Monday, 30 June 2014

Ini Soal "Banding"

“Ahh, kenapa hidupnya terlihat mudah sekali??”

“Ahh, kenapa rasa rasanya dia tak kekurangan suatu apapun?”

“Ahh, lahir dari keluarga harmonis yang begitu terlihat saling mencintai...”

Sebagai manusia, kadang saya merasa begitu berkekurangan. Setiap malam begitu banyak hal yang berseliweran di benak saya. Apalagi bila ditambah dengan tegukan kopi panas yang tidak ada habisnya, seolah olah saya bisa kedip kedip hingga fajar siap menukik.

Terkadang tanpa saya sadari saya terlalu menyilaukan mata sendiri dengan apa yang dipunyai oleh orang lain. Kadang mereka mempunyai hal hal yang saya tidak punya, kadang mereka bisa merasakan hal hal yang belum pernah saya rasakan, kadang mereka memiliki nikmat nikmat yang rasanya saya belum pernah mengecapnya. Lalu, saya akan berkutat dengan “ah” dan segala “ah” yang menumpuk dan meninggi hingga menyundul langit langit kamar kost.

Terkadang nikmat nikmat Alloh terasa begitu mini tertutup ketidaksyukuran hati yang terlampau sombong, terlampau obsesif, terkadang impulsif. Dalam hidup ini pun saya berkutat dengan berbagai banyak hal. Saya ingin mencapai banyak hal. Namun, terkadang segala harapan selalu diekori dengan kata “Apa mampu?”, “Apa bisa?”. Matinya lagi, saya terkadang menganggap diri terlalu mini dengan melekatkan ekor itu dengan kata kata “Apa mampu seperti dia?”, “Apa bisa seperti dia?”. Lalu saya akan diliputi kegamangan sepanjang malam. Saat itu saya menyadari betul bahwa saya manusia biasa, manusia yang alpa akan sebuah kesempurnaan, manusia yang selalu membutuhkan pencerahan dan tangan tangan Tuhan, Alloh SWT.

Saturday, 28 June 2014

"Back To Traditional!!" ala Taman Budaya Sentul City



“1...2...3...” Wussss.....sekonyong konyongnya badan gue seperti terhempas di awang awang. Hidup gue sepenuhnya gue percayakan kepada seutas tali yang mengikat gue di beberapa titik. Gue buka lebar lebar lengan gue. “I believe I can fly” adalah theme song yang kali ini gue usung. Jelas saja gue senang buka kepayang. Dengan tubuh yang terus menukik turun gue benar benar bisa merasakan udara yang seakan menabrak gue berulang kali. Lalu sejurus kemudian gue melemparkan kedua tangan gue ke bawah dengan kepala yang menghadap ke atas, posisi santay kayak di pantay dengan mata tertutup. Ahh, sensasi ketinggian yang dikolaborasikan dengan kecepatan selalu menerbangkan gue ke awang awang. Iyeee, gue memang lagi di awang awang!!



FIELDTRIP (again) !!

Thursday, 26 June 2014

RASA TANPA KATA

Ini adalah cerpen saya yang berhasil merebut juara kedua dalam buku antologi kedua saya, akhir tahun lalu berjudul "Cinta Terpendam" (kamu bisa liat covernya di laman My Antology Books) yang dirilis oleh Mozaik Publisher :) Dan ini hanyalah untaian cerita pendek fiksi, bukan nyata.



“ Tia Kusuma Putri, 1 B!”

“Melisa Cahyaningtyas, 1 E!”

“Septilia Putri, 1 D!”

Siang itu matahari sangat terik. Beramai ramai anak baru SMA Harapan Baru berbaris di muka sekolah. Ya, hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sini dengan title yang baru. Anak SMA. Aku juga berada di antara ratusan anak anak mantan SMP ini. Tapi tenang, aku tidak sendiri. Pasalnya, sahabat SMP ku juga bermuara di sekolah yang sama. Iya, setelah berjibaku mendaftar sana dan sini, lalu setiap hari memantau perkembangan nilai UAN di depan sekolah ini, akhirnya kita berdua bisa diterima di SMA yang sama, SMA idaman!

“Wah, Dian dimana ya...” mataku terus menyisir barisan demi barisan. Sudah sedari pagi tadi aku tidak melihat sosoknya. Aku mengedarkan pandanganku, dan sekonyong konyongnya berhenti di satu titik. Tinggi, jangkung dan sedikit legam. Lihat, sekarang dia tersenyum! Lekukan lesung tampak samar samar tercetak di pipinya, dan sederetan gigi rata seakan menyembul di balik bibirnya. Bahkan dari pandangan pertama pun aku bisa menilai bahwa dia adalah orang yang ramah dan hangat. Sesekali dia tertawa dan lagi lagi memperlihatkan sepaket lesung pipi dan deretan giginya yang rapi.

