Friday, 8 August 2014

Mudik Dan Balik Berjamaah, Sakitnya itu di SINI!!

18.00 WIB...

Ibu : “Halo Ke? Sampai mana?”

Gue : “Bu, baru sampai Indramayu bu...Tadi aku nglewatin pinggiran lauuut!!! Appiiik!!” *gagalfokus

Ibu : “Penting Ke? Penting?? Masih jauh ituuu...mau sampai jam berapa?”

Gue : “Hanya Alloh yang tahu, Bu...”

---

21.00 WIB

Ibu : “Sampai mana Ke?”

Gue : “Cikampek Bu.Apa yang harus aku lakukan?” *mulaigalau

Ibu : “macet?”

Gue : “Nehi Bu. Cuma mogok berjamaah.”

Ibu : “Kamu lagi di jalan raya khan?”

Gue : “No Bu. Aku lagi di parkiran raksasa.”

Ibu : “Ah, mungkin kamu sudah lelah.....”
---

23.00 WIB

Ibu : “Ke, sampai manaa??”

Gue : “Cikarang Bu. Aku butiran debu.”

Sudah genap 28 jam sudah gue duduk dengan berbagai pose andalan, seperti : selonjor rebahan, rebahan kaki ditekuk satu, rebahan kaki ditekuk dua, miring ke kanan kaki ditekuk crossing, miring ke kiri kaki ditekuk crossing, duduk sikap yoga, telungkup, -nungging-. Tapi nggak nyampe nyampe. Hari mulai gelap dan pekat mulai merajai Ibu Kota saat pada akhirnya seorang laki laki setengah baya yang menjaga pintu depan berseru

“Mbak, Pasar Rebo mbaaaaaaak....”

Gue mendelik pasrah saat mendapati kalau gue akan segera diturunkan di Pasar Rebo pada pukul 00.15 WIB.
Gue, wanita tanpa ilmu bela diri yang yoga juga baru bisa nungging ambil napas buang napas, nggak punya semprotan merica, berat badan di ambang 45 kg saja, membawa 1 koper segede gaban dengan satu backpack yang beratnya bikin punggung robek plus satu tas slempang yang bikin jalan miring ke kanan karena nggak seimbang. Dan memang kerja itu katanya “Welcome to the jungle!” Tapi ya nggak gini gini amat kali pak, bu. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah saat gue melihat sepintas ke luar.

“Apa ini penampakan pasar Rebo yang gue sering lihat, tepatnya untuk ketiga kalinya?? Ini pasar Rebo di bagian mana?” Pasar Rebo adalah sebuah daerah yang kalau tidak salah ada jalan fly overnya, yang banyak angkot warna merah merekah dengan nomer rupa rupa, yang kalau jalan lurus dikit belok kiri lu akan mendapati halte transjakarta. Tapi ini nggak.

“Apa mungkin ini Pasar Rebo Kliwon?? Atau Rebo Wage?” Otak gue mulai nggak sinkron karena kelebihan beban –hidup-.

“Apa yang akan terjadi sama gue, Ya Alloh??” Gue turun dengan perasaan takut, ngeri, dan was was. Di Jakarta, gue nggak takut kuntilanak dan temannya. Di sini, kuntilanak apalah ngerinya dibandingkan manusianya yang beberapa lebih mengerikan daripada sekedar setan belaka!

-----------------------

Saat gue ikutan arus mudik dan melalui 25 jam dalam hidup gue di dalam bis, gue masih bisa tersenyum penuh seri karena begitu capek datang menyergap, begitu turun dari bis, adik gue paling besar sudah menjemput gue dan membawakan backpack gue. Pun hari masih terang benderang dengan angin sepoi sepoi yang membelai lembut. Begitu sampai di rumah, semua letih, lelah, lesu, lunglai, dan labil terobati seketika begitu berjumpa dengan seluruh keluarga dan pemandangan alam yang nggak pernah gue temui di Jakarta. Bahkan, setelah itu gue langsung jalan jalan membelah jejalanan Ambarawa naik motor bersama adek adek gue. Gue sehat bugar. Terhitung sejak tanggal 24 Juli sampai 2 Agustus gue menghabiskan Idul Fitri bersama segenap keluarga yang uhuyyy abis.

