Monday, 27 October 2014

LEPAS

Monday, October 27, 2014 14 Comments
SOURCE

Menangkap masa berujung lalu,
Jelas ku tak mampu
Meneropong masa berkalung lalu,
Yang tersisa hanyalah seonggok pilu

Maka, tak perlu sedu sedan itu
Memintal asa berakhir nestapa
Menjaring rasa berbelai derita
Lalu, untuk apa?

Maka, tak perlu deru lara itu
Memeluk malam lekat lekat,
Menghapus rasa pekat,
Karena sampai kayangpun ku tak mampu menggenggam bahumu kuat kuat

Kini, gejolak ku hilang sirna
Dadaku kosong mlompong
Sosokmu tenggelam dirajai malam
Senyumku merekat lebar lebar
Penuh seri menjuntai di tiap tiap jengkal

Maka, tak perlu perih merintih
Karena cinta bukan empedu
Dan tulang rusuk tak seharusnya menusuk
Radar tak seharusnya pudar 

Ku lepaskan radarmu tinggi tinggi di atas awan
Berharap kau mampu temukan hati sehangat tumpukan daun basah
Karena ku akan temukan cinta seindah pertemuan langit dan mentari di ujung senja


Bekasi, 27 Oktober 2014
08.27 AM

Sunday, 26 October 2014

Terkepung Ijo Royo Royo Beratap Biru Berarak Putih,Kebun Raya BOGOR!

Sunday, October 26, 2014 14 Comments
Gue pikir, selama gue tinggal di Bekasi ini, tepatnya perbatasan antara Bekasi Kota dan Jakarta Timur, hidup gue tidak akan bergelimang pepohonan atau at least pohon mangga yang buahnya kemana mana. Dan ternyata gue salah!!

Sekarang, tepat di hadapan gue berdiri rapi berjajaran pohon pohon seusia neneknya nenek gue! Di kanan dan kiri, sepandang gue menengok tidak ada apa apa selain kumpulan pohon pohonan dengan rumput yang bak permadani hijau, menutup sempurna tanah yang subur. Ijo royo royo. Angin sepoi sepoi juga tak putus putus membelai mesra ujung jilbab gue, membelai mesra daun daun yang sedang asyik berfotosintesis, membelai mesra sayap para burung yang berkecipak di antara dahan dahan, dan membelai mesra para jomblowan jomblowati yang sedang menghalau kegalauan. #akurapopo


Ah, lihattt!! Di ambang batas pandang mata gue, berdiri megah istana kepresidenan lengkap dengan pilar pilar gagah penyokong bangunan berwarna putih sempurna itu. Di depannya menggenang air tenang berhias teratai dan bunga lili dengan banyak daun yang mengembang indah mengambang!!!


Wednesday, 22 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 2)

Wednesday, October 22, 2014 10 Comments

Setelah nonton Dracula Untold, sesaat sebelum bobok bareng, gue dan Uma jelas jelas menyusun jadwal untuk keesokan harinya. Rencananya gue dan Uma akan bangun jam 5. Kita akan sholat dilanjutkan belanja di Ibu sayur langganan gue (langganan di sini maksutnya at least udah pernah belanja di sana sebanyak 2 kali bersama Mbak Tutik). Gue dan Uma akan masak bersama di ambang subuh!! Ahh, gue nggak bisa bayangin saat saat gue dan Uma berkolaborasi meracik bumbu citarasa nusantara dan membalutnya menjadi makanan siap santap. Ngebayanginnya aja gue udah berasa kayak Farah Quinn.

“Well, it’s well done!”

“This is it!!! Tumis daun pisang saus tiram bumbu balado !! Heeeeeemmm...nyummy!!” Lalu dengan serta merta gue dan Uma menunjukkan daun pisang dipotong potong ditambah udang berbalur cabe cabean dimana mana.

Gue dan Uma akan berangkat naik motor menuju TMII pukul 7 pagi karena kita akan menghabiskan waktu seharian di Taman Mini Indonesia Indah. Rencananya sungguh indah.

Dan lagi lagi dengan dalih manusia boleh merencanakan Tuhan yang menentukan, apa yang terjadi keesokan harinya?

Bekasi, 05.15 setelah sholat Subuh....

*melakukan gerakan kepiting kepanasan di atas kasur

*5detik kemudian berhenti bergerak

Uma : “Seph, ayo belanja.”

Gue : “5 menit lagi.”

5 menit kemudian....

Uma : “Seph, gimane masaknya?”

Gue : “Udah beli mateng aja.”

