Tuesday, 30 September 2014

Ini Soal SOPIR ANGKOT


Begitu gue keluar dari mobil tante gue, gue mulai mengedarkan pandang ke segala arah sisi mata angin, timur-selatan-tenggara barat daya-barat barat laut. Senin pagi kemarin gue harus pulang dari rumah tante gue di Gunung Putri, Bogor ke kost gue yang ada di salah satu sisi jalan alternative Cibubur, Bekasi. Kali ini gue naik angkot. Nomor 38. Berderet deret angkot kecil warna biru telur bebek udah kayak deretan bebek beneran.

“Pak, sampe Nagrak?” Pak sopir melengos dan langsung tancap gas. Tidak.

“Pak, sampe Nagrak?” Pak sopir 2 menggeleng satu kali dan langsung banting kemudi ke tengah jalan. Memang nggak semua sopir mau mengantarkan sampai Nagrak, tujuan paling ujung.

Dengan menggendong tas ransel segede gaban gue mulai aktip mencari angkot paling cocok di tengah lautan orang berseragam. Ada yang berseragam merah putih bersama dengan Ibu atau Ayah mereka, berseragam putih biru bergerombol, seragam putih abu abu berpasang pasangan, juga seragam dengan begitu banyak warna dari merah muda sampai hijau daun polos yang semuanya adalah perempuan.

“Pak, sampe Nagrak?” Secepat kilat gue mengayunkan langkah dan tepat di belakang pak sopir. Sang bapak mengangguk dan angkot 38 ini akan mengantarkan gue ke Nagrak!!

Friday, 26 September 2014

SEJAK KAPAN


                                                                                                                              Meykke Santoso

Malam ini udara begitu dingin. Rinau hujan tampak begitu mesra menyatu dengan tanah basah yang wanginya tercium hingga ke dalam kamar kostku. Genap setahun sudah aku melalang buana di kota nan asing ini. Iya, aku yang sudah katam mengenyam bangku perkuliahan memutuskan diri untuk bisa bekerja di pusat Indonesia. Begitu mendapat tawaran interview, aku langsung terbang dan menempuh 500 km dari kota kecil itu.

Aku menekan tut HPku dan dengan segera nada sambung terhubung. Satu detik, dua detik, si empu HP tak juga mengangkatnya. Delapan detik, yeah! Suara hangat nan renyah itu mengudara melingkupi telinga dan tembus sampai ke dada. Seketika letupan rindu seakan berhamburan ingin melesat ke sana.

“Halo, yang?” Senyum sumringah tampak jelas tergambar di mukaku.

“Hai yang..lagi ngapain kok lama banget ngangkatnya?”

Thursday, 25 September 2014

SENYAP BERSAMAMU



Meykke Santoso
Empat sisi tembok dengan satu sisi hati
Sepi menyeruak sunyi mengambil tempat
Semakin larut, semakin sunyi senyap serasa tak berpenghuni
Dan memang, sendiri merajai

Bertalu talu aku memanggilmu
Di keheningan malam, di tiap bulir harapan
Kapan heningmu bisa merasuki heningku
Bergejolak di keheningan yang seirama
Bersama

Sebenarnya ini bukan hening,
Tak peduli seberapa diam, sosokmu bertalu talu memenuhi kalbu
Maka akan aku resapi saja tiap tetes senyapmu
Berharap suatu hari kau menjamah hatiku, dan berdua kita ciptakan damai tanpa kata
Karena sunyi tak berarti pilu, senyap tak berarti pengap

Selama ada di sisimu, senyap 1000 tahun pun aku mau

Bekasi, 19 April 2014

(Ini adalah puisi yang dibuat untuk salah satu buku antologi, tapi aku lupa buku yang mana ya... -.-. But poem is all about fiction for me :D)

Tuesday, 23 September 2014

KUNCUP EMBUN DI KALA FAJAR MENGEMBANG




                                                                                                            Meykke Santoso
Dingin, gigil dan beku
Terulur sendu bergelimang rindu
Mengulur lengan demi menyelimuti hatimu yang dirundung pilu
Banyak masa kita tak bertatap muka, berbenih rasa menggumpal menyesakkan dada

“Kapan?”

