Wednesday, 1 October 2014

Ini Soal TEMAN KOST 1

Di tanah rantau ini gue punya dua macam teman berdasarkan letak geografisnya. Pertama, gue punya teman kerja karena kita berteman di tempat kerja. Yang kedua, gue punya teman kost karena kita berteman saat sudah pulang dari tempat kerja. Menurut gue pun penanganannya macam macam teman berdasarkan letak geografis ini sangat berbeda. Di tempat kerja, gue berteman dengan teman teman kerja gue sebagai Miss Meykke yang suka joged joged di kelas tak jarang kayang pake hulahop tapi boong. Nah, di kost gue berteman dengan teman teman kost gue sebagai Meykke yang suka ngeles tiap disuruh bangun pagi. Percakapan pertama gue setiap hari hampir dipastikan seperti ini.

Barbara : “Miko, banguuun!!”

Gue : “Hmm? Jam berapa sih?”

Barbara : “5..katanya mau jogging..”

Gue : “Iya, ntar 5 menit lagi.”

Kasandra : “Iya, liat aja mbak Barbara. Pasti 5 menit kali 10.”

Jam 8...

Gue : “Loh, mbak? Kok nggak jadi jogging?”

Barbara : “Lah, orang kamu dibangunin katanya 5 menit lagi.”

Gue : “Yah mbak, khan aku udah bilang banguninnya yang keras digedor gedor... Itu tadi aku masih dalam keadaan sadar dan nggak sadar.”

Esok harinya...

Barbara : “Mikoooooooo!!! Bangunnnn!!!” Dia menggedor gue dari segala sisi mata angin. Tembok utara, selatan, barat daya, semuanya. Gue yang baru tidur hampir tengah malam udah kayak cacing dikasih Molto cair.

Gue : “Aduh, jam berapa sih? Berisik amat mbak ah!”

Barbara : “Ya Alloh..berilah Hamba kesabaran ya Alloh.... Kuatkanlah Hamba...” Mbak Barbara cuman bisa mengelus tembok karena mengelus dada udah mainstream.
---

Tapi, sebelum gue bertemu dengan sebut saja Barbara dan Kasandra itu, ada jalan panjang yang harus gue lalui. Gue namakan lika liku anak kost level newbie.

Dalam 23 tahun gue merem melek, baru kali ini gue ngekost. Tapi, awal awal gue ngekost di kost ini gue bener bener butiran debu di gurun Gobi. Tiap gue pulang ke kost, kost udah kayak kuburan Jawa. Kalau kuburan Cina mah masih mending banyak yang pacaran tanpa modal di sela sela nisannya. Tapi sumpah itu bukan gue.

Lah, ini kuburan Jawa. Gue pulang jam 6 magrib dan lampu belum ada yang nyala. Artinya, belum ada yang pulang.

“Assalamualaikum...” Gue membuka pintu kost.

“Waalaikumsalam...” Gue jawab sendiri.

“Belum ada yang pulang nih?”

“Belum....”

Di kost ini ada lima kamar dengan satu ruang tamu, satu dapur dan tempat cuci baju berikut dua kamar mandinya. Gue sengaja mengambil kost daripada kontrakan. Di sini kontrakan adalah rumah yang dipisah pisah. Satu kotakan rumah sudah berisi kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi yang bisa dihuni sendiri. Namun, kost adalah satu rumah yang berisi banyak kamar dengan shared living room, kitchen and bathroom. Alasan gue memilih kost sangat jelas. Biar gue punya teman.

Tapi memang manusia boleh berencana Tuhan yang menentukan itu sangat benar adanya. Dulu, gue punya empat teman kost. Yang pertama adalah mbak Maya. Mbak Maya ini kamarnya ada di paling depan. Gue rasa mbak Maya ini keren sekali. Dia kemana mana pake headset lalu ngomong bahasa Inggris. Kadang, di kamar dia juga telponan sama bule pake speaker.

“Hay, what are you doing, Peter?”

“I’m talking with you now, see?”

“Hahaha, alright. I see..what will you do after this?”

“I want to...ehm..you want to know so much or just know?”

“Ehm...what yaaaa...I want to know so much then..”

“ihh, you are want to know only! Knowing every particular subject!”

“Hahahaha...come on..I just want to know..”

“After this, I will..ehm..I will...live together with you, forever...”

Huoooookkkk!!! Buset gue yang nggak sengaja lewat depan kamarnya hampir keselek jengkol. Oke fine emang waktu itu malam minggu tapi ya nggak perlu pacaran pake di speaker juga keles. Emang mbak Maya ini nggak bisa ngerti kalau sakitnya itu di sini??? Sejak saat itu gue menilai kalau mbak Maya ini tega banget sama gue. Pingin banget gue mendobrak kamar dia dan bilang ke dia.

“Mbak maya, kamu tega sama aku!”

“What’s wrong with you?”

“Why do you have to use speaker? Kill it! Kill it!!” Gue meronta.

