Saturday, 22 February 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Menulis Sampai Mati




AWAL DARI SEGALA AWAL.....

“Yang mana nduk?” ucap Ibu gue. Gue mencermati satu per satu benda persegi panjang dengan banyak lembaran dilingkupi sampul tebal bergambar. Tak lupa sebuah gembok dengan dua batang kunci menggelayut mesra di pinggirnya.

“Ini buk!!”, ucap gue menunjuk ke salah satu diary bergambar cowok versi anime yang sedang mengangkat sebilah pedang dengan dominasi warna kuning.

Hari itu adalah hari paling bersejarah dalam perkembangan kepenulisan gue. Ini adalah cikal bakal, awal dari segala awal hubungan romantis antara elektron elektron otak gue dan jemari gue yang berkolaborasi dengan amat mempesona.

Sejak dibelikan diary di hari itu, gue mulai menulis hari demi hari yang gue lalui. Dari soal gue beli gorengan buah nangka dikasih tepung digoreng bernama samarinda habis tiga, gue ulangan dapet 10, pertempuran gue dengan Gendro; salah satu teman yang ngejekin kalau mukanya Shah Rukh Khan kayak Se Lo Kan, peristiwa jatuhnya gue ke selokan pas mau berangkat sekolah, sampai kisah berat lika liku cinta segitiga. Semuanya gue curahkan di setiap lembar diary gue. Tanpa gue sadari, gue membangunkan kecintaan gue terhadap dunia tulis menulis sejak menginjak bangku kelas 3 SD.

SD katam, berlanjut ke SMP. Gue mulai membeli tabloid Gaul, dan dari cerpen cerpen di majalah itu, khayalan gue berterbangan tanpa batas. Hap!! Gue tangkepin satu satu, dan gue lempar ke sebilah buku bergaris. Jadilah cerita cerita pendek hasil khayalan gue. Tak berhenti sampai disitu, gue juga bisa menghasilkan uang uang pertama gue sebagai seorang penulis!!! 

Caranya???

Gue tulis cerpen cerpen yang gue bikin di kertas, lalu gue steples tuh kertas, gue kasih sampul dan juga judul dengan tulisan tangan melengkuk lengkuk khas anak SMP kelas 1 dengan glitter.

“Temen temen, sekarang aku nyewain cerpen..yang mau baca, boleh..cuman 300 rupiah satu cerpennya...satu hari ya...

Gue bawa sekitar 10 cerpen berukuran buku tulis dibagi dua. Dan uang 300 rupiah dari Iis, temen gue SMP adalah uang yang gue dapatkan pertama kalinya sebagai seorang penulis. Hari berganti, tahun merangkak. 

Di bangku SMA, gue berganti pula bacaannya. Gue rajin meminjam majalah majalah remaja di rental majalah tepat di depan sekolah. Ada satu moment membahagiakan saat gue menekuni hidup sebagai seorang anak berselimutkan putih abu abu yang gemar menulis. Saat itu, gue liat ada lomba cerpen di suatu majalah remaja terkenal yang bahasa Inggrisnya itu ‘My Friend’. Sampai rumah, bermodalkan dengan komputer di rumah nenek, gue ngetik tuh cerpen, lalu gue lengkapi segala persyaratannya, dan gue kirimkan secepat kilat menembus dunia maya. Lalu gue jalani hari berikutnya dengan apa adanya. Beberapa minggu kemudian...

“Halo? Ini Meykke Alvia ya?”

“Iyahh, ini ciapa yach??”

“Ini dari majalah Kawanku memberitahukan kalau Meykke Alvia berhasil menjadi pemenang hiburan?”

“Uhm, maksutnyah mbak?” ucap gue sambil mencubit perut karena kalau lengan udah mainstream. Awwww...atid.

“Iya, kami mau menanyakan nomor rekening Meykke untuk pengiriman honornya..”

“Mbak, enelan?”

Friday, 21 February 2014

WISUDA jelas SWEET!!