Uma : “sbfdbsjfbdfygdfbdjbghfbgjf”

Friday, 17 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 1)

Friday, October 17, 2014 7 Comments
Gue percaya kalau setiap apa yang kita yakini bisa terjadi pasti bisa terjadi. Gue percaya jika ada niat berekor amin pasti akan disulap menjadi nyata oleh Tuhan, terlepas dari bagaimana cara kita menyebut nama-Nya. Mungkin ini terdengar berat bingit, gue berasa kayak mau nulis siraman rohani. Tapi, kalau pun lu nggak percaya, at least lu harus percaya sekelumit cerita berawal empedu berakhir madu kali ini.

Hampir setahun lalu, Uma, sahabat gue menjenguk gue di tanah rantau. Saat itu gue masih tergolong ORB, Orang Rantau Baru. Uncluk uncluk Uma bersama Dany menjenguk keadaan gue di perantauan. Tidurlah kita kayak kepiting kering malam itu, di penghujung tahun 2013. Dany harus pulang keesokan harinya, dan Uma masih bertahan di kost gue dengan mengemban satu misi.

“Seph, aku pingin ke Taman Mini Indonesia Indah.” Sorot matanya penuh dengan kobaran semangat. Dan gue mengamini. Dan keinginan itu harus hancur lebur termakan kenyataan kalau ternyata orang Jakarta susah move on. Dan bagai sudah jatuh, terkena tangga, tertimpuk mangga tetangga dan tak bisa bangkit lagi berakhiran dengan the granule of dust, Uma yang ceritanya ke Jakarta mau refresing malah berakhir sengsara. Sehabis kita nonton 99 Cahaya di Langit Eropa, Uma teriak panik! Gue jelas ikutan panik!!Matih, dia ternyata cacar air!!!

“Kenapa Ya Allooooh???? Kenapaaaaaaaaaaaaaa?????” 

 Maka, luluh lantah lah semua rencana yang udah kita bina. Liburan yang harusnya menyenangkan, naik railway memutari TMII di ketinggian, berpose di tiap tiap rumah adat, menjelajahi bentangan Indonesia hanya di bentangan batas pandang, menyusuri dari Padang sampai Merauke yang berjajar pulau pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia hanya dengan kayuhan kaki satu hari berakhir anti-klimaks dengan gue yang ketularan cacar air 2 minggu kemudian.

“Seph, sesungguhnya kita sedang diuji. Tapi, kata kamu, kamu ke sini mau menebar semangat dan kebahagiaan untukku yang sedang di perantauan. Tapi, kok kamu malah menebar virus cacarrr!!! Gatel niiiiih!!! Di perut mau meletus satu niiihhhh!!” Gue hilang kendali setelah kena demam sehari sebelumnya.

Tapi, seperti halnya putus adalah jodoh yang tertunda, gue dan Uma yakin dan percaya kalau gagal hanyalah keberhasilan yang tertunda. Satu tahun yang lalu, gua dan Uma berjanji kita akan ke TMII, bersama sama!! As soon as possible. Setelah itu, gue kembali menjalani hidup gue di Jakarta dan Uma bekerja di Lombok. Kita sama sama meninggalkan hometown kita, Semarang demi masa depan yang lebih berpijar. InshaAlloh....

Nih kalau nggak percaya gue kemas cerita penuh empedu kita setahun yang lalu :



--------------------------
13 Oktober 2014

“Huwaaaah, itu pulaunya bagus banget, Seph!!"

Friday, 10 October 2014

Ini Soal Teman KOST 3 (Nangkanya Mbak Titik)

Friday, October 10, 2014 15 Comments
Buat gue, temen itu seperti monyet. Bukannya gue pingin ngatain mereka walau pun pada dasarnya banyak yang sama. Gue inget waktu gue Fieldtrip bareng murid murid gue di Ragunan bulan Maret lalu. Di sana ada monyet ekor panjang, Beruk, Bekantan, Lutung Jawa, Surili, Emperor Tamarin, monyet Baboon, dan masih banyak lagi. Intinya, temen itu kayak monyet, banyak jenisnya.

Temen pertama yang paling berkesan buat gue dulu adalah Iis, temen TK gue. Gue dan dia itu udah kayak kopi sama ampas. Gue kopi, dia ampas karena kemana mana kita selalu berdua. Bahkan, dulu gue sampai rela nyium keteknya pagi pagi pas gue belum sarapan demi nyobain parfum emaknya yang baru.