“Lu pikir ini kecoak, main kill kill aja.” Gue emang orangnya gitu. Tiap kali gue emosi, bahasa Inggris gue celemotan.

Tapi gue urungkan niat gue untuk mendemo mbak Maya. Gue akhirnya hanya bisa kembali ke kamar dan cari kecoak. Hati gue tertikam sembilu. Namun, beberapa bulan kemudian mbak Maya pindah kost. Bye, mbak Maya..... Gue dan mbak Maya akhirnya nggak sempet ngeteh bareng sambil ngomong bahasa Inggris.

"You know what Mbak Maya, I can speak English, too."

Yang kedua adalah mbak Titik. Ibarat kata mbak Titik ini adalah ibu kost kedua. Dia yang paling senior. Kegemarannya adalah bersih bersih dan nonton bola. Dulu, sebelum sampah dibagi sendiri sendiri, dialah yang membuang sampah setiap hari. Dia juga yang beli gas, dia yang suka nyapu dan bersihin teras. Soal nonton bola jangan pernah dipertanyakan lagi. Bahkan, pertandingan bola dini pun dia jabanin walau pun besoknya dia harus berangkat super pagi buat kerja. Pernah suatu malam gue lagi mimpi ketemu mantan. Saat itu adegannya kita lagi menikmati sunset di sebuah danau. Kemilau sinar keemasan mulai berhamburan di sepanjang penjuru, elok sekali. Kita sama sama diam karena diam seribu tahun pun gue mau asal berdiam bersama sama, mendiami masing masing hati hingga benar benar diam sampai batas sel tubuh. Namun, tiba tiba HP mantan gue bunyi keras banget!!

“Buset dah, tuh HP kamu yang bunyi, yang?”

“Ihh, nggak lah. Orang kemesrek kayak begitu juga.”

“Lah, terus ini bunyi gaduh apaan dong??”

“Tipi kamar kamu belum dimatiin kali?”

“Udah lah aku nggak pernah ketiduran pas nonton tipi.”

Dan suara itu kemudian merangsek masuk dan memenuhi udara sampai akhirnya gue saking kagetnya gue langsung duduk. Sumpah yang ini beneran. Dari terlelap gue tiba tiba udah bangun dalam posisi duduk! Ternyata mbak Titik lagi liat bola di ruang tamu dan lupa daratan. Di keheningan malam, dia tiba tiba mengeluarkan kemampuan spiritualnya.

“GUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLL!!!”

Buset bener dah, mbak Titik!

“Mbak Titik, goalnya biasa aja keles!” Abis itu gue nggak bisa tidur sampai subuh. Bukannya apa apa, gue jadi galau dan malah bikin puisi. Setelah kejadian itu gue berdoa setiap hari, semoga nggak ada pertandingan bola yang disiarkan malam malam. Gue takut kena serangan jantung. Gue masih muda, radar gue masih bergerak bebas di angkasa. Gue belum bisa nyanyi “Perahu Kertas”nya Maudi Ayundya.

Tapi, dia sosok pemalu menurut gue. Pernah suatu ketika dia lagi nonton tipi di ruang tamu. Karena gue udah bosen ngomong sama tembok, kipas angin, magic com dan kardus susu Anlene, gue memberanikan diri untuk ikutan nongkrong sehabis kerja. Gue lalu muncul dengan muka yang gue bikin semanis mungkin. Gue akan duduk saat mbak Titik ke kamar buat ambil cemilan. Dia balik lagi dengan cemilan di tangan. Di ruang tamu pun masih berserakan kertas kertas hasil rekapnya karena dia bekerja di sebuah toko furniture.

“Hai mbak Titik...” gue menyapa duluan, sksd orang sering bilang karena kalau snsd itu girl-band Korea Selatan.

“Eh, mbak...” Gue yakin dia nggak tahu nama gue karena dia berhenti di suku kata mbak dengan bola mata yang bergerak gerak ke atas lalu ke bawah berulang ulang. Tapi mulutnya nggak berbusa sih.

Lalu, tiba tiba dia membersihkan berkas berkasnya dan akan beranjak pergi.

“Lho mbak, nggak jadi liat tipi?”

“Nggak mbak, acaranya ternyata jelek jelek....” Padahal gue tahu kalau jam segini di hari ini dia suka liat MotorGP.

“Ini acaranya yang jelek apa yang mau nemenin nonton yang jelek??” Gue dirundung nestapa begitu ditinggalkan mbak Titik sendirian di ruang tamu. Buat apa gue nonton sendirian? Kalau mau sendirian juga gue bisa nonton di kamar gue. Di titik ini gue merasa berteman begitu susah. Pingin rasanya gue ngepang rambut gue lalu duduk di depan pintu kamar mbak Titik.

“Do you wanna build a snowman?
Come on lets go and play
I never see you anymore
Come out the door”

“Go away, Mbak....”

“Oke, byeee....”

Cari temen kost cucok gagal.

