Wednesday, 17 December 2014

INI SOAL CINTA jilid 2 Part. 1 (Cinta Rasa EMPEDU)

Wednesday, December 17, 2014 15 Comments
Kata orang cinta itu obat segala duka lara nestapa. Ibarat FTV, pemeran cowok yang tinggal ditiup menggelepar, karena diteriakin “Aku cinta kamu!” sama orang yang dia gebet berbulan bulan, badan yang semula lunglai tanpa daya jadi langsung gagah berani kayak abis minum Extra Joss bareng Mbah Marijan sebelum gunung Merapi meletus.

Kata orang yang lain cinta itu kayak bom Nagasaki dan Hiroshima. Sekali meletus, apapun yang semula indah, tenang dan damai seketika porak poranda dengan kehancuran yang sanggup meluluh lantahkan semua yang ada. Nggak ada sisa. Hancur di batas lebur. Porak berujung poranda. Salah salah bisa minum Extra Joss campur Mixagrip sambil nulis surat wasiat.

Kata gue, Allohu alam.

Dulu gue pikir cinta berujung tragis itu cuman ada di Indosiar abis sinetron Angling Dharma naik elang malam malam. Tapi, sekarang gue tahu kalau itu juga terjadi di dunia fana ini.

Panggil saja Tamara. Dia adalah salah satu teman gue di perantauan ini. Di suatu malam abis gue pulang dari ngajar les privat, gue dan teman teman makan bareng sambil nonton ada dracula mau gigitin leher cewek terus kegap di TransTV.

Tibalah saatnya Tamara menceritakan kisah cintanya. Gue nggak pernah nyangka kisahnya sebegitu likunya seperti ini. Bagi gue bahkan ini lebih nestapa dari sinetron Indosiar yang diputer tiap pagi dengan pemain yang itu itu saja. Kemarin jadi istri yang ditinggal nikah lagi, besoknya jadi selingkuhan suami orang, besoknya lagi jadi ilalang yang bergoyang di tengah tengah suami istri yang rebutan anak karena hendak akan berpisah dikarenakan suaminya ketahuan punya selingkuh. Macem macem.

Saat itu Tamara berumur 22 tahun. Dia jatuh cinta dengan seorang laki laki super sempurna luar dan dalam. Belum jadi pacarnya saja Tamara udah diajak diner di daerah Garut yang super duper romantis. Pasti ada lilinnya dua di tengah, makannya daging, minumnya anggur kayak di film film. Terus pas makan tiba tiba ada orkestra dangdut keliling lengkap dengan gerobaknya mengalunkan tembang kenangan yang mendayu dayu. Ah, so sweet abis. Bahkan, si cowok yang panggil aja Sarno, singkatan dari Sarape Keno atau bahasa Indonesianya ganteng banget sampai bela belain reserve restoran satu ruangan cuman buat dinner sama Tamara.

“Waaaaah, so sweeeeet abissss....” gue hampir nyanyi Yamko Rambe Yamko saking mupengnya.

Wednesday, 3 December 2014

Ini Soal Teman KOST 4 ( The First Gathering Ever In My Life!!!!)

Wednesday, December 03, 2014 20 Comments


Salah satu angan angan gue tentang deskripsi temen kost adalah teman yang bisa diajak menyatukan kekuatan bersama sesama anak rantau karena gue adalah orang yang meyakini bersatu kita teguh berpisah susahmoveon kita runtuh.

Tapi di awal gue merantau, gue harus menghadapi sebuah keadaan dimana manusia boleh berencana tapi temen kost yang menentukan. Temen kost gue yang dulu sadis sadis. Hubungan gue dan mereka hanya sekedar,

“Wah, lagi nyuci ya?”

“Iya.”

“Udah mau berangkat mbak?”

“Iya.”

“Mbaknya asli mana?”

“Kepo.”

Kalau begini caranya gue jadi pingin foto sambil pegang dada dengan mata menyipit seakan menahan sakit yang tak tertahankan.

Tetapi gue yakin bahwa Alloh adalah Maha Penyayang. Setelah gue dilanda cobaan tentang teman teman kost yang tidak sesuai dengan impian, satu per satu teman kost gue pindah. Sekarang, harapan gue tentang teman teman kost mulai tercapai. Memang benar kata Ibu Kita Kartini yang juga merupakan pelajaran hidup gue nomor 111

“Habis gelap terbitlah terang”

Thursday, 27 November 2014

Hello Monas, See You Monas!!

Thursday, November 27, 2014 21 Comments
Tiang putih bersih yang menyundul langit dengan kuncup emas yang berkilatan serupa kobaran api abadi beralaskan cawan raksasa, perlambang semangat perjuangan para pahlawan yang berkobar kobar. Orang orang menyemut demi pemandangan Jakarta sepenuhnya dari puncak tiang. Ahh, lihat!! Pedagang layang layang pun tak ingin ketinggalan. Dia menerbangkan layang layang berlapis lapis di udara, lalu di bawahnya pasangan muda mudi menikmati kibaran kertas berekor itu merajai langit Jakarta sambil minum es potong biar ngirit. Namanya juga usaha. Dengan berbagai modus, orang berbondong bondong melingkupi bangunan dan sekitarnya di Minggu menjelang siang itu. Terbakar terik mentari??? Hahaha. Biarkan saja asal hati senang!!



Terdapatlah tiga wanita yang menjadi salah satu pengunjung bermodus yang ikut menjejali tugu. Mereka adalah Umami, Annisa, dan Meykke alias gue. Yapp, minggu itu adalah minggu cerah yang mengantarkan kita bertiga menikmati udara Jakarta dan melalang buana bersama bis TransJakarta yang cuman bayar 3.500 saja.

