Monday, 17 June 2013

Bersepeda Bersepatu Roda di Salatiga !


Untuk ke sekian kalinya, aku mengayuh sepeda menjelajah Salatiga Raya!!! Salatiga adalah kota kecil  di Provinsi Jawa Tengah yang berslogan Kota Beriman yang terletak di antara Kota Semarang dan Surakarta, di kaki gunung Merbabu dan Telomoyo. Itu mengapa, hawa Salatiga sejuk mempesona.



 Well, walaupun tidak menjelajah juga, karena dari dulu sampai sekarang juga selalu ada di trek yang sama, Jetis-Selasar Kartini-Pancasila-Selasar Kartini-Jetis atau pun Kemiri-Kota-Pancasila-Kemiri. Kalau diidentifikasi, kelas sepeda aku ini bisa dibilang kelas abal abal. Dan karena emang bisanya baru sampai segitu. Tapi, dulu pernah bersepeda sampai Getasan, membelah hutan, dan berakhir pada padang rumput alias lapangan sangat luas dan kelokan sungai indah yang kemudian aku bersama Mela, salah satu dosen CCU, dan teman teman baru mainan kartu sambil beristirahat sebelum pulang. Dan bagi aku, itu adalah bersepeda paling mengesankan sepanjang sejarah. Di SINI kisahnya. Ini terjadi setahun yang lalu.

Tapi, bersepeda bersama teman teman kampus pun tak kalah mengesankannya, sampai kita ujan ujanan, seperti yang dilangsir di SINI.

1. BERSEPEDA

Dan sekarang, walau pun mulai dari peminjaman sepeda sampai jalur tetap sama, hanya saja karena partner aku kali ini berbeda, maka sensasi nya pun berbeda. Yap, Dany. Terakhir bertemu beberapa bulan lalu di Salatiga juga, ehm...di SINI tepatnya.


Yap, kali ini aku bersama sahabat aku akan menyusuri jalan Jetis-Pancasila-Jetis sore hari setelah hujan mereda, jadi suasananya segar segar dingin gimanaaa gitu.

“ Oke bu, jadi kita nyewa mulai pukul 3 ya..”, ucap aku kepada ibu yang menyewakan sepeda.


Ini adalah kali pertama Dany bersepeda di kota Salatiga yang adem ini.

“Wah, seneng banget ya Mey sepedaan gini..”

Dan aku mengamininya.

Kita melewati jalan depan SMA Negeri 3 yang rindang tak terperi karena rerumbyungan pohon berumur ratusan berbaris rapi di sepanjang sisi jalan. Ditambah lagi dengan dibangunnya Selasar Kartini di sisi kanan yang membuat Salatiga semakin menyenangkan, teduh, dan ramai. Pun kita melewati bangunan baru, Perpustakaan Daerah Salatiga yang aku bilang megah. Kapan kapan aku harus menyempatkan diri untuk bisa menyambanginya.

Dan sampailah kita di tujuan pertama kita, Lapangan Pancasila.

Setelah memutari 7 putaran searah jarum jam, akhirnya kita berhenti di salah satu tempat duduk beton untuk sekedar melepas lelah. Di depan kita terhampar lapangan dengan rumput minimalis tetapi apik. Jauh di sana, tenda tenda berwarna senada berderet deret menjajakan jajanannya. Yang terkenal di Lapangan Pancasila ini adalah es buahnya. Berharga senilai 5 ribu kalau biasa, dan 10ribu bila ditambah duren yang super lezatnya. Aku pernah nyoba waktu bareng sahabat aku yang lain, Uma, kisahnya di SINI. Makanan enak lainnya adalah siomay, batagor, dan aneka es serupa es campur, dan juga nasi goreng dan teman temannya.
Hanya saja, kali ini kita tidak memutuskan es buah sebagai pelepas dahaga kita. Kita melemparkan pilihan pada sebuah cafe steak yang ada di dekat Lapangan Pancasila. Nanti dulu. Kita masih ingin menikmati suasana sore sambil mengayuh sepeda mengelilingi Lapangan Pancasila dan sekedar duduk duduk dan melihat keramaian Lapangan Pancasila di Minggu sore. Ini kali pertama aku mengunjungi Lapangan Pancasila di Minggu sore.

Lumayan ramai bila dibandingkan hari hari biasa.







Puas mencetak memori di lapangan Pancasila sembari memanggil memori memori masa lalu yang berserakan di setiap sudutnya, aku kumpulkan dan aku kukuti, disimpan rapi do kotak pandora, kini saatnya move on.
Kita segera menuju ke cafe steak yang ada di sekitar Lapangan.


