Tuesday, 19 August 2014

AKHIR DARI PERTAMA

The beautiful picture by Arifah Ida


Meykke Santoso
“Nis! Cepetan sini!” ucapnya sambil berkecipak di tepi sungai. Kulitnya yang hitam cenderung legam terlihat mengkilat terpantul sinar mentari yang tingginya tepat di ubun ubun. Pun teman teman yang lain dengan segera membuka seragam merah putihnya dan berhamburan ke sungai jernih nan dangkal itu. Sesekali bahkan aku bisa melihat ikan ikan kecil ikut berenang lalu kemudian tersapu arus.
Dengan ragu ragu aku membuka rok dan kemejaku. Berjalan perlahan di tepi sungai dan duduk di sebuah batu karang dengan banyak lumut yang berjuntai juntai tersapu arus. Tiba tiba dia menarikku dan kita kemudian berkelakar syahdu di sungai siang itu. Tak peduli betapa legam kulitnya, aku selalu suka ada di naungan centimeter dari tubuhnya.

--

Gigiku gemeretak, nafasku penuh sengalan.

Monday, 18 August 2014

BAHAGIA ITU MOVING ON!!

Di dalam hidup ini semua orang pasti ingin bahagia. Hanya saja makna ‘kebahagiaan’ untuk orang orang pasti berbeda. Ada yang mencapai bahagia karena bisa beli sesuatu yang diidam idamkan sejak lama, bahkan membelinya dengan cucuran keringat sendiri. Ada yang bahagia bila sudah bertemu dengan orang orang yang bisa menerima dirinya apa adanya, seutuhnya. Ada yang bahagia kalau sudah menginjakkan kaki di negeri impian dengan begitu banyak moment yang dibekukan lalu dibawa pulang. Ada juga yang merasa bahagia saat bisa membantu sesama. Macam macam.

Bagi gue sendiri, makna bahagia adalah saat gue bisa MOVE ON. Tenang, moving on bukan melulu soal hati yang lari lari mengelilingi lingkaran yang diciptakan sendiri. Moving on bukan melulu soal “I have no choice except moving on since staying here is impossible” *ngelapingus

Moving on yang gue maksud saat gue bisa maju ke level yang lebih tinggi, ke pencapaian yang sebelumnya belum pernah gue raih dan ke tangga yang lebih menukik. Kate iklan rokok, GO AHEAD!!

Tanpa berpikir panjang pun gue sudah tahu apa yang telah membuat gue bahagia, bahagia sekonyong konyong koder. Ini bahkan moment yang sudah gue idam idamkan sejak gue berusia 5 tahun, saat tante gue juga dibalut kebaya berwarna hijau daun pisang dengan rambut tergelung sempurna ditambah jubah hitam bersamaan dengan topi hitam yang gue kira waktu itu “ih, bagus!! Topi kok ada bandulnya!”.

Dan moment terindah gue adalah : WISUDA!!

Wednesday, 13 August 2014

Menangkap Angin Berutas Tali Melintas Awang, Umbul Sidomukti-Bandungan!!

“Mas, kalau udah bilang ya Mas...” Gue di posisi siaga 1.

Semangat gue meletup letup kayak Popcorn karamel dikenai panci panas dengan sedikit margarine. Gue menyisir pandang dari kiri menukik bawah ke arah kanan. Gundukan raksasa saling salip menyalip menyundul langit dengan selimut hijau berterasering. Awan putih berarakan dengan mentari menyorot santai. Tepat di depan mata bukit kecil menunggu dengan lembah terapit di antaranya. Gue sedang akan melintasi lembah itu dengan menitipkan nyawa di sebilah tali. Gue akan mengayuh angin bertenaga gravitasi bumi. Melirik sedikit ke kanan, Ambarawa merebahkan diri seutuhnya di kaki sebuah gunung perkasa yang pucuknya tertutup gumpalan awan. Kau akan menemukan Ambarawa begitu cantik terpampang di batas pandang, dikepung oleh jajaran gunung berselimut hijau. Hijau dan biru, dua warna yang bisa kau peluk erat erat dalam retina.

“Udah mbak”

Gue menghirup nafas dalam dalam dan lalu merentangkan tangan.

video
maaf Kakak, videonya kebalik. Kayak orangnya -.-

“Gue terbaaaaang...” Gue seakan menabrak angin yang beruntaian sepoi sepoi. Tepat di bawah kaki gue lembah berterasering menganga syahdu. Gue berputar sekali, menari nari dan bergelantungan. Menari di udara tanpa berpijak, bergelut dengan kecepatan dan menyentuh angin adalah kenikmatan duniawi.

Dan ‘terbang’ kali ini mengantarkan gue ke rasa yang senada yang pernah gue rasakan tiga tahun lalu. Hirup nafas dalam dalam, dan hembuskan pelan pelan. Ah, gue bisa bernafas begitu lega. Hidup ini......indah.