Malam sebelumnya.....

Friday, 21 November 2014

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter 3 (Pencil! Book! Lunch Box!!)

Friday, November 21, 2014 13 Comments

Ngajarin anak kecil itu rentan hal hal tak terduga. Gue masih inget saat kali pertama gue ngajar anak kecil. Walau pun skripsi gue juga mengamati kegiatan belajar mengajar anak anak TK di deket kampus sebanyak 20 kali, tapi ternyata ngeliat orang ngajar anak kecil sama ngajar anak kecil itu bedanya luar biasa. Dulu saat skripsi gue cuman duduk di pojokan sambil –makancattembok- megangin si Konhi*. Saat istirahat juga gue cuman ngeliatin mereka main tanpa berani menyentuhnya. Takut nangisin. Anak orang.

Lalu, tiba saatnya gue harus menghadapi kehidupan. Saat itu adalah kali pertama gue ngajar anak kecil. Dan apa yang terjadi?? Anak pertama merem melek sambil tiduran di karpet dan anak kedua berkaca dengan bibir bergetar seakan berkata, “Pulangkan aku pada mamaku.”

Dari situ setiap hari gue terus belajar tentang bagaimana meluluhkan hati anak anak. Sekarang, saat gue sedang labil kayak anak SMP, begitu gue ngajar mereka, gue jadi stabil lagi. Saat gue kangen adik gue di rumah, begitu gue ngajarin mereka lalu joget bareng atau mainan tembak tembakan, kangen gue akan sedikit terobati.

Beberapa bulan yang lalu saat gue belum begitu mahir menangani anak kecil yang suka susah dimengerti kayak hati, ada anak yang entah kenapa tiba tiba dia nglemparin mainan ke tembok. Gue kalang kabut. Gue mengatakan kata kata mujarab serupa “Heyyy, don’t do that. I will not give you stamp yaaaaa....” Jadi, setiap anak akan dikasih stamp setiap habis kelas dan saat stamp sudah mencapai jumlah tertantu, stamp itu bisa ditukar mainan. Lah ini, begitu gue bilang gitu, bukannya mereda, dia malah menggelepar gelepar di karpet sambil ngusap ngusap mata yang mulai ada airnya. Gue makin tidak mengerti akan hidup ini. Gue bingung. Gue kehilangan arah hidup. Rasanya gue juga pingin ikutan gelesot sambil meres mata, tapi gue takut nggak dibayar.

Tapi kemudian gue mengerti kalo ngajar anak itu nggak cuman pake otak, tapi pake hati.

Anak itu bernama Marvel. Sekarang dia kelas 1 SD dan sudah mahir menulis kata kata, tapi dalam bahasa Indonesia.

Miss : “Write down eraser (baca : ireser), please...”

Marvel : “Tulisannya gimana?”

Miss : “e-ra-ser.”

Lalu, dia akan menulis eraser dengan benar. Dia juga bisa menulis book, pen dan pencil. Hobi Marvel itu mainan lego. Pilihannya adalah tiga, kalau nggak bikin senjata/pistol, rumah atau pesawat tempur. Saat membuat pistol, dia pasti akan membuat gun dua.

“This is for Miss Meykke.”

Lalu, kita akan main tembak tembakan. Tebak gue jadi apa?? Monster!! Tiap kali Marvel dan teman temannya selesai bikin gun, gue juga akan diberi gun satu dan serta merta gue akan berdiri sok gagah, lalu jalan kayak monster yang setelah gue pikir pikir gue lebih mirip Genderuwo nggak makan 5 hari.



Marvel dkk : “Shoooot Miss Meykkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!”

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter 2 (ABC!)

Friday, November 21, 2014 15 Comments
Selain anak anak SD kayak part. 1 kemarin yang udah mampu presentasi sederhana, gue juga ngajar anak TK!! Iya, lu nggak salah baca. Gue juga ngajarin anak TK. Ngajarin apa?? Selain gue ngajarin betapa indahnya hidup ini, gue ngajarin anak TK bahasa Inggris. Gue mulai memperkenalkan mereka tentang kursi yang bernama bule chair, lalu table adalah meja, dan red tidak lain tidak bukan adalah merah.

Saat gue masih anak guru baru dulu, dahi gue mengernyit tiada tara saat gue ditugaskan untuk ngajarin anak umur 2 tahun bahasa Inggris. OMG! Mereka jalan aja belum katam, mereka juga cuman bisa bilang sebatas mama sama mamam tiap kali lafer. Ini gue harus ngajarin mereka bersilat lidah pake bahasa bule. Gue kalang kabut, hati gue malang melintang. Gue galau setengah mati. Apa yang harus gue lakukan?? Gue nggak bisa tidur. Tiap kali tidur gue mimpi ngajarin “This is a car. This is a dog. This is life.” Bukannya ngikutin apa kata gue, gue malah dikasih pipis. Ternyata mimpi buruk. Tapi, saat itu kepalang tanda tangan kontrak basah, mau nggak mau gue harus lalui. Dan gue mulai ngajarin anak anak bilang ‘dog!’, ‘cat!’. Tiap kali mereka mau minta tolong bukain botol susu, gue ngajakin mereka bilang, “open please, Miss...”. Karena beberapa dari mereka masih celat atau nggak bisa ngomong dengan jelas, yang ada mereka bilang ‘pepis miss...pepiss miss...’. Kalau sudah dibukain mereka juga harus bilang ‘thankyou...’. Tak jarang dari mereka yang bilang, ‘sengku..’. Tapi tak apa karena gue yakin benar pepatah asal Jawa. “Alon alon asal kelakon!”. Pelan pelan nggak papa, yang penting berusaha dan pada akhirnya terlaksana. Dari situ, gue mulai mencintai anak anak balita.

