Tuesday, 29 July 2014

PERKARA YANG MUSTI DILAKUKAN SAAT DI PERJALANAN MUDIK Chapter. 2

 photo mudik-5.gif

Duduk di dalam bis, mengemban misi mudik tanpa sanak famili di sisi alias sendiri melemparkan gue ke pelajaran hidup nomor 78 : “Everything is possible, even impossible can be I’m possible!!” Ini jelas uhuy banget. Sebelum gue melakukan perjalanan ini gue sudah menerawang jauh tentang nasib gue yang terjebak di dalam bis, hanya duduk sambil memandang pergolakan awan dari pagi beralih ke siang kemudian menjalar ke malam, atau sambil menatap nanar pada ilalang yang bergoyang atau jejalanan yang berkelok kelok kayak kehidupan. Ditambah lagi dengan jembatan yang tak lagi kokoh menopang dan memilih putus dengan dalih diterjang gerusan alam.............................. kayak cinta. Uhuk.

Tapi, pada akhirnya saat gue memencet mencet tut Lee Suhi pagi ini, gue sedang mengunyah renyah makanan Lebaran dengan setangkup es krim rasa coklat yang kemudian dioleskan ke kepingan chocolate assorted cookies. Pada akhirnya gue juga tuntas duduk di dalam bis dengan total waktu 25 jam dimulai dari pukul 1 siang pada tanggal 23 Juli dan berakhir pada pukul 2 siang hari berikutnya. Nah, lalu apa saja yang harus dan penting bingit untuk dilakukan selama perjalanan agar hidup tetap berwarna?? Hari kemarin gue sudah katam menuliskan 3 butir perkara di sini dan sekarang gue akan melanjutkan perkara perkara lainnya. Cekidoooot!!!

4. NGOBROL SYAHDU DENGAN TEMAN SEPERJALANAN

“Ehm...tujuan mana?”

“Dari mana?”

Itu adalah pertanyaan permulaan yang bisa mendeteksi tentang seberapa ingin mereka membalas obrolan kita. Kalau semisal jawabannya hanya satu suku kata serupa,

“Ehm...tujuan mana?”

“Cikarang.”

“Owh, Cikarang...berarti nanti mbak/mas dulu yang turun. Aku nanti di Pasar Rebo..darimana mbak/mas?”

“Dari tadi.”

“...............” Lu harus langsung pura pura tidur, lalu ngorok.

Nah, kalo seandainya jawabannya yang didapat serupa di atas, maka segera akhiri sajalah semuanya. Kalau buat gue, berdo’a sebelum memulai perjalanan itu tidak hanya sangat penting untuk keselamatan jiwa, tetapi juga hati. Alangkah indahnya perjalanan kalau kita bisa menemukan teman satu seat yang asik dan bisa diajak ngobrol, sukur sukur bisa jadi temenan. Di perjalanan naik bis edisi terdahulu gue punya temen satu seat ibu ibu. Lalu, beliau bercerita banyak tentang keputusannya merantau dan bekerja sebagai salah satu buruh pabrik yang UMR nya lebih tinggi dibandingkan UMR di kampungnya. Dia juga bercerita tentang keberhasilannya menyekolahkan anak anaknya di kampung. Kala itu banyak sekali yang bisa gue petik tentang pengorbanan seorang ibu demi kata bahagia untuk anak anak tercintanya. Bila kalian adalah orang yang gemar berbicara seperti gue, mengobrol dengan teman satu seat sangat menyenangkan. Hanya saja hal ini tidak berlaku kalau teman satu seat kita adalah :

a. om om

b. mas mas

At least, menurut pengalaman gue. Di perjalanan merantau kemarin gue satu seat dengan seorang om om dan mudik ini gue duduk bersama mas mas. Saat gue asik menggantungkan ujung headset ke kedua belah telinga, dia tiba tiba nanya.

“Darimana?”

“Dari tadi, eh maksutnya dari gunung putri. Masnya?”

“Cikarang. Sekolah apa kerja?”

“Kerja.” Nih mas mas nanyanya serius amat, gue jadi takut. Dan pada akhirnya kita menghabiskan waktu 25 jam berdampingan. Kadang saat bis berhenti dan gue pingin pipis, si mas mas lagi bobok. Karena gue duduk di dekat jendela, gue harus bangunin masnya dulu buat lewat. Setelah baca ayat kursi gue mulai nyolek nyolek masnya. Gue takut dikira modus. Padahal pertahanan gue udah di ujung. Lalu dengan mata merah menyala masnya terbangun. Malamnya, si mas mas tidur harus pake posisi segala. Dia miring menghadap gue dengan keseluruhan tubuhnya ditutupi selimut dan kakinya ditekuk serupa tidur miring di kasur. Helooooooo, ini seat bis mas. Lama lama kepala masnya mulai menunjukkan tanda tanda kurang baik. 2 cm lagi kepala masnya sudah nempel di pundak gue. Dia kira kita lagi syuting drama Korea???? Gue berdehem dia nggak denger. Gue pura pura ngulet takutnya kepalanya malah jatuh ke bahu gue. Akhirnya gue ngorok aja.

