Tuesday, 22 April 2014

SUDAHMU BERDERAI DERAI


Meykke Santoso
“Sudah....”



Dia berdiri tepat di ambang pandangku, berbalut jaket tebal berwarna hitam pekat dengan dalaman kaos dual warna hingga kedua sisinya bisa dipakai semua. Dia berlindung di ujung jaket. Maklum, udara begitu dingin, dan rinai air tak mau berhenti mengguyur. Kita mematung.

Pandanganku terus merangsek menjelajah secara paksa ke penjuru retinanya. Makin lama, matanya terlihat kabur, tertutup rinai yang akan kuciptakan sendiri.

Detik detik berikutnya, kami masih mematung, menyelami mata masing masing sampai mataku terasa terbakar. Ah, jangan tanya hatiku. Tak peduli betapa dingin hawa menerpa kulit ariku yang terbalut jaket tebal, toh hatiku porak dalam batas poranda. Semakin lama memandangnya, rasa rasanya ada gumpalan yang terus membesar memenuhi dada, seakan ingin keluar tapi tak bisa.

“Apa?” Aku berharap aku salah dengar. Aku berharap perjumpaan sore ini adalah bunga tidur siang bolongku saja. Nyatanya, ini lebih dari sekedar petir di siang bolong. Ini lebih dari jilatan tsunami yang menyambar seisi hati. Kaca kaca di mataku semakin menebal, siap tertuang menganak pinak.

Masih berdiri tepat di depan tubuhku, dia menghela nafas terberatnya. Sorot nanarnya menancap mataku. Dengan begitu sigap aku membuang muka. Sedetik lagi aku melihat matanya, pipiku hanya akan seperti tanah sore ini. Namun, usahaku nampaknya sia sia. Dua detik berikutnya, pipiku berkubang, hatiku berlubang.

Aku tak mampu lagi menatap air mukanya. Aku menunduk sendu, menatap jaketnya. Tak ulung dalam sejekab mata, jaket ini menggulungkan memoriku.


“Haiiiiii!!! Happy Birthdaaaaayyyy!!” Bersama dengan kakaknya, kita merangsek masuk ke kamarnya. Dia terlihat kaget dengan binar binar matanya yang tertangkap jelas di memoriku. Dengan muka agak bengkak khas bangun tidur dan matanya yang masih memerah, dia duduk di pinggir tempat tidurnya. Aku tersenyum 5 jari begitu melihat ekspresi wajahnya. Dia berbalik tersenyum padaku.

“Happy Birthdayyy!!” ucapku lagi sembari mendekat padanya. Pagi pagi sekali dengan melajukan motor kesayanganku, aku berangkat ke rumahnya yang terbentang sejauh 25 km. Pun aku bekerjasama dengan kakaknya. Sehari sebelumnya, tanpa sepengetahuan dirinya, kita membeli kue ulang tahun bertabur oreo kesukaannya dengan hiasan lilin berkepala dua dengan satuan satu.

Begitu ayah ibunya bergabung bersama kita, dengan kompak penuh wajah ceria kita menyanyikan lagu happy birthday disusul tiup lilinnya dan bagikan kuenya. Selesai melahap kue dengan menyesap secangkir kopi bersama, kita siap mengguyurnya dengan kado kado.

Giliranku adalah pertama. Maka dengan malu malu, aku menyodorkan satu bingkisan berisi jaket berwarna hitam kesukaannya. Raut wajahnya semakin berseri seri, dan bahagiaku menjadi jadi.

“Waaah, makasih Raina....” ucapnya sembari mendekat padaku, dan menempelkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Aku hanya mengangguk ringan sembari menyambut pelukannya dan menepuk nepuk punggungnya. Tak ada lagi rasa canggung rasanya. Toh kita sudah begitu biasa berkumpul bersama. Tak jarang kita membidik salah satu film yang sedang ‘in’ dan memanjakan mata bersama sekeluarga. Juga, kita sering berkunjung ke salon bersama sekedar untuk facial atau creambath. Bahkan, ibunya sudah aku anggap selayaknya ibu sendiri.

Lalu dia membolak balik jaket hitam itu. Tak puas hanya membolak balik saja, dia kemudian mengenakannya. Selesai dipakai, dia kembali meleparkan senyum kepadaku. Ini belum usai, di bingkisan lainnya di dalam kado, aku meletakkan surat yang terlihat begitu menggumpal.

Dia hanya bisa melotot begitu membukanya.

“Raina....”