Nah, perkara baru datang saat gue memutuskan untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 2 Agustus dengan misi menjemput masa depan yang lebih cerah dan menjalani hidup penuh petualangan kayak Sherina. Tanda tanda kurang baik sudah ditunjukkan oleh jadwal keberangkatan bis yang semula dijadwalkan pukul 15.30 WIB, bis baru datang pada pukul 19.15 WIB.

Setelah gue naik yang disambut oleh tangisan dari adik gue paling kecil yang melulu bilang sebelum gue pergi.

“Mbak Ike jangan pulang ke Jakarta, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....”

Bis melaju pelan dan prosesi dada dada telah katam gue jalani. Nggak tanggung tanggung, yang nganterin gue sampai kakek dan nenek gue juga ikut. Ini merantau gue berasa kayak naik haji. Alhamdulillah.

Gue naik bis Mulyo Indah, Eksekutip. Tujuannya cuman satu. Biar kaki gue bisa selonjor. Gue sudah bertekad bayar mahal tak apa yang penting kaki gue merasa dihargai. Kaki gue adalah salah satu organ paling berjasa. Dia membawa gue kemanaaaa saja yang gue mau.

“Gimana Ka?? Keadaan aman?”

“Aman, Mey..”

“Oke sip.”

Alhamdulillah.
Harapan gue sempat terbangun saat gue tahu kalau katanya sudah bisa lewat jalur biasa. Comal sudah comel kembali. Gue lewat Pemalang!! Pasti lebih cefaaaaat!! Dan apalah daya karena memang benar adanya. Manusia boleh merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Jalur PANTURA ditunjukkan oleh garis PINK TEBAL

Penampakan alur jalan PANTURA, yang gue lewatin


Karena gue bukan ahli Geografi, gue nggak bisa sebutin pada jam berapa gue sampai mana dan setelah mana sampai mana. Yang gue inget, menjelang subuh, di antara alam sadar dan bawah sadar gue merasakan tidak ada pergolakan yang terjadi. Semuanya senyap. Tidak ada derit ban yang bergesekan syahdu dengan aspal jalanan, tidak ada deru mesin. Dan di ambang subuh, saat gue membuka mata. Ebuseeeeeeeeeeeeeeeetttttt, ini jalan apa parkiran?? Tampak berkelok di depan sana bis, mobil pribadi dengan buanyaaaaaaaaaaaaak motor sedang parkir berjamaah dengan masing masing ahay merah berkelap kelip!!! Sama sekali tidak jalan. Gue lihat di plank sebuah konter HP, gue sampai di Pemalang. Jalan sempit tapi isinya inalillaaaaah...

Dari situ, bis hanya berjalan perlahan cenderung tersendat. Kalau lu di sana sama gue, beuuuh sumpah!! Tuh barang beroda berupa macam macam buanyak bangetttt!!! Banyak sekali bis yang berebut jalan dengan bermanuver ekstreem yang disusul dengan klakson dari mobil pribadi yang mengindikasikan protes, banyak pula mobil pribadi dengan gumpalan terpal di atapnya khas pemudik. Dan jangan tanya soal motor. Motor yang panjangnya tidak seberapa dengan sekonyong konyongnya ditambah serupa kayu di belakang badan demi membawa kardus bertumpukan yang ditali dimana mana, dengan dashboard depan yang juga penuh gundukan sampai kakinya nggak bisa napak. Pemandangan itu akan lu temui di sepanjang perjalanan. Bahkan, banyak mobil bak terbuka yang hanya beralaskan dan beratapkan terpal telah dihuni manusiaaa!!! Iyaaa, itu benar adanya.Mereka berjubel di bak terbuka dengan beratapkan terpal. Tampak beberapa di antarnya sedang dipijiti tekuknya oleh orang di belakangnya. Ahh, hidup memang keras!!





