Friday, 26 September 2014

SEJAK KAPAN


                                                                                                                              Meykke Santoso

Malam ini udara begitu dingin. Rinau hujan tampak begitu mesra menyatu dengan tanah basah yang wanginya tercium hingga ke dalam kamar kostku. Genap setahun sudah aku melalang buana di kota nan asing ini. Iya, aku yang sudah katam mengenyam bangku perkuliahan memutuskan diri untuk bisa bekerja di pusat Indonesia. Begitu mendapat tawaran interview, aku langsung terbang dan menempuh 500 km dari kota kecil itu.

Aku menekan tut HPku dan dengan segera nada sambung terhubung. Satu detik, dua detik, si empu HP tak juga mengangkatnya. Delapan detik, yeah! Suara hangat nan renyah itu mengudara melingkupi telinga dan tembus sampai ke dada. Seketika letupan rindu seakan berhamburan ingin melesat ke sana.

“Halo, yang?” Senyum sumringah tampak jelas tergambar di mukaku.

“Hai yang..lagi ngapain kok lama banget ngangkatnya?”


Adalah Bayu. Dia adalah salah satu sumber dari segala sumber. Sudah lima tahun kita membingkai masa bersama. Aku mengenalnya saat masih duduk di bangku kuliah. Kita teman satu fakultas. Dengan sejalannya waktu, hati kita berlabuh di rasa yang senada. Sesimple itu kita mengurai masa dan masih terus berhitung hingga malam ini. Bahkan, dia pula yang mendorongku untuk bisa mengejar anganku di tanah ini.

“Yang, aku dapat tawaran kerja di Jakarta..” Aku menunduk dalam dalam, meresapi setiap sensasi antara senang dan sedih. Saat itu aku sedang dalam dilema. Senang karena selangkah lagi angan yang aku tata akan menjadi nyata, sekaligus sedih karena empat tahun kita bersama akan semakin dekat dengan ujian.

“Bukannya emang ini yang kamu inginkan dari lama, yang... Mumpung muda, gapai aja selagi bisa...”

“Lalu, kita??” Aku menoleh ke arahnya, mengharap untaian dukungan akan dia ulurkan. Harapku bertepuk sempurna.

“Sayang, khan masih ada HP, ada facebook, ada skype... Walau pun aku tak bisa mengenggammu serupa ini, tapi toh mata kita masih bisa beradu..” Dia menjalin erat tanganku malam itu. Karenanya, aku membulatkan tekadku, bulat sempurna. Bayu di mataku adalah laki laki sempurna, laki laki yang aku yakini akan menjadi masa depanku bersama dan mengurai masa sampai ke ujung usia. Dan di sinilah aku sekarang, menginjak tanah yang sama walau di kisaran jarak bermil mil jauhnya. Kembali aku mendengar suaranya di ujung telepon. Rinduku memuncah dan hanya sepenggal suara aku harus merasa puas.

“Iya yang, sedang di luar...ada rapat malam bareng direksi...” Memang suara di ujung telepon terdengar sangat ramai..

“Yang, nanti aku telepon lagi ya, nggak papa khan?”

“Iya yank...”

---
Sedetik sebelum aku tutup.

“Siapa yang?” 

“Ah bukan, mama aja cerewet banget nanyain aku pulang jam berapa..”

Cepat cepat aku menekan tombol merah HPku. Dadaku berdesir hebat dan tanganku gemetaran. Mataku seketika terasa begitu panas dengan bulir yang seperti tsunami merangsek membanjiri pipi. Aku lantah.


“Sejak kapan aku jadi mamamu?”

*cerpenku yang ada dalam salah satu buku antologi bertema LDR. This is FICTION only.

9 comments:

  1. Ampuuunnn aku nangis Kakak. Kenapa tiba-tiba aku jadi takut banget ya LDR-an setelah baca cerita kamu ini? Ya meskipun fiksi sih... Tapi twist-nya dapet banget. Hiiiii. Keren! Lama nggak blogging, baca cerita ginian langsung sensitif hahaha

    ReplyDelete
  2. Oh LDR nih ceritanya. LDR memang hubungan yang menuntut lebih ya. Harus lebih sabar, lebih sayang, lebih setia, dan lebih pulsa tentunya. Gue juga pernah LDR, tapi...Ahsudahlah :D
    Nice post :)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Aaaaah mbak meeey ngalir banget ini sungguh. Kok ya kebetulan pas Muter lagu nya Christina Perri yang distance. Jadi gimana gitu.

    ReplyDelete
  5. Wah kamu terlalu, Mey. Bikin yang lain takut LDR-an jadinya. Hahahaha. Ceritanya keren tapi. Lanjutkan ! :)

    ReplyDelete
  6. LDR adalah sebuah teori yang sudah bisa gue pecahkan. Pada dsarnya LDR itu hanya sampulnya, tapi kalo kak mey tau isi dibalik LDR, maka bahagia itu deket banget sama kita. Nice post.

    ReplyDelete
  7. Pertama-tama kakk Mey, itu pas paragraf pertama ada kata yang typo. Yang "rinau" itu lho. Hehe.

    Twist-nya berasa, kak Mey! Kejam banget kalo sampe semua LDR jadi kayak gitu.

    ReplyDelete
  8. Duh, akhirnya jleb banget, itulah kenapa LDR sering dibully sama jomlo, mereka sama - sama gak punya pegangan pas jalan.

    Itu cowoknya orang India ya? ngomongnya pake 'khan' bukan 'kan'.

    ReplyDelete
  9. Tau gak sih Mey, gue lagi LDRan... jangan bikin takuut -_-

    ReplyDelete