Aku merekam erat erat satu kata yang terucap dari bibirnya begitu dia berhasil membuka surat surat itu.
“21??” Ucapnya kemudian. Aku hanya mengangguk dengan sesungging senyum yang terus menempel.

Seumur umur, ini adalah surat terbanyak yang pernah aku berikan kepada seseorang yang berhasil masuk begitu dalam. Saat itu seolah olah poros bernama ‘kita’ tidak akan berhenti berputar. Kita saling berpandangan dan mengulum seutas senyum, seakan akan bersama akan meretas bahagia yang tak berujung.
Kembali aku menelan ludah walau tenggorokanku seakan tercekat. Kering kerontang. Seolah dia bukan Bima yang menerima 21 surat 2 tahun silam.

Kini air sudah menjulur memenuhi pipi dan aku tak lagi peduli.

“Sudah, Raina..sudah cukup..” Ucapnya dengan nada bergetar.

“Kenapa?” Dengan sekuat tenaga, aku mencoba meredam ledakan.

“Aku nggak bisa lagi...”

Persetan dengan nggak bisa lagi, batinku. Lima tahun yang lalu, bersama guyuran air hujan di batas maghrib, dia bilang pasti bisa dengan awalan ‘kita’

“Raina...aku yakin kita pasti bisa jalani berdua..” Kalimatnya masih terasa begitu nyata mendengung di gendang telingaku. Bahkan dia tidak menanyakan bagaimana hatiku kepadanya. Ah, toh itu juga tak perlu. Binar mataku saat itu menjawab semuanya.

Saat itu kita sedang menyesap kopi dengan asap yang menari nari di udara, bergulung gulung tersapu udara. Tepat di depanku hanya berbatas meja, dia mengucapkannya dengan mata teduhnya menancap tepat di kalbu mata. Pertama mendengarnya, aku hanya bisa menahan nafas.

“Ini adalah moment yang paling aku tunggu”

Toh nyatanya, hatiku telah berlabuh di sosoknya setahun sebelum kalimat itu meluncur dari bibirnya. Kupu kupu seketika beterbangan memenuhi perut dan dentuman jantung terasa sampai di ubun ubun. Rinai hujan menjadi saksi bagaimana kita seharusnya bisa bersama. Nyatanya, tidak.

Lagi lagi hujan menjadi saksi mata momentum dahsyat perjalanan derap hati kita. Gigiku bergemeretak, ngilu seketika menjalar. Aku hanya bisa meremas remas sendiri tanganku hingga ujung kukuku mencuat dengan kuku yang memutih menahan perih. Dadaku terasa sesak dan aku hanya ingin menghambur ke tengah hujan dan berteriak sekencang kencangnya.

“Ya sudah...” jawabku di akhir perjumpaan. Toh aku tidak bisa mengupayakan sesuatu yang memang tidak mau lagi diupayakan. Toh aku tidak bisa mengayuh sendiri sebuah kapal dengan nahkoda yang memang ingin tenggelam.

Bulir bulir air terus menjalar turun layaknya cinta kita yang harus turun tahta. Bila ditoleh ke belakang, memang banyak hal yang menghambat jalan kita. Banyak hal kecil yang berubah menjadi begitu besar, dan hal besar yang menemui kebuntuan. Begitu banyak pertengkaran tak terselesaikan yang mencuat di tahun kelima kita bersama. Jenuh dan bosan pun seringkali menari nari di pangkal hati. Dan dari banyak jalan, dia memilih jalannya sendiri, jalan untuk sendiri.

“Makasih Bim...” Aku tak kuat berlama lama berdiri di hadapannya. Dadaku sudah begitu sesak dan pedihku sudah begitu menggumpal. Rasanya aku ingin muntah seketika juga. Sekejab aku memakai helm dan mulai menancap gas di ujung genggaman tangan. Terus dan terus aku tarik dengan pandangan yang semakin buyar. Badanku begitu ringan seakan melayang, menikung nikung di antara para pengendara yang masih berbalut mantel. Bahkan, aku lupa memakai mantel. Di tikungan selanjutnya, sorotan maha terang langsung menyerbu mataku, menelantingku sedemikian rupa. Aku hanya bisa merasakan dentaman keras menghantam dadaku, hingga kini dadaku terasa begitu lapang. Hanya saja, semuanya terlihat buram. Aku tiba tiba mengantuk dan sedang akan terlelap saat sayup sayup aku mendengar suara Bima meneriakkan namaku.