Thursday, 18 September 2014

Ini Soal KOST (mungkin 1)


Gue yakin semua orang tahu kalau lingkungan bisa mempengaruhi seseorang. Orang yang hidupnya bergelimang fasilitas dari jemputan pulang pergi sekolah, model baju yang tinggal tunjuk langsung berubah kepelimikan dari dipajang toko menjadi dipajang tubuh, gadget gadget dari yang bisa slide sampai bisa see saw biar kayak playground, dan segala macam bentuk penyempurnaan hidup yang bersumber dari rupiah jelas berbeda dengan orang yang terbiasa memeras keringat dulu setiap kali menginginkan sesuatu. 

“Ahahaha, hidup itu buat gue segampang membalikkan telapak tangan.” Ucap orang type satu sambil nyanyi Yamko Yamko Rambe Yamko sambil membolak balikkan tangan di depan dada.

“Sama. Bagi gue juga hidup itu kayak membalikkan telapak tangan..........gajah.”

Monday, 15 September 2014

Ini Soal JODOH (TAMAT)


Kalau Cinlok adalah Cinta Lokasi walaupun gue pikir tadinya itu aci dicolok, kalau CLBK adalah Cinta Lama Bersemi Kembali walau pun gue pikir tadinya celana bekas, bisa jadi CBF adalah Cinta Bersemi di Facebook walaupun kesini sini kayaknya itu lebih mirip Celana Baru Fakai. Tapi kali ini jelas gue nggak bakalan bahas soal celana, gue bahas soal..ehm...soal....faktor paling kuat yang bisa bikin seorang insan mabuk kepayang sampai mabuk beneran gara gara menepuk gagal.

Tak hanya Miss Mawar, sebenarnya gue juga kenal beberapa teman atau bahkan saudara yang menemukan teman hidupnya di social media atau yang paling populer facebook. Beberapa hari yang lalu juga ada salah satu temen gue yang memposting foto tentang chat pertama di facebook antara dirinya dan suaminya. Begini kira kira.

“Hai, boleh kenalan nggak?”

“Boleh...”

“Kamu tu sepupunya adiknya budenya tetangganya mantan pacarnya adik ipar ikan masnya aku ya?”

“Iya, mas..hehehe..”

“Oh ya, besok sebelum aku ke Suriname, aku mau mampir dulu ke sana, bisa temenin beli cilok dulu nggak di perempatan Jetis?”

Friday, 12 September 2014

Ini Soal JODOH (2)


“ Emang gimana prosesnya Miss Mawar?” Siang itu setelah gue selesai menggulung memory ke belakang tentang tingkah polah Melati gagal meretas cinta bersama cowok antah berantah dari facebook, gue kembali fokus mendengarkan cerita Miss Mawar.

Bukannya apa apa, tiap kali gue baca atau nonton berita banyak sekali kasus kasus asusila dan penipuan yang bermula dari facebook. Bahkan, gue baru saja baca dari viva news bahwa Lembaga Perlindungan Anak Garut mencatat dalam tiga bulan terakhir setidaknya ditemukan 15 tindak asusila terhadap anak yang bersumber dari facebook.

DedYzAnkKrwangTimurBnciKeksihPndustaygUdelnaKamana2z : “Hiiii, au byehh knlan gx?”

KamilaBebyzBala2CntxaslSumdanxBauKncurrrUdelnaBdongx : “Hiiii, byehh. asl yah :)”

Nah, gue rasa dari kalimat super ampuh itulah semua malapetaka dimulai. Mereka akan mulai ngobrol intens kayak Melati, lalu mulai panggil “ayang’, sampai yang paling ekstrim “mamih-papih”. Lalu, ketemulah mereka di tempat tempat sepi seperti samping kamar mayat rumah sakit, kebun kopi belakang rumah sampai gubug di tengah tengah sawah mirip yang diomongin Jamrud soal Surti dan Tedjo.

Gue pikir Surti bisa jadi salah satu korban tindak asusila yang dilakukan Tejo yang saat itu baru saja mudik.

Surti sumringah arjunanya pulang
Tiga tahun berpisah nyari dana di kota
Mereka melepas rindu dipematang sawah
Hingga malam selimuti desa

*Jemari Tejo mulai piknik dari wajah, sampai lutut surti
Tanpa sadar sarung merekapun jadi alas
Mirip demo memasak
Tejo mulai berakting di depan Surti

Masang.. alat.. kontrasepsi

Surti menjerit, serentak menutup matanya
Surti menangis kecewa arjuna berubah *jadulabis *ketahuanpenulisnyalahirtahunberapa

Itu ngeri. Tapi, menurut gue facebook ibarat dua sisi kepingan mata uang 500 rupiah.