Dan bahkan, ini sudah lebih dari 5 menit dan aku masih terus memperhatikan sosok itu. Dian terlupakan. Dan di hari Senin itu, di satu hari bersejarah bagiku, di hari dimana nasib membawa kita ke jarak satu meter saja, setiap hari, dari pukul 7 pagi, sampai pukul 2 siang hari, selama setahun! Dan di hari itu aku menyadari satu hal. Sesuatu telah datang dari mata turun ke hati.

“Melani Astika, 1 A!”

Wednesday, 25 June 2014

SEKELUMIT KISAH DARI BIS ESTO

Ini adalah naskah yang pernah gue ikutkan dalam event menulis bertema Public Transportation belum lama ini. Sayang, tulisan gue kalah bersaing dengan penulis asoyyy lainnya. Nah, silahkan yang mau baca gratis monggo yaaaa....

                                                                                                                        Meykke Santoso


Bila berbicara tentang alat transportasi umum atau bahasa gaulnya public transportation, barang pertama yang langsung meloncat di pikiran gue adalah BIS. Bis ini bukan sembarang bis. Sejarah mencatat kalau bis ini sudah eksis jauh sebelum gue eksis di dunia ini, bahkan jauh sebelum Ayah dan Ibu gue mengusahakannya. Bis ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Namanya adalah bis ESTO. Bis ini bertugas untuk mengantarkan para umat manusia dari sebuah kota kecil bernama Ambarawa yang terletak di Kabupaten Semarang menuju ke Salatiga.

Bagaimana bisa bis ini begitu akrab dengan kehidupan gue?? Dulu, saat gue masih menimba ilmu sebelum akhirnya mampu menimba rejeki gue harus mengayuhkan kaki gue menapaki jalan berliku bersama si bis. Tidak tanggung tanggung, gue harus meniti jejalanan sepanjang 25 kilometer sebanyak dua kali pulang dan pergi. Tidak tanggung tanggung episode kedua, gue melakoni perjalanan itu selama tujuh tahun semenjak gue diterima di salah satu SMA dambaan di kota itu yang kemudian disusul dengan kenyataan bahwa gue juga kuliah di kota kecil nan sejuk itu.

Tuesday, 24 June 2014

MASA KECIL, MASA YANG BERBARA BARA!!

“Meykke!! Malam ini aku datang membawa satu hadiah untukmu. Aku akan membawamu ke dalam satu serpihan masa yang paling ingin kamu jejaki kembali. Maka, serpihan masa mana yang ingin kamu datangi untuk kedua kalinya?”

Gue kaget bukan kepayang, lalu gue pikir mumpung ada kesempatan, buru buru gue berpikir.

“Wahai siapa saja kau yang menyampaikan kabar gembira ini aku sudah memutuskan serpihan masa mana yang bilamana bisa ingin sekali lagi aku kecap sensasinya. Aku ingin kembali ke masa dimana aku Cuma memikirkan dua perkara dalam hidup ini ; besok ada PR apa, pulang sekolah mau main apa.”

Iyess, gue buru buru menjawab kalau gue ingin kembali ke masa kecil gue!! Gue sebenarnya pingin mengecap kembali masa keemasan dimana hati merekah dengan putik dan benang sari yang saling berlekatan tatkala dia membawa hati gue bersenandung di tepian danau dengan mentari yang berkerjapan di beningnya permukaan air, tapi setelah gue pikir pikir begitu gue kembali ke masa sekarang, semua itu toh nggak ada gunanya karena hanyalah ilusi masa lalu penghambat masa depan, jadi gue nggak jadi kembali ke masa masa pacaran dulu. Bagi gue, masa masa penuh keindahan adalah masa masa kecil, saat langkah dengan riang gembira berikut tangan yang berayunan lemah gemulai bersinergi menjadi satu.

* “IKE, INGAT!!! ROTI ITU BIKINNYA JUGA DARI ES!! KAMU MAKAN AJA ROTI YANG BANYAK ITU SAMA AJA MAKAN ES YANG BANYAK!!”

Thursday, 19 June 2014

"RELATIONSHIT!!!" ucap Alitt Susanto

“Tapi....aku nggak tahu aku bisa melanjutkan hidupku tanpa kamu.”