Sebelumnya, kita bertemu dengan seorang bapak tua yang sedang berjualan bunga kertas warna warni yang sebatang bunga hanya dibandrol dengan harga 300 rupiah saja. Bahkan, bapak yang sudah renta itu berdiri saja sudah tidak bisa tegap. Badannya gemetaran sambil terus mendorong gerobak penuh bunga kertas.

Ini kali kedua aku bertemu dengan Bapak Tua itu. Kasihan sekali, di usia yang sudah renta, di usia yang seharusnya sudah leyeh leyeh di rumah dan menghabiskan hari tua ongkang ongkang masih harus jalan sambil mendorong gerobak sebegitu jauhnya demi lembaran rupiah walau pun untuk berdiri saja badannya sudah gemetaran begitu.



Alhamdulillahnya, banyak sekali yang membeli bunga dari Bapaknya. Banyak pasangan muda mudi, atau pun keluarga yang akan makan di cafe itu menyempatkan memilih milih bunga dan memborong bunga dari Bapaknya. The power of Indonesian.

Karena perut semakin keroncongan, aku dan Dany segera masuk dan memilih sudut paling strategis dengan penerangan maksimal. Haha..

2. MAEM SORE DI STAR STEAK

Cafe ini memiliki kapasitas cukup besar. Para penikmat steak juga bisa memilih lesehan atau kursi. Berhubung di lesehan sudah cukup sesak, kita memilih spot paling pojok depan sambil melihat pemandangan luar di sela sela dinding berkayu bambu. Eksotis! Dan ini kali pertama aku makan steak di tempat itu, kayaknya masih baru. Entah emang baru atau aku nya yang kurang up-to-date. Allohualam.





Karena aku terus memegang teguh pola ‘bersenang senang sebahagia bahagianya dengan mengeluarkan rupiah seminim minimnya’, Paket Hemat A seharga 11k kiranya cukup untuk mengisi perut aku.


Alhamdulillahnya, karena Dany nggak mau nasinya, akhirnya aku bisa menghabiskan nasi dua kuncup mawar yang kalau digabungkan bisa jadi seporsi.

Menikmati lapangan Pancasila sambil mengayuh sepeda sudah, beli bunga mawar kertas pelangi sudah, menikmati steak dengan ikhlas di tempat yang eksotis pun sudah.

Sejak aku interview bapak bapak yang menyewakan sepatu roda di Selasar Kartini, aku pingin banget bisa mencicipi sensasi main sepatu roda. Di SINI, aku juga bilang sama Bapaknya kalau aku akan kembali lagi untuk mencoba sepatu rodanya, di tempat Bapak yang aku wawancarai dan ramah tamah tiada tara itu, karena berkat bapaknya aku bisa mendapatkan hasil gemilang dan hasil artikel serupa INI
Berkat Dany, keinginan aku bisa katam.

Selesai membayar pengisi perut, kita kembali mengayuh sepeda menuju Selasar Kartini. Selasar Kartini adalah taman beralaskan lantai dengan banyak tempat duduk beton dan pepohonan yang membentang sepanjang jalan Kartini di depan SMA Negeri 3, Salatiga. Belum, perjalanan kita belum selesai. Setelah kita mengembalikan sepeda dan membayar dengan ikhlas 5k saja untuk durasi menyewa 1,5 jam, kita kembali lagi ke Selasar Kartini dengan satu misi.

3. MAIN SEPATU RODA

Main sepatu roda.

Emang bisa?

NGGAK.

Emang udah pernah nyoba?

BELUM.

Dan ini letak keseruannya. Aku dan Dany selalu sehati dalam hal nekat menekat dan hasrat mencoba hal yang baru.Dan memang urat malu kita minimalis!  Ini adalah kali pertama aku beralaskan roda berjajar 4 biji kecil kecil di masing masing kanan dan kiri.

Dengan membayar dengan ikhlas 10k selama sejam, aku dan Dany mobat mabit ke sana dan kemari.







Memang puncak keramaian Selasar Kartini adalah Minggu sore, berdasarkan penuturan bapak yang menyewakan sepatu roda dan scooter di sana. Sepatu roda dibandrol dengan harga 10k per jam, sedangkan untuk scooter 15k per jam atau kalau mau 30 menit bisa membayar 10ribu.