Thursday, 11 September 2014

Ini Soal JODOH (1)


“Tiga bulan Miss.” Gue terperangah sampai ada lalat terbang rendah.

“Lu pikir mulut gue gua?” Tapi kenyataan ini memang harus bikin terperangah banget.

Gue freeze selama lima detik mendengar jawaban salah satu teman kerja gue.

“Waww, tiga bulan doang?”

“Iya Miss. Kita ketemu dua kali, lalu yang ketiga proses lamaran, dan keempatnya kita ketemu di depan penghulu.” Sampai sini gue yakin lu pasti tahu arah percakapan gue dengan salah satu teman kerja, sebut saja Mawar, 26 tahun. Ya, sudah dua tahun dia membina mahligai rumah tangga bersama sang suami.

“Miss, dulu sebelum menikah pernah pacaran berapa lama?” Satu pertanyaan inilah yang menjadi awal mula percakapan sarat makna siang tadi.

Awalnya gue pikir dia dikenalkan oleh seseorang, kemudian menjalani tahap yang bernama ta’aruf. Si pria akan meminta seseorang untuk menanyakan pada Miss Mawar perihal apakah Miss Mawar sudah siap membangun cinta bersama dan menjadi seorang istri, serta apakah Miss Mawar sudah dilamar oleh orang lain atau belum. Lalu, perkenalan melalui pihak ketiga dilakukan yang bila Miss Mawar bersedia, proses akan dilanjutkan perkenalan lebih mendalam. Kalau mereka sudah nyanyi lagunya Ussi Sulistyowati

“ku memang punya trick
buat kau click dengan diriku
bukan dengan magic cuma asik
saat denganmu…”

Selamat, Anda bisa melanjutkan ke tahap berikutnya!! Perkenalan itu pada akhirnya akan berujung pada lamaran dan moment super duper bersejarah dengan hamburan kata SAH yang berdebam di satu waktu tertentu. Proses seperti ini yang selama ini gue tahu tentang ta’aruf. Kalau Bob Marley bilang “No woman, no cry”, gue rasa Taaruf lebih condong ke “No being in relationship, no cry”. “Say no to being relationship, let’s go to KUA.”

“Owh, jadi kamu ta’aruf gitu, Miss? Kayak yang di pilem pilem Ketika Cinta Bertasbih itu?? Atau film jaman aku SMA, Ayat Ayat Cinta?”

“Uhm, sebenarnya kita lewat facebook sih.”

Wednesday, 10 September 2014

SUDAH


Meykke Santoso

Lekat lekat, kuat kuat..
Begitu nyata menggumpal, mengendap
“Sudah...”
kata ajaibmu seketika mencabik cabik lembaran relungku

Anganku beterbangan, bergulung gulung di kenangan tak berujung
Buliran hujan mengantarkanmu pada hatiku,
Di lindungan daun melengkung itu, manis sekali kau bisikkan
“Genggam hatiku”
Berhamburan kita menerjang hujan,
Menari nari tanpa keraguan,
Seolah olah bumi tak kan pernah berhenti berputar.

Ujung kukuku memutih di genggaman erat gagang daun melengkung
Gigiku gemeretak, nafasku sesak!!
Linangan berjatuhan, deraian berhamburan
Nyatanya, hatiku kini retak!
Bahkan, lebih dari butiran debu, relungku adalah lebur


Di deraian hujan, porosku berhenti berputar
Tak peduli betapa pekat rasa terpendam,
Kau memaksaku untuk padam,

Di jarak 10 centimeter, di naungan lengkungan payung,
meluluhkan relung di ambang lantah,
menghancurkanku di batas lebur,

“Sudah...”

*Puisi yang ada di buku Antology ke- 5, "Cinta di Balik Hujan". I never have such an experience, so it is all fiction. 

Friday, 5 September 2014

JATUH


THROW THE HANDS UP, SAY 'AAAK', AND DO FUN!!! Dunia Fantasi (DUFAN), Jakarta Utara!!

Tahun 2007, SMA kelas 2, depan tipi bersama Ibu.