Bulir bulir hujan dengan derasnya terus merangsek ke dalam jeans biru laut gue. Setengah badan gue lainnya bersembunyi di balik mantel berekor, sepenuhnya menempel lekat di balik punggungnya. Gue hanya bisa melihat jalanan beraspal yang basah terserang hujan. Dan gue, terserang cinta. Tak peduli betapa kuyupnya kaki beserta jari jemari, hati gue lain cerita. Suam suam kuku. Walau pun gue harus sesekali memegangi ujung mantel supaya tidak beterbangan, toh gue melepaskan sepleton kupu kupu beterbangan di perut gue. Dan deburan dada gue tak ubahnya seperti deburan ombak saat pantai sedang pasang. Di derai hujan, di hangatnya punggung, di sela sela kupu kupu yang beterbangan, gue mengulum do’a.

“Jangan surut ya Alloh...bila jodoh maka dekatkanlah hati kami berdua, dan bila tidak jodoh, maka jodohkanlah kami berdo’a.”

Agak maksa memang, tapi mau gimana lagi, namanya juga cinta.

“Tidur aja yank...” suaranya menembus mantel tertangkap telinga. Ah, andai dia tahu, suaranya bahkan dalam sekali menembus relung , mengendap mutlak berakar serabut.

“Tidur dimana??”, ucap gue dengan sok polos.

“Di hatikuuu...” gue muntah kupu kupu. Bukan, dialog kedua dari bawah tidak pernah terjadi di dunia nan fana ini.

Senyum menyembul di antara pipi gue, mata gue berseri seri, hati gue menari nari. Satu keinginan egois yang gue fikirkan kala itu,

“Pelissss, jangan cepet sampai pelisssss....” Kalau begini kejadiannya, gue ingin hidup seribu tahun lagi.

Sebenarnya gue pingin ceritain ini. Tapi, karena sahabat gue bilang dalam naungan whatsapp

“Mey, can I speak honestly to you?”

“Iyess...”

“Don’t write about it again. And againnn...and again...Think..there is no box..”

“Oke kak”

“Think that your life is not about blabering about your ex boyfriend”

“Yesss kak”

Bulu kuduk gue merinding melihat pesan itu dari temen gue. Jadi, gue nggak jadi menceritakan soal ini. jangan menceritakan kisah berlalu yang hanya tinggal abu. Ini jelas bukan moment terindah dalam hidup gue. 

Setahu gue, moment terindah adalah moment dimana manisnya masih bisa dikecap hingga sekarang, yang visualisasi masa nya masih bisa menyunggingkan senyum merona, bukan kalau dikenang manisnya menjadi getir dan visualisasinya memancing gerimis tak diundang yang datang dari pelupuk retina. Nggak boleh, kasihan...

Dan bila berbicara tentang moment terindah, memori gue langsung meloncat ke pertengahan tahun kemarin, saat mimpi yang gue tumpuk sebata demi sebata akhirnya terkatamkan dengan gelar sarjana bertahtakan cumlaude. Bahkan, ini adalah mimpi yang gue retas sedari kecil. Kuliah adalah hal yang wajib bagi gue, karena gue yakin if there is a will there must be a way. Kuliah bagi gue adalah jalan untuk meretas mimpi selanjutnya dan perjalanan setelahnya.

Dan di hari yang paling bersejarah dalam hidup gue, 20 Juli 2013,

Monday, 17 February 2014

Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati??? THINK AGAIN!! (Episode 4)


Pada akhirnya gue meneguhkan niat. Gue nggak bisa seperti ini terus menerus. Bahkan, sehari berlalu dan darah masih terus keluar. Bahkan, gue nggak bisa makan nasi terbentur gusi menganga dengan darah dimana mana. Saat gue buka mulut dan memantau keadaannya, gue suka bingung.

“Ini gusi apa hati?”

2 Januari 2014 gue sudah sampai di jakarta, dan menginjak pagi gue sudah duduk di emperan ruko sambil minum kopi, nunggu bos datang.

3 Januari kita semua berlabuh ke Lembang dan menginjakkan kaki di tepian kawah raksasa berasap bernama Tangkuban Parahu, dilanjutkan menginap semalam di villa Taman Bunga di pucuk Lembang yang dinginnya menyegarkan sukma.