Maka, perkara nomor 4 kali ini gagal gue lakukan, terbentur keadaan.

5. MENDENGARKAN MUSIK LEWAT HEADSET

Karena hal ini juga gue sampai beli Powerbank. Gue nggak bisa bayangin apa jadinya perjalanan gue tanpa musik. Pun musik bisa diset berdasarkan cuaca dan waktu. Saat senja mulai menjalar dengan awan hitam menggantung pilu, gue mulai memutar lagu lagu galau. Diiringi dengan liukan bulir air yang meluncur turun dari balik kaca, lagu lagu serupa “Say Something”, Hold on We’re Going Home”, “Breathe Again”, “How Could You” dan lagu lagu bernada pilu lainnya bisa sangat meresap. Ini jelas asik!! Sensasi sensasi syahdu lalu merasuki pikiran gue dan gue jadi berasa lagi ada di salah satu scene drama Korea. Coba bayangkan!! Duduk di bis seorang diri di ujung senja dengan buliran air meluncur bebas dari balik kaca jendela berlatarkan alunan lagu lagu ber-beat slow cenderung tertatih tatih. Beuuh, feelnya dapet bangett!!!

Malam itu gue juga nggak bisa tidur. Lalu, gue mulai memilih lagu relaxing music yang isinya alunan piano dengan latar suara desir angin di pantai dan juga percikan air. Lu bisa cari di google dengan keyword ‘relaxing music’ atau ‘spa music’, ‘atau nature music’. Gue memilih durasi musik satu jam penuh. Violaaaaaaaaaaaaa....akhirnya gue bisa tidur.

Lain lagi kalau pagi sudah mulai menyapa. Gue akan memutar musik musik yang lebih menghentak biar gue nggak ngantuk melulu serupa “Please, don’t go”, “How Do I Breathe”, “Turn Me On”, “The Monster”, “Girl on Fire”, sampai “Burn”!! Lalu, gue akan penuh semangat walau gue sadar gue masih di Banyumas, melampaui terlalu jauh dari Ambarawa dan mengambil jalan berputar, lagi lagi karena si Com dan si Mal putus. Tujuh jam lagi, cuy!!

*tobecontinued


Saturday, 26 July 2014

PERKARA YANG MUSTI DILAKUKAN SAAT DI PERJALANAN MUDIK Chapter. 1

Lautan genteng tampak berserakan semrawut. Mau dimana? Semuanya penuh genteng dari ujung kanan hingga ku menyapukan pandangan hingga ke ujung kiri. Di belakang tumpukan genteng, berdiri megah banyak bangunan persegi panjang yang tampak ramping namun tinggi. Secara serempak mereka menyundul langit langit kuning keemasan dengan semburat oranye bagai lautan kapuk. Ah, lihat!! Raja siang sedang bersiap menyusup di sela sela bangunan orang orang berdasi itu dengan menyisakan warna kuning yang berhamburan secara acak. Sore itu, dengan diangkut barang persegi panjang beroda raksasa sejumlah empat aku menatap tanpa henti, menghamburkan pandangan ke kanan dan ke kiri sambil menikmati senja terakhir di sisi lain ibu kota yang sebentar lagi akan lengang, walau sekejab saja.

Sore itu gue kembali mengarungi jarak beratus ratus kilometer naik gunung, turun lembah, lewat jembatan dan menyeruak di sela sela pematang sawah demi satu misi. Orang orang kerap menyebutnya MUDIK. Gue menyebutnya mengurai rindu yang sudah menggumpal kaku serupa mie kuning sebelum dikenai air mendidih dan dicampur bumbu juga serpihan daging ayam, tak lupa kaldu beserta pangsit dan bakso babat. Ahh, mengingatnya gue jadi lafar. Gue kembali menatap nanar jam tangan dan mengerjab beberapa kali, siapa tahu gue salah liat. Tapi ternyata nggak. Masih jam setengah lima sore. Jelas saja bedug belum ditabuh, malah perut gue yang serupa dikenai bedug dan serumpun gendang, dangdutan.

