Wednesday, 25 June 2014

SEKELUMIT KISAH DARI BIS ESTO

Ini adalah naskah yang pernah gue ikutkan dalam event menulis bertema Public Transportation belum lama ini. Sayang, tulisan gue kalah bersaing dengan penulis asoyyy lainnya. Nah, silahkan yang mau baca gratis monggo yaaaa....

                                                                                                                        Meykke Santoso


Bila berbicara tentang alat transportasi umum atau bahasa gaulnya public transportation, barang pertama yang langsung meloncat di pikiran gue adalah BIS. Bis ini bukan sembarang bis. Sejarah mencatat kalau bis ini sudah eksis jauh sebelum gue eksis di dunia ini, bahkan jauh sebelum Ayah dan Ibu gue mengusahakannya. Bis ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Namanya adalah bis ESTO. Bis ini bertugas untuk mengantarkan para umat manusia dari sebuah kota kecil bernama Ambarawa yang terletak di Kabupaten Semarang menuju ke Salatiga.

Bagaimana bisa bis ini begitu akrab dengan kehidupan gue?? Dulu, saat gue masih menimba ilmu sebelum akhirnya mampu menimba rejeki gue harus mengayuhkan kaki gue menapaki jalan berliku bersama si bis. Tidak tanggung tanggung, gue harus meniti jejalanan sepanjang 25 kilometer sebanyak dua kali pulang dan pergi. Tidak tanggung tanggung episode kedua, gue melakoni perjalanan itu selama tujuh tahun semenjak gue diterima di salah satu SMA dambaan di kota itu yang kemudian disusul dengan kenyataan bahwa gue juga kuliah di kota kecil nan sejuk itu.


Jelas saja di tujuh tahun usia kebersamaan kami banyak sekali cerita yang tersimpan. Di antara gue dan bis maksut gue. Pertama kali gue naik bis jenis ini dengan berbalut seragam putih abu abu lengkap dengan tas dan sepatu gue berangkat dari rumah jam 5.15 WIB. Iya, kalian nggak salah baca. Gue berangkat dari rumah sepagi itu mengingat gue harus mengayuhkan kaki bersama bis SARI sejauh 25 km. Si bis akan mulai jalan di jam yang sama setiap harinya, maka gue selalu menargetkan untuk naik bis yang jalan pada pukul 5.45 dari Ambarawa. Oh ya, sebelumnya gue harus naik angkot satu kali dari rumah menuju Ambarawa untuk bertemu dengannya. Bulan merangkak dan tahun berganti. Gue mulai berubah. Gue mulai berangkat jam 06.00. Itu pun dari rumah. Jelas saja gue selalu gundah gulana tiap kali nunggu bis. Dan begitu sadar gue ketinggalan bis, tiap itu pula gue glesotan sambil mimisan. Pak Satpam dengan kumis panjang melingkar bermain di angan angan. Kalau sudah begini, gue akan naik bis selanjutnya dan akan terus menggerakkan pantat di sepanjang perjalanan. Biasanya gue akan celingukan mencari orang dengan gambar gajah di lengan sebelah kanan, mencari teman senasib sepenanggungan. Begitu menginjakkan tanah Salatiga, gue akan berlari tunggang langgang. Akhirnya, tak terselamatkan. Satpam dengan kumis tebal melingkar lingkar mondar mandir di hadapan dengan ceramah yang berdurasi sekitar 15 menit.

“Kalian ini sekolah aja udah telaaaaaaaaaaaaaat, kalian mau jadi apaaaaaaaa????”

“Oke masuk aja telaaaat, kalian mau nikahnya telaaaaaaaaattt??”

Tapi kali ini gue tidak akan berbicara panjang kali lebar dibagi dua soal keterkaitan antara masuk sekolah telat dengan nikah telat. Bukan. Kali ini gue akan berbicara mengenai bis pujaan hati gue sepanjang masa. Sekali lagi gue menyebutkan bahwa dia bernama ESTO.

Banyak kali memori yang bertebaran tentangnya. Ada kenangan yang pahit, ada pula kenangan yang manis. Rupa rupa.