Karena mereka juga walaupun gue jauh dari rumah, tapi gue nggak pernah kekurangan pelukan. Tiap hari abis joget joget, gue dipeluk sama mereka. Nanti kita main peluk pelukan. Gue akan bersimpuh sambil melebarkan dada dan menghitung satu dua tiga. Di hitungan ketiga mereka akan berlari ke arah gue. Tinggal dikasih bunga warna kuning sama pohon satu biji gue udah kayak film India.

“Hug meeeeeeeeeeeeeh!” Dan mereka akan berhambur di pelukan gue. Asiiiiiiik!!! Gue juga belajar banyak dari mereka. Belajar untuk sabar –menghadapihidupfana-.

Dan mereka adalaaaaaaaaaaaah......


Wednesday, 19 November 2014

WHAT'S INSIDE THE CLASS Chapter. 1 (Ini Poster!)

Wednesday, November 19, 2014 15 Comments
Genap 1 tahun dua bulan gue bergelar guru Bahasa Inggris di salah satu English Course di Jalan Alternative Cibubur, Bekasi Kota ini. Setiap hari gue bertemu dengan murid beraneka macam kayak anggrek. Di sana, kisaran umur anak yang gue ajar mulai dari balita sekitar 2 tahun sampai SMP. Jelas dong, cara mengajar anak balita sangat berbeda dengan cara mengajar anak yang akan beranjak ababil remaja.

Semuanya memberikan warna tersendiri bagi gue. Hanya saja, kalau boleh memilih, mengajar anak yang akan beranjak ababil remaja terasa jauh lebih mudah. Gue nggak lagi menganggap mereka sebagai murid, tetapi sebagai teman.

Gue punya empat kelas yang bermuatan kelompok anak anak ini, yaitu setiap hari Senin dan Rabu sore, Selasa dan Kamis sore, Jumat sore, dan Sabtu sore. Murid paling senior adalah Zahara. Bahkan, dia udah ada di sana saat gue masuk menjadi guru. Bahkan, dulu Zahara sendirian. Zahara adalah type gadis yang berani, selalu aktif, cepat bertindak, dan tanggap. Ini Zahara apa penanganan gawat darurat?? Zahara juga gemar menggambar dan membuat komik. Bahkan, dia pernah menggambar untuk teman temannya sekelas plus gue sebagai Miss Meykke serupa ini!



Ini khan so sweet abis!

Thursday, 13 November 2014

Gagal Ala Rumput Liar

Thursday, November 13, 2014 71 Comments

Gagal. Satu kata yang ditakuti para penduduk bumi. Gagal biasanya dikonotasikan sebagai hal yang berujung nestapa, durjana, nelangsa, butiran debu. Gue yakin semua orang yang hidup di dunia ini pernah mengalami kegagalan.

“Duh, gue gagal. Berat badan gue naik ½ kg abis makan nasi padang. Padahal gue udah janji buat punya badan kayak  barbie.”

Atau

“Matamu kenapa gede sebelah? Abis nangis?”

“Aku.....aku....gagal.”

“Gagal kenapa?”

“Gagal.....gagal...move on. Kemarin aku liat dia makan mie ayam sama pacar barunya. Sakitnya tuh di siniiihhhh”

Sampai...

“Duh, daritadi gue mules, tapi tiap kali gue siap ngeden, gue gagal.”

“Kayaknya lu harus banyak makan pepaya deh.”

Gue adalah termasuk orang yang juga banyak mengalami kegagalan dalam hidup gue. Gue pernah gagal jadi juara kelas, gagal kejaring di buku BE yang pertama, gagal menang lomba nulis, gagal keterima jadi guru di sekolah, dan juga kegagalan lainnya. Namun, gagal yang satu ini adalah gagal yang paling berkah walau gagal yang satu ini hampir bikin gue gagal napas.

Sama seperti kebanyakan anak SMA yang mengadopsi filosofi bang Rhoma Irama, gue jatuh cinta. Kata Bang Rhoma Irama, masa muda adalah masa yang berapi api. Gue berkobar kobar. Hanya saja saat itu gue nggak tau tentang filosofi lain yang menentang bang Rhoma Irama, jangan bermain api nanti membakar diri.

Setelah sekolah, gue dan pacar gue akan makan siang bersama. Lalu, kita bermain bersama. Intinya, gue dan dia bahagia tiada tara. Bahkan, setiap hari gue dan dia selalu mengumbar kasih sayang seperti yang tergambar di bawah ini.

“Lagi apa sayang??”

“Hihi, kenapa yang? Kangen ya?”

“Hihi, tau banget. Lagi apa ciiiiiih...”

“Lagi mikirin kamu sayaaaang....kamu lagi mikirin aku nggak??”

“Iya sayaaaaang, I love youu...”

5 menit kemudian....

“Masih mikirin aku nggaaaaaak yaaaaaang??”

“Cieeeee...yang pingin dipikirin...aku tuh udah nggak perlu mikirin kamu..*emotmelet ”

“Ih, kamu jahat, yang. Kok gitu sih *emotsedih”

“Soalnya kamu kayak Pancasila...”

“Hah?? Kamu lagi belajar PPKN?”

“Nggak, sayang...soalnya kamu kayak Pancasila, udah hafal di luar kepala. Nggak usah dipikirin pasti udah kepikiran.”

“Ih, kamu...Jadi makin sayang sama kamu. I love you..”

“I love you more, yang...”

“I love you much much more, yank...”

“I love you much much much more, yank...”

“I love you much much much much more, yank...”

“I love you much much much much much more, dinda...”

45 SMS berikutnya,

“ I love you much 46x more...”