Gue mengamati ekspresi para penumpang bis yang tampak dari jendela luar. Wajah mereka menggambarkan hal yang sama.

“Sampainya kapaaaaaaaaaaaan???”

Lu bisa bayangkan gue melewati kota kota itu pake macet. Macet terparah menurut gue ada di Pemalang dan Cikampek. Tapi, ada satu kota yang gue suka dan menjadi hiburan tersendiri. Indramayuuu!!!

Hari beranjak siang dan gue sudah mengamalkan semua perkara yang harus dilakukan, baik session satu, session dua, session tiga. Saat gue membuka tirai di kanan gue, gue terpesonaaa!!!

Lautan ada di pinggir gue persis!! Hanya berjarak sedikit tanah kosong sedikit berpasir berbatas tumpukan batu. Hanya saja itu bukan pantai. Kalau pantai adalah perbatasan antara daratan dan lautan yang biasanya berpasir. Ini tidak. Lautan dan daratan hanya dibatasi oleh serupa pagar batu yang disusun sedemikian rupa. Tampak beberapa kapal nelayan yang sedang terombang ambing di laut pucuk sana. Gue yang memang pencinta laut sekonyong konyongnya langsung memandang tanpa kedip sepanjang perjalanan. Sayang, banyak sekali sampah yang menari mengikuti arus laut.

Di Indramayu gue juga dimanjakan dengan bentangan sawah hijau yang luaaaaaaaaaaaaas sekali. Sejauh mata memandang lu akan mendapati sawah luas terbentang. Ahhh, orang bijak benar tentang pelajaran hidup nomor 87 : “Bila kau bisa melihat, banyak kenikmatan hidup yang masih bisa dirasakan, walau di tengah kesulitan sekalipun.” Gue tersenyum tersenyum sendiri menikmati pemandangan yang cantik di sekujur pinggiran jalan dengan cahaya keemasan dari matahari.

Sampai di Cikampek, gue mulai kehilangan semangat hidup. Hari mulai malam, jalan macet lagi, dan gue sendirian. Gue chatting dengan sahabat sahabat gue meminta dukungan moril. Ibu terus menelepon karena khawatir anaknya mau jadi apa kalau turun di antah berantah Ibu Kota dini hari.

Setelah Cikampek, Cikarang mendekat. Dan akhirnya gue sampai di Pasar Rebo pada pukul 00.15

Dengan terhuyung huyung gue turun dari bis. Setelah mengambil koper di bagasi, gue jalan tertatih tatih ke pinggir jalan. Gue ingat pesan penting banget dari Tante gue bia telpon.

“Ke, abis turun dari bis mukanya biasa aja. Santai aja, jangan kelihatan panik.”

Keluar dari bis gue pingin goyang Morena biar keliatan santay. Tapi ngeliat nggak ada siapa siapa, cuman penjual buah yang semuanya cowok, pinggul gue jadi kaku maksimal. Tapi, muka gue tetep cool, cenderung songong. Bahkan, gue juga bingung ini Pasar Rebo kok kayak begini. Ini Pasar Rebo yang mana??

Kalau bisa, gue pingin banget ngesot sambil handstand saking stressnya. Mas mas segera mendekati gue. Agaknya dia tukang ojek. Demi apa gue ditawarin naik ojek dengan banyak barang!! Gue sok sok tahu, sok sok mudeng. Gue berakting selayaknya gue akamsi, anak kampung sini! Guweeeeeh anak Jeckardaaaaaaah, jangan macem macem tukang ojeeeeeeeekkk!!!

“Naik ojek aja, Neng....”

“Nggak Bang, gue mau lewat tol biar cepet.”

Sebelumnya gue ditanya sama temen kerja gue bernama Dian.

“Miss, kalau gue naik taksi biar keliatan akamsi, gue bilang apa?”

“Bilang gini Mey, ‘pak, lewat jalan tol Cibubur yang keluarnya nanti di Johnson ya pak..’”

“Owh, oke. Thank you cinta.”