Saat itu gue masih menjadi anak SMA kelas satu dengan rok 5 cm di bawah dengkul dan kemeja yang kedodoran karena berat badan yang enggan naik. Lalu gue pulang sendirian siang itu. Gue memilih seat di nomor dua dari belakang sebelah kanan yang sejajar dengan posisi sopir. Kala itu gue sedang asyik menebar pandang ke deretan rumah penduduk di sela sela pepohonan berlatar belakang pegunungan yang asri. Lalu, gue juga sedang menikmati berpetak petak kebun kopi yang bunganya sedang menguncup dan menebarkan aroma segar. Namun, kenikmatan gue ini terenggut sejak negara api menyerang. Bukan, sejak bau bau yang dulunya gue nggak ngerti ini bau apa. Begitu sampai di terminal Bawen, ada satu laki laki berusia sekitar 30an naik dan tanpa ba bi bu langsung menempel di sebelah gue. Begitu dia mendaratkan pantatnya, aroma tak biasa langsung menyeruak. Namun, gue yang masih polos tidak tahu apa apa tentang dunia fana ini masih tenang duduk di seatnya.

“Dari sekolah?”

“Iya...” Sekali lagi gue masih duduk dengan tenang karena tidak tahu apa yang terjadi dengan si bapak bapak.

“Kapan test?”

“Masih lama...”

“Bahasa Inggris ya?”

“Masih lama...”

“Iya, bahasa Inggris itu bagus emang, tapi testnya susah ya....sekolah yaa...matematika..bahasa Inggris, pinter yaa...blahblahblah..”

Semakin lama, si bapak meracau dengan semakin tidak jelas dengan kepala yang semakin dekat dengan kepala gue! Bayangkann! Gue yang masih culun polos dipertemukan dengan bapak bapak yang berkelakar tak tentu arah, di siang bolong, tepat di samping tubuh. Gue mulai melihat ada tanda tanda tidak beres. Maka, gue sedang akan beringsut dari seat gue. Namun, posisi gue yang terjepit jendela dan juga badan si bapak membuat gue kepayahan. Bahkan, kini si bapak jelas jelas memblokade jalan gue! Gue dihimpitt!! Lama lama gue gemetaran. Untungnya, si bapak kondektur bisa membaca keadaan dan kalian tahu apa yang dia lakukan?? Dengan serta merta dia menarik tangan gue, lalu gue dipaksa melewati bapak itu. Lalu, dengan penuh kasih sayang si bapak kondektur masih memegang tangan gue sampai gue turun. Bahkan, saat akan berganti angkot pun tubuh gue masih gemetaran. Siang itu gue apes maksimal karena tenyata....gue sebelahan dengan orang mabok!!

Lain SMA lain pula kuliah. Saat kuliah dengan jadwal yang tidak lagi teratur membuat hidup gue juga dilanda ketidakaturan. Dari makan hingga tidur gue tidak lagi teratur. Dan semua itu berimbas dengan pemanfaatan bis. Dari Ambarawa menuju ke Salatiga gue menghabiskan sedikitnya 45 menit. Biasanya pagi pagi gue sudah siap sedia membawa satu buah ransel berisikan segala macam piranti dari laptop sampai tempat makan. Kalau dipikir pikir gue kadang suka susah membedakan mana yang pergi kuliah mana yang pergi dari rumah alias minggat. Barang bawaan gue udah nggak santai banget bebannya, berbanding lurus dengan beban hidup gue. Nah, begitu sampai di seat bis, yaitu di bangku bis nomor dua dari belakang sebelah kanan tepat sejajar dengan posisi sopir gue langsung menyelundupkan ujung kabel kedua belah telinga gue lalu menghubungkan ujung lainnya ke HP gue. Dulu lagu favorit gue adalah kumpulan lagu milik Justin Bieber. Dulu dia masih alim, sekarang dia sudah berubah. Semenit kemudian saat bis akan beranjak pergi, kepala gue sudah terhuyung huyung seirama dengan hentakan ban mobil yang memang sudah renta. Bahkan, dia tak jarang ngambek di tengah jalan dan membuat hidup gue semakin dilanda kepanikan. Tapi, kali ini si bis terlihat begitu riang gembira. Perjalanan tanpa hambatan dan kepala gue bisa meliuk liuk dengan bebas. Kalau sudah begini, gue sudah tidak peduli lagi orang akan berkata apa.

“Ih, tuh liat gadis tidur di bis kok sampai kayak gitu...”

“Ihh, gitu amat kayak nggak pernah tidur.”

Tapi emang nyatanya gue nggak pernah tidur saat itu. Gue berangkat pagi, lalu setelah itu gue bekerja dan di sore hari gue baru pulang. Gue sering sampai rumah jam 10 dan dilanjutkan dengan menggarap skripsi yang bikin otak rasanya mau butiran debu. Begitu mendaratkan pantat di bis, jelas gue pikir ini adalah saat tersyahdu untuk tidur barang sebentar. Tapi masalahnya adalah begitu gue tidur, gue susah bangunnya. Bahkan, udah beberapa kali kejedot seat depannya pun gue masih bisa pulas. Entah saat itu gue mimpi sedang wisuda atau bagaimana, saat gue membuka mata rasa rasanya ada yang janggal.