“ I love you until I die..”

“I love you until I live again after I die...”

“I love you until I go to Yaumul Mahsyar...”

“ I love you until I go to Yaumul Ba’ats..”

“I love youuuuu.....muach!! :*”

Gue dan dia mengunjungi banyak tempat, melakukan banyak hal seperti belajar kelompok dan bikin PR tapi boong, dan meninggalkan jejak dimana mana. Gue dan dia tumbuh bersama dengan harapan bisa tumbuh dewasa dan menua dalam jalinan hati dengan degup yang selalu seirama bersama kayak kata pak Mario Teguh. Dari putih abu abu, hari berganti dan tahun merangkak. Kita kayak laut, pasang dan surut. 

----

5 tahun kemudian....

Tuesday, 11 November 2014

INI SOAL TEMEN KOST 4 ( KELABANG!!! )

Tuesday, November 11, 2014 10 Comments
Setelah setahun lebih merantau, gue tahu satu hal. Ada tiga jenis tempat tinggal sementara berbayar untuk para perantau seperti gue. Yang pertama adalah kontrakan. Kontrakan berbentuk satu petak rumah yang berisi kamar mandi, ruang tamu dan kamar yang disusun berjajaran. Ibarat kate, satu rumah dihuni sendiri, hanya saja banyak temennya di sebelah kanan dan kiri. Yang kedua adalah kost satu paket, jadi kita bakalan dapet satu kamar dengan satu kamar mandi dalam. Biasanya satu rumah akan berisi banyak kamar dengan dua sampai tiga lantai dan penghuninya tidak akan kenal satu sama lain, bisa jadi ini adalah semi apartment, tapi kamar sama kamar mandi doang. Nah, yang ketiga adalah satu rumah yang banyak kamarnya dengan kamar mandi, dapur, ruang tamu berbagi atau di luar. Biasanya kost jenis ini lebih bersifat kekeluargaan karena begitu kita mau nyuci atau mandi, kita pasti keluar kamar dan peluang untuk bertemu dengan penghuni kost lainnya akan terbuka lebar. Dari percakapan sepintas serupa :

“Baru pulang, mbak...”

“Iyaaa...”

“Bajunya seksi, punggungnya bolong dua...”

“Makasiiiih..”

Sampai pada akhirnya,

“Eh , tadi lagunya yang kamu play pas kamu mandi itu bagus, bikin aku kangen mantan. Mau dooong..”

“Ya udah sini mbak ke kamar, aku blututin..Ngomong ngomong emang belum move on?”

“Belum, baru putus tiga hari yang lalu...”

Tik bersambung Tok

Tuesday, November 11, 2014 12 Comments
sumber

Tik bersambung tok, tok menuju tik
Berputar pada detik yang sama, terus melangkahi masa
Senin berangsur Selasa, Sabtu berujung Minggu
Bergerak dari hulu ke hilir, kembali hulu lalu mencapai hilir
Sampai terkilir

Menatap atap yang sama, menginjak tanah yang serupa
Memutari poros yang sama, menjaring asa yang senada
Ku terjebak masa

Ku ingin menyeberang samudera,
Mencari ikan cupang di pulang seberang
Berlari bersama anak pesisir di bibir lautan
Menjaring udara beralaskan pasir beratapkan awan berarakan

Ku ingin berlari lebih jauh
Mengayuh seribu langkah, menukik dan bergulung
Ku ingin menyelami dasar lautan
Menari bersama ombak beralaskan karang 
Timbul tenggelam

Menyeruput pagi bersama udara pekat,
Ku mulai jengah
Di sini, air mulai surut
Bara mulai padam
Di sini ku kehilangan kata 'cari'



Monday, 27 October 2014

LEPAS

Monday, October 27, 2014 14 Comments
SOURCE

Menangkap masa berujung lalu,
Jelas ku tak mampu
Meneropong masa berkalung lalu,
Yang tersisa hanyalah seonggok pilu

Maka, tak perlu sedu sedan itu
Memintal asa berakhir nestapa
Menjaring rasa berbelai derita
Lalu, untuk apa?

Maka, tak perlu deru lara itu
Memeluk malam lekat lekat,
Menghapus rasa pekat,
Karena sampai kayangpun ku tak mampu menggenggam bahumu kuat kuat

Kini, gejolak ku hilang sirna
Dadaku kosong mlompong
Sosokmu tenggelam dirajai malam
Senyumku merekat lebar lebar
Penuh seri menjuntai di tiap tiap jengkal

Maka, tak perlu perih merintih
Karena cinta bukan empedu
Dan tulang rusuk tak seharusnya menusuk
Radar tak seharusnya pudar 

Ku lepaskan radarmu tinggi tinggi di atas awan
Berharap kau mampu temukan hati sehangat tumpukan daun basah
Karena ku akan temukan cinta seindah pertemuan langit dan mentari di ujung senja


Bekasi, 27 Oktober 2014
08.27 AM

Sunday, 26 October 2014

Terkepung Ijo Royo Royo Beratap Biru Berarak Putih,Kebun Raya BOGOR!

Sunday, October 26, 2014 14 Comments
Gue pikir, selama gue tinggal di Bekasi ini, tepatnya perbatasan antara Bekasi Kota dan Jakarta Timur, hidup gue tidak akan bergelimang pepohonan atau at least pohon mangga yang buahnya kemana mana. Dan ternyata gue salah!!