“Ke, liat deh liat, atu tadi disemplotin palfum cama mamah.”

“Ih, benelaaan?? Aku jga mau dooong...”

“Yahhh, cuman ada di ketek akuuu Ke..kamu mau nyobain??”

“Mau mau mauuuu...”

“Cini cini, ini macih banyak koook..”

Adegan selanjutnya gue ngendus ngendus keteknya yang emang masih harum parfum Puteri milik emaknya yang warna ungu.

“Atu becok juja mau ahh...”

Thursday, 9 October 2014

Ini Soal Teman KOST 2 ( Gara gara Jamur )

Thursday, October 09, 2014 9 Comments
Hari ini adalah hari perdana gue masak tanpa Yuli Casandra, atau gue panggil aja Casandra karena kalau Yuli gue takut divonis jadi pembeber aib orang tanpa teding aling aling. Casandra kemarin pagi pergi ninggalin gue sendirian di kost. Padahal malamnya gue sempet kelonan sama dia pas mati lampu, walau beberapa menit kemudian dia pamit ke kamar milik mbak Tutik Barbara yang akan gue panggil Barbara dengan alasan yang senada.

“Duh, Mey. Di sini panas banget. Aku pindah ke kamar Barbara aja ya...”

“Yah, Casandra. Aku tidur sendirian dong.”

“Lah, kan tiap hari juga tidur sendirian..”

“Oh iya juga ya.”

Lalu dia pindah ke kamar Barbara yang mungkin lebih adem. Maklum, kipas gue nggak bisa geleng geleng karena nggak ada suplay tenaga. Perasaan bentuk kamarnya juga sama, tapi entah kenapa Barbara bilang kamar gue panas. Setelah gue telusuri lebih lanjut semalam suntuk, gue berargumentasi kalau panas itu datang dari sini. *tunjukdada

Paginya, Casandra pergi beneran. Dia sempet gue anterin sampai ke jalan raya karena barang bawaannya lebih berat daripada badannya sendiri. Dan hari ini untuk pertama kalinya gue masak bareng Barbara, cuman kita berdua.

Memang benar adanya kalau manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan. Cuman, salahnya kita adalah kita cuman merencanakan tanpa adanya usaha, kerja keras dan doa. Rencananya hari ini gue dan Barbara akan jogging sambil cari tukang sayur. Setelah jogging sambil belanja, gue dan dia akan masak syahdu demi kemaslahatan perut bersama. Tapi sayang seribu sayang, gue dan Barbara baru bangun jam 5.30. Gue liat dari balik jendela, debu sudah mengepul dengan kenalpot beranak pinak menghasilkan asap pekat penuh bumbungan.

“Barbara, kalau kita jogging jam segini mah sehat kagak, bengek iya.”

 Lalu, gue dan dia memutuskan untuk cari tukang sayur pake motor biar nggak kesiangan. Dalam hal memasak, gue ibarat Maicih level ½. Bener, lu nggak salah baca. Bahkan, pada awalnya gue nggak bisa bedain mana panci dan mana wajan hingga gue dibully sama Casandra dan Barbara selama tujuh hari tujuh malam. Tapi, dari sini gue percaya dengan pelajaran hidup nomor 5

Saturday, 4 October 2014

Tertambat di Kalbu

Saturday, October 04, 2014 7 Comments

Satu bahkan lebih,
Tak lagi kita beradu mata, menatap dalam retinamu
Hingga tembus segala lara, teduhkan segala luka
Hampir menginjak bilangan dua,
Debaran kita tak lagi berkecipak seirama,
Meninggalkan bulir bulir yang terus berkubang dengan hati berlubang

Bahkan, kau tahu bukan?
Aku berlari menembus pekatnya malam, teriknya siang
Demi sebuah goresan masa yang sempurna pudar,
Demi sebuah angan tentang sosokmu yang harus sudah hilang,

Tak peduli sejauh apa langkah mengayuh,
Sosokmu terus berlabuh, pedihku tak urung terus kambuh
Aku terus menemuimu di ujung malam dan sibuk mengusirmu setelah sadar
Aku terus memutar kisah kita tak peduli kata ‘kita’ tak lagi ada
Tak ubahnya sebuah paku yang kuat menancap,
Bak sosokmu dalam bingkai relungku.
Tak ubahnya sebuah aku yang berteriak di dasar lautan,
Sampai tercekat dan mati perlahan, suara ku tak kan keluar
Menggebu, berletupan. Hanya saja, tak pernah terdengar
Karena letupan rindu hanya tertambat di kalbu.