“Wah, gue dimana?”

“Kayaknya kalau kuliah gue nggak lewat sini deh...”

Detik berikutnya gue sadar.

“Gue kelewataaaaaaaaaaaaannn...aaaaaaaaaaaakkkkkkkkk...”

Tanpa babibu gue langsung berlari dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Gue asal bilang kiri dan bis pun terhenti. Si bapak kondektur yang memang sudah faham tentang keberadaan gue langsung berseloroh...

“Owh, kelewatan ya mbak...besok besok saya bangunin mbak...”

“Terimakasih bapak...”

Akhirnya gue harus menyeberang lagi dan naik angkot untuk kembali ke jalan yang benar. Hari itu, gue harus puas hanya dengan mendengarkan penjelasan dosen di balik pintu. Nyali gue menciut saat gue mengetahui kenyataan bahwa gue sudah telat 45 menit alias separo pelajaran.

Namun, sejak itu gue sering dibangunin oleh bapak bapak kondektur bis. Oleh karena itu, di kesempatan ini gue ingin mengucapkan beribu terimakasih kepada seluruh jajaran kondektur bis ESTO yang sudah bersedia membangunkan gue saat gue didera kantuk yang membabi buta.

Dari pengalaman selama tujuh taun naik angkot dan bis, gue sudah banyak makan pahit manis asin gurih kehidupan di dalam dunia perbisan. Juga gue sudah punya beberapa tips untuk para beginner.

1. LIHATLAH SIAPA DI SAMPINGMU

Banyak kali kejahatan atau tindak asusila yang terjadi di dalam angkotan umum. Nah, karena itu seyogyanya kita apalagi kaum perempuan harus bisa membaca keadaan dengan akurat. Setiap kali akan duduk atau setiap kali ada orang akan duduk di samping kita, lihatlah wajahnya. Misal di kasus gue itu, seharusnya sejak si bapak pemabok mulai menyebarkan aroma busuk, gue sudah berganti tempat!

2. KATAKAN TIDAK PADA PERMEN

Ini juga penting!! Banyak tindakan hipnotis dan semacamnya beredar di bis. Tidak hanya pada korupsi ataupun pada selingkuh dan mendua versi Afgan, kita juga harus bilang tidak pada permen atau makanan apapun yang disodorkan oleh orang di samping kita. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati perih di hati karena abis dicopet.

3. BILA INGIN TIDUR, NYALAKAN ALARM.

Eitsss, bukan hanya saat akan tidur di rumah saja, kita juga perlu nyalain alarm saat terkantuk kantuk di dalam bis. Ini meminimalisir hal hal yang mungkin terjadi seperti kelewatan. Nggak asik banget kalau kita tidur dan bangun bangun,
“Looh?? Perasaan tadi naik dari sini kok sekarang udah di sini lagi?? Apa yang sebenarnya sedang terjadi ya Allooooooh??????????????????”

4. SEDIA OBAT SEBELUM MABOK

Bukan, mabok ini beda dengan maboknya si bapak yang tadi. Sebagai manusia kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di perjalanan. Sekarang sehat belum tentu lima menit berikutnya kita sehat, bukan?? Nah, makanya saat akan naik angkotan umum atau bis, ada baiknya bila kita berbekal obat, minimal freshcare. Apalagi saat naik angkot sendirian, nasib kita ada di genggaman milik sendiri. Ingat itu!

5. BERDOA

Terakhir, jangan lupa berdoa. Ini juga untuk meminimalisir hal hal yang tidak kita inginkan. Ahh, atau bisa jadi berdoa dengan modus yang lain.

“Ya Alloh, selamatkanlah hamba di sepanjang perjalanan dan bila Engkau menghendaki maka pertemukanlah hamba dengan tulang punggung di tempat yang tidak terduga dengan tempo yang sesingkat singkatnya, hingga hamba bisa menjadi tulang rusuknya, aamiiin....”

Yah, namanya juga usaha. Ahh, memang banyak sekali kenangan dan pelajaran berharga yang bisa gue rengkuh dari sebuah perjalanan dengan bis penuh kenanga, bis ESTO.