Makanya gue tahu kalau untuk sampai di kost dari Pasar Rebo, gue harus lewat tol. Di point ini gue merasa pintar.

Tante gue mewanti wanti gue untuk jangan naik sembarang taksi, apalagi dini hari. Lu tau sendiri di berita berita seputar metropolitan tentang perampokan di taksi hingga tindakan asusila. Gue harus waspada, karena tindak kejahatan bukan hanya karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah!! *paketopengseparowajah

Burung Biru adalah pilihan pertama gue. Sebenarnya masih ada angkot yang berseliweran di jalan raya. Ah, jangankan angkot orang taksi aja berbahaya!! Andaikata gue naik angkot, gue harus naik angkot warna merah entah nomor berapa mengelilingi Kampung Rambutan dan menyelusuri jalan Arundina sampai Johnson yang kemudian berpindah haluan ke angkot warna biru telur bebek bernomor 121 menuju Kranggan. Malam itu gue berjanji mau naik taksi habis berapa jug ague tebas, demi masa depan yang lebih cerah. Gue sering denger cerita soal angkot nomor 121 yang penumpangnya sering dicopet, dijambret atau pun diperkosa. Betapa dunia begitu fana.

Ahh, mau dikata apa, Blue Bird tidak kunjung datang. Setelah berdiskusi via signal dengan Tante, di pinggir jalan dengan muka lusuh gue akhirnya memutuskan untuk menyetop taksi warna putih berjudul Express.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh…” Gue langsung ngesot dilanjutkan nari ular. Begitu pintu kamar kost terbuka dan lampu dinyalakan gue berasa kayak mau nangis. Untung nggak jadi karena inget umur. Gue sampai di kost jam 01.00 WIB!! Badan gue dari ujung kuku sampai ujung rambut sakit semua. Ibarat hati, ini sudah remuk redam, bahkan bukan lagi hancur, melainkan melebur hingga leburannya tidak bias dibagi lagi menjadi dua. Lebur dalam tingkatan sel.

Gue langsung ngabarin tante gue, Ibu gue, dan sahabat gue. Sambil rebahan di lantai karena kasur gue masih bersandar mesra di tembok, gue jadi tahu satu hal. Pelajaran hidup nomor 108 : “Jangan menggeneralisasikan sesuatu. Hanya karena beberapa dianggapnya seluruhnya. Hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga” *piyetopiye

Gue jadi inget moment bersama pak Sopir yang sedang akan dalam perjalanan pulang ke Bekasi Timur, tetapi karena gue turun di Kranggan, dia mengiyakan.

“Saya di Bekasi Timur, jadi kalau ke Kranggan dulu nanti bias lewat Jatiasih” begitu kata pak Sopir. Gue manggut walau sama sekali tak punya pandangan Jatiasih itu dimana.

“Wah, ternyata angkot masih ada ya, pak. Cuma kalau selarut ini pasti bahaya ya, Pak..”

“Jangankan angkot, taksi juga banyak yang bahaya. Cuma kalau naik taksi yang udah terkenal aman, ya mudah mudahan enggak mbak.. Jadi harus hati hati..”

Pak Sopir dengan mulus membelah tol Cibubur yang lengangnya tak terkira. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk bias sampai dip agar kost.

And finally, I go back, Jeckardah!!! *menyisingkanlenganbaju *pakehulahup


Perjalanan panjang ini bukannya tanpa hasil. Apa yang gue lihat selama perjalanan mengajarkan gue bahwa usaha memang perlu dilakukan. Mbak mbak yang dipijitin tengkuknya di bis ekonomi yang gue lihat dari jendela mengajarkan gue kalau untuk hidup yang lebih baik bukan perkara membalikkan telapak tangan. Pun begitu dengan satu keluarga dengan dua anak balita yang berbagi jok motor dengan banyak tumpukan dus di belakang dan depan. Misi mereka, misi kami sebenarnya sama. Semuanya kami lakukan demi satu tujuan. HIDUP YANG LEBIH BAIK. InshaAlloh…