Thursday, 17 July 2014

"WELCOME TO THE JUNGLE!" is more than just words


Surprisingly I have been stayed in this big city for almost a year. I still remember that day, September 2nd 2013 was my first day working here. I struggled a lot to fit myself in it. I am a villager who tries to make a living in a grand new place. I am not gonna tell you again about the reasons why I had a gut to move here. You will be fed up. It’s an old story that maybe all of you have already known about it.

For this year, I have learned a lot.

“Welcome to the jungle!” My friends said once I wore toga, smiling totally brightly. That day was my brightest day ever back then. Now, I exactly know what jungle means. Workplace is never the same as the places I got used to before. It’s really different because everybody bring their own concern. Everybody think about themselves more. Everybody tend to put their sake above the others'.  Everybody wants to be safe.

“Welcome to the jungle” is not just a figment. A big NO. I thought that workplace had a lot of fun. I thought it would be soooooooooo amazing finding out myself with wallet full of money. I thought it would be soo fabulous thinking about me making some money by my own. But just wait until I find out something!

Tuesday, 15 July 2014

Ramadhan Rasa Rantau Jilid 2

Saat itu gelap gulita. Gue mulai merasa ada yang janggal, tapi tak gue indahkan. Gue mulai memejamkan mata lagi sambil mobat mabit biar lentur. Lalu, hal yang gue tunggu tunggu tak kunjung muncul. Gue meraba raba HP gue dalam kegelapan yang melingkupi gue seutuhnya. Maklum, kamar gue ada di tengah tengah rumah dan walau pun kamar gue sarat ventilasi, cahaya mentari tak kan mampu merembes dari baliknya. Setengah sadar gue hidupkan HP gue. Sekejab mata gue mendelik!!!

“Ini tidak mungkin terjadi. Jangan lagiiii!!!!!” Gue lalu beringsut dari tahta gue. Dengan cekatan gue meraih tombol lampu. Sekali langkah gue langsung menyambit gagang pintu dan keluar kamar.

“Yuliii!!! Gawat Yuliiii!! Ini gawaaat!!”

“Glodyakk!! Pyarrr! Brugg!” Gue dengar barang pecah belah jatuh dari kamar Yuli. Pasti Yuli sudah sadar apa yang terjadi. Gue kembali masuk kamar dan mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.

Monday, 14 July 2014

Ramadhan Rasa Rantau Jilid 1

*kucekkucekmata

*gelapgulita

*Subuhmenggema

*sekejabduduk

*ambilHP

*liatjam

*tepokjidat

*goyangmorena

“Astaga!! Too late too apologize eat sahuur!!” Gue yang baru bernyawa setengah karena setengahnya lagi masi kena macet di Kuningan langsung terduduk lesu. Ini adalah hari puasa ke dua dan gue sudah melewatkan puasa! Sakitnya tuh di sini.... *nunjukperut

Ramadhan kali ini dibandingkan dengan 22 Ramadhan lainnya yang berhasil gue lewatin jelas jelas Ramadhan yang paling berbeda seumur hidup gue. Kalau dulu,

*kucekkucekmata

*dengerwajanberbenturandengansoletsecaraciamik

*tidurlagi

*suaraderapkaki

“Keeee, makan sahur Ke...udah siaaaaaaap...”

“Aduuuh, ngantuuuuuk!!!”

“Cepetan makan dulu keburu imsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!”

*jalansambilmerem

*makananudahsiap

*indahnyaduniyaa

*makansambilmerem

Kalau sekarang?? Mau tidur ngiler unyu sampe pagi pun yang bangunin adalah nihil alias alpa. Karena apa?? Anak perantau seperti gue hanya berteman alarm yang sekali pencet dia nggak berani bangunin lagi. Lagi lagi, sakitnya tuh di sini.... *nunjukperutepisode2

Wednesday, 9 July 2014

LIEBSTER AWARDS!

Oke kakak, baru saja aku dapet Liebster Awards dari temen bloog aku yang unyu abis bernama Muthi Haura!




Sebenarnya pernah aku ditawarin awards yang lagi in ini sama cc Dwi, tapi aku pikir aku udah pernah dapet jadinya aku bilang jangan. Tetapi, setelah aku dapet awards ini dari Muthi dan setelah aku cari dulu aku ternyata baru dapat Awards Sunshine dan Awards Versatile, jadilah dengan senang hati aku menerima Awards ini.  Terimakasih Muthi J

Sebagai seorang blogger yang mendapat award ini, jadi aku harus ngikutin peraturannya. Ini dia syarat-syarat The Liebster Award:

1. Post award di blog kamu.
2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini dan link back ke blognya.
3. Ceritakan 11 hal tentang dirimu.
4.  Jawab 11 pertanyaan yang diberikan untukmu.
5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan.

