Friday, 2 August 2013

Bila Tiba Ramadhan Terakhir Untukku

Bila ini adalah Ramadhan terakhir saya, apa yang akan saya lakukan?

Beberapa hari yang lalu, karena sebuah keperluan saya mengunjungi kota Jakarta. Di remang remang malam, saat saya melintasi jalan di lekak lekuk ibu kota, bak sebuah barisan, ibu ibu dan bapak bapak paruh baya beserta anak anak mereka yang masih kecil kecil duduk beralaskan tikar dengan gerobak di sisi mereka.

“Mereka malam malam di sana ngapain?” tanya saya pada tante saya yang duduk di samping saya.

“Khan mereka nggak punya rumah. Mereka ya tinggal di gerobak itu, dan setiap malam tidur di pinggir jalan begitu.”

Kalau hujan bagaimana?

Kalau anak anak mereka sakit gimana?

Kalau kebelet ke kamar mandi gimana?

Dapat uang darimana? Makan berapa kali sehari?

Banyak sekali pertanyaan yang menggelitik nurani saya begitu melihat mereka duduk berjejeran. Tidak hanya satu dua atau tiga keluarga, tetapi bahkan mungkin sampai 10 keluarga. Itu baru di satu spot saja. Begitu kejamnya hidup bagi mereka. Di depan rumah rumah mewah, ruko ruko dan swalayan megah yang terus berkembang pesat di kota besar itu.

Dan sekarang bila saya dihadapkan pada pengandaian, bila kali ini adalah Ramadhan terakhir bagi saya, apa yang akan saya lakukan??


Saya akan membagi bagikan menu berbuka puasa berisikan daging dan sayur untuk mereka. Lalu, saya akan ikut konvoy sahur bersama anak anak jalanan dan para papa di penjuru jejalanan sana. Saya akan melakukannya setiap hari bersama keluarga saya, teman teman saya, dan para penderma yang berhati dermawan.

Lalu, saya akan membagikan seluruh harta milik saya sendiri sebagai zakat dan sedekah untuk mereka. Toh, saat saya pergi yang saya bawa hanya amal, bukan uang. Toh saya masih single.

Akan saya bagi bagikan daging yang sudah dimasak untuk mereka berbuka dan sahur. Lalu, akan saya beri mereka uang yang cukup untuk bisa menikmati Ramadhan dengan secercah harapan. Tabungan saya akan saya habiskan untuk mereka saja. Para pengais rejeki, para anak yatim piatu, para orang tak berada.

Mereka tidak perlu tidur beralaskan aspal beratapkan langit kelam terbalut asap kendaraan. Bisa hidup layak, bisa hidup bahagia karena berkecukupan.

Karena sekali dalam hidup saya, saya belum pernah melakukan satu pun dari yang saya sebutkan. Saya belum pernah berbuka bersama kaum dhuafa memakai uang saya sendiri, atau pun sahur di jalanan bersama anak anak jalanan atau mereka yang lekat dengan jalanan setiap malamnya.

Kenapa? Karena saya belum punya uang yang cukup untuk bersedekah. Walau pun

“Bersedekahlah, maka Alloh akan mencukupkan”, tetapi saya baru wisuda dua minggu yang lalu dan sekarang sedang mencari pekerjaan. Jadi, kalau boleh, saya tambahkan menjadi,

“Andai ini adalah Ramadhan terakhir dan Andai rejeki saya sudah berkecukupan.”

Tetapi, tidak perlu menunggu sampai tiba Ramadhan terakhir, insyaAlloh bersama teman teman, keluarga, dan orang orang peduli lainnya, saya akan melakukannya. Dengan uang hasil jerih payah saya sendiri. Saya akan melakukannya. Aamiin...


Words : 447



2 comments:

  1. amiiin, semoga kesampean ya kakak, niat mulia pasti ada jalannya

    ReplyDelete
  2. Mudah-mudahan terwujud yah! Amin.

    Tuhan selalu kasih jalan kok, buat orang yang pengin ngebantu orang lain.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...