   

9 comments:

  1. pertamaaax!! *apaansih

    sama, ka mey. gue pas pulang mudik, stress banget. gilaaak. jalanannya penuh semua. lo yg pulang tgl dua aja, macetnya segitu parahnya, apalagi hal yg gue hadepin. gilaaa. yg sbnernya perjalanan hanya 12 jam, menjadi 26 jaman. 26 jam-an. gilaaa, stress banget deh. baru sampai pekalongan aja, udah macet. macetnya ga nanggung''.

    gue juga yg suka liat laut, pas lewat indramayu, rasa itu ilang, ka mey. gue lebih milih buat cepet pulang. hahah. dan untungnya aja, lo bisa pulang dengan selamat. dan emang bner, kejahatan ibuk kota kejam. makanya bnyak yg bilang, ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri. ga usah takut sama kuntilanak di jakarta. jakarta itu, udah nggak ada pohon'' besar, yg sering di pangkalin sama kuntilanak.kuntilanak ibukota, mangkalnya di billboard. hahah

    ReplyDelete
  2. jadi selama otw ibu mu selalu memantau jarak jauh ya ke.. #Enak juga manggil nya ke, bukan mey :D

    25 jam mey? perjalan seharusnya berapa? gue balik dari mudik kemaren perjalanan sumbar pekanbaru yang harusnya 8 jam jadi 20 jam cobaaa...!!!! senasib kita mey! tapi masi untung gue nggak naek bus dan diturunin di pasar rebo.

    eh post ini menginspirasi, baru inget gue buat bawa merica botol. kan mau jalan jauh ke papua.
    gimana teknisnya? di cairkan dulu pake air apa gimana?

    ReplyDelete
  3. Ngeri pisan macetna. Untung gua mudik h-4 lebaran :D klo gk bakalan kena macet juga di tol Bandung-Jakarta X_X

    ReplyDelete
  4. ngeri yah mudik tu hahaha :D
    lagian enakan pakai kendaraan umum hehehe

    ReplyDelete
  5. Macetnya mudikkkk lebarann..
    itulah kenapa saya waktu di Solo paling gak suka mudik. Karena perjalanan solo semarang bisa sampe 5 jam!!
    **tapi sekarang pengen mudikk.. (tiket pesawat kapan discount-nya sih)
    Tapi memang setiap perjalanan selalu membawa pelajaran.. hehe

    ReplyDelete
  6. mudik selalu macet waktu beginian -_-
    kenapa gak naik kereta aja, ato bawa motor :v
    apalagi lewaat jalan tol , super sekali :v
    pulangnya macet juga ?

    yasudah itu deritamu yah , ambil hikmahnya :v

    hahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahaahahahahahahahah

    ReplyDelete
  7. Kalu mudik di jawa itu identik dengan macet ya ? disini gak pernah macet lhoooooo~
    aku gak tau gimana rasanya terjebak macet selama berjam-jam, palingan nunggu lampu stopnya nyala hijau aja udah geregetan. tapi kalau ngerasain ketidakleluasanya brejam-jam terkurung di bis sih pernah sekali, selama 26 jam dan lagi-lagi itu bukan karna macet. Ah hidup itu indaaaah *kurang nyambung*
    setiap perjuangan yang besar pasti membawa hasil yang sama besarnya, semangat kak ^^

    ReplyDelete
  8. Mudik 25 jam? Kelamaan di jalan, kalau gue bisa gila kali hha

    Gue sih gak pernah mudik-mudikan, jadi gak terlalu tahu rasanya mudik sampe berkilo-kilo meter gitu hhe

    ReplyDelete
  9. pas waktu tanggal 2 agustus itu memang rame2nya arus balik kak. mbak n masku juga ngalamin kayak gitu. biasanya 12 ++ jam, kemaren bisa sampe 2 hari... tapi ya.... jadikan pelajarn, semua pasti ada hikmahnya . sok banget gue. haha.

    toh, setahun juga cuma dua kali kan. pas mudik sama pas balik aja

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...