Sekarang, tepat di hadapan gue berdiri rapi berjajaran pohon pohon seusia neneknya nenek gue! Di kanan dan kiri, sepandang gue menengok tidak ada apa apa selain kumpulan pohon pohonan dengan rumput yang bak permadani hijau, menutup sempurna tanah yang subur. Ijo royo royo. Angin sepoi sepoi juga tak putus putus membelai mesra ujung jilbab gue, membelai mesra daun daun yang sedang asyik berfotosintesis, membelai mesra sayap para burung yang berkecipak di antara dahan dahan, dan membelai mesra para jomblowan jomblowati yang sedang menghalau kegalauan. #akurapopo


Ah, lihattt!! Di ambang batas pandang mata gue, berdiri megah istana kepresidenan lengkap dengan pilar pilar gagah penyokong bangunan berwarna putih sempurna itu. Di depannya menggenang air tenang berhias teratai dan bunga lili dengan banyak daun yang mengembang indah mengambang!!!


Wednesday, 22 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 2)

Wednesday, October 22, 2014 10 Comments

Setelah nonton Dracula Untold, sesaat sebelum bobok bareng, gue dan Uma jelas jelas menyusun jadwal untuk keesokan harinya. Rencananya gue dan Uma akan bangun jam 5. Kita akan sholat dilanjutkan belanja di Ibu sayur langganan gue (langganan di sini maksutnya at least udah pernah belanja di sana sebanyak 2 kali bersama Mbak Tutik). Gue dan Uma akan masak bersama di ambang subuh!! Ahh, gue nggak bisa bayangin saat saat gue dan Uma berkolaborasi meracik bumbu citarasa nusantara dan membalutnya menjadi makanan siap santap. Ngebayanginnya aja gue udah berasa kayak Farah Quinn.

“Well, it’s well done!”

“This is it!!! Tumis daun pisang saus tiram bumbu balado !! Heeeeeemmm...nyummy!!” Lalu dengan serta merta gue dan Uma menunjukkan daun pisang dipotong potong ditambah udang berbalur cabe cabean dimana mana.

Gue dan Uma akan berangkat naik motor menuju TMII pukul 7 pagi karena kita akan menghabiskan waktu seharian di Taman Mini Indonesia Indah. Rencananya sungguh indah.

Dan lagi lagi dengan dalih manusia boleh merencanakan Tuhan yang menentukan, apa yang terjadi keesokan harinya?

Bekasi, 05.15 setelah sholat Subuh....

*melakukan gerakan kepiting kepanasan di atas kasur

*5detik kemudian berhenti bergerak

Uma : “Seph, ayo belanja.”

Gue : “5 menit lagi.”

5 menit kemudian....

Uma : “Seph, gimane masaknya?”

Gue : “Udah beli mateng aja.”

Uma : “sbfdbsjfbdfygdfbdjbghfbgjf”

Friday, 17 October 2014

Lika Liku Menuju TMII (Part. 1)

Friday, October 17, 2014 7 Comments
Gue percaya kalau setiap apa yang kita yakini bisa terjadi pasti bisa terjadi. Gue percaya jika ada niat berekor amin pasti akan disulap menjadi nyata oleh Tuhan, terlepas dari bagaimana cara kita menyebut nama-Nya. Mungkin ini terdengar berat bingit, gue berasa kayak mau nulis siraman rohani. Tapi, kalau pun lu nggak percaya, at least lu harus percaya sekelumit cerita berawal empedu berakhir madu kali ini.

Hampir setahun lalu, Uma, sahabat gue menjenguk gue di tanah rantau. Saat itu gue masih tergolong ORB, Orang Rantau Baru. Uncluk uncluk Uma bersama Dany menjenguk keadaan gue di perantauan. Tidurlah kita kayak kepiting kering malam itu, di penghujung tahun 2013. Dany harus pulang keesokan harinya, dan Uma masih bertahan di kost gue dengan mengemban satu misi.

“Seph, aku pingin ke Taman Mini Indonesia Indah.” Sorot matanya penuh dengan kobaran semangat. Dan gue mengamini. Dan keinginan itu harus hancur lebur termakan kenyataan kalau ternyata orang Jakarta susah move on. Dan bagai sudah jatuh, terkena tangga, tertimpuk mangga tetangga dan tak bisa bangkit lagi berakhiran dengan the granule of dust, Uma yang ceritanya ke Jakarta mau refresing malah berakhir sengsara. Sehabis kita nonton 99 Cahaya di Langit Eropa, Uma teriak panik! Gue jelas ikutan panik!!Matih, dia ternyata cacar air!!!

“Kenapa Ya Allooooh???? Kenapaaaaaaaaaaaaaa?????” 

 Maka, luluh lantah lah semua rencana yang udah kita bina. Liburan yang harusnya menyenangkan, naik railway memutari TMII di ketinggian, berpose di tiap tiap rumah adat, menjelajahi bentangan Indonesia hanya di bentangan batas pandang, menyusuri dari Padang sampai Merauke yang berjajar pulau pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia hanya dengan kayuhan kaki satu hari berakhir anti-klimaks dengan gue yang ketularan cacar air 2 minggu kemudian.

“Seph, sesungguhnya kita sedang diuji. Tapi, kata kamu, kamu ke sini mau menebar semangat dan kebahagiaan untukku yang sedang di perantauan. Tapi, kok kamu malah menebar virus cacarrr!!! Gatel niiiiih!!! Di perut mau meletus satu niiihhhh!!” Gue hilang kendali setelah kena demam sehari sebelumnya.

Tapi, seperti halnya putus adalah jodoh yang tertunda, gue dan Uma yakin dan percaya kalau gagal hanyalah keberhasilan yang tertunda. Satu tahun yang lalu, gua dan Uma berjanji kita akan ke TMII, bersama sama!! As soon as possible. Setelah itu, gue kembali menjalani hidup gue di Jakarta dan Uma bekerja di Lombok. Kita sama sama meninggalkan hometown kita, Semarang demi masa depan yang lebih berpijar. InshaAlloh....

