Wednesday, 14 May 2014

Maafkan Ayah...

sumber

Empat bilah tembok pasi menyelubungiku yang entah sudah berapa minggu ada di dalamnya. Aku melongok ke seorang payuh baya yang berbalut selang dimana mana, bahkan dadanya pun seakan dirajah oleh banyak selang yang masing masing mengampu tugas yang berbeda beda, semata mata demi dua belah barang di dada yang terus mengembang dan mengempis. Mukanya lebih dari pasinya tembok dan bibirnya pun juga senada. Seorang gadis di sampingnya tak bosan bosannya mengoleskan madu di kedua bibirnya. Sayu tatapannya seakan ikut merasakan sakitnya raga laki laki paruh baya itu. Dalam dentingan ketiga, matanya meruah dan buliran membentuk aliran deras di pipinya yang merona.

“Ayah....”

Detak jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Si gadis sedang akan merebahkan diri di sofa dekat Ayanhnya saat seorang dokter mengetuk pintu kamarnya dan bergegas masuk. Si gadis langsung beringsut dari sofa dan mendekati sang dokter. Mukanya yang kepayahan mendadak menjadi tampak begitu tegang. Setelah mengucapkan salam, dokter segera mengecek keadaan Ayahnya.

“ Dek, mamanya mana?”

Ah, rasanya aku ingin menghambur ke gadis itu dan menyodorkan bidang datarku yang selama ini selalu mampu menguatkan setiap hati ringkihnya. Kini aku tahu dia memaksa hati ringkihnya untuk menetap sekuat baja.

“Mama sudah nggak ada. Saya hanya tinggal dengan Ayah.”

Kembali dokter menghela nafas. Dia bimbang untuk meneruskan kalimat selanjutnya.

“Ayah saya sakit apa, Dok?”

Seakan mengerti apa yang ada di benak sang dokter, gadis itu bertanya.

“Dek, Ayah terkena kanker paru paru stadium 4.”

Mata si gadis masih berkedip secara normal. Mataku sudah meruah menganak pinak. Pipiku berkubang genangan air mata yang terus menyeruak tanpa henti. Gumpalan sesalan terus mengendap dan semakin besar.

“Ayah saya nggak akan meninggal khan Dok?”

Sekarang giliran mata dokter yang berkaca kaca. Sumpah, rasanya aku ingin memeluk rekat rekat gadis mungilku itu. Gadis mungil yang bahkan seharusnya tidak perlu mendengarkan kenyataan yang terlalu pahit, yang bahkan dia sendiri masih bisa bertanya kalau aku masih tetap bisa membuka mata di esok harinya.

Aku bersimpuh di hadapannya. Aku memohon ampun kepadanya. Aku memohon ampun telah menjejali hidupnya dengan duka nestapa. Aku memohon ampun pada gadis cantikku karena mengubah hidupnya menjadi begitu kelabu.

Batangan berasap itulah yang telah merusak paru paruku dan hidupku. Memang sejak masih duduk di bangku SMA aku sudah begitu akrab dengan rokok. Menginjak dunia kerja aku sudah menganggap rokok sebagai kebutuhan wajib yang harus aku penuhi. Sehari aku bisa menghabiskan dua bungkus rokok. Namun, sebenarnya aku sudah pernah akan menarik diri dari asapnya yang membumbung. Saat itu istri tercintaku memintaku untuk berhenti merokok. Aku sudah seringkali batuk beruntun yang sukar sembuh. Suaraku berangsur serak, nafasku sering tersengal dan aku gampang merasa capai. Saat itu, istriku mengultimatumku untuk berhenti merokok. Untuknya, apa saja aku lakukan. Namun, istriku rupanya tidak melakukan apa saja untukku. Dia tega meninggalkanku bersama buah hati kita yang kita nanti sosoknya banyak tahun yang lalu.

Rokok mulai menjadi pelarianku semenjak itu. Tiga bungkus pun lunas aku lahap setiap harinya. Asap selalu mengepul memenuhi paru paru. Kini, aku harus membayarnya. Rinai air mataku terus mengalir. Dan sebanyak apapun air mata bercampur sesal tak bisa lagi membasuh paru paruku yang sudah berlubang.

“Maafkan aku, anakku...”

---

Esok harinya, dengan ditemani keluarga yang terbang jauh dari luar kota si gadis berwajah cantik itu mengusap usap pipi Ayahnya. Kini tak ada lagi selang yang menjejali badannya. Pun tak ada alat bantu pernafasan yang melingkupi mulut dan hidungnya. Lihat, tak ada lagi layar pemantau detak jantung. Karena memang sudah tak ada lagi dua belah barang di dada yang mengembang dan mengempis.

“Ayah, selamat jalan....salam untuk Ibu si surga...”

Di ruangan berdinding pasi itu, semua larut dalam pilu bertalu talu.