Nah, begitu menginjak tanggal 4, dengan diantarkan bos, gue bertemu dengan Dany di mall anak gahol Bandung, Ciwalk, lalu kita menembus jejalanan Bandung hanya dengan kaki untuk bisa melihat bangunan bangunan antik serupa MonumenPerjuangan Warga Jawa Barat, Gedung Sate, Taman Bunga, juga menyelusuri jalan Dago dengan disokong sepeda gahol milik pemerintah, hingga mampir di Taman Jomblo, dan bermuara di Sibuga untuk mencuci mata juga dompet seketika.

Tapi, bukan ini inti ceritanya.

Tertanggal 4 Januari, setelah katam menyaksikan bunga bunga di tepi jalan, alangkah indahnyaaa...oh, kasihan...kan ku petik...sebelum layuuuu, disaksikan rintik rintik hujan di ambang magrib, satu payung berdua bersama Dany, gue pergi ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut, tempat sehari hari Dany menimba ilmu dan mengamalkannya.

“Aku nggak mau dicabut dulu lho Dan...soalnya khan ini masih sakit, perih dan merajam rajam. Kalau sakit khan nggak boleh dicabut dulu khan?”, ucap gue penuh modus.

“Ya coba dulu ntar Mey...tapi menurutku udah sampai sini juga, Mey...emang kamu mau ke sini lagi?”

Sunday, 16 February 2014

Bersama SERA, Berkat Nova, Mari Mulai Jelajahi Ibu KOTA!!!

“Jalan jalan membelah jejalanan Ibu Kota Indonesia naik motor”, itu adalah bunyi salah satu bucket list yang masih gue pegang teguh sampai sekarang. Dan hari ini gue rasa gue sudah memulai melintasi garis start dan pelan tapi pasti gue menginjak ruas jalan Jakarta.

Hari ini genap 6 hari Sera*1 nginep di kost gue, bertengger dengan sangat anggun di ruang tamu kost. Dengan wajah yang awet muda tanpa balutan krim Korea dan badan perkasa bak ikutan OCD dilanjutkan pilates, terkadang yoga, tante gue mengikhlaskan dia untuk hidup bersama gue dan menjadi bagian dalam bucket list gue mulai hari Senin, tertanggal 10 Februari 2014. Sejak Selasa, Sera menemani gue pergi dan pulang kerja bertubi tubi, setiap hari. Bahagia melingkupi sepenuhnya hati gue.

Minggu kali ini adalah hari pertama gue jalan jalan melintasi ranting jalan Jakarta. Arundina, kata teman gue, Nova, menyebutkan nama daerah yang akan kita tuju.

Gue yang masih dalam tahap perkenalan, semacam ta’aruf sama Sera dengan mengucap bismillahi tawakaltu alallohi la haula wala kuata ila bilahil aliyyul adzim, gue disokong oleh Sera mengarungi jalan yang berbilah bilah.

Dengan panduan kedipan lampu belakang motor Nova, gue melajukan Sera dengan penuh kasih sayang di jalan antah berantah ini. Saking sayangnya, di Valentine kemarin gue memandikan Sera dengan bunga mawar merah biar kayak Julia Perez. Tapi, waktu gue mau beli bunga, Sera bilang,

“Mey, nggak usah Mey...tanpa bunga pun aku sudah tahu kamu sayang aku dan akan menjagaku semampu jangkauan cintamu...”

Mata gue berair dan kita berpelukan erat sekali di sudut ruang tamu.

“Makasih, Sera.... kamu melengkapi hidupku...aku janji aku akan selalu melindungi dan menjaga keberadaanmu sepenuh hatiku...tidak akan aku biarkan siapapun menjamah mu...InsyaAlloh...” janji terucap dari mulut gue, dan Sera semakin mempererat jangkauan stangnya, melingkupi lenganku dan menjangkau punggungku.

Gue mengharu biru.

Alhamdulillah. Alloh memeluk setiap mimpi hamba hambanya yang mau berusaha. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? Sera adalah salah satu nikmat Alloh yang gue rindukan keberadaannya sejak bilahan tahun yang lalu

Wednesday, 12 February 2014

Daripada Sakit Hati, Lebih Baik Sakit Gigi??? THINK AGAIN!! (Episode 3)



Sang dokter dengan tampang manis rupawan lalu mulai menutup luka gigi gue dengan bulatan kapas khusus. Gue yang masih syok mulai mendaratkan kaki gue ke lantai rumah sakit. Gue luluh dengan imbuhan lantah. Gue mencoba berpijak sambil terus berpikir, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Mbak karena giginya sudah terlalu rapuh, jadinya ada akar yang tertinggal. Susah dicabutnya...”