UMBUL SIDOMUKTI, THE DAMN BEAUTIFUL PLACE!!! AMBARAWA POENYAAAA!!!

-----

Friday, 8 August 2014

Mudik Dan Balik Berjamaah, Sakitnya itu di SINI!!

18.00 WIB...

Ibu : “Halo Ke? Sampai mana?”

Gue : “Bu, baru sampai Indramayu bu...Tadi aku nglewatin pinggiran lauuut!!! Appiiik!!” *gagalfokus

Ibu : “Penting Ke? Penting?? Masih jauh ituuu...mau sampai jam berapa?”

Gue : “Hanya Alloh yang tahu, Bu...”

---

21.00 WIB

Ibu : “Sampai mana Ke?”

Gue : “Cikampek Bu.Apa yang harus aku lakukan?” *mulaigalau

Ibu : “macet?”

Gue : “Nehi Bu. Cuma mogok berjamaah.”

Ibu : “Kamu lagi di jalan raya khan?”

Gue : “No Bu. Aku lagi di parkiran raksasa.”

Ibu : “Ah, mungkin kamu sudah lelah.....”
---

23.00 WIB

Ibu : “Ke, sampai manaa??”

Gue : “Cikarang Bu. Aku butiran debu.”

Sudah genap 28 jam sudah gue duduk dengan berbagai pose andalan, seperti : selonjor rebahan, rebahan kaki ditekuk satu, rebahan kaki ditekuk dua, miring ke kanan kaki ditekuk crossing, miring ke kiri kaki ditekuk crossing, duduk sikap yoga, telungkup, -nungging-. Tapi nggak nyampe nyampe. Hari mulai gelap dan pekat mulai merajai Ibu Kota saat pada akhirnya seorang laki laki setengah baya yang menjaga pintu depan berseru

“Mbak, Pasar Rebo mbaaaaaaak....”

Gue mendelik pasrah saat mendapati kalau gue akan segera diturunkan di Pasar Rebo pada pukul 00.15 WIB.

Thursday, 7 August 2014

Jawaban Atas Pertanyaan "Kapan??" dan "Mana?" saat Lebaran

“Mana?”

“Kapan?”

“Kok nggak diajak?”

Saat bertemu dengan teman masa kecil yang sudah menggendong bayi, bahkan di antaranya sudah berjalan dan sudah beranjak TK, pertanyaan serupa itulah yang lalu sekonyong konyongnya diluncurkan. Atau saat bertemu dengan sanak family yang usianya tidak beda jauh tetapi sudah merasakan dahsyatnya makna SAH yang dikumandangkan seantero udara di satu waktu yang lalu. Bahkan, orang tua sampai orang yang memang paling tua dengan hati hati bertanya tentang pandangan akan masa depan perihal usaha membudidayakan jenis mereka atau menelurkan generasi penerus. Pun banyak teman teman yang kebetulan berada dalam status yang sama hilir mudik memperbaharui status mereka atas pertanyaan “what’s in your mind?” dengan curhatan tentang betapa galaunya hati mereka saat pertanyaan pertanyaan itu serupa biji peluru yang dimuntahkan dari corongnya, bertalu talu.

For me, it was my first time facing such a question. Yang gue tahu di dunia ini ada stage stage pertanyaan yang walau pun tidak dipatenkan tetapi hampir bisa dipastikan akan selalu dilakukan oleh umat wanita.

Saat sekolah/kuliah : “Kapan lulus?”
Saat lulus, lagi pengangguran : “Kapan kerja?”
Saat kerja : “Kapan nikah?”
Saat sudah menikah : “Kapan punya anak?”
Saat sudah punya anak satu : “Kapan ngasih adik lagi ke anaknya? Kasihan lo nggak ada temennya..”
Saat anak anak nya sudah dewasa : “Kapan punya mantu?”
Saat sudah punya mantu : “Kapan punya cucu?”

Dan pertanyaan itu akan terus berekor selama hayat masih dikandung badan.

Dan bagi wanita seusia gue dihadapkan pada pertanyaan di stage 3. Pun kalau dulu percakapan yang in saat bersama teman teman adalah,

Wednesday, 6 August 2014

PERKARA YANG MUSTI DILAKUKAN SAAT DI PERJALANAN MUDIK Chapter. 3

Kali ini gue sudah berjumpa dengan kasur kamar kost gue yang serupa memeluk erat bumi, tak berpenyangga seperti di rumah sana. Kali ini gue bingung akan memulai postingan ini demi deskripsi atau kata kata mutiara apa. Mungkin ini bisa lebih menggambarkan.

Gue beri nama pelajaran hidup nomor 59 : “Life is hard, so live hard. Life is tough, so being tough is the only choice. It’s all about life and life is about struggling.”