Tapi, akhirnya gue berhasil bercakap cakap begitu intens dengan mbak Titik. Seperti biasa, saat itu mbak Titik sedang nonton tipi sambil makan buah mangga. Dan karena gue adalah orang yang tak mudah menyerah, gue memberanikan diri untuk ikutan nonton sama mbak Titik lagi. Kalau pun nanti Mbak Titik bilang ternyata acaranya jelek, gue akan terima takdir gue apa adanya. Tapi, kali ini gayung gue bersambut. Tapi sumpah, ini bukan soal nenek nenek.

“Hai mbak Titik...”

“Hai mbak....” Seperti biasa, dia berhenti di suka kata mbak karena dia entah lupa atau memang belum tau nama gue.

“Lagi makan apa mbak?”

“Mangga, kamu mau?”

“owh, nggak kok....cegluk!”

“Oh iya mbak, kamu nanti hari Kamis bisa pindah di kamar aku yang lebih luasan.”

“Lah, kenapa emang mbak Titik?”

“Aku mau pindah...”

“Kenapa Mbak Titik?”

“Aku disuruh pulang aja sama mama aku, udah cukup ngekostnya...”

“Emang rumahnya dimana mbak?"

" Citerep...”

“Owh...gitu ya mbak..boleh deh mbak...aku ngomong dulu sama bu kost ya mbak...”\

“Iya boleh...”

Dan dari percakapan intens dari hati ke hati itu gue sekarang nempatin bekas kamar mbak Titik yang lebih longgar dengan letak paling strategis menurut gue. Kamarnya ada di tengah rumah dengan luas hampir dua kali kamar gue yang dulu. Sayangnya percakapan gue dengan mbak Titik terjadi di detik detik terakhir dia di sini padahal gue udah ngekost di sini waktu itu hampir 7 bulan. Dan ini adalah kali pertama gue ngomong dari hati ke hati sama mbak Titik.

Ahh, masih banyak kenangan gue bersama mbak Titik dan penghuni penghuni kost lainnya yang udah kayak lampu nya Aladin. Ajaib bingit!


To be continued.

10 comments:

  1. Iya. Memang sulit mencari teman kost yang sehati. Gue semenjak semester 1 sampai sekarang udah semester 5, udah beberapa kali pindah kost. Memang, mencari yang nyaman itu tidak gampang :)

    ReplyDelete
  2. ahaha lucu deh.
    aku gak kebayang aja gimana kalo mbak mey beneran nyanyi "do you wanna build a snow man" di depan kamar mbak titik. mungkin mbak titik seketika kejang.
    berati kosan mbak mey itu orangnya semacam individualis gitu yah. satu sama lain cukup tau ajah gitu

    ReplyDelete
  3. Kasian amat mb Meykke harus sebegitu tersiksa, tertegun, teriris-iris dengan sosok mereka teman-teman kos yang super unik dengan kebiasaan dan adat masing-masing. Buahahaha, tapi yang paling miris adalah ketika nyuruh matiin speakernya mb Maya. Pasti mb Meykke JOMBLOOOO kaaaan..... ketauan niyeee *krik krik*

    ReplyDelete
  4. Wah, emang kalo satu kos sama orang-orang yang dari awal nggak kenal atau nggak punya kesamaan (misal tempat kerjanya sama atau dulunya satu kampus) itu emang susah.

    ReplyDelete
  5. Mbak meey, semoga dapet temen kos yang minimal gamalu-maluin dan bisa di ajak buat kondangan temen pas nikah. Temen hidup gitu hoho *kemudian dilempar speaker dari jauh*

    ReplyDelete
  6. Yang sabar, yaa, punya temen kost kayak gitu. Temennya lucu-lucu. Apalagi mbak Titik. :D

    ReplyDelete
  7. interaksi yang baik dan pas akan menjadi cahaya tanpa settting..
    seperti halnya mbak mey...dan wajar sih...seperti halnya dunia keluarga...

    ReplyDelete
  8. cerita ini kayaknya pernah diceritain juga deh.....atau entah orangnya beda...intinya orangnya cuek dan nggak perdulian..bener ya mbak? udah pernah ditulis tentang orang ini?

    ah..akhirnya perpisahannya tidak dalam bentuk sad ending...alhamdulillah

    ReplyDelete
  9. One Rate. Delicious Meals. Countless Activities. Mohonk Mountain House is a spectacular Victorian Castle resort overlooking Lake Mohonk, in the heart of a scenic natural area rolex replica comprised of more than 40,000 acres. Since 1869, guests have found a place for recreation replica handbags and renewal of body, mind, and spirit in our unique mountaintop setting. The sight of this enchanting castle replica shoes, sweeping lawns, award winning gardens never fails to delight. With 259 rooms, Mohonk Mountain House offers accommodations to suit every need. Rates include accommodations replica handbags, meals, and afternoon tea and cookies, along with a wide variety of activities and entertainment.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...