kata 'cari'