“Woooooo, buset Bu! Sekarang di Dufan ada wahana kambing guling raksasa kayak gitu!! Tuh, coba lihat Bu!! Diputar putar dua lapisan!! Ibarat kate bumi itu dia udah berputar di poros bumi sendiri masih berputar mengelilingi matahari. Nih masih dimiringin ke kanan dan ke kiri!! Itu keren!!”

“Ke, kui medeni.” Ucap Ibu gue, singkat padat dan jelas. Tanpa ekspresi. Itu menakutkan, Ibu bilang.

“Waaaahhh, sumpah aku pingin Bu. Kapan ya aku bisa ke sanaa. Kalau aku ke sana, pokoknya aku harus naik itu. HARUS!!!” Gue mengepalkan tangan kanan seperti saat meneriakkan kata “MERDEKA!”

Tahun 2014, guru bahasa Inggris, di atas gagang kambing guling, sedang akan melesat bersama teman kerja.

“I can’t believe this!!”

Sesaat kemudian jejeran tangga mulai meninggalkan gue dan para pengunjung yang sudah duduk manis berjajaran dengan sabuk dan pengaman yang berbalut kencang. Gagang raksasa itu mulai naik sedikit demi sedikit! Gue sudah akan mencapai ketinggian maksimal saat tiba tiba si gagang sekonyong konyongnya menjatuhkan diri ke bawah, lalu kembali ke atas, dan ke bawah, lalu kembali ke atas.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” Gue mulai berteriak kegeringan saat gagang menjungkir balikkan gue di ketinggian. Gue berguling guling ke atas dan ke bawah tepat di pucuk ketinggian. Gue kemudian membentangkan tangan gue lebar lebar. Gue pasrah sepenuhnya nyawa gue hari itu kepada sepasang pengaman yang memagari dada gue lekat lekat. Walau gue bisa merasakan dada, pundak, dan punggung gue terbentur dindingnya setiap kali berpindah gravitasi, sejalan dengan jungkir balik si kambing guling. Maklum, tubuh gue nggak cukup berisi untuk ngepas ke pengamannya. Gue bisa merasakan angin Jakarta menabrak wajah gue dengan begitu membabi buta. Kaki gue kadang di atas, menyisakan kepala gue yang melambai lambai di bawah. Seakan ingin menggoda, gagang raksasa terdiam sejenak dengan posisi serupa itu.  Gue duduk dengan posisi terbalik!! Terkadang gue seperti tengkurap di antara udara, lalu gue akan kembali jungkir balik! Sekarang gue seakan akan menangkap langit saat tiba tiba dada gue ditarik ke bawah dan dijungkir balikkan!

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk, Oh My Gooooooooooooooodddddd!!!” Berputar dan dibalikjungkirkan di udara dengan kecepatan maksimal membuat gue lupa diri.

“Sudaaah!!! Ampuuuunnn!!!!” Ucap mas mas berperawakan tambun di samping gue.

Kembali si gagang ditarik ke atas dengan kecepatan santay saat seorang cewek berteriak,

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa....”

“Beluuuuuuuuuuuuuum...” Ucap gue refleks.

“Owh, belum ya?” Ucapnya yang kemudian disusul dengan kambing guling yang kembali mengamuk.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk.” Sekarang gue yang teriak kencang kencang demi dada yang lega, demi peredaran darah yang lancar ke otak, demi pikiran yang plong, demi kesehatan mental gue.

“Oh God, I’m flyiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!”



Wednesday, 3 September 2014

Terimakasih, Blogger Energy!! "The Most Favourite Blogger 2014", CIYUSAN???





postingan paling pertama tahun 2010, alay beuuddd!!


Itu adalah postingan paling perdana gue. Tahun 2010, hampir lima tahun yang lalu. Saat itu gue iseng iseng berhadiah bikin blog setelah gue dikasih rahasia paling spektakuler sepanjang sejarah.

“Anak anak, you know what??”

“What, pak guru?”

“Kabar gembira untuk kita semua!!”

“Apa pak, kulit manggis sekarang ada ekstraknya khan tahun ini belum adaaaaa...”

“Oh belum ya? Ya udah sekarang Bapak mau memberitahu ke kalian semua kalau sekarang buku diary ada versi onlinenya!”

“Wowwww!! Ini jelas lebih mencengangkan daripada sekedar kulit manggis ada ekstraknya, pak!!”

“Aku tercengang!!” ucap temen gue satu kelas.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...