“Tapi ini nantinya sakit nggak dok??”

Sebenarnya gue tahu ini pertanyaan retoris. Karena kenyataannya akar type apapun yang tak tercabut hanyalah serpihan perih yang kapan pun bisa menggeliat. Gue pikir asalkan mahkotanya sudah tercabut, akar ini tidak akan menimbulkan sakit yang berarti.

“Ehm...paling kalau sakit pas mau masuk angin saja mbak...”, ucapnya dengan muka yang begitu manis rupawan.

“Owh, gitu ya...jadi kalau mau masuk angin sekarang jadi nambah sakit gigi dulu. Jadi, nanti saat hidung saya serupa pipa lumpur lapindo dengan burung emprit berterbangan memutari kepala, lalu badan lemas tak bertenaga dengan pegal di segala sendi kehidupan saya masih harus merasakan gusi saya dirajam rajam. Gitu dok??”

“ya gitu deh..”, ucapnya lalu berlalu

Gue dengan setengah bibir yang masih kebas dengan tampilan bibir Jolie tapi hanya sebelah dipadu padankan pipi yang menggembung di udara akhirnya meninggalkan ruangan laknat itu.

Monday, 10 February 2014

Daripada Sakit Hati Lebih Sakit Gigi??? THINK AGAIN! (Episode 2)


Gue kembali lagi. Kemarin cerita gue sampai mana??

Cerita gue sebelumnya INI.

Iya? Apa?? Oh iya bener, cerita gue sampai tibalah gue ke rumah sakit untuk mengakhiri segala duka nestapa yang merajam gigi gue yang memang sudah terlalu lelah untuk bertahan.

“Mey, aku sudah lelah...just let me go...”, ucapnya

Hati gue kembang kempis mendengar permintaannya. Bahkan gue lupa kalau dalam adegan ini kayak di film film mata gue harus berkaca kali dua. Berkaca kaca.

“Coba ulangi sekali lagi?”

“Aku ingin putus...”

Jeglerrrrr.... Walau pun gue tahu setahu tahunya nggak pake penyet kalo ini akan terjadi, tetap saja hati gue digiling seketika menyerupai serbuk. Ini bahkan bukan serpihan, ini bubuk. Bahkan setiap sel nya tidak bisa lagi dibagi menjadi dua. Lantah.

“Selama ini kita saling menyakiti. Aku menyakitimu, dan kamu menyakitiku... Lalu apa gunanya kita mempertahankan?”, ucapnya kemudian.

Friday, 7 February 2014

Daripada Sakit Hati Lebih Baik Sakit Gigi??? THINK AGAIN!

“Putus lagi cintaku, putus lagi jalinan kasihsayangku kepadanya...”

Suara Meggy Z menyeruak ke segala penjuru, mendayu dayu...

“Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin

Masih dapat ku tahan, tapi ini...sakit lebih sakit...kecewa...karena cinta...”

Gue resapi dalam dalam sambil menyesap kopi yang kepulannya berbilah bilah di udara...

Kemebul, kata kakek gue bilang.

“daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini biar tak mengapa...rela rela aku relakan...”

Nah, sampai sini gue terhenyak. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati?? Pake rela rela segalaa??? Quotes macam apa ini. Gue sebagai orang yang pernah mengalami kedua hal tersebut di atas jelas menentang sambil mendaratkan jari telunjuk tangan kanan ke sebilah jari telunjuk tangan kiri serupa huruf X biar kayak Anang.

“Benar ku mencintaimuu...tapi tak beginiii...kau khianati hati ini..kau dustai akuuuu...”

Ini tidak benar ini. Sakit gigi jelas jelas jelas sakit sekali.

Angan gue lalu menerawang jauh, bergulung ke penghujung tahun lalu. Hari yang tak akan terlupakan oleh gue seumur hidup gue.