“Rainaaaa!!! Rainaaaaa!!!”


“Kenapa lagi Bima?”

11 comments:

  1. Meyke,.. kakak memang keren sekali!
    Wuih, antologinya udah yang ke-12 tuh.. kirim ke aku dong!! Hehe...

    Hem.. membaca cerita di atas awalnya aku kira berakhir dengan nyaman. Ngga taunya, endingnya menyesakkan sekali. Ingin nangis...

    ReplyDelete
  2. hhm ini udah endingnya belum mey ?? wah tragis ya raina :( terharu pergi dengan cara yg gak seharusnya :)

    ReplyDelete
  3. Jadi ini ceritanya diputusin terus pulangnya kecelakaan gara-gara ditabrak sinar terang-benderang gitu yak. Hahaha -_- tapi di tengah-tengah sempet flash back tentang betapa romantisnya mereka berdua.

    Lucu aja gimana dua onggok manusia saling menyayangi di suatu waktu, dan di titik waktu lainnya semuanya berbeda... ditunggu cerpen yang alur-alurnya mengotak-atik otak pembaca kak Meyk!!!! :D

    ReplyDelete
  4. Pertama, aku suka banget ceritanya karena lagi-lagi, menurutku kamu punya banyak diksi dalam setiap postinganmu Kak. Itu jadi nilai lebih juga. Pembaca jadi nggak bosen. Hmm..., boleh ya aku curi-curi diksi yang baru aku temui? Hehe..

    Kedua, aku sempet bingung juga sih sama alurnya. Sebenernya ceritanya keren. Apalagi dipadukan sama kosakata yang beragam. Tapi karena aku lemot, aku jadi harus baca dua kali buat paham. Ternyata ini alurnya maju undur. Bener nggak? Kalo bener, aku pengen ngasih saran nih mudah-mudahan nggak keberatan :D

    Itu kan alurnya maju mundur, nah but ngebedain saat sekarang dan saat flashback, mending dikasih perbedaan kak. Misalnya saat udah beda adegan, pake pembatas *** atau pas adegan masa lalunya tulisannya pake efek italic gitu. Biar nggak pusing aja. But overall, very nice and really enjoy to read ur story :))

    ReplyDelete
  5. Manis banget. Pemilihan katanya kuat, tadi pas bacanya aja beberapa kali tersentuh. Suka sama cerpennya.

    "Toh aku tidak bisa mengayuh sendiri sebuah kapal dengan nahkoda yang memang ingin tenggelam."

    ReplyDelete
  6. wahh keren bahasanya..
    itu baru 21 surat aja dibilang banyak -__- ..

    Nyesek bacanya hahahaha :v

    ReplyDelete
  7. pengunjung baru nih hehehe seru juga ternyata =))) btw nama raina itu klo ditambah 'h' ditengahnya jdi berarti ratu loh ;) "rainha" hehhee that's my name from someone, jadi saya tertarik bgt bacanya meskipun telat huehhe...smoga tulisanmu menginspirasi ya ^_^

    ReplyDelete
  8. gak salah kalo tiap nulis ceritanya selalu tembus di buku2 antologi...
    keren banget, gue akui emang ceritanya syahdu banget. penulisannya juga udah rapi.

    endingnya sengaja dibikin ngambang gitu ya... bahasa yang menggelitik menurut gue 'menelantingku' hahaha

    tapi bagus Meyk secara keseluruhan... tinggal nunggu waktu aja buat kamu bisa punya buku sendiri

    ReplyDelete
  9. Pertama kali ne baca cerpen kak mei, maklum anak baru. Bahasanya keren, banyak kata-kata sederhana yang dirangkai jadi terkesan dalem banget. kayak jilatan sunami yang menyambar seisi hati :D

    ReplyDelete
  10. sesyahdu lagu india..ngena banget mbak meyke....keren banget....bener ..g salah kalau udah sampek nembus 12 antologi.....semoga terus bertambah

    ReplyDelete
  11. aku komenin ya kak mei... gini, aku suka banget ama majas - majasnya... cara merangkai kata - katanya juga bagus... untuk alur ceritanya, sebenernya nggak terlalu sulit dipahami, mudah tapi cukup mengena... tapi aku belum menemukan sesuatu yang wow di cerpennya... apa emang akunya yang konslet apa gimana... hmm, menurutku sih, kurang greget aja...

    btw... bener kata kak dwi diatas... pas lagi flashback atau ganti alur, sebaiknya dikasih tanda gitu...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...