-----------------

11 THINGS ABOUT MEYKKE!

Saturday, 5 July 2014

Triple Ja!! (Jalan Jalan Jakarta) Episode : Pekan Raya Jakarta

Banyak gedung berdiri megah di berbagai titik. Ada hall A, B, C, D, dan juga D yang bersinergi satu sama lain mengepung kawanan stand dengan rupa rupa produk yang berjajar apik membentuk tiga jajaran di tengah tengahnya. Perpaduan stand indoor dengan outdoor menambah keharmonisan para penjual yang menyentuh angka 2.650 perusahaan. Dari produk tipe berat yang sekali beli harus merogoh kocek super dalam semisal mobil dan motor berbagai merk hingga produk remeh yang sekali tegak langsung katam.

“Silahkan ditukar kakak boleh kakak Good Day 10ribu dapat tiga...”

Dengan tiket di tangan kita bisa menukar tiket kita dengan berbagai produk yang tertera di situ. Bahkan, dengan tiket itu kita juga bisa membeli salah satu merk HP China dengan diskon mencengangkan, semencengangkan Cak Lontong tiap memberikan hasil survey di ILK.

“Wawww, mencengangkaaan!!!” Gue yang seumur umur emang baru berkutat di pasar malam di lapangan Jenderal Sudirman, Ambarawa sana jelas jelas tercengang oleh nuansa keramaian yang ditawarkan oleh Jakarta Fair ini. Bahkan, tempat ini didaulat sebagai pameran multi produk terbesar, terlama, dan terlengkap se ASIA!!


Wednesday, 2 July 2014

Triple Ja!! (Jalan Jalan Jakarta) Episode : Pasar Grosir Cililitan

Orang menyemut di sana sini. Mereka kompak berbaris demi mencicipi sebuah makanan siap saji dengan daging yang diapit dengan harmonis oleh sepasang roti. Ahh, lihat!! Banyak toko berjejer dengan memampang angka puluhan dengan tanda persen mengekor, seolah sedang berlomba memberikan diskon paling bombastis dan dengan membabi buta orang orang akan mengerumuni dan sibuk membolak balik di ranjang besi persegi dengan lusinan kain berupa bentuk. Pun banyak SPG dengan warna warni melebihi pelangi bertaburan di wajah masing masing, menggendong dengan mesra barang dagangannya berbondong bondong berjajar di depan kios masing masing, seolah berlomba mendapatkan banyak pelanggan. Kedai kopi dengan banyak rasa juga merk juga hadir bertebaran dimana mana. Kamu mau apa?? Pasti ada!! Kamu mau harga bombastis?? Oh jelas pasti bisa!! 2.650 perusahaan multiproduk siap menunggu dompet kalian. Eitsss, jangan lupa banyak banyak istighfar, salah langkah lu punya banyak barang belanjaan tapi harus puasa siang malam sebulan kemudian!!! Pekan Raya Jakarta itu......GOKIL!!!

--

JUMAT, 27 JULI 2014

Pukul 10.30 tepat gue mulai menarik pelatuk Sera di genggaman tangan kanan dan menyelusuri pinggiran kota Bekasi.

“Uyeaaaah, hari ini gue akan kembali menyambangi Jeckardah lagi!” Gue bersorak syahdu sembari mengingat ingat jalan menuju ke rumah Miss Dian, salah seorang teman kerja, 23,asli Betawi yang jelas bisa menjadi ‘tour guide’ gue dalam menyelami dinamika kota yang tak pernah tidur ini. Setelah dadah sama Sera,

“Sera....akuh pergi dulu yahhh, jangan nakal di rumah Miss Dian, kalo mau pipis bilang....”

Gue dan Miss Dian akhirnya memulai perjalanan kita.

“Emangnya mau kemane lu, Mey??”

“Santayyy dulu napa...jangan nggak sabaran gitu dong, kita nikmati dulu perjalanan yang behhhh....”*ngusapdahi *perestisu

“Kite naik apa dulu nih Miss?”

“Nahh, jadi dari sini kita naik angkot T 15 ke Cilangkap. Nah, dari Cilangkap kita tinggal naik T 02 ke PGC.”

Gue manggut manggut aja biar cepet. Padahal gue berpikir keras tentang angkot angkot Jeckardah yang hobinya ngasih kode. Pantes, yang nyopir laki sih. Ngomong ngomong soal angkot di Jakarta ini jumlahnya beuuuh...dimana mana ada dengan beraneka warna dan juga nomor untuk setiap jurusan yang berbeda.

Merah meronah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...