Kalau di perkara session1 ataupun perkara session 2 gue masih berkubang dengan jalur mudik, saat itu gue menjadi salah satu dari ribuan pemudik. Pun setelah duduk dengan berbagai pose di bis selama 25 jam terbentur keadaan yang mana jalan cuman mengekor panjang satu buah dengan bis, mobil, dan motor yang menyemut mengerubuti satu jalan itu, lagi lagi demi satu misi : Merayakan Lebaran bersama Keluarga, gue masih bisa mengatamkan puasa dan langsung jalan jalan menyelusuri jejalanan Salatiga.

Tapi jangan tanya gimana perasaan gue saat terseret arus balik bersama ribuan pencari nasib lainnya menuju Ibu Kota Indonesia yang padahal katanya lebih kejam daripada Ibu Tiri!! Gue harus tiduran di bis selama 29 jam, merasakan betapa sumpeknya kemacetan dengan beribu motor dan mobil yang menyertai. Ahh, bahkan ini bukan macet!! Ini mogok berjamaah. Jalan telah beralih fungsi menjadi parkir raksasa!!!!! Dan gue yang berangkat dari Ambarawa pada pukul 7 malam tertanggal 2 Agustus harus mendarat di Jakarta pukul 12.15 MALAM satu hari berikutnya!! Gue ulangi lagi, gue turun di salah satu sudut jalan di Jeckardah sana jam 12.15 DINI HARI. Saat gue tahu kenyataan yang akan gue hadapi saja gue sudah bergidik ngeri. Kalau Jogja atau Semarang mungkin gue masih bisa sedikit tenang. But, it is Jeckardaaah!! Gue belum bisa bela diri, yoga pun baru bisa pose nungging ambil napas buang napas. Bayangin betapa debunya butiran ini. *halah!

Tapi kali ini gue hanya akan memberikan perkara perkara yang harus dilakukan saat melakukan perjalanan panjang, baik mudik atau balik. Kali lain gue pasti akan mengungkapkan bagaimana kelanjutan dari seorang anak manusia dengan berat badan kurang dari 45 kg harus diturunkan dari bis di negeri antah berantah dengan membawa 1 koper segede gaban, 1 backpack yang menggelayut manja dengan masih 1 tas slempang yang serasa mengikat erat tubuhnya bagian atas. Life is indeed hard!!

A Letter for The 2-year-old Blogger Energy!!

 Photobucket
Desember 2012........


Setiap kali gue membukanya, engkreeeeeeeeeeeeeet....lalu wussss....angin bergulung mengulum debu lalu menghilang. Tak ada sesiapa, karena memang tidak pernah ada sesiapa... Dan walau bahkan gue sudah dengan rajin dan tak patah arang selalu membersihkan setiap kotoran yang menggumpal dan menyulam berbagai kebocoran. Gue dengan rajin menghiasinya dinding demi dinding dengan coretan kehidupan. Kadang coretan penuh keriangan, lalu berganti dengan coretan penuh duka di atas luka, tak jarang coretan tak terbaca. Kata Raditya Dika, ini absurd. Kata gue, ini hanya Tuhan yang tahu karena memang Dia adalah Dzat Yang Maha Tahu.


“Plissss, sekarang ada yang baru lho, ke sana ya..barang sebentarrrrr saja...”


“Haiii facebookers, I have a new one, please visit ya...” 


Gue promosi besar besaran sejak bertahun tahun lamanya sebelum bulan di atas. 


“Yank, kamu sayang aku enggak?? Kalau sayang buka dan baca dong, peliiiisssss..” *beberapabulankemudiandiputusin *akurapopo *kejerdibawahpancuran


Berbagai jalan gue tempuh demi sebuah keramaian, rasa dihargai dengan berbagai ide yang telah menganak pinak dan tak pernah berhenti. Tapi, hidup tak semudah itu. Gue berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain, berkunjung ke tempat tempat orang terkenal dan meninggalkan jejak. Gue tunggu sehari, dua hari, tiga hari, selamanya tak ada kabar. Orang itu tak berkunjung balik. Sakitnya itu di sini *tunjukjari *tunjukmodem *ehuntungpakewifikampus


Hari itu awan menggelayut berat, warnanya hitam pekat, petir menggelegar bertalu talu. Gue bersama dengan rumah kesayangan gue masih terus melalangbuana. Gue sedang akan menyerah. Gue jalan sempoyongan dan berkata,


“Ah, ya sudahlah...buat apa aku selalu meninggalkan coretan toh tak ada satu pun yang datang. Boro boro dah...Tuhan, mengapa harus aku?? Apa salah aku Tuhan?? Aku menyerah!! Aku akan melepaskannya. Ujian ini sungguh terlampau berat.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...