                                                                                                         Bekasi, 26 Februari 2014.

(Ini adalah puisi fiksi yang ada di salah satu buku antologi saya dengan tema tertentu, terinspirasi dari cerita seorang teman.)

Wednesday, 1 October 2014

Ini Soal TEMAN KOST 1

Wednesday, October 01, 2014 10 Comments
Di tanah rantau ini gue punya dua macam teman berdasarkan letak geografisnya. Pertama, gue punya teman kerja karena kita berteman di tempat kerja. Yang kedua, gue punya teman kost karena kita berteman saat sudah pulang dari tempat kerja. Menurut gue pun penanganannya macam macam teman berdasarkan letak geografis ini sangat berbeda. Di tempat kerja, gue berteman dengan teman teman kerja gue sebagai Miss Meykke yang suka joged joged di kelas tak jarang kayang pake hulahop tapi boong. Nah, di kost gue berteman dengan teman teman kost gue sebagai Meykke yang suka ngeles tiap disuruh bangun pagi. Percakapan pertama gue setiap hari hampir dipastikan seperti ini.

Barbara : “Miko, banguuun!!”

Gue : “Hmm? Jam berapa sih?”

Barbara : “5..katanya mau jogging..”

Gue : “Iya, ntar 5 menit lagi.”

Kasandra : “Iya, liat aja mbak Barbara. Pasti 5 menit kali 10.”

Jam 8...

Gue : “Loh, mbak? Kok nggak jadi jogging?”

Barbara : “Lah, orang kamu dibangunin katanya 5 menit lagi.”

Gue : “Yah mbak, khan aku udah bilang banguninnya yang keras digedor gedor... Itu tadi aku masih dalam keadaan sadar dan nggak sadar.”

Esok harinya...

Barbara : “Mikoooooooo!!! Bangunnnn!!!” Dia menggedor gue dari segala sisi mata angin. Tembok utara, selatan, barat daya, semuanya. Gue yang baru tidur hampir tengah malam udah kayak cacing dikasih Molto cair.

Gue : “Aduh, jam berapa sih? Berisik amat mbak ah!”

Barbara : “Ya Alloh..berilah Hamba kesabaran ya Alloh.... Kuatkanlah Hamba...” Mbak Barbara cuman bisa mengelus tembok karena mengelus dada udah mainstream.
---

TIPS KERJA ASIK (Jilid 1)

Wednesday, October 01, 2014 10 Comments

“Selamat menempuh hidup baru ya, welcome to the jungle!” Setahun silam temen temen gue menyelamati gue. Akhirnya gue wisuda dan sarjana pendidikan tersemat asik di penghujung suku kata Yuntiawati. Gue kala itu tak benar benar mengerti arti dari welcome to the jungle. Apa setelah ini gue akan berkelana di hujan hutan tropis di pedalaman Kalimantan sana? Bahkan gue juga nggak tahu hutan di Kalimantan sana termasuk hutan hujan tropis atau bukan. Tapi, gue berharap nggak ada lagi kebakaran hutan, asapnya kemana mana.

Tapi, begitu gue transformasi dari pelajar penuh nestapa menjadi pekerja bergelimang durjana, gue jadi tau kalau tempat kerja memang adalah hutan kehidupan yang sesungguhnya. Memang, gue nggak bakal berkelahi melawan ular, tapi manusia berlidah ular tak terhitung jumlahnya. Memang, gue nggak bakal sakaratul maut dengan bisa mengalir di sekujur tubuh, tapi gue bisa sembelit tujuh hari tujuh malem karena terkontaminasi bisa dari lidah lidah bercabang dua. Memang, gue nggak akan bertemu dengan siluman beruk ataupun siluman kalajengking, tapi orang orang bermuka dua kayak siluman susah dibedakan. Gue lebay in dikit biar asik.

Tapi, santay mukanya biasa aja, jangan mengkerut sampai alisnya nyambung sama pupil mata kayak gitu. Begitu gue berjuang selama setahun menghadapi berbagai serangan bisa, serigala tutul dan siluman buruk rupa, gue akhirnya bisa menulis tips ini. Ini adalah tips dari hati terdalam gue. Yang gue tahu, hidup itu udah susah jangan dibikin makin susah. Hidup itu udah berat jangan dibikin makin berat. Tiap kali gue naik roller coaster, gue jadi ingat tentang lika liku hidup gue. Nanti gue kasih tau kelanjutannya. Sekarang gue mau nulis tips dan trik tanpa intrik dulu. Here they are :