12 comments:

  1. Whahahahah baru dengar nih yang namanya Penulis Asoy
    Hieheiehiheiheiheiheiee

    ReplyDelete
  2. ternyata meykke memiliki kisah yang waw bersama sebuah bis..

    gw juga pernah mendapatkan ancama di bis .
    emang bis menyimpan banyak om-om berotak mesum yah -_-

    kelewatan tujuan? kayaknya gw juga pernah Mey, :D
    faktornya sama KETIDURAN wehahaha

    btw, tipsnya keren, smoga ga ada lagi generasi yang bakal diganggu bapak2 mabok di BIS ESTO. :)

    ReplyDelete
  3. Wahahaha...... hmm sekedar tips aja ya mending mbak meyke belajar Women self Defence mbak ya untuk jaga - jaga + melestarikan budaya bangsa sendiri. Jadi mungkin point nomer satu itu bisa di hadapin mbak!!!

    ReplyDelete
  4. kak meyke aku malah gak bisa tidur kalau di bis. karena ya itu tadi takut kelewatan. pernah tuh aku pergi mau ke jember niatnya mau turun di terminal A eh gegara ketiduran malah turun ke terminal yang lain. and at least, naik bis lagi ke terminal A -_-

    ReplyDelete
  5. Perjuangan lo berat tapi seru juga ya Mey, salut deh...lo adalah cewek tangguh :)

    Tapi, Bis itu emang udah ada sejak masa penjajahan? Kok masih keliatan bagus gitu?
    Besok biar seru, lo nikah di dalam bis itu aja.. biar nanti pernikahan lo masuk On The Spot..Muehehehehe

    ReplyDelete
  6. wah... ngeri juga ya Meyk satu seat sama orang mabuk, duh aku bisa bayangin posisimu saat itu hahahaa
    tapi bener juga, gak hanya orang mabuk, kadang jg ada penumpang yg ngajak kita ngorol ngalor ngidul ga jelas gitu pffft
    itu tipsnya bahus juga, selalu berdoa kemanapun kita pergi dan jangan sekali2 ketiduran terus kebablasan kayak km Meyk, berabe jadinya hahahhaa

    ReplyDelete
  7. wah, kayaknya perjalanan hidup kakak yang penuh dengan lika liku itu bisa dikatakan ngga pernah terpisahkan sama bis Esto ya..

    aku ngga pernah sih ngalamin tidur di dalem bis, tapi pernah aja gitu diceritain temen kalo dia sering kelewatan gara2 dia tidur di bis, sama kayak yang diceritain kakak ini,,

    nah, tipsnya boleh banget tuh.. yah, walaupun aku kuliah ngga pernah naik bis sih.. tapi penting juga buat jaga diri..

    ReplyDelete
  8. esto bukannya yang buat mata ya ? obat mata :v
    gile 7tahun perjuanganmu tak sia sia nak :v bergelut dengan asap kendaraan

    itu tips yang paling atas beguna bgt , gue sebagai cowok juga gamau ada orang yang kena tindakan asusila

    ReplyDelete
  9. wow... tipsnya hebat banget kakak... katakan tidak kepada permen,,, haha.. *penolakan*

    Gak baikloh menolak pemberian orang ...

    ReplyDelete
  10. bus salatiga adalah bus kenangan yang membawaku ke sebuah daerah sejuk bernama kalibening, tingkir...
    nggak tau namanya apa busnya,,lupa..pokoknya busnya ada wc nya....jurusan semarang-salatiga...
    mungkin aja temanya bis esto..atau sepupu...atau jangan-jangan kekasihnya... -_-

    ReplyDelete
  11. ciee yang nggak menang lomba, hahaha sabar mbak, mungkin mba meyke nggak ada orang dalem tuh, makanya kalah :p

    woow, ternya bapak itu mabok ? lempar dari jendela mbak, wkwkw,
    itu si kondektur nya juga modus, megang2 tangan segala -_-

    ReplyDelete
  12. Berdasarkan pengalaman tidur lo yang cenderung "MASYA ALLAH" banget itu, gue bisa menyimpulkan bagaimana ekspresi dan posisi lo tidur di bus, kak!

    Sampe segede ini, selama gue naik bus/angkot, gue nggak tau kenapa, apa ini karena perut gue yang selalu bermasalah tiap naik kendaraan begituan atau karena gue takut pening di kepala kalo gue pake tiduran. Gue juga nggak tau, sebab sampe sekarang itu masih horor dan mistis banget. Jadi gue nggak pernah ketiduran di kendaraan umum kecuali KAI.

    Tapi meskipun gue nggak tidur, gue tetep pernah nyasar ke Purwodadi, kak! Iya, tak salah lagi, ini kisah nyata! Padahal arah perjalanan gue ke Cepu, berlawanan jauh banget dengan Purwodadi, Kalo nggak percaya, check ke gugel mep. :D
    Thnx untuk semua tips lo ya kak!
    Posting ini keren badaaaaiii!

    ReplyDelete