Setelah membaca ayat kursi sebanyak 7 kali, aku mulai mencoba berdiri dan menjaga keseimbangan. Aku narik narik kaki aku yang sudah beroda ini sambil mencoba menjaga keseimbangan. Melihat balita balita dan anak anak kecil ngebut ngebut merajai selasar Kartini beralaskan roda begitu bikin batin aku teriris iris. Melihat keadaan aku yang jalan beberapa meter sudah keringetan begini terlihat sangat miris. Lalu, kawanan anak kecil berlenggak lenggok nyalipin aku dan Dany yang jalan aja kayak balita 10 bulan. Mereka hanya berdiri di atas sepatu roda pun mereka udah meluncur dengan luar biasaaaa, kitanya mau jalan aja susahnya luarrr binasaaaa...

“Ini mbak, jalannya huruf V, mbak..huruf V..” Bapak pemilik sepatu roda mencoba membantu.

Keringatku menganak pinak.

“Oke, Meykke huruf V...”

Dan walau pun otak aku memperintahkan kaki aku untuk berjalan dengan pola guruf V, tetap saja miring sana, miring sini, melengkuk dan akhirnya

“gedebug prang!”

Pantat aku dengan bijaksana mencium lantai Selasar. Mbak mbak berusia 22 tahun, jatuh di antara para balita yang mampu berlenggak lenggok dengan cantiknya.

Aku nya sok cool, padahaaaal...malunya inalillaaaah...

Dany pun bernasib serupa. Dan memang seperti halnya ‘berani mencintai berani terluka’, pun begitu dengan bermain sepatu roda. ‘berani mengayuh sepatu beralaskan roda, berani terjatuh dan menelan rasa malu’.  Semakin tua umurnya, semakin besar pula kadar malunya. Nggak papa... Berani jatuh itu baik, Aku mencoba menghibur diri sendiri sambil mencoba berdiri lagi. Ini bukan aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Bukan...

Dan walau pun terjatuh dan menanggung malu sebagai wanita peroda yang gagal, aku dan Dany tetap mencoba beberapa kali. Dany agaknya lebih tangguh daripada aku.

“Oh Mey, aku ngerti. Kayaknya tangan kita harus terombang ambing ke udara dengan sedemikian rupa biar membantu untuk bergerak maju, Mey...”

Aku nya mengangguk sambil terus meneliti kaki para peroda satu per satu. Teori sudah di tangan, hanya saja mengaplikasikannya itu...susaaaahnya masyaAlloh...

Aku dan Dany ini udah tua sendiri, bodoh sendiri...hina sekali...

Dany nya ternyata lebih fast learner daripada aku. Beberapa putaran, dia sudah bisa mulai berpola, V, sreeet...sreeet...gedebug prank!

Nggak papa... Berani jatuh itu baik...

Karena pantang pulang sebelum pas satu jam, Dany beberapa kali masih terus mencoba sementara aku hanya bisa mendoakannya sambil duduk di tepi arena sambil kipas kipas pake ujung jilbab.


Dan 5.45 memberi tanda kalau kesenangan ini akan segera berakhir. Udah sejam. Dan sebagai penutupnya, aku pinjem bebek bebekan kecil yang dikayuh itu satu kali dan Dany memutari selasar sekali pakai scouter yang biar jalan, penaik nya harus menggoyangkan pinggul dan bawahannya ke kanan dan ke kiri elok sekali.
Berkeringat sudah, olahraga sudah, sehat sudah, membayar 10k sudah, kita pulang siap mengarungi 25 km mengantongi kenangan berolahraga riang gembira.

Dan pengalaman menyenangkan aku bersama Dany ditutup dengan tidurnya Dany di rumah aku. Kita naik bis yang ternyata melewati jalan yang tidak melewati depan rumah Dany, lewat jalan lingkar Ambarawa dan melihat kerlipan lampu lampu di sepanjang kiri dan kanan, serupa serumpun bintang jatuh. Baguuuuuuusss banget! Dulu sekali aku juga pernah lewat sini dengan sensasi yang berbeda. Ya sudah nggak papa...

Dan Dany adalah satu satunya temen aku yang pernah nginep di rumah aku, tidur bersamaku. Dan dengan begini, berakhirlah hari Minggu tertanggal 16 Juni 2013.

Dan bila kita tidak terlalu berprinsip, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”, maka memang indah nian hidup ini.