17 comments:

  1. Sedih bacanya. Bener tuh, rokok itu membahayakan. Katanya, hampir setiap hari ada orang meninggal karena rokok.

    Btw, semoga menang lombanya yaa. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya makanya...

      iya, aamiin makasih yak :D

      Delete
  2. sedih mbak mey :') jadi si anak kecil itu jadi yatim piatu dong :')
    cceritanya menyentuh
    good luck buat lombanyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya jadinya huhuhu, makasih cc Lidya :D

      Delete
  3. ga tega ngebayanginnya :(
    tapi pesannya dapet kok.. intinya stop merokok selagi belum terlalu parah, atau jangan merokok sama sekali.
    semoga menang, mey :)

    ReplyDelete
  4. endingnya sad :(
    tapii bagus, bisa bikin yang baca nangis huhu

    ReplyDelete
  5. aduh itu itu itu ...

    bikin gue nangis sumpah :'(
    ceritanya menyentuh :'(

    ReplyDelete
  6. sedih sedih sedih. :( kasian si anak kecil.
    gara-gara si rokok tuh. smoga orang-orang yg ngerokok diberi kesadaran.
    sukses buat lombanya kak mei ;D

    ReplyDelete
  7. Alurnya sedih... bisa dikatakan menyentuh nih.
    pesan dari ceritanya juga dapet

    ReplyDelete
  8. :"( kalau sudah tentang ayah, udah deh sedihnya maksimal.
    Menyentuh sekali. Ayah-ayah di dunia yang masih merokok kayaknya harus membaca ini supaya mereka sadar bahwa tidak merokok itu bukan hanya untuk kebahagiaan mereka namun juga anak dan istri mereka :")

    good luck lombanya! :D

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Maaf ya, Mey. Boleh 'kan memberi masukan membangun (meski agak sadis^__^V)

    Saya dari awal baca tidak bisa menemukan hubungan kuat antara paragraf pertama dengan yang selanjutnya. Kalau seorang ayah ingin bercerita tentang dirinya tentang ketabahan anaknya, seharusnya:
    - memberitahukan bahwa yang bercerita adalah ayah itu sendiri dari awal
    - memberitahukan yang bercerita adalah ayah itu sendiri di akhir

    Dari kalimat pertama, Mey bercerita menggunakan kata -nya. Lalu paragraf berikutnya aku, jadinya agak rancu mengikuti ceritanya.

    Lalu di kalimat ini: Aku bersimpuh di hadapannya. Aku memohon ampun kepadanya. Aku memohon ampun telah menjejali hidupnya dengan duka nestapa. Aku memohon ampun pada gadis cantikku karena mengubah hidupnya menjadi begitu kelabu.

    Bagaimana si Ayah bersimpuh? Sedang ia berbalut banyak selang di tubuhnya (kalau dilogika kembali sih, harusnya mungkin ditambahi saja: Ingin rasanya aku bersimpuh.......

    Di ending, bisa dibuat tuh, si ayah (dengan kata aku) memandang kepergiaan anak gadisnya, dan meminta maaf atas perbuatannya dulu, meski si anak enggak bisa mendengarnya lagi,

    Terakhir, editing lagi EYD nya kalau masih sempat. masih ada waktu 'kan? Banyak banget tuh yang harus Mey rapikan kembali.

    *Saran : Maaf kalau masukannya terlalu pedas dan tidak mengenakkan. Boleh dihapus kalau tidak berkenan. :)

    Selamat menulis dan semoga menang setelah revisi^^

    ReplyDelete
  11. ini menyentuh banget kak ceritanya. gue ga bisa bayangin gimana nasib perasaan anak tersebut yang di tinggal oleh kedua orang tuanya. gue pasti gabisa kalo berada di posisi anak itu.

    ini juga salah Ayahnya juga, kenapa dulu tidak menuruti perkataan istrinya untuk berhenti merokok. penyesalan memang datang belakangan. istrinya pun pergi dan Ayahnya semakin banyak menghisap rokok, jadinya terjangkitlah penyakit kanker paru-paru stadium 4 itu.

    sukses buat giveaway nya kak ;)

    ReplyDelete
  12. Seperti biasa, meskipun ternyata banyak koreksi dari kak Lina di atas, tapi secara keseluruhan udah oke.. Cuma ya aku sempet agak bingung sama ini yang cerita siapa? di awal-awal..

    Kerenlah, moga menang! Dan... stop merokok buat siapapuN!!!!!

    ReplyDelete
  13. ya..berhenti merokok untuk siapapun ..rt huda


    ide ceritanya keren,,,,menyentuh banget....cuman, ya..kayak yang dikoreksi sama mbak lina.....mungkin mbak meykke memang sudah saatnya butuh editor :P

    semoag menang ya mbak meykke...sukses selalu

    ReplyDelete
  14. catatannya menginspirasi banget kak... terutama bagi para smooker... cobanya mereka peka... syg kebanyakan pada cuekk.. ntr kena penyakit kayak si ayah baru nyesell... yah penyesalan selalu datang belakangan.. btw maaf baru ninggalin koment

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...