Sesaat setelah gue mengirimkan chat bernada putus asa itu, Wina membalas, “Abang pasti bisa. Aku yakin itu.”

--

Gue baca tuh penggalan terakhir sebuah cerita bermula madu berakhir empedu sambil kejer. Gue nggak ngerti lagi ini sebenarnya gue lagi baca cerita komedi apa buku romance yang akhirannya benar benar dirundung nestapa. Tapi, bagi gue dari semua bab atau dari seluruh buku ini, bagian cerita Long Distance Lover adalah cerita favorite gue karena walau dijejali dengan kalimat penuh personifikasi atau hiperbola biar lucunya ada, tapi jalan cerita dan akhir dari cerita itu bisa bikin gue pingin nyanyi “Aku rapopo aku rapopo aku rapopoooo...”

Alitt Susanto dan buku terbarunya!

Tuesday, 17 June 2014

Bergelantungan Mengitari Angkasa Indonesia, TMII - Jakarta!!


“Yaya! Ayo kita naik itu!!” Gue menunjukkan sebuah benda berbentuk balok berjendela yang wara wiri membelah angkasa Indonesia mini dengan hanya seutas tali bertumpu pada tiang tiang panjang nan kuat.

Begitu lepas landas gue bisa melihat seantero Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Lihat!! Rumah rumah berjejeran dengan bentuk beraneka ragam. Lihat!! Banyak sekali bangunan antik yang menggambarkan wajah rupa rupa Indonesia yang jelas jelas rupawan. Bahkan, di tengah perjalanan gue seolah melewati kepulauan Nusantara hanya dengan sekali kayuh, bergelantungan menembus provinsi demi provinsi yang telah dengan brilian digagas oleh Ibu Tien Suhartoe di tahun 1970!! Jelas saja muka gue penuh binar dengan girang yang berkecipak seantero hati.

“Kita dimana Yaya???”

“Taman Mini Indonesia Indah!!”

“Uuuuu yeaaaaaahhh!!”

----
Rencana untuk berkeliling Indonesia hanya dalam sekali putaran udah kayak pemilihan Presiden ini bukannya tanpa kerikil tajam dan semak belukar. Rencana pertama gue gagal total dihadang macet luarrr biasa. Waktu itu sahabat gue, Uma bela belain tidur di kost gue dan berencana untuk bisa mengitari Indonesia bersama. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, rencana itu berubah menjadi butiran debu karena INI.

Rencana kedua pun tak lebih baik dari rencana pertama. Gue dan teman teman kerja gue sudah berencana untuk ke TMII. Dan apa yang terjadi tiga hari sebelum tanggal merah itu?? Pipi gue menggembung sebelah dan virus Mumps telah menginvasi kelenjar Parotis gue. Istilah bulenya, gue....gondongan!

Pada akhirnya Tuhan menjawab doa gue, di rencana ketiga yang adalah rencana dadakan, akhirnya gue bisa berpijak ke tempat ini. Bahkan gue lupa kapan gue terakhir ke sini. Apakah saat study tour SMP sekian tahun yang lalu?? Atau saat SD bersama nenek gue yang piknik bareng temen arisannya itu??? Entahlah. Yang jelas gue ke TMII dengan mengemban sebuah misi.

Mentari sudah menukik di ujung ubun ubun saat gue dan Yaya pada akhirnya berdiri di depan Gerbang Utama TMII. Sebelumnya Yaya yang baik hatinya telah menjemput gue di kost gue. Gue masih pemula atau newbie dalam hal naik busway. Pun dompet gue melipat wajahnya tiap kali gue bertekad untuk naik taksi.

“Pet, gue kehilangan arah jalan pulang....Apakah naik taksi adalah pilihan yang terbaik??”

“No, Mey...jangan lakukan itu... tanggal 25 masih setengah bulan lagi. Apakah kau tidak tahu kalau naik taksi di Jeckardah ini pun haram hukumnya untuk kehilangan arah jalan pulang. Bisa jadi kita diantarkan sampai ke Ragunan padahal seharusnya ke Cibubur.”

“Tapi, Pet...” Galau menginvasi hati gue.

“Ya sudah Meykke...aku punya ide!! Bagaimana kalau kita, katakan peta!! Katakan petaa!!”

“Tapi Pet, dimana Boots berada?”

Setelah suara jangkrik berkicau, gue pada akhirnya nggak suka naik taksi. Yaya yang sudah menginjak level advance sebagai penumpang TransJakarta menjemput gue ke kost.

Now, kita ada di ujung Taman Mini Indonesia Indah!!!