Alhamdulilah... 







































24 comments:

  1. Loh si dany pulang to?
    Waaah, salam buat dany yaaak.
    Btw, Salatiga bukan kota beriman tapi hati beriman. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya tapi cuman 3 hari doang sih waktu itu Ngga..huwaaa..mesti salah, terus mesti kamu jadi pembenarku Ngga..bahaha..maapin yaak, namanya jga lupaaa -___-

      Delete
  2. sayngnya dicirebon gada taman macam itu. gue punya inline sakte . paling maenanya di balai desa doang. dan sendirian. hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ga ada komuitas gitu ya Ben??ngajakin sama calon ibunya anak anakmu gih Ben..behehe

      Delete
    2. bang ben dari cirebon yah?? salm udang bang

      bner kata ben di cirebon ga ada taman macam itu adanya mall dan mall bosen, udah gitu panas. seru kayaknya yah spedaan :)

      Delete
    3. yaaah, kacian ik..sini sini ke Salatiga ajah :3

      Delete
  3. wih,,,senengnya mbak meyke jln2 :)

    sy bisa naek sepeda tp takut klo hrus mengendarai d jlnan...heheh
    mbak meyke jg gak trlalu bsa sepatu roda? heheh...sm dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. weee...seru lo kalau di jalan gitu...iya nggak bisa, nggak pernah main n ga pernah belajar jga sih Mi..@.@

      Delete
  4. ihhh enak bangetttt... banyak banget pertanyaan yang mau gue tanyain.

    pertama itu kayaknya asik banget ya dilapangan pancasila, kalo di Samarinda yang begituan gak ada loh, kampret -__-

    trus disana ada bunga kertas 3 bijij 1000. busett murah banget...

    terusss itu makan yg paket itu cuman 11k itu apa aja isinya, waaaaa, gue mau tinggal disana dan hidup bahagia selamanyaaa *jomblo woyy jomblo*

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah, aku juga pingin travelling ke Samarinda ada apaan kira kira San?? behehehe *ngarep

      kasian ik, sini hidup di Salatiga aja, bahagia selamanya..aku padahal pingin banget pergi dari sini, biar bisa melanjutkan hidup. hahaha...

      itu isinya steak ayam kebanyakan tepung, nasi satu kuncup mawar sama teh botol gitu... :3

      Delete
  5. wah asyik banget kayaknya perjalanannya, udah capek-capek olahraga langsung menuju tempat makan.

    eh kayaknya tmpt main sepatu roda itu beneran khusus ya sampe" ada tmpt peminjamannya juga. Di kota saya sepatu roda itu kayak udah punah :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya asiiik..hehehe..

      uhm...ya itu untungnya bisa buat mainan inline skating gitu sih Rizky..uhm, emg daerahnya dimana?

      Delete
  6. itu jauh atau enggak dari kecamatan tingkir, mbak mey?

    ReplyDelete
    Replies
    1. uhm..lumayan deket sih Mot..kenapa? tau??
      tapi tingkir itu kecamatan ato daerah ato apaan ya, kurang ngerti @.@

      Delete
  7. keren banget, meyyy -_______-''. gue seumur'' belom pernah naek sepeda jalan'' di jalanan gede, ujung''nya di depan rumah doangan.


    lo nggak bisa maen sepatu roda, mey ??? hahahah, hari gini nggak bisa maen sepatu roda. sama dong -____-''

    ReplyDelete
  8. Wah asik banget mey ada penyewaan sepeda gituan, di tempat gue kayaknya gak ada deh, lagian mau sepeda-sepedaan kemana? Panas banget di semarang, sekalipun sore..

    Abis sepeda2an gitu, terus berhenti makan, emang keteknya pada gak basah ya? :D

    Mumpung masih muda, dinikmati aja ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya i know Semarang panas bukan kepalang emang yaaa..cabal eaaa..sini kapan kapan ke Salatiga Dotz...sepedaan di Salatiga nggak bikin ketek basah! Sumprit!!!

      yoilah Dotz, mumpung nih mumpuuung!!:3

      Delete
  9. di Padang jga ada penyewaan sepeda,keliling pantai sih.sayangnya,panasnya gak nahan.mkin eksotis kulit dibuatnya..hehe

    pengen nyoba sepatu roda jga aah..tpi gak mau jatuh..#lha??

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwaaaa..aku mau bangeeet dari dulu mimpiku sepedaan di tepi pantai pake topi lebar sama rook merumbai rumbaiii..behehehe...

      yaah, sama kayak mau mencinta tapiga mau terluka..haha

      Delete
  10. huaaa seru banget sepertinya.. jadi pengen olahraga kayak main sepeda & sepatu roda gitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah Kuh ambil sepedamu dan rodamu :3

      Delete
  11. Wah, itu nggak sekalian naik ke Merbabu ya? Seger emang udara Salatiga. Masih asri. Sepatu rodaan di sana boleh dicoba tuh ntar kalau main ke rumah saudara di sana. Thanks ya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa Mbak Lina yang hobinya naik gunung khan entar bisa mendaki sambil pake sepatu roda @.@

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...