Nih kalau nggak percaya gue kemas cerita penuh empedu kita setahun yang lalu :



--------------------------
13 Oktober 2014

“Huwaaaah, itu pulaunya bagus banget, Seph!!"

Friday, 10 October 2014

Ini Soal Teman KOST 3 (Nangkanya Mbak Titik)

Friday, October 10, 2014 15 Comments
Buat gue, temen itu seperti monyet. Bukannya gue pingin ngatain mereka walau pun pada dasarnya banyak yang sama. Gue inget waktu gue Fieldtrip bareng murid murid gue di Ragunan bulan Maret lalu. Di sana ada monyet ekor panjang, Beruk, Bekantan, Lutung Jawa, Surili, Emperor Tamarin, monyet Baboon, dan masih banyak lagi. Intinya, temen itu kayak monyet, banyak jenisnya.

Temen pertama yang paling berkesan buat gue dulu adalah Iis, temen TK gue. Gue dan dia itu udah kayak kopi sama ampas. Gue kopi, dia ampas karena kemana mana kita selalu berdua. Bahkan, dulu gue sampai rela nyium keteknya pagi pagi pas gue belum sarapan demi nyobain parfum emaknya yang baru.

“Ke, liat deh liat, atu tadi disemplotin palfum cama mamah.”

“Ih, benelaaan?? Aku jga mau dooong...”

“Yahhh, cuman ada di ketek akuuu Ke..kamu mau nyobain??”

“Mau mau mauuuu...”

“Cini cini, ini macih banyak koook..”

Adegan selanjutnya gue ngendus ngendus keteknya yang emang masih harum parfum Puteri milik emaknya yang warna ungu.

“Atu becok juja mau ahh...”

Thursday, 9 October 2014

Ini Soal Teman KOST 2 ( Gara gara Jamur )

Thursday, October 09, 2014 9 Comments
Hari ini adalah hari perdana gue masak tanpa Yuli Casandra, atau gue panggil aja Casandra karena kalau Yuli gue takut divonis jadi pembeber aib orang tanpa teding aling aling. Casandra kemarin pagi pergi ninggalin gue sendirian di kost. Padahal malamnya gue sempet kelonan sama dia pas mati lampu, walau beberapa menit kemudian dia pamit ke kamar milik mbak Tutik Barbara yang akan gue panggil Barbara dengan alasan yang senada.

“Duh, Mey. Di sini panas banget. Aku pindah ke kamar Barbara aja ya...”

“Yah, Casandra. Aku tidur sendirian dong.”

“Lah, kan tiap hari juga tidur sendirian..”

“Oh iya juga ya.”

Lalu dia pindah ke kamar Barbara yang mungkin lebih adem. Maklum, kipas gue nggak bisa geleng geleng karena nggak ada suplay tenaga. Perasaan bentuk kamarnya juga sama, tapi entah kenapa Barbara bilang kamar gue panas. Setelah gue telusuri lebih lanjut semalam suntuk, gue berargumentasi kalau panas itu datang dari sini. *tunjukdada

Paginya, Casandra pergi beneran. Dia sempet gue anterin sampai ke jalan raya karena barang bawaannya lebih berat daripada badannya sendiri. Dan hari ini untuk pertama kalinya gue masak bareng Barbara, cuman kita berdua.

Memang benar adanya kalau manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan yang menentukan. Cuman, salahnya kita adalah kita cuman merencanakan tanpa adanya usaha, kerja keras dan doa. Rencananya hari ini gue dan Barbara akan jogging sambil cari tukang sayur. Setelah jogging sambil belanja, gue dan dia akan masak syahdu demi kemaslahatan perut bersama. Tapi sayang seribu sayang, gue dan Barbara baru bangun jam 5.30. Gue liat dari balik jendela, debu sudah mengepul dengan kenalpot beranak pinak menghasilkan asap pekat penuh bumbungan.

“Barbara, kalau kita jogging jam segini mah sehat kagak, bengek iya.”

 Lalu, gue dan dia memutuskan untuk cari tukang sayur pake motor biar nggak kesiangan. Dalam hal memasak, gue ibarat Maicih level ½. Bener, lu nggak salah baca. Bahkan, pada awalnya gue nggak bisa bedain mana panci dan mana wajan hingga gue dibully sama Casandra dan Barbara selama tujuh hari tujuh malam. Tapi, dari sini gue percaya dengan pelajaran hidup nomor 5

Saturday, 4 October 2014

Tertambat di Kalbu

Saturday, October 04, 2014 7 Comments

Satu bahkan lebih,
Tak lagi kita beradu mata, menatap dalam retinamu
Hingga tembus segala lara, teduhkan segala luka
Hampir menginjak bilangan dua,
Debaran kita tak lagi berkecipak seirama,
Meninggalkan bulir bulir yang terus berkubang dengan hati berlubang

Bahkan, kau tahu bukan?
Aku berlari menembus pekatnya malam, teriknya siang
Demi sebuah goresan masa yang sempurna pudar,
Demi sebuah angan tentang sosokmu yang harus sudah hilang,

Tak peduli sejauh apa langkah mengayuh,
Sosokmu terus berlabuh, pedihku tak urung terus kambuh
Aku terus menemuimu di ujung malam dan sibuk mengusirmu setelah sadar
Aku terus memutar kisah kita tak peduli kata ‘kita’ tak lagi ada
Tak ubahnya sebuah paku yang kuat menancap,
Bak sosokmu dalam bingkai relungku.
Tak ubahnya sebuah aku yang berteriak di dasar lautan,
Sampai tercekat dan mati perlahan, suara ku tak kan keluar
Menggebu, berletupan. Hanya saja, tak pernah terdengar
Karena letupan rindu hanya tertambat di kalbu.


