Tuesday, 23 September 2014

KUNCUP EMBUN DI KALA FAJAR MENGEMBANG




                                                                                                            Meykke Santoso
Dingin, gigil dan beku
Terulur sendu bergelimang rindu
Mengulur lengan demi menyelimuti hatimu yang dirundung pilu
Banyak masa kita tak bertatap muka, berbenih rasa menggumpal menyesakkan dada

“Kapan?”

Kata tanyamu menguntit seribu harap untukku,
Taukah kamu pun aku mengirim sepucuk do’a bertalu talu

Lenganku hanya mampu menjemput tubuhmu di bunga tidurku,
Pun bayangku hanya mampu mewarnai harimu di sejumput malam malamku,
Dan taukah kamu, hatiku terus memekikkan namamu di sinaran bulan,
Di banyak bulan yang terpintal, di banyak masa dengan seribu asa

Tataplah hanya pada relungku,
Bersandarlah hanya pada bahuku,
Tak pernah aku melangkah maju, tanpamu melekat di jiwaku

Tak perlu remuk redam itu, tak perlu sedu sedan itu,
Hatiku hanya menggaungkan namamu
Maka hitunglah bintang yang bersinar terang di ambang malam
Maka hitunglah warna pelangi setelah hujan
Maka tutuplah matamu dan panjatkan do’a untuk masa depan bernama kita,
Dan di antara kuncup embun kala fajar mengembang,

“Sayang, aku akan pulang...”

6 comments:

  1. Aaaah mbak meeeey terdengar merdu di telinga, hingga rasanya pesan ini tertuju untuk diri ku. Hihi

    Pulang lah, pulang dan aku kan menyambutmu dengan seulas senyum..

    ReplyDelete
  2. Tuh kan tuh kan tuh kan. AKu jadi homesick gara-gara baca tulisan ini. Aku kangen ibuk. :(

    ReplyDelete
  3. Baca tulisan ini sambil dengar lagu Dewa19, kangen. beeeeeeehh, pas banget suasananya. Hahahaha

    ReplyDelete
  4. Sangat mewakili perasaan saya sekarang 😌

    ReplyDelete
  5. sayang, aku akan pulang..

    ah, kok aku banget ya..
    sambil dengerin lagunya Letto - Ruang Rindu.

    ReplyDelete
  6. Kalo aku akan ngomong "Sayang, tunggu aku pulang."

    Terimakasih telah membuat malam ku mengingat orang tersayang kak :)

    ReplyDelete