Saat itu gue pulang ke kampung halaman dengan mengemban sejuta misi, salah satunya adalah cabut gigi. Ini bukan tanpa alasan. Gue sudah lelah. Hampir setiap hari gue galau, galau gue semakin bertubi tubi saat gigi gue berdenyutan lalu pelan tapi pasti menjalar ke ubun ubun, menggerogoti tekuk, lalu yang bisa gue lakukan selain minum butiran peredam sakit adalah berdoa. Kalau Momo Geisya berdoa untuk lumpuhkanlah ingatanku, gue berdoa untuk lumpuhkanlah syaraf gusiku.

“Hamba lelah, Ya Alloh...” ucapku di salah satu do’a malam.

Wednesday, 5 February 2014

Karenanya, Kita BERKEMBANG!!

Bila berbicara tentang teknologi informatika, pikiran saya langsung tertuju pada benda benda super ajaib serupa HP, televisi, komputer yang disandingkan dengan modem atau wifi, dan benda benda yang bisa seakan menghapuskan jarak. Dan di antara mereka, yang paling bikin saya amazed dari dahulu kala adalah benda bernama komputer.

“Apa yang kamu fikirkan saat mendengar kata teknologi komputer?

Banyak. Banyak sekali yang terlintas di benak saya saat mendengar kata komputer, salah satunya adalah kenangan. Iye. Komputer memungkinkan saya untuk bisa menyimpan semuaaa kenangan di dalamnya, baik jejak serpihan masa mau pun jejak pikiran yang pada akhirnya berujung di pelupuk mata orang banyak. Seperti yang saya lakukan sekarang.

Ah, saya jadi inget masa masa perkenalan saya dengan balok berotak itu. Saat itu saya masih berbalut seragam serupa bendera Indonesia. Tiba tiba datang bapak bapak ke sekolah. Dengan berbekal iming iming ‘melek komputer’, akhirnya dengan restu Ayah dan Ibu saya daftar tuh les komputer. Dan saya riang bukan kepalang. Iya, saya mulai mengenal tut komputer sejak kelas 6 SD. Dan akhirnya setiap Sabtu saya naik angkot sendirian, melaju ke rumah sang bapak komputer dan mulai belajar mengetik. Kali pertama saya harus merangkai kata kata di layar, saya.....stress. Tuh tut banyak banget di keyboard dan dengan jari jemari saya yang belum berkembang, cukup susah meloncat dari R ke L atau dari W ke P, masih ditambah 1001 tanda baca yang juga tidak boleh tertinggal walau hanya setitik. "Setitik Nila, Rusak Susu Sebelanga", katanya. Dan sejak itu, saya jatuh cinta pada balok ajaib yang bisa memunculkan sejuta gambar dan warna. Seiring berkembangnya cinta saya sama komputer, kecintaan saya pada menulis pun juga semakin menggembung.

Tuesday, 4 February 2014

The Coolest Grandma EVER!

Today I’m gonna tell story about one of the most fabulous people in my life. She used to give money when I was still a child, she took me to many good places, bought me delicious meal and beautiful clothes. And the most important, she sends up all the good prayers for me. She is..................my grandma.

when my grandma was still young!!

Sunday, 2 February 2014

Makhluk Luar Biasa Itu Bernama CHILDREN!!

“Ih, mana cutenya??”

“yang lucu tuh sisi mananya?? Bukankah mereka hanyalah seonggok manusia dengan versi yang masih mini dan sedang bertumbuh saja?”

“Lihat tuh nangkring nangkring meja seenak jidat, mana dibilangin susyeh, oh mai gat.”

“Well, I don’t get the point!”

Itu adalah ungkapan hati gue beberapa bulan yang lalu sebelum gue ‘terperosok’ dalam pengalaman tak terduga penuh kejutan ini. Lalu, tiba tiba Ultraman datang menyampaikan berita.

Gue mengajar. Anak anak. Usia? Mulai 2 tahun. Saat mereka bergelimangan di atas karpet kelas, gue harus mengajari mereka bahwasanya merah adalah red, sedangkan blue adalah biru, selagi green tidak lain tidak bukan haruslah hijau.

Dan 4 bulan mampu mengubah pandangan gue, mengusir tuntas segala praduga gue yang mematikan image anak anak.

diliat dari muka dan tingkah laku, kita seumuran.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...