                                                                                                         Bekasi, 26 Februari 2014.

(Ini adalah puisi fiksi yang ada di salah satu buku antologi saya dengan tema tertentu, terinspirasi dari cerita seorang teman.)

Wednesday, 1 October 2014

Ini Soal TEMAN KOST 1

Wednesday, October 01, 2014 10 Comments
Di tanah rantau ini gue punya dua macam teman berdasarkan letak geografisnya. Pertama, gue punya teman kerja karena kita berteman di tempat kerja. Yang kedua, gue punya teman kost karena kita berteman saat sudah pulang dari tempat kerja. Menurut gue pun penanganannya macam macam teman berdasarkan letak geografis ini sangat berbeda. Di tempat kerja, gue berteman dengan teman teman kerja gue sebagai Miss Meykke yang suka joged joged di kelas tak jarang kayang pake hulahop tapi boong. Nah, di kost gue berteman dengan teman teman kost gue sebagai Meykke yang suka ngeles tiap disuruh bangun pagi. Percakapan pertama gue setiap hari hampir dipastikan seperti ini.

Barbara : “Miko, banguuun!!”

Gue : “Hmm? Jam berapa sih?”

Barbara : “5..katanya mau jogging..”

Gue : “Iya, ntar 5 menit lagi.”

Kasandra : “Iya, liat aja mbak Barbara. Pasti 5 menit kali 10.”

Jam 8...

Gue : “Loh, mbak? Kok nggak jadi jogging?”

Barbara : “Lah, orang kamu dibangunin katanya 5 menit lagi.”

Gue : “Yah mbak, khan aku udah bilang banguninnya yang keras digedor gedor... Itu tadi aku masih dalam keadaan sadar dan nggak sadar.”

Esok harinya...

Barbara : “Mikoooooooo!!! Bangunnnn!!!” Dia menggedor gue dari segala sisi mata angin. Tembok utara, selatan, barat daya, semuanya. Gue yang baru tidur hampir tengah malam udah kayak cacing dikasih Molto cair.

Gue : “Aduh, jam berapa sih? Berisik amat mbak ah!”

Barbara : “Ya Alloh..berilah Hamba kesabaran ya Alloh.... Kuatkanlah Hamba...” Mbak Barbara cuman bisa mengelus tembok karena mengelus dada udah mainstream.
---

TIPS KERJA ASIK (Jilid 1)

Wednesday, October 01, 2014 10 Comments

“Selamat menempuh hidup baru ya, welcome to the jungle!” Setahun silam temen temen gue menyelamati gue. Akhirnya gue wisuda dan sarjana pendidikan tersemat asik di penghujung suku kata Yuntiawati. Gue kala itu tak benar benar mengerti arti dari welcome to the jungle. Apa setelah ini gue akan berkelana di hujan hutan tropis di pedalaman Kalimantan sana? Bahkan gue juga nggak tahu hutan di Kalimantan sana termasuk hutan hujan tropis atau bukan. Tapi, gue berharap nggak ada lagi kebakaran hutan, asapnya kemana mana.

Tapi, begitu gue transformasi dari pelajar penuh nestapa menjadi pekerja bergelimang durjana, gue jadi tau kalau tempat kerja memang adalah hutan kehidupan yang sesungguhnya. Memang, gue nggak bakal berkelahi melawan ular, tapi manusia berlidah ular tak terhitung jumlahnya. Memang, gue nggak bakal sakaratul maut dengan bisa mengalir di sekujur tubuh, tapi gue bisa sembelit tujuh hari tujuh malem karena terkontaminasi bisa dari lidah lidah bercabang dua. Memang, gue nggak akan bertemu dengan siluman beruk ataupun siluman kalajengking, tapi orang orang bermuka dua kayak siluman susah dibedakan. Gue lebay in dikit biar asik.

Tapi, santay mukanya biasa aja, jangan mengkerut sampai alisnya nyambung sama pupil mata kayak gitu. Begitu gue berjuang selama setahun menghadapi berbagai serangan bisa, serigala tutul dan siluman buruk rupa, gue akhirnya bisa menulis tips ini. Ini adalah tips dari hati terdalam gue. Yang gue tahu, hidup itu udah susah jangan dibikin makin susah. Hidup itu udah berat jangan dibikin makin berat. Tiap kali gue naik roller coaster, gue jadi ingat tentang lika liku hidup gue. Nanti gue kasih tau kelanjutannya. Sekarang gue mau nulis tips dan trik tanpa intrik dulu. Here they are :

Tuesday, 30 September 2014

Ini Soal SOPIR ANGKOT

Tuesday, September 30, 2014 8 Comments

Begitu gue keluar dari mobil tante gue, gue mulai mengedarkan pandang ke segala arah sisi mata angin, timur-selatan-tenggara barat daya-barat barat laut. Senin pagi kemarin gue harus pulang dari rumah tante gue di Gunung Putri, Bogor ke kost gue yang ada di salah satu sisi jalan alternative Cibubur, Bekasi. Kali ini gue naik angkot. Nomor 38. Berderet deret angkot kecil warna biru telur bebek udah kayak deretan bebek beneran.

“Pak, sampe Nagrak?” Pak sopir melengos dan langsung tancap gas. Tidak.

“Pak, sampe Nagrak?” Pak sopir 2 menggeleng satu kali dan langsung banting kemudi ke tengah jalan. Memang nggak semua sopir mau mengantarkan sampai Nagrak, tujuan paling ujung.