Friday, 13 June 2014

SURAT UNTUK YANG TELAH TERTINGGAL

Ini adalah naskah yang pada januari 2014 coba gue kirim demi keperluan lomba dengan tema senada. Sayang, gue belum bejo. Daripada tulisan ini teronggok di draft lepi, alangkah baiknya gue tulis saja di blog. But, I have nothing to do with the content. Ini hanya untuk keperluan event. I'm done.

source


Dear you,   
     
Apa kabarmu sekarang? Lama tak menyapamu di social media sejuta umat itu. Terakhir kali kau menyapaku saat menjelang tengah malam di pijakan hari ke 11 bulan terakhir tahun yang lalu. Kau tanya kabarku, aku tanya kabarmu. Ini lucu. Bukankah dulu kita tak pernah absen saling bertanya berita masing masing, setiap hari, selama 5 tahun kurang 12 hari? Karena di hari itu, di sore hari berpayungkan langit keemasan, kau memintaku untuk melepasmu. Muatan hatimu terlalu berat, katamu. Dan kau tak mau lagi menghitung masa di sisiku, bersamaku, menggenggam hatiku, seperti hari hari yang lalu.

Bagaimana kabarmu hari ini? Hujan terus mendera, banjir menjamah di banyak kota. Kau tak jarang radang tenggorokan, berpacu dengan cuaca ekstrim yang tak menentu. Ah, tapi itu khan dulu. Aku yakin kali ini beda. Seperti apa kau sekarang ya...

Sudah setahun lebih kita tak bertatap mata. Terakhir kita bertemu saat tak sengaja kau berpijak di jalan yang sama denganku, di depan kampus. Aku dengan riang, ehm, mencoba terlihat riang menyapamu. Dan kamu berkata apa saat itu?

Monday, 9 June 2014

Sakit dan Syukur



Sudah sekitar dua minggu gue nggak nulis apa apa, tepatnya sejak gondongan menginvasi pipi bawah berlanjut bawah telinga gue. Sejak minggu sampai kamis gue di minggu lalu gue nggak ngapa ngapain. Gue nggak kerja, pun gue melewatkan tanggal merah Selasa dan Kamis dengan sia sia. Dari bangun tidur sampai tidur lagi gue cuman tiduran doang sambil nonton tipi. Gue keluar nggak berani, gue takut anak anak kecil depan kost gue jadi nangis kejer ngeliat ada mbak mbak pipinya tiga. Berteman empat bilah tembok pasi (kayak biasa) gue cuman nyeker nyeker tembok sambil ngitungin cecak yang lalu lalang mencari pasangan di atap kamar.

Mungkin gondongan bagi orang yang belum pernah terinvasi adalah hanyalah pipi yang membengkak dan wajah yang semula tirus jadi tembem, dan itu cuman sebelah. But, life is not that simple, men!!

Dari yang semula cuman sebiji nangka, di hari ketiga pipi gue benar benar ada tiga!! Gue nggak bisa ngunyah karena tiap kali gue buka mulut, pipi gue cenut cenut. Bukan, ini bukan cenut cenut ala SM*sh...ini bukan hati, ini pipi. Gue cuman makan bubur, itu pun satu bungkus buat dua kali makan. Kenapa??? Cenutnya cetar sampai kepala gue pusing sebelah tiap kali ngunyah. Gue ngunyah tiga kali, sakitnya tiga menit. Tiap kali sakit, gue berhenti ngunyah lalu gue terlentang pasrah. Gue tungguin tuh pipi yang nyerinya nggak santay banget. Kalau masih sakit, gue buru buru ambil pil anti nyeri dari dokter dan segera gue tegak. Lalu gue tidur, gue mimpi dikeloni Ibu gue. Lalu, gue bangun. Gue galau.

Wednesday, 4 June 2014

random thought

I don't know how to start. I used to be soo cheerful and full of spirit. I have so many passions. I can work all day long, then teach the private course and write the blog or join the writing event at night. I used to be full of energy. But now I feel like I have no energy along the day. I am so sleepy although I sleep for around 10 hours. I don't know whats wrong with my body. I lost my passion in writing and blogging. I feel like wanna go back home and take a long long sleep. I am scared at night and always wake up in sudden. My feelibg is never at ease just like there is a tiger will eat me anytime. I miss my bedroom, the fragrance of my hometown, my mom and my family. I wake up with all the uncovenient feeling and I have no energy. I lost my spirit. I don't know what to do. I am feeling helpless.

I have to encourage myself again. But i have no idea.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...