Dengan menggendong tas ransel segede gaban gue mulai aktip mencari angkot paling cocok di tengah lautan orang berseragam. Ada yang berseragam merah putih bersama dengan Ibu atau Ayah mereka, berseragam putih biru bergerombol, seragam putih abu abu berpasang pasangan, juga seragam dengan begitu banyak warna dari merah muda sampai hijau daun polos yang semuanya adalah perempuan.

“Pak, sampe Nagrak?” Secepat kilat gue mengayunkan langkah dan tepat di belakang pak sopir. Sang bapak mengangguk dan angkot 38 ini akan mengantarkan gue ke Nagrak!!

Friday, 26 September 2014

SEJAK KAPAN

Friday, September 26, 2014 9 Comments

                                                                                                                              Meykke Santoso

Malam ini udara begitu dingin. Rinau hujan tampak begitu mesra menyatu dengan tanah basah yang wanginya tercium hingga ke dalam kamar kostku. Genap setahun sudah aku melalang buana di kota nan asing ini. Iya, aku yang sudah katam mengenyam bangku perkuliahan memutuskan diri untuk bisa bekerja di pusat Indonesia. Begitu mendapat tawaran interview, aku langsung terbang dan menempuh 500 km dari kota kecil itu.

Aku menekan tut HPku dan dengan segera nada sambung terhubung. Satu detik, dua detik, si empu HP tak juga mengangkatnya. Delapan detik, yeah! Suara hangat nan renyah itu mengudara melingkupi telinga dan tembus sampai ke dada. Seketika letupan rindu seakan berhamburan ingin melesat ke sana.

“Halo, yang?” Senyum sumringah tampak jelas tergambar di mukaku.

“Hai yang..lagi ngapain kok lama banget ngangkatnya?”

Thursday, 25 September 2014

SENYAP BERSAMAMU

Thursday, September 25, 2014 6 Comments


Meykke Santoso
Empat sisi tembok dengan satu sisi hati
Sepi menyeruak sunyi mengambil tempat
Semakin larut, semakin sunyi senyap serasa tak berpenghuni
Dan memang, sendiri merajai

Bertalu talu aku memanggilmu
Di keheningan malam, di tiap bulir harapan
Kapan heningmu bisa merasuki heningku
Bergejolak di keheningan yang seirama
Bersama

Sebenarnya ini bukan hening,
Tak peduli seberapa diam, sosokmu bertalu talu memenuhi kalbu
Maka akan aku resapi saja tiap tetes senyapmu
Berharap suatu hari kau menjamah hatiku, dan berdua kita ciptakan damai tanpa kata
Karena sunyi tak berarti pilu, senyap tak berarti pengap

Selama ada di sisimu, senyap 1000 tahun pun aku mau

Bekasi, 19 April 2014

(Ini adalah puisi yang dibuat untuk salah satu buku antologi, tapi aku lupa buku yang mana ya... -.-. But poem is all about fiction for me :D)

Tuesday, 23 September 2014

KUNCUP EMBUN DI KALA FAJAR MENGEMBANG

Tuesday, September 23, 2014 6 Comments



                                                                                                            Meykke Santoso
Dingin, gigil dan beku
Terulur sendu bergelimang rindu
Mengulur lengan demi menyelimuti hatimu yang dirundung pilu
Banyak masa kita tak bertatap muka, berbenih rasa menggumpal menyesakkan dada

“Kapan?”

Thursday, 18 September 2014

Ini Soal KOST (mungkin 1)

Thursday, September 18, 2014 10 Comments

Gue yakin semua orang tahu kalau lingkungan bisa mempengaruhi seseorang. Orang yang hidupnya bergelimang fasilitas dari jemputan pulang pergi sekolah, model baju yang tinggal tunjuk langsung berubah kepelimikan dari dipajang toko menjadi dipajang tubuh, gadget gadget dari yang bisa slide sampai bisa see saw biar kayak playground, dan segala macam bentuk penyempurnaan hidup yang bersumber dari rupiah jelas berbeda dengan orang yang terbiasa memeras keringat dulu setiap kali menginginkan sesuatu. 

“Ahahaha, hidup itu buat gue segampang membalikkan telapak tangan.” Ucap orang type satu sambil nyanyi Yamko Yamko Rambe Yamko sambil membolak balikkan tangan di depan dada.

“Sama. Bagi gue juga hidup itu kayak membalikkan telapak tangan..........gajah.”

Monday, 15 September 2014

Ini Soal JODOH (TAMAT)

Monday, September 15, 2014 20 Comments

Kalau Cinlok adalah Cinta Lokasi walaupun gue pikir tadinya itu aci dicolok, kalau CLBK adalah Cinta Lama Bersemi Kembali walau pun gue pikir tadinya celana bekas, bisa jadi CBF adalah Cinta Bersemi di Facebook walaupun kesini sini kayaknya itu lebih mirip Celana Baru Fakai. Tapi kali ini jelas gue nggak bakalan bahas soal celana, gue bahas soal..ehm...soal....faktor paling kuat yang bisa bikin seorang insan mabuk kepayang sampai mabuk beneran gara gara menepuk gagal.

Tak hanya Miss Mawar, sebenarnya gue juga kenal beberapa teman atau bahkan saudara yang menemukan teman hidupnya di social media atau yang paling populer facebook. Beberapa hari yang lalu juga ada salah satu temen gue yang memposting foto tentang chat pertama di facebook antara dirinya dan suaminya. Begini kira kira.

“Hai, boleh kenalan nggak?”

“Boleh...”

“Kamu tu sepupunya adiknya budenya tetangganya mantan pacarnya adik ipar ikan masnya aku ya?”

“Iya, mas..hehehe..”

“Oh ya, besok sebelum aku ke Suriname, aku mau mampir dulu ke sana, bisa temenin beli cilok dulu nggak di perempatan Jetis?”